
Imah pulang kerumah Aziz lagi bersama Dadan dan Farhan. Diwaktu yang bersamaan mama pun datang.
"Assalamualaikum Tante...!", sapa Dadan ke mama Farah.
"Walaikumsalam, eh...dadan...ini...cucu omah!", sapa Farah ke Farhan.
"Iya omah...!", kata Farhan.
"Kalian ngobrol aja dulu ya, mama mau liat Dian. katanya kemarin kecelakaan kan?"
"Iya Tante... silahkan, saya mau ke kios aja nemuin mas Aziz sama Imah!"
"Ayah, Farhan ikut omah boleh buat ketemu Tante Di sama dek Diaz?"
Dadan menatap Farah, Farah pun mengangguk.
"Boleh Nak!"
Lalu Farah menggandeng Farhan menuju kamar Diaz.
Dadan menemui Aziz dan Imah di kios.
"Kang Dadan...!", sapa Aziz.
"Iya mas."
"Imah bilang, Farhan mau ketemu Feby?"
"Iya mas, tapi Farhan nya masuk ke dalam sama Tante Farah. Katanya pengen ketemu Tante Di sama dek diaz."
"Oh...mama datang?"
"Iya mas."
Imah datang membawa dua gelas minuman.
"Mas, ada mama!", seru Imah.
"Iya mah, kang Dadan saya masuk bentar ya. Kalian ngobrol aja dulu!"
"Iya mas!"
Aziz pun meninggalkan kios menuju rumah induk.
"Ma...!", sapa Aziz.
"Kamu ziz, kenapa baru kabarin mama?"
"Aziz ngga mau kalau mama cemas ma...!"
"Jelas mama cemas, menantu kesayangan mama kecelakaan gimana mama ngga cemas?", kata Farah ngomel.
"Mama...Dian nggak apa-apa kok ma. Makasih ya...mama udah repot-repot dateng ke sini."
"Iya, Alhamdulillah kamu nggak parah. kebangetan banget anak mama ini. Pasti kemaren kalian repot kan? Coba mama tau, paling nggak mama kan bisa bantu-bantu."
"Udah ngapa ma ngomel-ngomel nya!", bujuk Aziz.
"Farhan, sini sayang?!", panggil ku ke Farhan.
Farhan pun duduk di samping ku.
"Tante Di sakit ya?"
"Nggak kok, lukanya kecil. kecil banget. besok juga sembuh!"
Lalu pandangan Farhan mengarah ke Aziz.
"Om...kak Imah bilang, mama sakit ya?", tanya Farhan ke mas Aziz. Aku pun turut melihat ke arah suamiku, pun...dengan mama mertuaku.
"Iya Han. Mama Feby sakit!"
"Mas...?", aku menggantung pertanyaan ku.
"Jangan salah paham dek. Semalam Fai ke sini!"
"Fai?", tanya mama Farah.
"Iya ma. Mama tenang aja, Aziz sama Fai udah berteman lagi kok!"
"Kok bisa?"
"Jadi mama lebih senang kalau Aziz bermusuhan sama Fai?"
"Ya ...nggak sih!"
"Mas Fai ke sini ngapain mas?"
Mas Aziz menarik nafas dalam-dalam.
"Kemarin, pas dirumah sakit Fai lihat Feby lagi duduk di kursi roda. dia baru keluar dari ruang kemo, dan... dokter yang nanganin Feby itu teman mas sama Fai juga."
"Fai...ikut kerumah sakit juga Ziz?", tanya mama.
"Iya ma, mas Fai yang udah nolongin dan anterin Dian ke rumah sakit."
"Waw...hebat sekali kalian bertiga!", kata mama senang.
__ADS_1
"Bukan saatnya ngomongin gitu ma! Mama lama-lama ketularan gesrek kaya Imah!", Aziz mulai manyun.
"Terus mas? Mas Fai nyamperin Feby?", tanyaku penasaran. Begitu pula denga farhan yang sedari tadi menunggu obrolan orang dewasa di ruangan itu.
"Fai nyamperin damar, damar bilang...Feby udah parah. Makanya...Fai inisiatif, pengen Farhan nemuin Feby."
"Owh...sebaik itu mas Fai?", tanyaku.
"Jadi, mas mu ini nggak baik?"
"Mas...bukan gitu!", kataku merayu.
"Tapi mama nggak kenapa-kenapa kan om?", tanya Farhan.
"Farhan ke rumah sakit aja ya, biar lihat keadaan mama?"
"Iya om, Farhan mau."
"Ya udah mas, kamu ikut aja anterin Farhan."
"Ngapain mas ikut, nanti kamu gimana?"
"Ada mama, tenang aja sih!"
"Bener kamu sama mama aja?"
"Bener mas!"
"Ya udah, mas tutup kios dulu!"
"Nggak usah, biar aku sama mama jaga di depan. Iya kan ma?"
"Iya boleh, lagian di kamar terus juga bosen. Lumayan kan kalau ada cowok ganteng lewat , bisa cuci mata!", sahut mama mertuaku.
"Nenek-nenek ganjen!", kata Aziz.
"Biarin, nenek-nenek gini tapi cantik kan ya Di?"
"Iya ma, mama masih sangat cantik kok!"
Setelah itu, mereka semua menuju kios, mengahampiri Imah dan Dadan.
"Kita berangkat!", ajak Aziz. Imah , Dadan dan Farhan pun setuju.
"Ma, mobil mama ngalangin mobil ku ma!"
"Ya udah sih pakai mobil mama aja, berempat juga muat!", kata mama sengit. Yang jelas, Farah sudah peWe dengan cucunya. Farah menyerahkan kunci mobilnya dari saku gamis.
"Orang kaya...ngantongin kunci Segede ini di kantong?", ledek Aziz.
"Ya udah, kita berangkat ya. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
Diperjalanan....
"Mas tau di mana ruangan Feby?"
"Nggak sih kang, ntar nanya Fai aja!"
Dadan mengernyitkan dahinya.
"Mas Aziz sama mas Fai?"
"Iya, kami berteman lagi kang Dadan!"
"Owh...!", mulut kang Dadan membulat. Dering ponsel Aziz terdengar nyaring.
[Assalamualaikum!]
[walaikumsalam]
[Dimana?]
[Di mobil, otw rumah sakit. Persis kaya rencana Lo!]
[ hehehe gitu dong!]
[Lo dimana?]
[ baru beres ngajar!]
[Temuin gue sama Dadan di rumah sakit]
[ sekarang?]
[Gak, bulan depan aja!]
Aziz sengaja meloudspeaker ponselnya.
[Lo kerumah sakit sama Imah Dadan Farhan, terus...mantan pacar gue sama siapa di rumah? Gue nggak mau ikut ah...mending gue kerumah Lo nemenin Dian sama Diaz!] ledek Fai.
[Heh... ustadz kw tiga, sekali lagi Lo ngomongin bini gue, tuh muka yang gak laku-laku gue belel sampe beneran gak ada yang mau sama Lo]
Dadan sampai nggak percaya kalau Fai dan Aziz bisa bercanda seperti ini. Dia pikir, Fai itu pendiam seperti umumnya guru ngaji. Ternyata sama saja dengan dirinya.
[Iya gue ke rumah sakit, tapi gue mau mampir dulu ke rumah Lo. Nemuin mantan gue! Hahahaha]
__ADS_1
[Heiii....!]
Fai mematikan ponselnya sepihak. Tapi Aziz yakin, Fai hanya bercanda dengannya.
"Mas, kalau mas Fai ketemu mbak Di beneran piye toh?"
"Yo wes Ben. ada mama kok!"
"Tenane? Ga cemburu Tah mas?"
"Bawel Lo ah...!", kata Aziz. Dadan dan Imah menahan tawa. Beda lagi dengan farhan yang hatinya sedang tidak menentu.
Di tempat lain, tepatnya di sekolah Fai mengajar. Tatapan rekan guru yang aneh seperti menghakimi Fai. Fai baru menyadari, saat Aziz menelpon dia berada di ruang guru.
Ya ampun...mereka mendengar obrolan gue sama Aziz lagi. Pasti mereka mikir yang bukan-bukan deh! Fai bergumam sendiri.
Ya ampun, ganteng begini mau jadi perebut istri orang? Batin salah satu guru. Dan...mungkin guru-guru yang lain pun sama. Sayangnya, mereka tidak ada yang berani berkomentar pada anak pemilik sekolah ini.
*****
Di rumah sakit.
"Gue dulu kan yang nyampe!", kata Fai.
"Iya lah, sekolah Lo deket ke sini!", sahut Aziz ketus.
"Kirain, peyan mau mampir ke rumah dulu mas Fai?", tanya Imah.
"Tadinya iya, tapi takutnya ntar ada pernah dunia ke lima. Bisa hancur dunia perpulsaan!"
"Om Aziz, ustadz Ahmad... ruangan mama mana?", tanya Farhan.
Mereka sampai lupa dengan tujuan utama mereka ke rumah sakit ini.
"Ya udah, om antar ya!", Fai mengajak Farhan dan yang lain menuju ruang rawat Feby. Fai sudah menelepon damar sebelum ia ke rumah sakit.
Fai menyuruh Farhan masuk ke ruang rawat Feby terlebih dulu. Diikuti Dadan dan Imah!
"Mama...!", sapa Farhan. Feby yang tengah tertidur pun membuka matanya.
"Farhan? Kamu ke sini nak?", tanya Feby parau.
Ya Allah mbak Feby, Imah biasa melihat mu menyebalkan, tapi melihat mu begini Imah ngga tega mbak Feby, batin Imah.
Kamu seperti ini Feby, batin Dadan.
Farhan mendekati Feby.
"Mama sakit apa?"
"Farhan nggak benci sama mama?", tanya Feby pelan.
"Nggak ma. Justru Farhan takut mama yang benci sama Farhan!", anak kecil itu menitikkan air matanya.
"Maafin mama ya nak!", kata Feby sambil menangis.
"Mama jangan nangis, mama juga nggak usah minta maaf. Farhan udah maafin mama kok."
"Makasih ya nak."
Kini pandangan Feby beralih ke dadan dan Imah.
"Makasih Dan..Imah!", kata Feby.
"Iya mbak!"
"Kalian tahu dari mana aku disini?"
"Mas Aziz dan mas Fai!", jawab Dadan singkat.
"Mas Aziz?", tanya Feby lirih.
"Iya, kemarin mereka melihat mu disini. Mbak Diandra kecelakaan kemarin."
"Dian kecelakaan, tapi nggak apa-apa kan?"
"Alhamdulillah mbak, mbak Dian nggak apa-apa."
Feby menganggukan kepalanya pelan.
"Boleh aku ketemu mas Aziz?", tanya Feby.
Ya ampun, di saat seperti ini, apa Feby masih memikirkannya perasaan nya pada mas Aziz?
"Sebentar Imah panggil ya mbak!"
Imah pun keluar ruangan memanggil Aziz.
"Mas, mbak Feby mau ketemu kamu!", kata Imah.
"Ngapain mah?"
"Nggak tahu!"
Terpaksa Aziz pun masuk.
(ini cuma novel, kalau beneran nggak mungkin jengukin ke rumah sakit rame-rame ya kan?)
__ADS_1