
Maafkeunnnn sebelumnya 🙏🙏🙏🙏mamak cuma mau bilang.
Andaikan 'malam pertama' Dadan dan Imah kurang 'wah' atau terlalu 'vulgar' mohon di maafkan yak. Terus terang, kalau mau nulis kaya begitu tuh di pikir berulang-ulang. Udah di tulis, di hapus lagi. Udah banyak yang di tulis, di revisi lagi yang akhirnya malah ngebleng Kabeh.
Bukan nya gimana-gimana, nanti kalau di tegur sama yang punya kawasan kan mamak nggak enak. Iya kan? Kalau lulus syukur. Kalau enggak? Malu lah 🙈🙊
Cuz lah....kita nikmati saja seperti apa keseruan Dadan dan Imah. Semoga tidak mengecewakan pemirsah 😁 🙏🙏🙏🙏✌️
*****
Imah dan Dadan
Malam yang di nanti pun tiba. Keluarga besar masing-masing mempelai sudah kembali ke rumah masing-masing.
Tak terkecuali Aziz dan keluarganya. Kini, tersisa Imah, Dadan, Farhan dan emak yang ada di rumah besar tersebut.
Emak dan Farhan sudah tidur sejak sore tadi. Mungkin mereka kelelahan dengan acara pernikahan mereka hari ini.
Sekarang, dua sejoli itu tengah berada di kamar Dadan. Eh, no...no...kamar mereka. Ya kali kamar mereka terpisah???
"Mah...!", panggil Dadan pelan.
"Iya A...!", sahut Imah malu-malu.
"Kita solat sunah dulu ya!", ajak Dadan.
"Solat sunat apa ya A?", tanya Imah bingung.
Dadan menarik nafasnya pelan.
"Kita berdoa sebelum melakukan hubungan suami istri, biar nanti tidak di ganggu syetan...biar nanti Allah memberi kita anak-anak yang salih dan salihah..."
"Anak?", tanya Imah dengan wajah yang memerah.
"Iya lah. AA harap, kamu nggak menunda untuk kita memilik anak kan?", tanya Dadan.
"Ya... sedikasihnya Allah aja lah A."
"Tapi sedikasihnya juga pakai usaha kan mah?", Dadan menowel dagu sang istri.
Imah tersenyum mendengar ucapan suaminya. Imah yang biasanya kocak, gesrek plus nyeleneh saat ini berubah jadi gadis lembut yang menggemaskan. Imah grogi guys!!!!
"Kita wudu dulu!", ajak Dadan sambil menggandeng tangan Imah menuju kamar mandi di luar. Iya, kamar mandi Dadan memang ada di luar kamar. Tepatnya, di dekat dapur plus melewati ruang makan dan lewati kamar Farhan. Horor nggak tuh kalau tiba-tiba si bocil bangun.
Benar saja! Baru sampai ke ruang makan, mereka berdua di kejutkan dengan suara Farhan yang baru keluar dari kamar.
"Ayah...ngapain?", tanya Farhan.
Dadan dan Imah terperanjat.
"Mau anterin ibu, kan ibu baru di rumah ini. Jadi takut kalau ke kamar mandi sendiri."
"Oh...gitu!", jawab Farhan.
"Farhan ngapain jam segini masih di luar kamar? Tadi belum tidur?", tanya Dadan.
"A, Imah wudu dulu!", Imah pun meninggalkan ayah dan anak itu.
"Belum ngantuk yah, tadi di kamar main game. Ini baru mau tidur. Ambil minum dulu!", jawab Farhan.
"Ya udah, udah malem cepetan bobo! Jangan main game terus!", pinta Dadan.
"Iya Yah!", Farhan pun menurut. Usai mengambil minum, Farhan pun masuk kamar lagi.
Di saat yang bersamaan, Imah pun keluar dari kamar mandi.
"Farhan mana A?"
"Udah di kamar. Kamu duluan aja deh ke kamarnya."
"Iya A."
Sambil menunggu Dadan, Imah pun sudah memakai mukenah nya. Selang beberapa menit, Dadan masuk ke kamar mereka.
__ADS_1
Mereka saling melempar senyum saat sama-sama sudah berdiri di atas sajadah.
Dengan suara yang syahdu, namun pelan Dadan membacakan lafal-lafal solat.
Usai mengucapkan salam dan berdoa , Imah meraih punggung tangan suaminya. Di ciumnya dengan takzim.
Sedang Dadan meletakkan tangan kirinya di kepala sang istri, sambil berdoa dalam hati.(Ada yang tahu doanya gimana????)
Setelah itu, Imah melepaskan mukenah nya. Pun sama dengan Dadan yang melepas sarungnya. Sarung solat lho, bukan sarung yang lain.
Kini mereka berdua sama-sama sudah berbaring dan bersandar di kepala ranjang.
Dadan menatap istri cantik nya yang kini Taka berhijab. Cantik, ayu alami! Batin Dadan.
Imah terlihat kikuk dan serba salah.
"Nggak usah tegang Imah!", bisik Dadan pelan. Imah hanya mengangguk.
Memang, selama mereka berpacaran...kadang ya...adegan ci*man sering mereka lakukan. Tapi tidak lebih dari itu. Kalau sekarang? Sekarang mereka bebas melakukan apa pun tapi malah jadi salah tingkah sendiri.
Imah yang getol menggoda Diandra dan Aziz saat ini seperti mati gaya.
Dadan meraih tangan Imah dan menggenggamnya.
"Boleh AA minta hak aa malam ini?", tanya Dadan. Dengan malu-malu, Imah pun mengangguk. Dua sejoli itu pun tersenyum.
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahuumma jannib naassyaithona wa jannibi syaithona maraazqtana"
Dadan berdoa dulu ya sebelum memulai aksinya! Kalian gimana guys??? 😝😝😁😁😁😁
Dadan mengecup kening sang istri dengan penuh cinta. Lalu menyatukan kening mereka barang sejenak.
Tangan Dadan mulai mengusap pipi sang istri dengan lembut, mengecupnya. Imah hanya terpejam merasakan sensasi yang ada dalam tubuhnya.
Mata yang terpejam itu, kembali mendapat kecupan sang suami. Sampai akhirnya...sebuah lum*Tan menguasai bibir Imah.
Dari sekedar menyesap, menggigit sampai saling melilitkan lidah. Imah mulai terpancing dengan permainan yang Dadan ciptakan. Dadan hanya ingin membuat imah merasa nyaman terlebih dulu. Dia tidak ingin terburu-buru. Toh,saat ini ialah yang berhak atas diri istrinya itu.
Usai puas dengan lu*Atan, Dadan meraih leher sang istri. Di hirup nya aroma khas sang istri. Dadan berpengalaman lah, meskipun dia bukan pria yang brengsek tapi setidaknya membuat kissmark bukan hal baru baginya. Dia pun pernah nakal di jamannya, sebelum menikah dengan ibu kandung Farhan. Hanya saja, dia tidak kebablasan seperti Damar. Tidak munafik, umumnya lelaki seperti itu. Mungkin...! Tidak semuanya sih, hanya sebagian besar.
Dengan masih semangat menyesap leher snag istri, tangan Dadan mulai bergerilya. Kancing piyama mulai terlepas satu per satu. Lenguhan Imah semakin membuat Dadan panas dingin.
Dari leher, Dadan mengabsen dada dan turun ke dua aset Imah. Dengan gesit, Dadan sudah berhasil membuka gembok dua aset itu.
Imah hanya mampu men*Esah dengan perlakuan suaminya. Entah bagiamana, saat ini mereka berdua sama-sama sudah polos di balik selimut.
"Mah, boleh ya?", bisik Dadan di telinga sang istri. Imah hanya mengangguk pasrah.
Dua manusia dewasa yang sebenarnya sudah pernah menikah sebelumnya, seperti ABG yang baru saja belajar seperti apa berhubungan *n*im.
Dengan perlahan, Dadan menyerang Imah.
Imah sedikit meringis karena merasakan 'sesuatu' di sana.
'Ah...', pekik Imah.
Dadan kembali melahap bibir sang istri. Dengan mencoba ******* bibirnya, mungkin bisa mengalihkan rasa sakit di area sensitif Imah.
"Ah...!", lagi-lagi ******* yang tertahan karena di bungkam sang suami membuat Dadan semakin bersemangat. Hingga akhirnya....
GOL.....👏👏👏👏👏
Pertahanan Imah sudah di kuasai sang suami.
'Ah... seperti ini rasanya! Sakit!' batin Imah.
Imah hanya meringis merasakan rasa pedih, panas dan sakit di bawah sana.
Dengan perlahan, Dadan mengurangi ritme permainan nya. Ada rasa bangga di dalam hati Dadan. Dia lah yang mendapat segel dari sang istri. Sebuah kebanggaan tersendiri sebagai seorang suami bukan?
Meskipun di luar sana banyak sekali yang menuntut pasangan nya masih vi*gin tapi sendiri nya suka 'jajan' di mana-mana. Jahat memang! Tapi tidak semua begitu sih....
Dadan masih melanjutkan misinya, dia belum selesai. Dadan masih berusaha sampai ia mendapat kan puncaknya nanti.
__ADS_1
Awal yang sakit, kini Imah rasakan berbeda. Sudah tak seperih tadi. Bahkan sekarang rasanya entah...apa lah. Tangan Imah sekarang melingkar ke leher Dadan.
Mereka saling melempar senyum.
Dadan masih terus memom*pa dengan sekuat tenaganya. Hingga akhirnya, apa yang dia simpan selama ini sudah menyembur ke rahim sang istri.
Keduanya tampak terengah-engah. Namun wajah bahagia mereka tidak bisa di tutupi.
Mereka mencapai puncak nya bersama-sama. Sekarang, mereka bersiap membersihkan diri ke kamar mandi. Semoga saja tidak berpapasan lagu dengan Farhan.
Usai membersihkan diri, Imah mengganti sprei yang mereka pakai tadi. Noda merah sedikit di sprei membuat keduanya tersenyum.
setelah kasur kembali rapi, kini mereka berdua pun berbaring.
"Imah...makasih ya sayang?!", Dadan mengusap kepala sang istri.
"Sama-sama A."
"Kamu bahagia?"
"Ya bahagia lah A. Apalagi...kita hampir menggagalkan rencana pernikahan kita."
Imah memeluk erat sang suami.
"Tapi, akhirnya kita bisa bersama kan?"
"Iya A!"
"Ya udah, kamu pasti capek. Tidur ya?"
"Aku mau kita ngobrol dulu A."
"Ngobrol apa?"
"Hehehe... ngobrol yang tadi!"
"Ya ampun, tadi aja malu-malu sekarang malah ngajak ngomong begituan."
"Kan sekarang Imah udah tahu rasanya AA."
"Jadi nggak penasaran gitu?"
"Bisa iya...bisa aja nggak!"
"Kok gitu Mah?"
"Heheh Imah suka nggak sengaja dengerin mbak Di sama mas Aziz kek kita barusan. Ah...otak Imah waktu itu nggak bisa di kondisikan tahu!"
"Ya Allah, astagfirullah... istriku!!!"
"Sssttt...ntar dulu. Imah belum selesai ngomng aa."
"Oke, apa lagi?", Dadan mengusap pelipisnya.
"Kok mas Aziz bisa naik tiga kali, dan mbak Dian juga bisa ngimbangin. kenapa bisa gitu???"
"Astagfirullah Imah!", lagi dan lagi sang suami hanya mampu beristighfar.
"Terus kenapa Imah kalau mas mu bisa tiga kali naik dan mbak mu bisa melayani nya? Hah????!", Dadan gemas dan memencet hidung Imah.
"Kalau mereka bisa, kita bisa juga kan A?", tanya Imah.
"Kamu nantangin AA mah?", tanya Dadan sambil mengambil posisi duduk.
"Hehehh iya...tapi nggak sekarang juga kok A!", sahut Imah.
"Oh, jadi kamu belajar diam-diam dari Masmu itu ya....!", Dadan menggelitik pinggang ramping istrinya.
Imah hanya terkekeh geli di atas Ranjang mereka. Akhirnya, petualangan mereka pun kembali terjadi. Tidak peduli apakah Farhan atau emak akan terganggu dengan tawa mereka.
***""
Segitu aja nggak apa-apa kan?? 🙏🙏🙏
__ADS_1
Kalau kurang ya... silahkan di komen dan di kritik juga boleh atau di kasih ide plus sarannya, biar nanti kalau pas sesi malam pertama Fai dan Mika bisa lebih baik lagi bikinnya 😝
Salam dari othor receh mamak2 anak dua ✌️