Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 216


__ADS_3

Julian dan Damar kini sudah berada di depan UGD lagi. Dokter Lala pun keluar dari ruang UGD.


"Dokter....!", ucap Aziz yang langsung berdiri menghampiri dokter Lala.


"Pasien sudah siuman, anda boleh menemui nya sebentar. Dan untuk urusan ruang rawat silahkan anda sampai kan kepada suster jaga di dalam."


"Terimakasih dok!", ucap Aziz.


Aziz pun masuk ke dalam ruangan itu. Hatinya terasa nyeri melihat istrinya terbaring lemah di atas brankar. Selang infus dan selang untuk transfusi darah masih bersemayam di tangan istrinya. Perlahan, Aziz mendekati istrinya yang masih terpejam.


"Dek....!", panggil mas Aziz lirih.


Aku membuka mataku. Lelaki yang sangat ku cinta ada di hadapanku saat ini. Aku memaksa kan untuk tersenyum.


"Mas ...!", ucapku pelan sekali. Aku merasa kali ini aku begitu lemah.


Mas Aziz menghambur ke pelukan ku. Tangis nya pecah sambil menciumi keningku.


"Maaf....!", kata mas Aziz sambil terisak.


Aku menggeleng pelan.


"Tidak ada yang perlu di maafkan mas."


Aziz menggeleng kan kepalanya sambil mengusap sisa air matanya.


"Jangan menangis mas, itu membuatku sedih!", ingin ku hapus air mata di pipi lelaki ku. Tapi kedua tanganku serasa tak mampu. Jangan kan menghapus, mengangkat nya saja aku tak sanggup.


Mendengar kalimat ku ,mas Aziz justru semakin tergugu.


"Mas minta maaf dek. Mas salah!"


Aku berusaha kembali tersenyum. Menatap intens kedua matanya.


"Aku tahu, kamu terlalu mencintaiku mas. Aku tahu itu."


"Maafkan aku yang tak percaya padamu."


Aku menggeleng kan kepala ku.


"Harusnya aku yang minta maaf. Aku tidak ijin pada mu untuk bertemu Karen dan suaminya. Aku tak tahu jika klien ku itu kak Ben."


"Iya...mas salah. Tolong maafkan mas."


"Diaz mana mas? Aku kangen!", kataku pelan.


"Diaz di rumah Dadan. Imah yang menjaga nya. Cepat lah pulih, Diaz pasti merindukan mu dek."


Aku mengangguk pelan.


"Permisi pak, pasien segera di pindah kan ke ruang rawat ya", kata suster.


"Iya sus, saya mau kamar....!", ucapan mas Aziz terhenti


"Maaf pak, kamar untuk nyonya Dian sudah di siapkan. Tadi Dokter mika yang merekomendasikan kamar VVIP untuk istri anda."


"Mika?" tanya Aziz.


"Betul pak. Mari, saya bantu untuk mempersiapkan kepindahan nyonya Dian ke ruang rawat."


"Silahkan sus. Kalau begitu saya tunggu di luar."


Suster pun menganggukkan kepalanya.


"Dek, mas tunggu di luar."


Mas Aziz mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. Dia pun meninggalkan ruangan ini.


"Cepat sembuh ya nyonya. Mereka semua mencemaskan anda", kata suster.


"Mereka?", tanya ku pelan.


"Benar nyonya. Dokter Mika saja sampai menangis di sini saat anda sedang kritis tadi.

__ADS_1


Cerita suster....


Suster sedang membantu dokter Lala menangani Dian. Sedangkan Mika sesekali pun membantu dokter Lala.


"Dokter Lala, separah apa kondisi Dian?", tanya dokter Mika dengan wajah sendu meskipun ia memakai masker tapi tetap terlihat kesedihan itu. Suster hanya memperhatikan kedua dokter itu.


Dokter Lala menatap dokter mika sekilas.


"Berdoa saja, semoga ada keajaiban untuk nya dokter Mika."


dokter Lala menepuk pelan bahu dokter Mika.


Dokter Lala mengecek keseluruhan apa yang dialami pasien nya.


Suster melihat dokter Mika mencondongkan wajahnya ke telinga pasien yang terlihat sangat cantik tanpa jilbab yang ia pakai seperti tadi.


"Dian... dengarkan aku ...", bisik dokter Mika. Sedangkan suster masih terus melanjutkan tugasnya.


"Dian...kamu pasti selamat. Bangunlah. Demi Diaz, demi mas Aziz dan....demi mas Fai!",bisik dokter Mika lirih.


"Dian...tolong dengarkan aku. Aku tak tahu mungkin aku egois. Aku...aku ingin kamu bangun Di. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan pernikahan ku dengan mas Fai jika kamu pergi Di. Bangun lah. Lihatlah resepsi pernikahan kami. Aku tahu, mas Fai pasti akan sedih melihat mu begini. Betapa beruntungnya kamu Di. Mereka semua menyayangi mu. Aku...aku...tidak akan sanggup melihat mas Fai sedih kehilanganmu Di. Dia cukup sabar merasakan terabaikan olehmu, tapi dia pasti tidak akan sanggup kehilangan mu. Tolong... dengarkan aku Dian....! Dengarkan permintaan ku!", bisik Mika yang masih terdengar oleh suster meski suaranya lirih.


Dokter Mika tertunduk di dekat telinga pasien.


Ada cinta segitiga di antara mereka? Batin si suster.


Tapi....suami dari pasien pun terlihat sangat mencemaskan nya. Pria tampan itu tak henti-hentinya menangisi pasien.


Ah, mikir apa aku ini! Bukan urusanku sama sekali.Batin si suster.


.


.


.


.


"Mika....!", kata Aziz.


"Ya mas... gimana Dian mas? Sudah proses di pindahkan kan?"


"Iya."


"Mika...aku tahu kamu mencemaskan Dian. Terimakasih sebelumnya. Tapi maaf, sebagai seorang suami....maaf sekali bukan maksud ku menolah kebaikan mu. Aku....aku bertanggung jawab atas istri ku."


"Maksudnya apa mas?", tanya Mika tak mengerti.


"Suster bilang...kamu menyiapkan ruang VVIP untuk Dian?", tanya Aziz.


Mika terdiam. Mengiyakannya tidak. Menyangkal nya juga tidak.


"Itu....!", kata Mika tergagap.


"Maaf mika, sekali lagi bukan maksud ku menolak kebaikan mu. Tapi... insyaallah aku masih mampu memberikan fasilitas terbaik untuk Diandra, istriku!"


Kata 'istriku' Aziz tekankan dengan melirik Fai yang terlihat membeku. Seperti nya , Mika mulai bisa membaca situasi.


Julian melihat adanya percikan emosi antara bos nya dengan Fai.


"Maaf pak Aziz. Dokter Mika memang merekomendasikan kamar tersebut. Tapi semua biaya sudah di cover perusahaan!", kata Julian.


"Sekali lagi saya minta maaf, bukan maksud saya mendahului anda pak Aziz", kata Julian.


Aziz menganggukan kepalanya. Dia tahu, Julian pasti hanya ingin mencari celah agar tidak ada pertengkaran di antara kami.


Mika menatap lekat suaminya dengan pandangan yang sulit di artikan.


Perasaan mu masih terlalu dalam untuk Diandra mas, batin Mika.


Pintu ruang UGD pun terbuka.


Suster sudah memasang kan kembali jilbab ku. Aku malu jika ada yang melihat rambut ku selain suamiku, khususnya kaum Adam.

__ADS_1


"Dian....!", Mika menghampiri ku. Ku lihat raut wajah nya sendu.


Aku memang tak sadarkan diri tadi. Tapi... entahlah....aku seolah-olah mendengar Mika memintaku untuk bertahan, untuk bangun, untuk melihat kebahagian mika di hari pernikahannya.


Mika ingin aku bangun, demi anak ku, demi suamiku dan.... demi suaminya. Apa yang ku dengar itu benar adanya????


Aku tersenyum simpul melihat Mika.


"Mika, aku penuhi permintaan mu!", kata ku lirih. Mika mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia menghapus air mata itu dari pipi mulusnya. Mas Fai memandangi ku intens. Aku tahu, dia sedih melihat keadaan ku seperti ini. Tapi dia juga harus menjaga perasaan istrinya, Mika.


Dian, ingin rasanya ku gantikan rasa sakit mu Di. Bisik Fai dalam hatinya.


Suster kembali mendorong brankar ku menuju ruang rawat.


Hari sudah mulai malam saat aku berada di sebuah ruangan mewah dengan fasilitas lengkap nya.


"Istirahat lah dek. Mas keluar sebentar. Mau menemui mereka yang dari tadi juga mencemaskan mu!", mas Aziz mengecup kening ku. Aku pun hanya mengiyakan dengan anggukan.


Usai mas Aziz keluar dari ruangan ku, aku mencoba memejamkan mataku.


"Terimakasih atas kepedulian kalian. Mika, Fai, damar dan....Julian."


Mereka semua pun mengangguk.


"Iya, sama-sama bro. Dan...soal air mineral itu ....akan kita lihat hasilnya besok pagi", ucap damar sambil menepuk bahu Aziz.


Aziz pun mengangguk.


"Sekali lagi terimakasih sudah merepotkan kalian semua."


"Ya sudah, kami pamit ya."


Ujar damar, di ikuti Mika dan Fai.


Tinggallah Julian dan Aziz di sini.


"Julian, sebaik nya kamu juga pulang dan istirahat lah. Aku tahu, kamu juga lelah dari pagi mendampingi Dian."


Julian tampak ragu, dia diam tak memberi jawaban apapun.


"Aku minta tolong. Besok pagi bawakan pakaian kami. Mintalah ke Imah."


"Iya pak. Tapi ...anda yakin, anda sendiri yang menjaga Bu Dian. Saya hanya cemas, jika ada orang yang ingin mencelakakan anda atau bu Dian. Karena kita belum mendapatkan titik terang."


"Jangan cemas Julian, aku akan melindungi istri ku. Justru aku yang cemas dengan keselamatan mu. Jaga dirimu baik-baik ya Jul!"


Julian pun mengangguk.


"Baiklah pak, kalau begitu saya pamit."


"Iya , sekali lagi terima kasih banyak."


Julian pun meninggalkan ruangan rawat VVIP itu.


[Saya ada tugas untuk kalian?]


Julian menelpon orangnya. Dia meminta orang nya menjaga ketat ruangan bosnya, demi keselamatan mereka berdua.


Seharusnya ia sudah mengantisipasi dari jauh-jauh hari. Mereka memang terbiasa sederhana, hanya saja sekarang keadaan sudah berubah. Sewaktu-waktu ancaman dari luar bisa membuat mereka celaka. Seperti itu yang Julian pikirkan.


Aku harus menjaga kepercayaan dari mendiang Tuan Kendra. Aku akan menjaga mereka! Aku akan mencoba memendam perasaan ku terhadap bos ku. Asalkan dia bahagia, aku pun akan bahagia. Batin Julian.


Mobil mewahnya pun melesat cepat keluar dari rumah sakit. Dia memastikan anak buahnya menjaga bos nya dengan baik.


Besok pagi, aku akan mencari tahu siapa sebenarnya dalang di balik celakanya Bu Dian.


******


Percaya lah, orang amanah akan selalu menjaga kepercayaan yang di berikan padanya.


Segini dulu ya. Besok lanjut lagi. Target harian 3 eps tiap harinya selama mengikuti crazy up.


Jangan bosan-bosan buat ngasih saran, kritik dan komentar sama mamak ya. Karena kalian, mamak akan belajar dan berusaha untuk lebih baik lagi. Tengkyu 🤗🤗🤗😎😎

__ADS_1


__ADS_2