
Aziz baru saja mendarat kan mobilnya di garasi. Ia menurunkan beberapa kardus belanjaannya dari bagasi.
"Mah, ini tolong beresin ya!"
"Iya mas!", Imah pun bergegas menggambil kardus yang Aziz bawa. Hayu pun turut membantu Imah. Lagi, Imah melihat Hayu untuk memastikan bahwa Hayu tidak sedang mencuri pandang kakaknya itu.
Ternyata benar-benar tidak, Hayu fokus menurunkan dagangan yang ada di dalam kardus.
"Mbak mu mana? Dia belum keluar dari tadi?", tanya Aziz.
"Tadi udah ke sini kok mas, mungkin mau nenenin Diaz di kamar."
"Oh, ya udah. Mas ke belakang ya!"
"Siap bos!", sahut Imah. Sedangkan Hayu hanya mengangguk.
"Oh iya mah, tadi...eh...nggak jadi deh. Ntar malem aja."
Aziz mengurungkan niatnya untuk berbicara pada Imah.
"Oh, ya wis Nek ngunu!", Imah kembali melanjutkan aktivitas nya. Sedangkan Aziz pun berlalu menuju rumah induk. Sebelum menemui istri dan anaknya, Aziz terlebih dulu mencuci tangan di wastafel dapur.
Aziz membuka tudung saji, dia belum sempat sarapan tadi pagi. Setelah menutup nya kembali, Aziz menuju kamar untuk menemui anak dan istrinya.
"Anak ayah kok udah bobo lagi. Ayah berangkat, Diaz bobo , ayah pulang Diaz juga bobo!"
Aziz menciumi Diaz dengan gemas. Sesekali Aziz melirik ke arah istrinya. Istriku kenapa? Batin Aziz.
"Dek, temenin mas makan yuk. Laper nih, tadi kan belum sarapan!"
"Iya mas!"
Entah kenapa aku malah jadi kesal mendengar penuturan Hayu tadi. Padahal, itu semua kan cuma masa lalu. Apa pantas aku menanyakan lagi? Tapi, apa mas Aziz mau menjelaskan nya padaku?
Aku duduk di bangku meja makan. Tak lupa ku ambilkan nasi dan lauk ke dalam piringnya. Kami makan siang dengan diam, tak ada obrolan apa pun di antara kami berdua. Sampai mas Aziz selesai makan. Aku pun membership meja makan kami lagi.
Mas Aziz berjalan menuju kamar. Setelah mencuci piring, aku pun menyusul nya ke kamar. Mas Aziz menatap ku dengan penuh tanya .
"Kamu kenapa Dek?", tanya mas Aziz yang kini duduk di sebelah ku.
"Mas Aziz dan mas Fai berteman dari kecil kan?"
Aziz mengernyitkan dahinya, untuk apa dian menanyakan Fai?
"Ngapain kamu nanyain si jomblo akut itu, apa dia belum kesini-sini lagi jadi kamu kangen sama dia?", Aziz mulai curiga padaku.
"Aku tanya, mas Aziz sudah lama kan berteman sama mas Fai?", sekali lagi aku tekankan.
__ADS_1
"Iya...dari mas SMP."
"SMA, kuliah?"
"SMA dan kuliah, kami memang masih berteman baik. Karena papa memang mengenal Abah. Tapi kami tidak satu SMA atau pun satu kampus. Fai sekolah di yayasan abahnya."
'Pantas saja Fai tidak mengenal lili atau Feby. Tapi, bukankah mereka bilang kalau mereka itu dekat?'
"Ada apa kamu tanya begitu sih dek!"
"Kalau Stevia? Mas kenal?"
"Stevia? Siapa?"
"Lupa, atau pura-pura lupa?"
"Dek, mas beneran nggak inget. Stevia siapa? Dan...kamu Nemu nama itu dari mana?"
"Nemu! Di kata duit Nemu!"
"Kamu kenapa sih sayang?", Aziz menakupkan tangan nya ke wajah ku.
"Sejauh apa hubungan mu dengan lili waktu masih pacaran?"
"Ya Allah dek, udah lah. Mas nggak mau bicara soal dia."
"Aku kan bicara saat dia jadi pacarmu dulu, bukan saat dia jadi partner ranjangmu kemarin mas!"
"Tolong, tinggal jawab aja mas. Apa hubungan kalian juga sejauh itu?"
"Nggak, mas nggak pernah ngapa-ngapain dek! Sumpah. Justru dia yang udah selingkuh dari mas!"
"Kalau Via? Apa dia juga selingkuhan mu?"
"Via? Dek, yang benar saja. Mana ada kamusnya dalam hidup mas untuk berselingkuh. Dengan lili kemarin adalah kesalahan terbesar mas, tapi mas nggak selingkuh. Kamu tahu itu dek!"
"Bukannya Via pernah menggoda mu, sampai lili berpaling meninggalkan mu?"
"Tahu dari mana kamu dek cerita seperti itu?"
"Dari orang yang bersangkutan!"
"Siapa?"
"Ya via lah!"
"Bagiamana bisa kalian saling mengenal, mas aja nggak inget dia seperti apa?"
__ADS_1
"Jangan kan aku mas, Imah juga kenal!"
"Kok bisa?"
"Iya, tadi Lili ke sini."
"Dia bikin ulah lagi?"
"Nggak, dia cuma mampir. Melihat keadaan ku yang baik-baik saja, yang dia harapkan aku akan cacat agar kamu meninggalkan ku!"
"Astagfirullah!"
"Tapi, Via sudah menceritakan nya saat Lili tahu kalau dia bekerja disini?"
"Via, bekerja disini? Via siapa?"
"Via...ya Rahayu!"
"Hah? Yang benar saja! Nggak mungkin lah, dek. Via itu sebelas dua belas sama lili. Sedangkan Hayu, lihatlah. Dia perempuan berhijab."
"Semua orang bisa berubah mas, termasuk kamu. Bisa saja saat ini, aku menguasai hatimu. Tapi, bisa juga mantan perempuan yang pernah ada dihidup mu itu kembali menguasai hatimu."
"Ya Allah dek. Mas nggak kepikiran sejauh itu. Ya udah kamu yang menerimanya kan dek, kalau kamu mau pecat dia ya silahkan!"
"Apa kamu pikir aki setega itu mas?"
"Lalu mas harus apa!"
Aziz mengacak rambutnya frustasi. Wanita memang makhluk yang membingungkan.
"Jangan coba-coba mengkhianati ku lagi!", aku berdiri dari sofa hendak meninggalkan Aziz.
"Baiklah...oke...oke...mas akan membatasi pertemuan dengan Via eh... Hayu! Kalau Imah tidak ada di kios, mas tidak akan berdua dengannya. Jangan pernah cemburu pada hal yang tidak jelas dek. Buat mas, kamu dan Diaz adalah harta paling berharga mas! Lagi pula, apakah Hayu bilang kalau dia menginginkan mas lagi? Nggak kan?"
Aku pun menggeleng.
"Jangan cemburu lagi, cukup kamu mendiamkan kan mas saat itu."
Mas Aziz memelukku.
"Mas tidak pernah membahas tentang hubungan mu dengan Fai kan Dek, bahkan mas sering sekali melihat kalian ber**uman waktu itu!"
Aku mencubit perut suamiku.
"Aw...iya, maaf....!"
"Jangan marah lagi ya, kamu perempuan kedua setelah mama yang sudah wajib mengisi hatiku!"
__ADS_1
Aku memanyunkan bibir ku. Tapi karena Aziz gemas, justru dia mengecupnya.
Aku pun tersenyum, dan memeluk suamiku. Insyaallah, aku percaya pada kesetiaan mu mas! Semoga, keputusan ku tidak salah. Sudah dengan tidak sengaja menghadirkan masa lalu suamiku sendiri.