Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 141


__ADS_3

Setelah kepergian ayah dan ibuku. Aku jadi lebih pendiam. Aku jarang berinteraksi dengan orang-orang di sekitar ku.


Hanya om Kendra dan Tante Selly yang senantiasa menjagaku.


Om Kendra memintaku untuk tinggal bersamanya. Tapi aku selalu menolak. Aku memilih untuk tinggal di kos-kosan yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan umum.


Setiap hari Tante Selly mengunjungi ku. Sampai akhirnya, om kendra dan Tante Selly membawaku ke psikiater.


Mereka berusaha membuatku bangkit dari keterpurukan.


Aku sudah tertinggal untuk mendaftar di sekolah menengah atas karena depresi yang ku alami.


Aku tidak gila! Hanya saja, aku tidak bisa jika ada orang berteriak dan membentak. Meskipun itu tidak di tunjukkan padaku.


Perlahan-lahan traumaku mulai pulih. Om Kendra memberitahu jika dia ingin agar aku homeschooling.


Tapi aku menolaknya. Aku memilih untuk ikut di bimba, tanpa harus sekolah.


Setengah tahun kemudian, aku mencoba peruntungan masuk ke SMA tempat relasi om kendra. Aku mengikuti kelas akselerasi, dan aku memang mampu.


Dua tahun di SMA, aku mulai terbiasa dengan kehidupan ku. Aku juga sudah tidak pernah 'gila' lagi. Om Kendra dan Tante Selly mulai membiarkan aku untuk mandiri.


Di awal-awal masuk kuliah, aku berkenalan dengan seorang laki-laki. Dia bernama Revan. Kami dekat karena kami memang satu jurusan.


Kedekatan kami, mulai tercium oleh om Kendra. Dan...om Kendra juga tidak keberatan, asalkan aku tahu batasan ku.


Sampai akhirnya... peristiwa tragis dan traumatis itu kembali terjadi di depan mataku.


"Ayolah Ra...maafin aku!", rengek Revan kala itu.


"Van, udah lah. Ngapain sih kamu minta maaf begitu sama Rara! Biarin aja sih! Kamu masih muda, kita bebas lah memilih", sahut pacar barunya Revan.


"Dengar saja apa kata pacarmu Van!", kataku ketus.


"Tapi kamu juga masih pacar aku Rara!"


"Nggak. Aku nggak bisa sama cowok yang nggak setia!", aku meninggalkan parkiran kampus. Ternyata Revan mengejar ku. Aku menyebarang jalan tanpa menengok ke arah kanan kiri. Tiba-tiba Revan mendorong ku ke tepi jalan. Dan....


Brakkkk!


Tubuh Revan terhempas ke tengah jalan karena tertabrak mobil.


"Revan......!!!!?", aku hanya sanggup berteriak. Seketika itu, trauma ku kambuh.


"Aku tidak diinginkan, mereka meninggal karena aku!", hanya kalimat itu yang berulang-ulang keluar dari mulut ku.


Seseorang menolong ku berdiri.


"Dek? Kamu nggak apa-apa?", tanya orang itu.


"Semua karena aku. Aku tidak diinginkan, mereka meninggal karena aku!", jawabku tanpa memperdulikan pertanyaan orang itu.


Bahuku terguncang. Orang itu memelukku. Aku tak tahu siapa laki-laki yang memelukku itu.

__ADS_1


"Dek! Kita ke rumah sakit ya?", katanya.


Aku menggeleng cepat.


Revan sudah di bawa dengan ambulan menuju ke rumah sakit. Dan, ternyata orang itu juga membawa ku ke rumah sakit yang sama.


Pacar Revan menangis di pelukan sahabat nya, sedang aku? Aku berada di pelukan laki-laki yang sama sekali tidak ku kenali.


Berkali-kali ponsel mu berdering. Tapi aku tak menghiraukan nya.


Laki-laki yang memelukku tadi, berinisiatif mengangkat nya. Mungkin itu panggilan dari om Kendra.


Aku duduk di bangku tunggu sambil menggigit kuku-kuku ku. Revan?! Semua salah ku !


Tak berapa lama, om kendra datang ke tempat dimana aku duduk.


"Rara!", om Kendra memeluk ku.


Disaat yang sama, ruang UGD terbuka. Aku gak mendengar jelas apa yang petugas katakan. Tapi yang pasti, pacar Revan dan teman-teman nya menangis histeris. Itu artinya... Revan....


"Semua gara-gara aku, aku tidak diinginkan. Mereka meninggal karena aku!", aku selalu bermonolog.


Om Kendra tak tahan mendengar suara ku. Dia kembali merengkuh ku dalam pelukannya. Aku masih terus menggigit kuku ku.


Om Kendra pun berbicara pada laki-laki yang membawa ku ke sini.


"Terima kasih mas...?!", kata kendra.


"Rifai Om!"


"Sama-sama om."


Sejak perkenalan itu, om Kendra dan Fai sering bertemu. Fai bertekad untuk bisa menyembuhkan ku dari traumaku.


Usia Fai lima tahun di atasku. Dia menjadi sosok yang dewasa bagiku.


Kadang jadi teman, jadi kakak dan kadang jadi sosok ayah.


Dari situlah, aku mempercayai Mas Fa'i. Aku mencurahkan semua masalah ku. Menceritakan semua keluhan dan apa pun padanya.


Om Kendra pun sepertinya menyukai Mas Fa'i. Sejak berteman dan dekat dengan mas Fai, aku seperti kembali hidup. Aku punya semangat untuk terus menjalani hari-hari ku.


Selama kurang lebih setahun, kami dekat tanpa embel-embel status apa pun. Kami hanya dekat. Hanya dekat.


Hingga pada suatu hari, saat dia sedang membantu ku mengerjakan tugas kuliah ku dia menyatakan perasaannya padaku.


"Di...!", panggil Fai.


"Iya. Kenapa mas?", tanyaku sambil terus menekan keyboard di laptopku.


"Mas sayang sama kamu Di!", kata Fai.


Tanpa menoleh ke arahnya, aku pun tersenyum.

__ADS_1


"Iya. Aku tahu kamu sayang sama aku mas. Aku juga sayang sama kamu. Makasih ya, selalu bantuin aku ngerjain tugas kuliah dan... nemenin aku ke psikiater sampe...aku sembuh!"


Rifai terlihat menarik nafasnya. Tangannya kini berada di bahuku. Memaksa ku untuk menengok ke arahnya.


Dan....cup!


Wajah kami saling beradu, bahkan bibir kami saling menyatu. Hal itu membuatku sedikit mengundurkan badan ku. Tapi Fai menahan nya.


"Aku mencintaimu Diandra!", katanya di hadapan bibirku. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya.


Darah ku tiba-tiba berdesir. Perasaan apa ini?


"Aku mencintaimu!", Fai mengecup bibirku. Aku pun hanya mampu mengerjapkan mataku. Ini pertama kali nya aku tahu rasanya berciuman.


Aku pun terpejam, merasakan sensasi hangat di mulutku untuk beberapa saat sampe akhirnya aku tersadar lalu mendorong tubuh kekar pria di hadapan ku.


"Mas...!", kataku pelan.


"Maaf!", mas Fai mengusap bibirku yang basah karena ulahnya.


Aku pun jadi tersipu malu.


"Di, aku mencintaimu. Mas cinta sama kamu!", bisiknya lagi.


"Aku...aku juga cinta sama kamu mas!", kataku pelan.


Mas Fai tiba-tiba memeluk ku erat. Ada rasa nyaman saat aku berada di pelukan lelaki ini.


Setelah hari itu, kami menjalani hari-hari seperti biasa. Om Kendra dan Tante Selly pun mendukung kami.Mereka merasa, jika Fai mampu menjagaku.


Di suatu malam....


"Rara, kamu sudah dewasa. Om akan menyerahkan hak mu secepatnya."


"Nggak om, Rara nggak mau."


"Tapi ini milikmu!"


"Buat om saja. Om yang sudah membesarkan perusahaan Ayah!"


"Om cukup mengambil hak Om."


"Tapi om...!"


"Om pikir, Rifai laki-laki yang tepat untuk mu Rara!", kata Selly.


"Tapi...kami belum memikirkan ke arah sana om!"


"Baiklah, nanti setelah kamu menikah."


"nggak mau Om!", kataku tegas.


"Kalau begitu, setelah om tidak ada, mau tidak mau kamu harus menerima nya Diandra!",Om kendra pun meninggalkan kamar kosku.

__ADS_1


Aku jadi memikirkan banyak hal. Aku tidak menginginkan warisan dari mereka. Aku tidak pantas mendapatkan nya. Aku bukan anak yang mereka inginkan!


__ADS_2