
#Aziz
Diandra mengantarkan Imah ke bank untuk membuat rekening atas namanya sendiri. Di usianya yang sudah 24 tahun, dia masih terlihat lugu seperti itu. Kurang update dengan perkembangan jaman sekarang. Dia bilang, bisa pesbukan dan buka yutub aja udah seneng. Aku dan Dian berusaha mendidik nya agar dia semakin maju. Alhamdulillah, setelah 3 bulan disini dia mulai ada perkembangan. Sudah mulai paham dengan prosedur yang ada. Kadang, kalau kios sedang ramai ingin sekali aku memberinya teman. Tapi, kata Dian nanti saja. Jika Imah yang memintanya. Takutnya, Imah akan merasa seolah dirinya tidak mampu. Malah nanti nya akan hadir kecemburuan sosial antara dia dan teman barunya.
Aku mulai mengecek semua voucher dari semua server. Sejauh ini, semua lancar dan baik-baik saja. Keuangan dan stok selalu balance.
Ponsel disaku ku berdering.
"Halo...?",
"Halo, selamat siang? Saya Hardi pak. Yang akan memasang cctv pak!"
"Oh, iya pak. Gimana-gimana?"
"Saya mau pasang hari ini pak. Pak Aziz ada ditempat?"
"Oh...boleh...boleh....silahkan. Saya tinggi pak Hardi. Makasih!"
Aku memang berencana memasang cctv di kios dan juga dirumah. Bukan aku tak percaya pada Imah, hanya saja untuk jaga-jaga. Apalagi Imah itu lugu, takut mudah di bohongi orang lain.
Jam 1 siang pak Hardi sudah sampai. Dia ditemani seorang temannya. Ternyata pemasangannya simple. Aku memasang beberapa titik. Dua di kios, satu di ruang makan yang mengarah ke kamar, dan satu lagi di sudut rumah yang jangkauannya sampai gerbang dan gudang.
[Mas, masih antri. Kios rame nggak?] pesan dari Dian.
[Alhamdulillah. Ada aja yang beli. Udah santai aja gpp.]
[Ya udh klo gitu]
Kios cukup ramai. Mungkin, tentang teman untuk Imah bisa di pertimbangkan lagi. Aku saja kewalahan, bagiamana dengan Imah?
Sudah lewat jam dua, Dian dan Imah sampai ke rumah.
"Lama amat sih dek? Bikin rekening baru apa dari Poncol?" tanyaku.
"Heheheh....tadi minta ditemenin ke Festival kuliner yang Deket alun-alun mas. Mumpung kita pergi berdua ya mah."
"Hooh mas, uwakeh tenan panganan ndek Kono." katanya sambil mengacungkan jempolnya.
"Panganan ae koe mah!"kataku. Dia cuma cengar-cengir.
"Oh iya mah, seandainya kamu dikasih teman buat kerja bareng gimana?" tanyaku ragu-ragu.
"Emm....aku kerjanya Ndak bagus Tah mas?" tanyanya. Benar kan dugaan Dian. Dian melirik ke arahku.
"Bukan gitu mah. Tadi, waktu kalian pergi aku wae keteteran." jawabku.
"Iya sih mas. Kadang Imah juga suka ribet sendiri. Ya udah, Imah mah manut ae mas. Seng penting aku jeh iso kerjo mbi peyan mas heheheh...." katanya riang.
Aku tersenyum mendengar jawaban darinya. Bagiamana pun, sebagai bos aku harus memberinya kenyamanan bekerja disini.
"Ya udah dek. Masuk yuk. Biar Imah yang jaga." ajakku ke Dian. Kami pun masuk ke rumah. Kutinggalkan Imah yang sedang memainkan ponsel barunya. Yang ia kredit padaku dengan memotong 25% dari gajinya.
__ADS_1
\#Imah
Aku sudah mengantongi kartu ATM. Kaya orang-orang kaya tuh. Kalau belanja tinggal gesek, kalo mau transfer tinggal ke ATM. Senengnya....punya bos kaya mereka. Sudah dianggap adik sendiri. Sedang asyik melamun, aku dikejutkan oleh kehadiran seorang perempuan canti seksi tinggi semampai.
Kaya yang disinetron-sinetron , si cewek menurunkan kacamata hitamnya . Selow mosen gitu lah. Gaya ne elegan, kaya...artis siapa gitu.
"Cari apa toh mbak?" tanyaku.
"Hem. Ini....punya si Aziz?"
Bukannya jawab pertanyaanku, malah dia yang nanya balik.
"Iya. Mba siapa?"tanyaku.
"Aku? Aku pacarnya lah." Dih, masa iya? Mantan pacarnya mas Aziz model gini? Kok kontras banget sama mba Dian. Aku pandangi ia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sebagai perempuan, aku akui dia cantik. Tapi, ga tau kenapa liat dia pake baju kurang bahan aku merinding sendiri. Ga takut masuk angin pow piye kie wong?
"Kamu?", tanyanya balik. Gantian dia yang menyoroti pakaian ku. Oh....tidak masalah Ferguson. Aku sudah stylish sejak di gembleng mba Dian.
"Eh, mbak kampung gue mau ngajak kerja sama mau nggak?" tanya perempuan itu.
"Namaku Imah mbak, bukan perempuan kampung!" aku mulai bersungut-sungut.
"Whatever lah....by the way berapa gaji mu sebulan disini?" tanya nya. Ini perempuan kurang kerjaan apa gimana sih? Pake nanya gajiku berapa.
"Alhamdulillah mbak. Sehari uang makan saya 100ribu. Padahal saya dikasih makan lho sama mereka. Terus, seminggu saya di kasih 700ribu. Coba deh mbak yang ngitung, gaji saya berapa?!" candaku. Tapi, ku pasang wajah serius.
"Halo? Boong amat sih Lo? Toko kecil gini, mana ada duitnya sih?" cemooh nya.
__ADS_1
"Mbaknya main nya kurang jauh ....reneo tak kandani, peyan ga usah ngurusi gajine aku po ga iso?"
"Eh ...pake basa planet apaan sih Lo. gue , mau nawarin kerjasama."
"Saya udah kerja sama mas Aziz dan mba Dian. Ga mau kerja sama situ."
"Eh...dodol. Maksud gue, Lo tetep kerja sama mereka tapi Lo juga kerja sama gue."
"Yo ga iso toh mbak. Saya aja buka dari jam 7-10 malem Leh. piye mau kerja sama situ?"
Nih cewek kelewat bego apa gimana sih,gumam tuh cewe.
"Gue kasih Lo duit, mau berapa Lo sebutin. Asal Lo mau ngasih tahu gue, segala sesuatu kegiatan atau apa pun tentang Aziz. Lo harus bantu gue biar Aziz balik lagi ke gue. Gimana?"
"mbak ngelindur? mas Aziz kan udah beristri mba. Jangan jadi pelakor. Ga baik mba , peyan kan cantik pasti gampang cari laki-laki." nasehatku.
"Eh ...cewe udik, ga usah sok nasehatin gue Lo. Gue nanya Lo mau kerjasama sama gue?"
"Enggak. Duit saya udah banyak dikasih sama mereka. Kalo mba ga mau belanaja disini, mending pergi aja sana. Sumpek saya."
"Rese lu yah. Awas aja Lo!" kata si cewe meninggal ku.
Tiba-tiba mas Aziz dateng ke kios.
"Kenapa mah? Monyong-monyong gitu bibirnya, tambah dower lho."
"Ih...mas Aziz mah gitu. Tadi ada cewe ngaku-ngaku pacar mas Aziz. Ngajak aku kerja sama mas. Imbalanae duit mas. Tapi ku tolak, aku bilang aja duit yang dari peyan juga ga kalah banyak. Udah kuusir mas."
__ADS_1
Mas Aziz hanya tertawa mendengar ceritaku tadi. Kok kontras banget sih sama mba Dian. Jangan-jangan beneran lagi tuh pacar mas Aziz. Aduhhhh