Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Pulang dari rumah sakit


__ADS_3

Pukul 11 siang visit dokter ke ruangan ku. Setelah di periksa,akhirnya nanti siang aku sudah diijinkan pulang.Akhirnya aku bisa keluar dari kamar serba putih ini.Mas Aziz sudah mengurus administrasi selama aku dirawat. Aku bersiap untuk pulang.Aku putuskan untuk pulang kerumah kami.Mama dan mas Aziz sudah menunggu di depan pintu.


"Dek,pulang sama mas kan dek?", tanya Aziz dengan mimik memelas.


"Pulang kerumah mamah aja Di.Mama takut Aziz ga becus rawat kamu!",kata mama sadis.


"Maaf mah,bukan Dian menolak kebaikan mamah.Bukan juga Dian sudah memaafkan Mas Aziz,tapi sebaiknya Dian pulang kerumah saja.Nanti jika sudah jelas keputusan berpisah, baru Dian akan pergi!", kataku.


"Kamu jangan bilang gitu dek,mas akan perbaiki semuanya."


"Permisi mah,Dian duluan.Assalamualaikum!", pamitku.


"Walaikumsalam", jawab mama.


Mas Aziz mengejarku yang berjalan pelan.


berusaha menggandeng tanganku.Tapi kembali kutepiskan setiap sentuhanny.Aku bisa sendiri. Aku kuat menghadapi semua ini.


Aku menuju ke parkiran,mendekati mobil kami. Mas Aziz membukakan pintu untukku.


Aku pun masuk dikursi depan.Selama perjalanan pulang,mas Aziz mengajak ku berbicara.Tak satupun perkataan nya ku tanggapi.Malas.


Sudah sejak kemarin aku tak melihat ponsel ku. Entah ada kabar apa dari pesan hijauku. Biasanya aku suka bergosip ria dengan teman-teman ku.


[Dian, Lo sakit? Dirawat dimana? Laki Lo g jwb wa gw]


Dan ada beberapa chat lagi yang bertaburan yang belom sempat ku baca.Lalu dari mana mereka tau keadaan ku? Ku cari sumbernya , ternyata dari status wa mas Aziz kemarin.


[Lekas sembuh ya shalihah ku(emoticon love)]


Begitu tulis statusnya.Dih....lebay banget sih kamu mas.


"Dek, mampir beli makan dulu ya.Mas belum menyiapkan makanan dirumah!"


Aku tak menolak juga tak mengiyakan.Biarlah tahu rasa dia.


Mas Aziz berbelok ke sebuah tenda dipinggiran trotoar.Tersedia soto Lamongan dan pecel ayam.Entah dia akan membelikan apa untukku.


"Tunggu y dek,mas beli lauk dulu.Kamu jangan kemana-mana ya!"pintanya seraya berlalu pergi setelah memarkirkan mobil kami.


Kulihat dari kejauhan ada abang-abang penjual es cincau.Tiba-tiba ada rasa ingin meminum nya.Seperti nya segar sekali dicuaca sepanas ini.Aku menunggu mas Aziz tak kunjung datang.Kuputuskan untuk turun dari mobil.Lalu kusamperin Abang tukang cincaunya.

__ADS_1


"Segelas y bang,banyak esnya jangan terlalu manis!", pintaku.


"Minum disini neng?", tanyanya.


"Iya bang,cepetan ya bang.Haus!", kataku. kerongkongan ku terasa sangat kering.Bang cincau pun cekatan membuatkan untukku. Setelah itu,diberikan segelas es cincau segar padaku.


Kusambut gelas itu,kuteguk perlahan tapi ku sendok cepat-cepat.Tak butuh waktu lama, akhirnya tandas es cincau dalam genggaman ku.


"Lagi bang!",kusodorkan gelasku yang kosong. Bang cincau pun menyambut dengan senyuman sumringah.


"Haus banget ya neng?", tanya abangnya.Aku mengangguk cepat.Kembali,bang cincau menyerahkan gelas itu untuk ku.


Aku pun kembali menghabisi gelas kedua. Entah kenapa,rasa haus masih menderaku. Mungkin karena tadi pagi aku tak makan makanan rumah sakit yang membosankan.


"Bang,sekali lagi boleh?", tanyaku nyengir.


Bang cincau melongo.


"Neng,gapapa ini tiga gelas masih muat?", tanya abangnya.


"Kan yang minum saya sama Dede bayi diperut bang."sahutku santai.


Setelah beberapa lama akhirnya aku sendawa.


"Alhamdulillah....makasih ya bang.Untung ada Abang,kalo ga ntar anak saya ngiler gimana?", kataku .


"Sama-sama neng,udah rejeki kita."


"Dek,Ya Allah kamu disini?Mas nyariin kamu dari tadi.Mas kan bilang jangan turun dari mobil.Mas cemas tau!", kata mas Aziz mengusap kepalaku.Tapi tak ku gubris ucapannya.


"Jadi berapa bayarnya bang?", tanya Aziz ke bang cincau .


"Sepuluh ribu aja mas.Istri mas udah minum 3 gelas,tapi yang segelas saya gratisan deh. itung-itung buat penuhin ngidam calon orok."kata abangnya.


"Hah? Tiga gelas? Abis bang?", tanya Aziz terkejut.


"Hehehe lha iya abis!", jawab si abang.


Aku berlalu meninggalkan mereka.


"sekali lagi makasih ya bang!", ucapku. bang cincau pun mengiyakan.

__ADS_1


"Ini bang!", mas Aziz menyerahkan selembar uang warna biru.


"Sebentar mas kembali nya?!", kata Abang cincau.


"Ambil aja bang.Ucapan terima dari saya sudah memenuhi ngidam nya istri saya!", kata Aziz setengah berlari mengejar ku.


"Tunggu dek, pelan aja jalannya.Hati-hati donk. kamu lagi hamil lho...!", kata mas Aziz sambil mencoba menggandeng tanganku.


"Jangan sentuh aku.Aku bisa sendiri!" ucapku tegas.


Mas Aziz hanya memandang ku lekat.Aku pun masuk kembali kedalam mobil.


"Dek,mas tau mas salah.Tapi mas harap kamu mau maafin mas.Tolong jangan perlakukan mas seperti ini.Beri mas kesempatan kedua! mas mohon!",


Aku memandang keluar jendela.Belum kupikirkan nanti kedepan nya seperti apa. Masih kubiarkan mas Aziz berbicara sendiri.


"Bisa diam gak?Aku mau istirahat!", kataku tegas.Seketika itu juga mas Aziz menghentikan perkataannya.Dan setelah itu, aku pun pura-pura tidur.Mas Aziz pun tak berbicara lagi sampai mobil kami memasuki pelataran rumah.


Aku bangun ketika mobil berhenti.Mas Aziz membukakan pintu untuk ku.Berusaha memapah ku.


"Aku bisa sendiri!", kataku.


Mas Aziz pun mengalah.membiarkan aku melangkah ke dalam rumah.


Pintu rumah terbuka,aku kembali ke rumah ini


.Rumah yang penuh kenangan.


Tapi bayangan video menjijikan itu kembali terlintas dalam penglihatankiu.Aku bergidik sendiri, merasa jijik sendiri jika mas Aziz menyetuhku meski hanya telapak tangannya. Aku lihat bagaimana mas Aziz begitu menggebu-gebu melakukan nya.


Tega sekali kamu mas....


Dadaku kembali sesak.


"Mau makan dulu dek, mas siapin ya..."


Aku bergegas ke kamar.


"Dek,makan dulu ya.Kasian Dede bayinya. Kamu juga harus memikirkan anak kita dek!"


Aku tak peduli apa yang dia katakan.Aku hanya ingin merebahkan diriku sebentar.Mungkin dengan tidur, aku bisa sejenak melupakan peristiwa itu sesaat.

__ADS_1


__ADS_2