Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Main cantik


__ADS_3

Ea.... ea...ea....(Entahlah othor bingung mendeskripsikan bayi tiga bulan menangis seperti apa 😊)


"Mas, Diaz bangun. Aku ke dalam dulu ya!", aku pun meninggalkan mas Aziz dan mas Fai.


"Ya udah, aku juga mau pulang deh Ziz, mau mampir ke dealer!"


"Okey...!"


Dan saat Fai berdiri, tiba-tiba ponsel nya terjatuh.


Brakkk...


Pelindung kaca ponsel terlihat remuk tapi tidak tercecer.


"Ya Allah, pake acara jatuh segala!", Fai mengelus-elus ponselnya.


"Coba liat?", pinta Aziz.


"Nggak apa-apa sih, cuma lapisan depan nya aja yang pecah!"


"Owh...temperedglass doang mah ada di kios, ambil aja yuk?!", ajak Aziz.


Apa bener nih orang udah lempeng?Batin Fai.


"Boleh deh!"


Mereka berdua berjalan menuju kios lewat pintu samping.


"Mah, cariin temperedglass buat ponselnya Mas Fa'i!", ujar Aziz.


"Iya mas!", sahut Imah cepat. Fai pun mengikuti Imah memilih apa yang dibutuhkan untuk ponsel nya. Berbeda dengan Aziz yang terkejut masih ada Lili di sini.


"Mas Aziz, kamu lama banget sih nggak ke sini?Fai aja boleh nemuin kamu di dalam, masa aku nggak boleh?", kata Lili manja.


"Kamu ada perlu apa lagi sama aku?"


"Ayolah sayang...jangan ketus begitu lah. Aku masih mencintai mu sayang!"


Cih...Aziz berdecih. Yang benar saja !


"Berhentilah mengganggu keluarga ku Lili!"


"Siapa yang akan mengganggu mu sayang? Aku hanya ingin memberikan ini!"


Lili menyerahkannya kotak kecil hitam itu pada Aziz. Sedangkan Fai dan Imah hanya menonton pemandangan di depan matanya.


"Ambilah! Selamat ulang tahun ya mas!"


Aziz melirik sekilas. Dari kotak nya,Aziz bisa menebak apa isinya dan kisaran harganya.


"Ayo mas Aziz, ambillah! Kamu nggak mau hargai aku?"


"Terimakasih atas ucapannya. Tapi maaf, aku nggak bisa terima hadiah ini!"


Aziz menyodorkan kembali kotak tersebut.


"Hem... Kamu menolaknya mas?"


"Iya. Maaf. Tapi lebih baik begitu, aku hanya tidak ingin ada hal yang lain setelah ini!"


"Hem...apa kamu ingin hadiah yang lain dari ku mas Aziz?"


"Apa maksudmu ?"


"Barangkali kamu kangen sentuhan ku?"


"Astagfirullah....", kata Aziz, Imah dan Fai bersamaan.


"Pulanglah lah Lili. Jangan semakin menjatuhkan harga dirimu di depan kami!"


"Harga diri? Hahahha....!"

__ADS_1


"Lili, pulanglah dan jauhi keluarga ku!"


"Mas Aziz sudah lupa seperti apa rasanya berc*nta dengan ku?"


"Lili!", hardik Aziz yang sudah tersulut emosi.


"Ayolah mas...jangan munafik! Masa iya kamu lupa malam panas kita? Aku merindukan mu lho!"


"Jaga bicaramu Lili!"


"Mas Aziz, aku yakin...istrimu yang mungil itu tidak akan bisa memberi kepuasan seperti yang ku berikan padamu!"


"Ya Allah, mulut mu benar-benar ingin ku.....!", Aziz menggantung kalimatnya.


Diandra tiba-tiba masuk ke dalam kios.


"Lho, mbak Lili masih disini?",tanyaku pura-pura seolah-olah aku tak mendengar apa pun dari tadi .


"Hem...iya. Kenapa? Kamu keberatan suamimu menemuiku?"


"Ya...tentu saja... tidak!"


"Benarkah?"


"Iya, aku tahu mas Aziz tahu diri. Seperti apa harus menghadapi kamu mbak!"


"Dian...Dian...kamu memang kelewat polos atau kelewat bodoh!"


"Mbak Dian yang pintar dan baik hati, sebenarnya apa yang kamu cari dari suami ku mbak? Kamu cantik, laki-laki diluaran sana pasti banyak yang mengantri untuk menjadi pasangan mu!"


"Kamu mengakui kecantikan ku Dian?"


"Iya, tentu saja. Siapapun akan mengatakan demikian mbak!"


"Ya sudah, biarkan aku bersama Aziz!"


Astagfirullah, hati makhluk ini terbuat dari apa? Dia sungguh menjatuhkan harga diri kaum hawa, batinku.


"Membiarkan yang bagaimana maksudmu mbak?"


"Dian, aku sangat...sangat merindukan suamimu di ranjangku!", bisiknya pelan. Tapi sudah ku pastikan orang yang ada di dalam kios itu mendengarnya. Mataku kian memanas.


Plakkk!


Aku melayangkan tamparan di pipi mulus Lili. Tiga orang dewasa di belakang ku terkejut dengan yang baru saja kulakukan.


"Hei!", Lili menunjuk wajahku.


"Kenapa mbak? Kurang?",tanyaku.


"Sebelum kamu hadir dalam kehidupan Aziz, aku lebih dulu bersama Aziz Dian!"


"Tapi itu dulu mbak, jauh sebelum mas Aziz punya ikatan yang sah denganku!"


"Hah! Aku tidak peduli, pokoknya aku masih mencintai suamimu. Mas Aziz!"


"Kamu bukan mencintai mas Aziz mbak Lili. Kamu hanya terobsesi, tidak lebih!"


"Apa maksudmu Dian? Tau apa kamu tentang perasaan ku pada suami mu hah?"


"Jangan jatuhkan harga diri kita sebagai perempuan mbak Lili!", imah tiba-tiba menyahut. Dia sudah tidak tahan ingin bicara dari tadi.


"Heh, bocah Jawir. Tidak usah ikut campur dengan urusan ku!", sahut Lili ketus.


"Tidak, aku tidak ingin ikut campur. Hanya sekedar meluruskan. aku sebagai perempuan , malu melihat kelakuan mu mbak!", kata Imah tegas.


Lili masih mengusap pipinya. Apa aku menamparnya terlalu keras?


"Mbak Lili, lebih baik kamu pulang", tukas Imah.


"Kamu mengusir ku Imah? Kamu tidak ingat siapa aku? Aku ini bos ibu tirimu!"

__ADS_1


"Imah nggak peduli mbak!"


"Sudah lah Imah, kamu tidak perlu repot mengusir nya dari sini. Dia akan pergi dengan sendirinya!"


"Dek....", mas Aziz meraih pundakku. Sedangkan Fai, dia hanya mampu menonton drama langsung dari sumbernya.


"Mas, mungkin kamu kurang tegas pada mbak Lili!"


Aziz menatapku dengan pandangan sendu.


"Kamu tidak akan mendapatkan dari Dian seperti yang kamu dapatkan dariku Ziz!"


"Apa maksudmu Lili?", kini Aziz mulai bicara lagi.


"Kamu tidak lupa bukan seperti apa rasanya aku memuaskan mu?", Lili menyeringai.


Astagfirullah, batinku terasa sakit mendengar kalimat menjijikan itu. Bayangan tentang mas Aziz yang tengah menggagahi Lili saat itu kembali terlintas di kepalaku.


"Jaga ucapan mu Lili!"


Ya Allah Ziz, kasian sekali kamu. Padahal aku pikir, kamu terlalu sempurna memiliki kehidupan bersama Diandra, batin Fai.


"Mas Aziz, apa perlu kita beritahu seperti apa hubungan kita di ranjang?", aku harus bicara seperti itu di depan Lili?


"Imah, mas Fai...tolong ajak Diaz ke dalam ya!"


Imah dan Fai paham, lalu mendorong stroller Diaz. Setelah mereka bertiga pergi, barulah ku lanjutkan pembicaraan vulgar ini di depan Lili.


Kamu mau ngomong apa sih dek? Apa kamu akan menceritakan urusan ranjang kita pada lili? Jangan lah dek, malu! Batin Aziz.


Terus terang aku malu, aku saja jijik mau mengatakan nya meskipun Aziz adalah suamiku sendiri.


"Mbak Lili...kamu boleh memandang ku sebelah mata! Tapi, kamu tidak tahu betapa lihainya aku memuaskan suamiku?", bisikku ketelinga Lili.


"Hem! Mana mungkin!", sahut Lili sinis.


"Sini mas!", aku meminta mas Aziz meraih pinggang ku.


"Contohnya ini lho mbak Lili!"


Aku meraih b***r seksi mas Aziz. Mas Aziz sempat terkejut dengan aksi yang ku lakukan.


"Hah! Hanya seperti itu, aku pun sering melakukan itu pada suami mu!"


"Mas, semalam...berapa kali kamu naik ya?"


Mas Aziz memicingkan salah satu alisnya. Apa iya aku harus menceritakan berapa kali aku naik semalam?


"Ayo mas...jawab, ada yang penasaran!", kataku sambil melirik ke arah Lili.


"Tiga kali!"


Mata Imah melotot , seolah ingin melompat dari sarangnya.


sedangkan di pintu belakang kios, Imah menutup mulutnya sendiri yang tidak percaya dengan kelakuan absurb mbak Diandra. Apa itu beneran mbak Di? Sepertinya bukan.


Lain lagi dengan Fai, dia tersenyum mendengar Dian berkata demikian. Fai semakin yakin, betapa Dian mencintai Aziz melebihi cinta Dian terhadap Fai dulu.


"Hah! drama apa lagi kamu Dian??!"


"Kenyataannya begitu mbak, aku bahkan bisa memuaskan suamiku berkali-kali dalam semalam! Karena apa? Kami melakukannya dengan cinta. Dengan ikatan yang sakral ,yang bernama pernikahan!"


"Aku...aku akan kembali lagi ke sini!"


Akhirnya lili melenggang pergi meninggalkan kios ini.


Ah...lega sekali rasanya bisa mengusir nya tanpa kekerasan.


"Dek, kata-katamu vulgar sekali !"


"Kata yang mana? Bukannya aku memang pandai memuaskan mu mas?", aku memeluk pinggang nya.

__ADS_1


"Jangan disini dek, nanti mas pengen!"


Dasar!


__ADS_2