Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 100


__ADS_3

Di tengah terik panasnya matahari yang membakar kulit, Ferdian berhenti di depan sebuah kios kecil untuk membeli sebotol air minum. Rasa haus yang sejak tadi ditahannya akhirnya terasa lega setelah air mineral mengaliri kerongkongan yang kering. Segar sekali. Ia langsung menghabiskan satu botol penuh, lalu membuang botol plastik itu pada tempat sampah yang berada di bawah pohon. Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju kampus untuk menjemput istri tercinta.


"Aku udah selesai, Sayang! Kamu dimana?" tanya Ajeng ketika ia menghubungi suaminya.


"Aku baru sampai nih, di depan gedung dekanat!" jawab Ferdian, yang memang ia sudah berteduh di bawah pohon rindang di samping trotoar menuju gedung dekanat.


"Oke aku kesana!" ucap Ajeng, wanita itu baru saja selesai mengajar kelas semester pendek dari gedung C.


Ferdian menatap layar ponselnya. Ia tidak menyangka banyak muncul notifikasi dari whatsappnya. Ah, ternyata itu berasal dari grup alumnus SMA-nya yang baru saja tadi dimasukan oleh Natasya. Sambil menunggu istrinya Ferdian memperhatikan isi grup yang ramai itu.


Ia mengernyitkan alisnya, ketika tahu ternyata grup itu ramai karena dirinya.


[Woy Ferdian masuk euy!]


[Aaaah ada Ferdian....!]


[Ini beneran Ferdian yang masuk, Nat?]


[Iya aku ketemu barusan sama dia]


[Ya ampun mimpi apa aku semalam? Pangeran SMA kita udah kembali!]


[OMG, Ferdian sapa kita dong!]


[Ferdian, I miss youuuuu]


[Can't wait to see Ferdian]


[Our prince charming is back, yuhuuu]


[Fer, masih jomblo gak nih?]


[Ferdian, ikut reuni kan?]


Dan masih banyak lagi chat serupa tetapi tak sama yang intinya antusias pada kehadiran Ferdian di grup itu. Bagaimana tidak, kehadiran Ferdian memang selalu menjadi magnet. Di SMA-nya ia adalah ketua OSIS pada saat kelas 2, ia juga aktif sebagai atlet ekstrakulikuler sepak bola. Ferdian pun aktif sebagai siswa yang sering mengikuti olimpiade Matematika, meskipun pada akhirnya ia lebih memilih jurusan sastra untuk kuliahnya. Keberadaan pria itu memang selalu membuat orang heboh dan menaruh rasa kagum, tidak hanya teman-temannya, guru-gurunya pun seperti itu.


Ferdian pun mengetik di grup itu untuk menyapa teman-temannya.


[Hai semuanya!]


Tiba-tiba saja beberapa orang langsung mengetikan balasan 'Say Hi' milik Ferdian, yang rata-rata didominasi oleh teman-teman perempuan seangkatannya. Ferdian jadi terkekeh-kekeh sendiri, karena dalam sekejap ia mendapat puluhan balasan chat. Ia menepuk keningnya.


"Hey!" sebuah tepukan di bahu mengagetkannya. Ferdian menoleh, istrinya sudah ada di sampingnya.

__ADS_1


"Lagi apa sih? Serius banget lihatin HP kaya gitu?" tanya Ajeng penasaran.


Ferdian pun memperlihatkan ponselnya di depan wahah istrinya. Ajeng memperhatikannya.


"Sejak kapan kamu gabung grup sesama alumni SMA kamu?" tanya Ajeng masih sambil memperhatikan chat-chat balasan Ferdian.


"Baru aja!"


"Kok bisa?"


"Tadi pas ke rumah makan, aku gak sengaja ketemu temen SMA. Katanya ada reuni SMA akhir bulan ini, ya udah aku kasih aja nomor aku!"


Ajeng mengangguk-angguk dan meng-ooh-kan saja.


"Awas aja ketemu mantan!" ucap Ajeng ketus.


"Yey, siapa juga yang punya mantan?"


"Bukan mantan sih. Fans fanatik lebih tepatnya!"


"Asik ada yang cemburu! Hihiy!" goda Ferdian mencolek lengan istrinya sambil mengerlingkan matanya.


Ajeng membulatkan bibirnya. Ferdian langsung menarik tengkuk leher istrinya dan mengecup tepat di bibir istrinya.


Sementara pria itu tertawa asyik sekali. "Yuk ah di rumah aja, biar lebih hot kalau ada yang cemburu kaya gini!"


"Idih, ogah deh! Aku mau berduaan aja sama Arsene!" protes Ajeng, ia memasang helmnya.


"Oh jadi Daddy-nya mau dicuekin?"


"Ya gitu deh!"


"Oh ya udah berarti aku mau ladenin chat balasan fans aku aja kalau gitu!" goda Ferdian.


TUK.


Ajeng mengetuk kepala Ferdian yang helmnya sudah terpasang di kepalanya.


"Udah cepet pulang!" seru Ajeng kesal. Wanita itu menaiki motor suaminya.


Ferdian masih saja tertawa asyik, entah kenapa ia merasa gemas ketika istrinya itu sedang cemburu, ia pun melajukan motornya.


"Peluk suaminya dong!" ucap Ferdian ketika ia merasa ada yang tidak biasa. Tidak ada rangkulan dari belakang yang biasanya datang dari istrinya itu.

__ADS_1


"Maaf, pelukannya lagi libur dulu!" ucap Ajeng dari belakang.


Tiba-tiba Ferdian mengerem mendadak, membuat istrinya itu terpaksa merangkulnya dari belakang karena tubuhnya menempel pada tubuh suaminya.


"Iihh dasar kamu, sengaja direm gitu ya?!" protes Ajeng, beberapa kali ia mengetuk helm suaminya lagi.


Ferdian terkekeh-kekeh. Ia menggenggam tangan istri yang berada di perutnya itu. Ia menciumnya ketika motornya berhenti di sebuah perempatan yang lampu lalu lintasnya sedang menyala merah. Ajeng jadi merasa geli dan merona diperlakukan seperti itu, karena beberapa orang sempat melihat ke arah mereka, termasuk para pengamen jalanan.


Namun Ferdian tetap tidak acuh, ia terus saja menggenggam jari jemari istrinya yang lentik itu, lalu mengecupnya lagi. Setelah lampu hijau menyala, akhirnya tangannya itu kembali ke tempat yang seharusnya. Ia memutar gasnya kencang, dan Ajeng kembali merangkulnya dengan tawa geli di sepanjang jalan pulang.


\=====


Ajeng tengah memandikan Arsene di bathub-nya sore itu. Baby Arsene tampak riang memainkan air, karena beberapa buah boneka bebek berdecit selalu menemaninya ketika mandi. Beberapa kali ia menciprat-cipratkan air dengan tangannya yang gempal. Bayi itu tertawa sambil memperlihatkan deretan gusi merah tanpa gigi.


"Cen coba bilang, Mom! Mommy! Mommy!" ucap Ajeng ketika ia mengeringkan tubuh Arsene di atas kasurnya. Ajeng membuat gerakan di bibirnya itu, agar Arsene mengikutinya.


"Come on, say 'Mommy'!" ucap Ajeng lagi.


Akan tetapi bayi itu hanya berhasil membuat bibirnya bulat saja dan mengeluarkan bunyi 'pop' dari sana. Hingga ia pun tertawa-tawa sendiri ketika mendengar suaranya sendiri. Mommy Arsene jadi mengikutinya, membuat suara 'pop' dari mulutnya. Bayi itu tertawa terpingkal-pingkal.


"Tawamu mengalihkan duniaku, Cen!" ucap Ajeng terharu.


"Ini anak Daddy kenapa ketawa-ketawa begini, asyik banget kayanya!" seru Ferdian menghampiri anaknya, ia baru saja dari ruang bersantai. Ia langsung duduk di samping Arsene.


"Coba praktekin deh!" seru Ajeng, lalu memberi contoh atas apa yang dilakukannya tadi di depan suaminya. Lalu Ferdian pun mempraktekannya di depan Arsene. Bocah bayi itu tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan daddy-nya. Bahkan tubuhnya yang hanya mengenakan popok saja sampai rubuh di atas kasur. Ia benar-benar lucu dan menggemaskan, membuat mata Ajeng dan Ferdian berkaca-kaca karena ikut tertawa.


"Acen, Acen...kamu yang bikin Mommy sama Daddy ketawa-tawa. Gemes banget!" ucap Ferdian berguling di atas kasur, ia menggendong anaknya dan mengangkatnya ke atas, sehingga ia tertawa senang. Ferdian lalu menciumi perutnya, agar anaknya itu tertawa lagi.


"Aduh, Daddy jadi sakit perut nih ketawa terus!" ucap Ferdian memegang perutnya.


"Kalau Mommy jadi pegel nih pipinya!" kali ini Ajeng memegangi pipinya karena tidak bisa berhenti tertawa.


Ajeng mengusap matanya yang mengeluarkan air mata haru karena tertawa-tawa. Tak menyangka bisa sebahagia ini melihat anaknya tertawa seperti itu. Semoga Arsene selalu sehat dan bahagia seperti ini, harapnya dalam hati terdalamnya.


Ia pun kembali memakaikan Arsene piyama tidurnya. Bayi itu semakin lucu dan menggemaskan saja.


\=====


Duh Arsene, tak cubit pipimu nak >.<


Lanjut lagi nanti ya


Kasih like, comment, dan votenya dong buat baby Acen

__ADS_1


Thank youuuu


__ADS_2