
Ardi masih duduk di sofa selepas dirinya berbincang dengan Arsene dan kawan-kawannya tadi. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan anak dari mantan wanita pujaan hatinya dulu. Ia kira Ajeng dan keluarganya masih tinggal di Singapura, ternyata dugaannya salah. Menurutnya wajah Arsene adalah perpaduan yang pas antara wajah Ajeng dan Ferdian, dengan gaya berbicara yang lebih mirip ayahnya. Mahasiswa semester satu itu juga terlihat dewasa dan tenang ketika menerangkan terkait hewan qurban padanya. Hanya saja ia tidak menyangka, anak Ajeng dan Ferdian aktif di lembaga dakwah kampus masjid. Setahunya dulu, Ferdian hanya aktif di BEM. Ah, dunia memang cepat sekali berputar.
Anak Ardi sendiri, hasil pernikahannya dengan Novi, saja sudah menjadi siswa SMA. Kini pria itu berstatus duda karena telah berpisah dengan istrinya yang memiliki profesi sama. Pria itu lebih menyibukkan dirinya di dunia mengajar sambil terus memantau anaknya yang tinggal bersama ibunya. Status itu ia dapatkan sepuluh tahun lalu, makanya pria itu segera pindah ke universitas negeri ini.
Pria berjambang tipis itu baru saja hendak melepas sepatunya untuk menggantinya dengan sandal karena akan pergi ke mushola gedung dekanat. Tiba-tiba ia melihat sebuah amplop putih persegi panjang tergeletak di bawah meja. Ardi mengambilnya dan memperhatikannya. Tertera tulisan tangan di atas amplop itu.
Untuk Abi Zaara
Ardi mengernyitkan keningnya, penuh heran. Apa ini milik Arsene yang terselip di brosur tadi lalu terjatuh? Tetapi melihat nama tertera di sana, ia teringat bahwa mahasiswa yang menghubunginya bernama Zaara. Lelaki itu lekas-lekas mengeluarkan ponselnya, mengetikan sesuatu agar mahasiswi berhijab lebar itu mengambil barang yang diduga milik Zaara itu di meja tamu jurusan Sasing.
\=\=\=\=\=
Zaara dan kawan-kawannya baru saja kembali dari masjid. Mengingat perkuliahan selanjutnya akan berlangsung satu jam lagi, ia teringat pada chat whatsapp dari Pak Ardi bahwa ada barang tertinggal miliknya di ruang jurusan Sasing. Gadis itu merasa tidak mengeluarkan sesuatu dari tas ketika berbicara dengan Pak Ardi tadi. Tetapi karena penasaran, ia meminta Terry mengantarnya kembali ke ruangan dosen Sasing.
“Permisi Bu, kata Pak Ardi ada barang saya tertinggal di sini ya?” tanya Zaara pada pegawai yang duduk untuk menerima tamu di ruang dosen jurusan paling populer itu.
“Siapa namanya?”
“Zaara, Bu!”
“Oh iya, sebentar!” perempuan berhijab dan berkacamata itu mengeluarkan sesuatu dari keranjang yang biasanya berisi lembaran atau dokumen tipis titipan mahasiswa untuk para dosen.
“Ini ya!” ucapnya sambil menyodorkan sebuah amplop panjang berwarna putih.
Karena bukan miliknya, otomatis kening Zaara mengernyit. Hanya saja melihat namanya tertulis di sana, sepertinya amplop itu memang untuknya. Bukan, untuk abinya!
Seketika ia teringat pada ucapan Arsene tadi, jangan-jangan amplop ini yang akan pria itu berikan padanya. Tetapi mengapa benda itu untuk abinya? Ada urusan apa Arsene dengan abinya itu? Dan apa isi amplop itu?
“Makasih Bu!” ucap Zaara pada akhirnya setelah pikirannya bertanya-tanya terkait benda tertinggal ini. Lekas-lekas, Zaara mengeluarkan ponselnya, membuka whatsapp, serta mengambil foto amplop itu dan mengirimkannya pada Arsene.
[Apa ini punya kamu?]
Zaara memasukan amplop itu ke dalam tasnya. Ia harus menunggu kabar konfirmasi dari Arsene itu terkait benda itu, meskipun ia sangat penasaran dengan isinya. Apa kepentingan Arsene sampai-sampai harus mengirimkan amplop itu pada ayahnya?
“Emang apa yang ketinggalan, Ra?” tanya Terry memecah-belah pertanyaan yang masih menggelayuti pikirannya.
“Bukan punya aku, itu punya Arsene kayaknya!” jawab Zaara sambil melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
“Ciyeee, kok bisa yang dihubungi kamu?” tanya Terry penuh selidik.
“Karena ada nama aku di sana, bukan deng, Abi Zaara! Itu tulisan di amplopnya.” Pikiran gadis itu masih berkecamuk. Sementara kawan di sampingnya sudah cengengesan, melihat kegalauan Zaara.
__ADS_1
“Kok bisa tau itu punya Arsene?” tanya Terry lagi, berlaku seperti detektif yang ingin membongkar suatu kasus. Kasus hati temannya itu, lebih tepatnya.
“Soalnya tadi dia mau titip sesuatu buat aku, tapi dia bilang barangnya tertinggal. Jadi aku curiga, jangan-jangan memang amplop itu yang mau dititipnya.” Zaara masih memegangi ponselnya, berharap Arsene segera membalas pesannya.
“Hmm…, kamu kecewa ya?” tebak Terry masih terus terkekeh.
“Kecewa kenapa?” tanya Zaara menaikan alisnya.
“Kecewa, karena ternyata suratnya bukan buat kamu, tapi buat abi kamu, haha!” Terry tertawa-tawa menggoda Zaara yang sedang terlihat kesal, mungkin karena tingkah Raffa tadi atau juga bisa karena Arsene. Gadis itu menghela nafasnya saja.
Suara notifikasi muncul dari ponsel yang dipegang oleh Zaara. Gadis itu langsung membukanya tidak sabar, kemudian menghela nafas karena balasan yang ditunggunya belum datang.
Kembali lagi terdengar suara notifikasi, kali ini Zaara mengabaikannya. Mungkin berasal dari grup kelasnya yang menanyakan tugas-tugas untuk minggu depan seperti tadi. Zaara dan Terry melangkahkan kakinya menuju kantin, dimana kawan-kawan lainnya sudah menunggu mereka di sana.
Belum sampai di kantin, suara dering ponsel mengagetkannya. Nama Arsene tertera di sana.
“Ciyeee!” lagi-lagi Terry menggodanya dengan seringaian usil miliknya.
“Angkat buruan!” seru Terry.
Dengan ragu-ragu, Zaara mengangkat telepon itu.
“Ass….”
“Ya Allah, gak bisa kasih salam dulu gitu?!” omel Zaara ketika melihat sambungannya terputus. Terry semakin tertawa-tawa saja melihat tingkah Zaara yang sudah kesal di ambang batas.
“Sabar ya, cowok emang gitu, ngeselin!”
“Ya udah kita ke kantin yuk, mau pesen jus mangga biar seger, pusing kepala aku ketemu cowok yang aneh-aneh. Astagfirullah!”
Kedua gadis itu memasuki kantin dan memesan menu makan siang, lalu bergabung dengan kawan-kawan sekelas mereka yang lain.
Zaara mendudukkan dirinya di sebuah kursi di samping kawan perempuannya. Kawan-kawan yang berjumlah lima orang itu sedang sibuk membahas tugas-tugas kuliah yang baru saja mereka terima untuk minggu depan.
"Ra, aku punya cerita yang udah lengkap. Kalau dikirim ke penerbit punya Om kamu bisa gak?" tanya Dhea siang itu. Kawannya itu memang senang menulis fiksi meski hanya di platform digital.
Zaara menoleh ke arahnya.
"Bisa banget, Dhe! Coba kirim ke aku ceritanya, nanti aku kirim ke Om Kevin," terang Zaara.
"Kenapa harus kirim ke kamu dulu?" tanya Dhea penasaran.
__ADS_1
"Aku editor lepas di penerbit punya Om aku!"
"Wah, kamu editor, Ra? Sejak kapan?" tanya Dhea tidak percaya, disambut juga dengan ekspresi yang sama dari kawan lainnya.
"Sejak kuliah ini. Sambil latihan aja jadi editor beneran, hehe...."
Ekspresi Dhea tiba-tiba menjadi antusias. Pemilik wajah bulat itu sumringah, peluang untuk menerbitkan novelnya sendiri di penerbit bergengsi semakin besar.
"Aku masih editor lapis pertama, jadi cuma periksa typo, PUEBI, atau hal yang terlihat aja. Kalau lulus seleksi, karya kamu nanti akan dibaca oleh editor naskah yang lebih wah lagi, Dhe!" terang Zaara.
"Aah denger kamu editor aja, aku udah seneng banget. Emang cita-cita kamu jadi editor Ra?"
Zaara mengangguk tersenyum. Dirinya memang menyukai dunia literasi sejak kecil. Meskipun masih pemula, ia merasa telah menemukan dunianya. Apalagi memiliki paman yang bergelut di dunia penerbitan membuat dirinya memiliki akses lebih mudah untuk menjadi editor lepas.
"Oke deh, nanti aku kirim naskah aku ke kamu ya?" ucap Dhea riang.
"Siap! Emang naskah kamu cerita tentang apa?"
"Nikah muda! Haha!"
"Wow. Kenapa ambil cerita itu?" tanya Terry, gadis itu sepertinya yang paling penasaran.
"Karena kakak aku nikah muda. Ngeliat mereka masih tinggal di rumah kadang bikin aku geli sendiri, antara iri dan kesel. Haha!"
"Langsung kirim aja, Dhe!" ucap Zaara.
"Hahaha, kayanya ada yang penasaran sama isi cerita kamu, Dhe! Langsung kirim aja ke Zaara biar jadi inspirasi!" seru Terry, membuat wajah Zaara merona.
Dhea langsung meminta alamat email milik Zaara. Ia berjanji akan mengirim naskahnya nanti malam. Ah, sepertinya gadis itu akan memiliki pekerjaan yang menyenangkan setelah ini.
Sementara itu di sisi lain, jantung Arsene tidak bisa berhenti berdetak kencang setelah mendapat pesan singkat berisi foto amplop miliknya dari Zaara. Itu memang miliknya yang ditujukan untuk Reza. Hidupnya benar-benar tidak akan bisa tenang mulai hari ini.
Hanya saja ia sudah memikirkan semuanya, mempertimbangkan resiko dan konsekuensi, serta rencana apa saja yang dimilikinya. Ia benar-benar berharap yang terbaik dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Pria itu memutuskan untuk fokus mengikuti perkuliahannya siang ini.
\=\=\=\=\=
Ehem...
Next ya
kutunggu like, vote, comment
__ADS_1
tips koinnya juga boleh, hehe
makasiiih ^_^