
Hari Minggu pagi ternyata cukup padat. Padahal Ferdian dan Ajeng mencoba berangkat lebih pagi dari biasanya. Namun ternyata tetap saja jalanan sudah dipadati banyak kendaraan, terutama yang keluar dari komplek perumahan. Mungkin masih banyak orang yang ingin menghabiskan waktunya di luar rumah. Jalanan Kota Bandung yang sempit pun semakin riuh dengan bunyi-bunyi bermacam kendaraan. Bahkan truk besar pun ikut mengantri, cukup berbahaya sebenarnya apalagi bagi kendaraan roda dua. Ah, mengapa kendaraan berat seperti truk pembawa tanah ikut berkeliaran di pagi atau siang hari? Memang akhir-akhir ini banyak sekali proyek pembangunan yang berjalan. Mungkin sedang kejar setoran agar proyeknya cepat selesai.
Ferdian dan Ajeng berniat untuk membeli segala keperluan bayi mereka di satu toko besar yang lengkap dengan semua kebutuhan bayi dan anak. Tidak seperti biasanya, ketika Ajeng berbelanja baju miliknya maka Ferdian hanya akan duduk di sebuah kursi sambil menunggu istrinya belanja. Kali ini Ferdian ikut aktif mencari perlengkapan bayi dan mengikuti langkah istrinya itu. Ajeng sendiri sudah membuat list barang kebutuhan yang akan mereka beli.
Ferdian mendorong sebuah troli besar, sedangkan Ajeng berjalan di depannya memperhatikan list catatan yang dibawanya. Seorang pelayan perempuan berhijab menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah pada Ajeng.
"Ah, iya, Teh! Saya mau beli keperluan untuk bayi new born (baru lahir). Dimana carinya ya?" tanya Ajeng yang memang sedang kebingungan.
"Di sebelah kanan, masih di lantai ini ya Bun!" ucap pelayan itu sambil mengantarkan Ajeng.
"Oh baik, Teh! Terima kasih!" ucap Ajeng.
Pelayan itu meninggalkan Ajeng agar leluasa bisa berbelanja keperluannya. Ajeng menemukan baju-baju mini untuk bayi baru lahir.
"Lucu-lucu ih!" ucapnya sambil memperhatikan baju-baju yang terlipat rapi di rak.
Ferdian menghampirinya sambil ikut melihat-lihat.
"Kalau beli barang itu lihat fungsinya, bukan motif atau karena lucu aja!" ucap Ferdian.
"Ah, dasar mata lelaki! Kalau mata perempuan kan liat dulu lucunya, baru ke fungsi! delik Ajeng.
Ferdian berlalu saja memperhatikan barang lain.
Ajeng memilih beberapa potong baju atasan dan celana mungil, lalu dimasukan ke dalam trolinya. Kemudian ia juga mengambil beberapa pakaian lainnya, seperti jaket, topi rajut, kaos kaki, popok kain, pernel, dan bedong instan.
Ferdian berjalan-jalan sambil memperhatikan barang yang ada di depannya. Ada ranjang tidur bayi, kasur bayi, stroller, dan perlengkapan bayi lainnya. Ia tidak tahu, apakah barang-barang yang cukup besar ini masuk ke dalam list belanja istrinya atau tidak.
"Kamu mau beli ini gak?" tanya Ferdian menatap istrinya yang sedang berjalan ke arahnya, sambil menunjuk ranjang tidur bayi.
Ajeng mengangguk. Ia kemudian memilih-milih, kira-kira ranjang mana yang bagus dan berkualitas.
"Aku ingin yang ini, bagus dan aman gak ya, menurut kamu gimana Fer?" tanya Ajeng sambil memperhatikan ranjang tidur bayi dengan jaring dan kasur yang nyaman.
"Kayanya bagus nih! Bisa dilipat juga!" ujar Ferdian sambil memperhatikan brosur ranjang kasur bayi yang ditunjuk Ajeng.
"Tapi aku udah baca ulasan-ulasan di internet sih, testimoninya bagus!" jelas Ajeng.
"Ya udah bungkus aja!"
"Haha kaya beli nasi uduk aja kamu mah!"
Ferdian terkekeh.
Mereka memanggil seorang pelayan laki-laki untuk membawakan barang yang sudah mereka beli. Karena ternyata cukup banyak juga perlengkapan yang keduanya pilih. Ada carseat, stroller, bak mandi bayi, mainan-mainan bayi, dan banyak lagi.
"Laper!" ucap Ferdian ketika kasir masih sibuk menghitung barang-barang yang mereka beli.
"Mau makan dimana?" tanya Ajeng.
"Di cafe aku aja yuk, kangen steaknya!"
"Ayo aja, emang deket ya dari sini?"
"Ya, gak terlalu jauh sih!"
"Ya udah!"
Para pelayan laki-laki yang bertugas, mengangkat semua barang-barang yang telah dibeli oleh kedua pasangan suami istri, ke dalam bagasi mobil milik Ferdian, membuat bagasi kosong itu menjadi penuh. Ferdian memberi bayaran tambahan kepada para pelayan yang telah membantunya, sebagai ucapan terima kasih.
"Ada yang kurang gak?" tanya Ferdian memastikan.
"Belum sih, udah semua yang ada di list aku!"
"Oh ya udah, yuk jalan!"
__ADS_1
Ferdian mengemudikan mobilnya menuju cafe miliknya yang ternyata memang tidak jauh dari toko perlengkapan bayi tadi. Ferdian mengambil akses jalan kecil melewati rumah-rumah bergaya Belanda, membuatnya lebih tiba lebih cepat daripada melalui akses jalan utama. Mereka pun tiba di cafe untuk makan siang.
Selepas makan siang, keduanya pun kembali menuju apartemen.
"Acaranya jam berapa, Sayang?" tanya Ajeng dalam perjalanan mereka menuju apartemen.
"Jam 4 sore!"
"Masih lama ya? Kita pulang dulu?"
"Iya kita istirahat dulu aja di rumah!"
Ferdian memarkirkan mobilnya di basemen gedung apartemen mereka. Melihat bagasi dengan barang yang banyak dan besar, membuat ia mengaruk-garukan kepalanya.
"Banyak ya?" tanya Ajeng terkekeh.
"Iya, gimana bawanya?"
"Kamu panggil satpam atau cleaning service aja buat bantu angkat ke atas!"
"Ya udah, kamu tunggu di sini dulu ya?!" ucap Ferdian bergegas menuju lobi apartemen meminta bantuan.
Tak lama kemudian, ia datang bersama tiga orang lelaki, yang terdiri dari seorang satpam, dan dua orang cleaning service.
"Pak tolong bantu angkat barang-barang ini ya ke kamar saya!" ucap Ferdian.
"Siap!" ujar Pak Satpam.
Ajeng hanya membawa sebuah tas berisi pakaian bayi yang bisa dijinjingnya. Sementara Ferdian mengangkat satu keranjang besar berisi pakaian dan perlengkapan bayi. Mereka semua berjalan menuju lift, untung saja tidak ada barang tersisa, kecuali car seat yang memang sengaja ditinggalkan karena untuk di mobil.
"Terima kasih banyak, bapak-bapak!" ucap Ferdian, tidak lupa ia juga memberi bayaran untuk jasa angkat barangnya itu.
Semua barang dan perlengkapan bayi sudah ditaruh di kamar yang selama ini tidak terpakai.
"Huff....akhirnya kamar ini bakal ada penghuninya juga," ucap Ajeng.
"Iya tinggal beres-beres," jawab Ferdian.
"Kamu tidur aja dulu, nanti aku bangunin!" ujar Ferdian yang hendak ke kamar mandi.
"Iya, aku capek banget!"
\=====
Sore telah tiba, namun Ajeng masih tertidur lelap. Ferdian jadi tidak enak untuk membangunkannya. Meskipun begitu ia tetap harus membangunkan istrinya itu.
"Sayang, bangun udah sore!"
"Mmh...."
"Jadi mau ikut?"
"Oh iya!" Ajeng teringat akan ikut ke acara Ferdian, ia jadi langsung terbangun dan melangkahkan kaki ke kamar mandi.
Setelah siap, ia pun langsung mengajak suaminya.
"Maaf ya jadi telat?"
"Gak apa-apa kok, acaranya juga santai!"
"Yuk!"
"Naik motor aja ya, kan deket! Aku bakal pelan-pelan kok!"
"Oh, ya udah pakai motor aku aja. Motor kamu tinggi, cocok buat anak muda pacaran!"
"Haha, kita kan masih muda, masih pacaran lagi!"
__ADS_1
"Iya tapi aku udah hamil, jadinya kurang cocok!"
"Ya udah, pakai motor kamu!"
Ferdian menaiki motor matic milik Ajeng. Kakinya panjang sekali sehingga ia menekuk lututnya ketika menyentuh tanah. Ajeng berhati-hati menaiki motornya di belakang suaminya.
"Udah siap?" tanya Ferdian.
"Iya!"
"Pegangan yang erat ya?!" pinta Ferdian tersenyum.
"Jangan ngebut!"
Ferdian pun melajukan motornya ke kampus. Matahari sudah condong ke barat, namun mereka masih bisa berkeliling di sekitaran kampus. Beruntung sore itu jalanan tampak sepi. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka. Ajeng memeluk tubuh suaminya dari belakang meskipun perutnya yang sudah besar menjadi sekat. Ia tersenyum sendiri menikmati perjalanan singkat sore ini. Ferdian mengelus-elus tangan Ajeng yang merengkuh tubuhnya. Sesekali pria itu merubah kaca spion untuk menatap istrinya di belakang. Ajeng tersenyum tersipu-sipu ketika tahu suaminya itu meliriknya dari kaca spion.
"Cantiknya istriku ini," ucap Ferdian tersenyum.
Tuk. Ajeng mengetuk helm suaminya. Ia merasa grogi ketika suaminya melihatnya dari spion seperti itu.
"Kalau aja belum hamil, pasti lebih rapat lebih asik!" ucap Ferdian lagi.
"Dasar genit!" timpal Ajeng dari belakang.
Lampu merah menyala, membuat mereka sejenak berhenti. Ferdian mengambil tangan Ajeng, ia mengecupnya selagi menunggu lampu hijau menyala. Beberapa mata memperhatikan ke arah mereka dengan tatapan iri. Ferdian menaruh lagi tangan istrinya di perutnya, membuat wanita itu semakin mengeratkan rengkuhannya. Ajeng menaruh dagunya di bahu sang suami.
"Asyik ya, naik motor kaya gini!" ucap Ajeng.
"Harusnya kita dari dulu ya naik motor!"
"Hihi kalau sekarang udah ada yang mengganjal di tengah."
"Iya, nanti kalau udah lahiran, kita jalan-jalan lagi aja naik motor."
Ajeng tersenyum. Lampu hijau pun menyala, dan mereka pun melanjutkan perjalanan.
Ferdian memberhentikan motornya di halaman bangunan bekas sekolah itu. Sudah banyak yang hadir, dan acara pun memang sudah mulai. Para mahasiswa telah berkumpul di dalam ruangan kelas bersama para anak-anak didik mereka. Ajeng memperhatikan suasana.
"Yuk ikut ke dalam!" ajak Ferdian menarik tangan istrinya,
Beberapa mahasiswa yang berada di luar tersenyum menyapa Ajeng yang dituntun Ferdian. Mereka tampak tidak percaya karena Ferdian membawa istrinya ke acara sore ini.
"Eh Miss Ajeng ikut!" sapa Serena yang memang aktif di kegiatan Taman Belajar Anak.
"Hai, Serena!"
"Yuk duduk di dalam Miss!" ajak Serena meminta izin pada Ferdian.
Ferdian mengiyakan saja, sementara ia terheran-heran dengan keberadaan Syaiful di acara ini.
"Lo kenapa ada di sini?" tanya Ferdian pada kawannya itu.
"Kenapa gak boleh? Miss Ajeng aja ikut!" protesnya.
"Aneh aja! Lo kan jarang-jarang tuh ikut acara sosial kaya gini!"
"Biarin, bukan urusan Lo!"
Ferdian mendeliknya kesal. Ia jadi ikut menyusul Ajeng yang sudah berada di dalam.
Ajeng tampak terkejut melihat seorang pria mengenakan kemeja maroon dengan celana katun yang sedang duduk di barisan meja depan. Begitu pula dengan pria itu yang menatap Ajeng tidak percaya.
DEG. Hati wanita itu pun berdebar.
\=====
Siapa ya?
Vote atau Tips juga boleh
Like dan comment yang rajin yaa ^^
__ADS_1
Makasih