Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 24. Sekolah


__ADS_3

Hari itu Zaara kembali ke sekolahnya setelah kurang lebih lima hari tidak masuk. Gadis itu berjalan menunduk menuju kelasnya yang sepi. Seperti biasa, ia selalu datang lebih pagi. Beberapa teman perempuan menghampirinya ketika ia sudah duduk di kursinya, untuk menanyakan kabar. Sepertinya ia masih berada di bawah tekanan setelah kejadian itu, sehingga Zaara hanya menanggapi teman-temannya dengan senyuman kecil. Ingin sekali rasanya bisa lebih cepat keluar dari sekolah ini, itu yang ia harapkan.


Suasana kelas bertambah ramai saja seiring berjalannya waktu. Banyak kawan sekelasnya itu memperhatikannya. Ia hanya menempelkan keningnya di atas tangannya yang terlipat, berharap guru segera datang agar ia tidak lagi menjadi bahan obrolan. Seandainya Arsene ada di sebelahnya, mungkin saja kesendiriannya tidak akan terlalu dirasakannya.


Entah mengapa ia merasa membutuhkan pria itu di sisinya. Semenjak kedatangan Arsene, harinya telah berubah. Ia menyadari sikapnya pun melunak terutama pada laki-laki. Ia tidak lagi segalak dulu, meskipun ia tetap harus menjaga kehormatan dirinya sebagai perempuan yang tegas dan tidak lembek. Ia lebih bersikap cair pada teman sekelasnya. Ketiadaan Arsene di sampingnya, membuatnya terasa sepi. Meski jarang bercanda, mereka sering membicarakan pelajaran dan hal itu membuatnya terpacu untuk terus belajar, apalagi kelulusan sebentar lagi.


Teringat pesan uminya dari sebuah hadits, “Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya (HR. Mutafaq'alaih)” maka ia harus tetap semangat menjalani harinya. Ia yakin hal yang sama tidak akan terulangi. Maka bersikap ramah dan baik pada teman-temannya, meskipun tetap dengan prinsipnya, akan ia jalankan mulai hari ini. Zaara tersenyum lebar penuh optimisme dalam dirinya sendiri, ia siap menjadi Zaara yang lebih baik mulai hari ini.


\=====


Arsene tengah asyik menggendong adik barunya, Finn, yang kini sudah keluar dari ruang perawatan anak. Mata bayi berhidung mancung bulat itu begitu jernih ketika kelopak matanya terbuka. Arsene memang sangat menyukai anak kecil, bahkan dulu sejak Kirei lahir, ia juga yang sering merawatnya ketika pulang sekolah.


Rasanya melihat wajah mungil Finn membuat Arsene tidak mau kembali ke Indonesia. Padahal Opa Gunawan tengah memberikannya kejutan, sebuah toko patisserie siap launching ketika Arsene lulus nanti. Opa ingin memperlihatkan bangunan toko yang terletak di kota itu, tidak jauh dari sebuah universitas populer terbaik di kota Bandung. Arsene tentu merasa senang, akhirnya cita-cita kecilnya bisa terwujud ketika nanti ia mengelola bisnisnya itu. Hanya saja, wajah bayi mungil ini benar-benar membuatnya lupa waktu. Bahkan seharian ini ia habiskan di rumah sakit hanya untuk memandangi adik mungilnya tidur sepanjang siang.


“Arsene kamu mau sekolah kapan?” tanya Ajeng yang sedang melahap potongan buah apelnya.


“Hmm…” Arsene memainkan tangan adiknya yang sedang tertidur.


“Arsene Sayang! Bentar lagi kamu lulus, dan kita bakal pindah juga ke Bandung. Opa udah nunggu kamu untuk cita-cita kamu selama ini,” ucap Ajeng lagi berusaha memberikan semangat.


Arsene menghela nafas. Ibunya itu benar, ia seharusnya segera kembali ke Indonesia. Apalagi ia sudah memastikan sendiri kalau keadaan ibu dan adiknya itu sudah lebih baik. Kini ia harus menjalani kehidupan normalnya.


“Kata daddy, rumah kita tinggal 80% lagi progresnya. Itu berarti, kita semua bakal secepatnya pindah kesana. Apalagi bisnis daddy juga sudah stabil, Om Alex yang akan urus semua bisnis daddy di sini. Sedangkan daddy bisa bantu bisnis masa depan kamu nanti. Kamu harus semangat, Abang!”


Arsene memandangi wajah cantik ibunya seraya tersenyum.


“Kamu mau lanjut kemana setelah sekolah nanti?” tanya Ajeng.


“Apa boleh aku sekolah di Le Cordon Bleu?”


“Tentu aja, Sayang! Kamu boleh pergi kemana pun demi cita-cita kamu. Selama kami bisa mengusahakannya, kamu gak usah khawatir. Kamu yakin mau ke Paris?”


Arsene tertegun. Ia tidak ingin jauh dari keluarganya. Setidaknya ia masih bisa pulang beberapa bulan sekali untuk menemui mereka. Jika Paris pilihannya, ia merasa kota tua yang modern itu terasa jauh sekali.


“Mungkin aku akan ambil yang ada di Sydney”


“That’s nice!”


Suara tangisan Finn pecah siang itu, setelah sebelumnya bayi itu menggeliat hingga membuat kulitnya semakin memerah. Arsene langsung mengambil bayi yang tertidur dalam ranjang itu dan memberikannya pada ibunya untuk disusui. Sejenak Arsene berpikir, mungkin malam ini ia harus kembali ke Indonesia.


\=====


Suasana riuh dan ramai terpampang di lapangan sekolah hari itu. Kompetisi tim basket antar sekolah sudah mulai sebenarnya sejak sebulan lalu, hanya saja kali ini berbeda. Komposisi pemain tim basket putra sudah berubah sejak masuknya Rainer dan beberapa murid kelas sepuluh di dalamnya.


Arsene dan Rainer sudah kembali dari Singapura, membawa semangat yang dibakar orangtuanya dari sana. Apalagi Ferdian berjanji pada mereka, tidak lama lagi ia akan kembali ke Bandung setelah rumah barunya rampung.

__ADS_1


Siswa-siswi memenuhi podium yang ada untuk menonton tim sekolah mereka sore ini. Tim basket mereka akan melawan tim dari sekolah tetangga. Kompetisi ini masih awal, dan masih banyak kesempatan untuk menjadi juara. Rainer mengenakan seragam basket sekolahnya yang berwarna hitam dengan list abu di bagian lengannya. Sorakan siswa-siswa makin menggema ketika dirinya keluar menuju lapangan bersama anggota tim yang lainnya.


“Raiiiiiiin!” teriak seorang gadis centil dari lantai dua, terdengar keras dan menjelengking, membuat siswa-siswa lain menoleh padanya.


Rainer mengernyitkan matanya, ia hafal betul suara itu milik siapa. Siapa lagi kalau bukan sepupunya yang paling centil, Fea.


“Raiiiiiin, semangaaaaat!” teriaknya lagi. Gadis itu begitu riang melihat sepupu gantengnya bermain di sana.


Sementara Rain hanya mendesah saja, berharap gadis itu tidak mengganggu konsentrasinya.


“Ayo Raiiiin!” teriakan lain menyahut dari lantai bawah, tepatnya dari pinggir lapangan. Kali ini Rain tidak tahu siapa yang meneriaki namanya.


Namun melihat seseorang melambaikan tangannya yang memegang jaket, remaja pria itu mengenal wajahnya. Itu Sera. Lagi-lagi ia mendengus, mengapa ada gadis-gadis berisik yang meneriakan namanya? Akan tetapi ia harus konsentrasi dan fokus pada permainan perdananya ini agar tim mereka bisa menang.


Wasit pun meniup peluitnya, pertanda permainan dimulai. Rainer mulai beraksi ketika tim lawan lebih dahulu memiliki kesempatan mendapat bola. Ia berusaha merebut dari tangan lawan ketika bola itu dipantul-pantulkan lawan dengan kontrol bola yang kurang mumpuni. Dengan mudah, Rainer bisa merebut dan langsung membawanya ke depan menuju keranjang basket, lalu memberikannya pada temannya. Bola itu dengan sigap disambut oleh temannya sehingga bisa dilemparkan ke keranjang, poin masuk untuk sekolah mereka.


“Rain! Rain!” namanya makin menggema saja setelah ia berhasil mencetak poin kedua untuk sekolahnya.


Arsene melihat pertandingan adiknya itu dari teras depan kelasnya. Kelas mereka baru saja bubar sore itu setelah pelajaran tambahan untuk persiapan ujian tengah semester minggu depan. Arsene menoleh ketika ujung matanya itu melihat Zaara yang berlalu keluar dari kelas. Mereka sudah berbicara tadi pagi. Sepertinya Zaara sudah tampak lebih baik, bahkan ia tersenyum padanya ketika melihat gantungan kunci pemberiannya menggantung di tas ransel milik Arsene.


“Zaara!” panggil Arsene. Gadis berhijab putih itu menoleh.


“Kenapa?” tanyanya.


“Pulang sama siapa?” tanya Arsene hanya memastikan.


“Oh… dia gak nonton pertandingan dulu gitu?”


“Kita ada perlu di rumah, jadi mesti pulang bareng!” jawab Zaara.


“Oooh… hati-hati ya!”


“Makasih. Duluan ya?”


Arsene mengangguk lalu memperhatikan Zaara sampai sosoknya hilang di tengah kerumunan siswa yang memenuhi teras depan perpustakaan.


“Ciyee… naksir Zaara nih!” tepuk Abdul dari belakang. Arsene terkejut.


“Apa sih kalian ini? Dasar tukang gosip!” dengus Arsene.


“Itu jadi makin perhatian aja akhir-akhir ini!” timpal Fahri.


“Wajar kan? Dia jadi korban kemarin,” ujar Arsene santai.


“Iya sih! Yuk ah nonton lagi. Adik lo keren mainnya nih!” puji Abdul.

__ADS_1


Suasana penonton semakin ramai saja ketika matahari sudah redup bersinar terhalang awan. Suara kegembiraan bergemuruh hampir di penjuru, ketika tim basket putra sekolah mereka memenangkan pertandingan sore itu.


“Selamaaaaat!” teriak seseorang menghampiri Rainer saat itu ketika ia tengah meminum air mineralnya.


“Thanks!” ucap Rainer singkat tanpa memandangi gadis yang ada di depannya itu.


“Rekor lho, tim cowok menang telak!” ucap Sera.


“Oh ya?”


“Ya, hebat banget lu, Rain!” puji Sera.


“Itu karena tim juga kali!” ucapnya merendah.


“Tapi semenjak ada lu, permainan anak cowok beda banget deh pokoknya!” Sera tetap keukeuh ingin memuji Rain yang terlihat tetap cuek menanggapinya.


“Raiiiiiiiin!” teriak gadis lain dari belakang lalu menghamburkan tubuhnya pada Rainer membuat botol minumnya tertumpah isinya mengenai wajah Sera.


“Fea! Ngapain sih meluk-meluk?!” protes Rainer.


“Sorry gue gak sengaja!” ucap Rain pada Sera. Ia ingin membantu Sera yang wajahnya terciprat air minumnya, tetapi tidak bisa.


“Gak apa-apa kok!” ucap Sera sambil menatap tajam pada gadis yang terlihat centil masih memeluk pria di hadapannya itu. Ia bertanya-tanya.


“Lepasin Fe!” teriak Rain, sambil berusaha melepas tangan Fea di pinggangnya..


“Keren banget lu main! Aaaah seneng banget deh gue nontonnya!” ucapnya riang melepas pelukan yang tampak alami itu.


“Dah sana pulang!” usir Rain pada Fea.


Fea memasang ekspresi cemberutnya.


“Awas aku laporin Opa deh! Rainer galak! Oh ya siapa kamu?” tanya Fea pada Sera yang sedang mengelap wajahnya.


“Gue Sera, anak basket juga! Lu siapa?”


“Kenalin gue Fea, pacarnya Rain!” ucap Fea memasang wajah imutnya, sambil merangkul lengan Rainer.


“Feaaaa!” geram Rain.


“Kaboooooor!”


\=====


Bersambung dulu yaa

__ADS_1


Like dan comment


Vote juga


__ADS_2