Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 106


__ADS_3

Suara lantunan ayat suci Al-Quran mengalun merdu dari televisi setelah subuh. Ferdian sengaja menyalakan televisinya untuk mencari kajian Islam di Bulan Ramadhan. Dengan mengenakan sarung, pria itu duduk di atas sofa dengan sebuah Al-Quran di tangannya, lalu ia pun membaca Al-Quran dengan suaranya yang memang pas-pasan. Tidak merdu tetapi juga tidak terlalu buruk. Biasanya ia hanya melantunkan ayat suci Al-Quran pada saat maghrib saja, itu pun paling seminggu dua kali. Entah kenapa di Bulan Ramadhan kali ini hatinya merasa terpanggil untuk membaca banyak, dan mencari tahu seputar kajian keislaman. Apakah karena saat ini ia sudah menjadi seorang ayah? Rasanya malu sekali jika orang tua menginginkan anaknya sholeh atau sholeha tetapi dirinya sendiri tidak bisa menjadi seperti itu. Ibaratnya disuruh bercermin dahulu sebelum mengatai orang lain.


Ferdian berhasil membaca Al-Quran sebanyak dua lembar, lembar terbanyak dari yang pernah ia baca dalam sekali. Lalu ia mencari acara kajian keislaman di televisi. Seorang dai kondang kebanggaan masyarakat tampak mengisi kajian tersebut, ia pun menontonnya, meski acara sudah berlangsung lama.


"Hidayah itu harus dijemput, karena hidayah atau petunjuk Allah itu sudah datang yaitu berupa Al-Quran dan As-Sunnah. Maka manusia harus menjemputnya. Dengan cara apa? Membaca Al-Quran dan Sunnah, mempelajari dan memahaminya, lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Berislam itu adalah berilmu dengan mengamalkannya. Tidak bisa kita hanya memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Maka ilmunya menjadi sia-sia. Manusia seperti itu seperti iblis, yang sombong dan tidak mau tunduk dengan apa yang sudah diturunkan dan ditetapkan oleh Allah, meski dia berilmu dan cerdas.


Ketika kita menyadari kurang ilmu, maka hadirilah kajian Islam, dekatlah dengan orang-orang sholeh dan berilmu, ibaratnya kita berteman dengan penjual parfum, maka kita akan kecipratan wanginya. Maka begitu pula ketika kita ingin mengkaji Islam. Tidak bisa kita hanya berdiam diri, untuk jadi pintar pun kita pasti harus bersekolah. Maka dari itu hadirilah kajian Islam dan berteman dengan orang yang sholeh. Setelah tau ilmunya maka wajib bagi kita untuk mengamalkan juga menyebarkannya.


Lalu bagaimana kalau ada yang nyinyir? Biarkan saja, karena kita sudah berusaha memberitahukannya. Ibarat anjing menggonggong, kafilah berlalu. Jadi yang paling utama adalah berilmu, beramal, dan menyebarkannya kembali. Nah sekarang cek semuanya, apa sudah dilakukan atau belum, salah satunya? Atau justru sama sekali belum apa-apa? Ada satu yang perlu kita selalu ingat, yaitu kematian. Tiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Kita mengimani adanya hari akhir setelah kehidupan dunia ini, berarti hidup kita sekarang masih akan berlanjut ke kehidupan yang selanjutnya. Dan Allah mewanti-wanti agar kita mempersiapkan bekal kehidupan kita selanjutnya dari dunia ini. Apa yang sudah kita lakukan untuk menambah perbekalan? Ingatlah, kematian adalah pemutus segala perkara dan kenikmatan yang ada di dunia. Jika kita sibuk di dunia tetapi bukan dalam rangka ibadah dan beramal, maka siap-siap saja perbekalan kita kosong.


Anda mau seperti itu? Dan apakah Anda mau menjemput hidayah ketika suatu yang buruk justru datang lebih dahulu? Allah punya banyak cara untuk mengingatkan hamba-Nya. Ada cara halus dan ada juga cara yang memang kasar sampai-sampai mereka harus disiksa dulu untuk sadar agar kembali ke jalan-Nya. Mau cara yang mana Anda menjemput hidayah?"


Ferdian terlihat tegang, matanya berkaca-kaca. Ia tampak fokus mendengarkan kajian itu. Hatinya merasa tertohok beberapa kali oleh nasihat dari ustadz di televisi itu. Benaknya berkecamuk, apa yang sudah aku lakukan untuk bekalku nanti? Bahkan aku terlalu sibuk mengurusi urusan duniawi.


Ia melanjutkan menonton kajian itu sampai selesai, hingga nasihat itu membekas di hatinya yang terdalam. Ia merasa belum melakukan apa-apa bahkan di usianya yang 22 tahun sudah menjadi imam bagi keluarga kecilnya, yang harusnya ia arahkan untuk semakin dekat dengan Allah. Ferdian kembali termenung memikirkan perkataan ustadz. Sampai akhirnya ia terkejut, karena tepukan istrinya dari belakang.


"Mikirin apa Sayang?" tanya Ajeng yang kemudian duduk di sampingnya, wanita itu masih mengenakan mukenanya.


"Apa kamu pernah berpikir, kapan kita menjemput ajal?" tanya Ferdian lirih.


Hati Ajeng sedikit terkejut mendengar pertanyaan Ferdian. Hal seperti itu tidak pernah mereka diskusikan sebelumnya.


"Kenapa tiba-tiba nanya itu?"


"Sempat tertohok dengan kajian yang ada di TV tadi. Aku pikir kalau kita sampai tidak pernah memikirkan kematian, kita itu sangat egois hidup di dunia ini. Padahal memikirkan bekal kematian juga untuk diri kita sendiri di akhirat."


Ajeng terdiam.


"Hidayah Allah itu sudah ada, tapi kita terlalu egois dan tidak mau menjemputnya. Apa kita mau menunggu Allah memberikan cobaan-Nya yang paling menyakitkan agar kita sadar?" ucap Ferdian lagi, pertanyaan itu lebih untuk mengingatkan diri mereka.


"Sayang, kita harus berubah, meski pelan tetapi pasti. Kita harus perbaiki ibadah, kita juga harus mengkaji. Kalau perlu nanti aku minta carikan ustadz yang bisa datang kemari untuk isi kajian di sini. Gimana?" tawar Ferdian.


Ajeng termenung. Hatinya berkecamuk, ia juga tahu bahwa dirinya masih sangat kurang ilmu agamanya. Meskipun untuk masalah sholat wajib, baik Ajeng atau Ferdian tidak pernah meninggalkan. Ajeng tersenyum, "Insya Allah!" jawabnya kemudian. Meskipun begitu hati kecilnya itu masih ragu-ragu, jika ikut kajian ia pasti harus menutup aurat. Ia belum siap akan hal itu. "


"Tapi biar aku aja yang cari sendiri, aku mau tanya Karin!" ucap Ajeng pelan.


"Terserah kamu, Sayang! Yang penting aku ingin kita makin baik, makin deket sama Allah!" ucap Ferdian mengelus kepala istrinya.


Bulan Ramadhan adalah bulan yang baik untuk memulai perubahan ke arah yang lebih baik. Semoga saja harapan terdalam Ferdian bisa terwujud,


\=====


Perkuliahan segera kembali dimulai setelah Ramadhan yang sudah berlalu hampir satu bulan lebih. Matahari hangat bersinar, memberi energi positif pada manusia yang tersorot sinar paginya. Ajeng wanita karir yang sibuk akhir-akhir ini, apalagi setelah menjabat sebagai kepala perpustakaan. Meskipun begitu ia berusaha kuat dan optimal menjalankan semua perannya, terutama sebagai seorang ibu bagi Arsene. Hari ini hatinya cukup tegang dan gugup, pasalnya ia akan bertemu dengan pimpinan perusahaan buku, Natabooks, yang tak lain adalah Kevin. Ia sudah memberitahukannya pada Ferdian, bahwa dengan jabatan ini ia tidak mungkin bisa menghindari pria itu lagi. Namun begitu, Ferdian sudah percaya pada istrinya tidak akan membuat masalah, lagipula mereka sudah dewasa dan bisa berpikir matang terhadap setiap kejadian.


Ajeng melangkahkan kakinya pada ruangan miliknya di perpustakaan. Ada banyak berkas yang harus ia baca terkait proposal kerja sama pihak Natabooks yang akan terus bekerja sama dengan perpustakaan fakultasnya. Ia memang merasa salut terhadap Kevin yang memegang komitmen untuk terus membantu menyediakan buku-buku berkualitas. Pertemuan dengan pihak Natabooks akan diadakan pukul 10.30 WIB, masih ada waktu sekitar 1 jam setengah lagi. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya itu.


Seorang pustakawan perempuan mengetuk pintu ruangan, Ajeng mempersilakannya masuk.


"Maaf Bu, pihak Natabooks sudah datang. Sekarang sudah menunggu di lobi," ucap pustakawan berhijab itu.


"Oh ya, baik sebentar lagi saya kesana," ucap Ajeng. Langsung saja ia merapikan berkas yang sudah dibacanya hingga selesai, lalu memasukannya ke dalam sebuah map.


Ia pun melangkahkan kakinya ke lobi perpustakaan. Terlihat olehnya Kevin yang mengenakan kemeja abu gelap sudah duduk di sofa bersama pegawai perpustakaannya yang lain. Ia bersyukur hatinya tidak gugup sama sekali.


"Selamat siang!" sapa Ajeng.


"Selamat siang!" ucap Kevin yang cukup terkejut melihat wanita itu ada di hadapannya. Ia pun beranjak dari kursinya, lalu menjabat tangan wanita itu seraya tersenyum.


"Bu Ajeng yang sekarang menjabat kepala perpustakaan fakultas ini, Pak Kevin!" ucap pegawai yang sejak tadi menemani Kevin di sana.

__ADS_1


"Mari ke ruangan saya!" ajak Ajeng.


Kevin pun mengikuti wanita yang mengenakan setelan blazer dan rok span berwarna ungu. Ia menghela nafasnya, sedikit gugup.


Ajeng mempersilakannya duduk di kursi empuk yang terdapat di ruangannya.


"Saya sudah baca proposal penawaran Anda semua!" ucap Ajeng, berusaha bersikap profesional di hadapan kawan kuliahnya sendiri.


"Terima kasih!" ucap Kevin singkat.


"Kami juga sudah berunding dengan pihak fakultas, jadi kami tetap akan memperpanjang kerja sama fakultas dengan Natabooks." terang Ajeng yang sudah duduk di hadapan Kevin.


"Terima kasih atas persetujuannya," jawab Kevin lagi.


"Tetapi, kami punya permintaan khusus...." ucap Ajeng menatap mata Kevin.


"Apa itu?"


"Kami ingin mahasiswa kami yang memiliki hobi menulis agar bisa mengirimkan tulisan mereka ke Natabooks, dan terbit di sana. Saya ingin mahasiswa sastra di sini mengembangkan potensi menulis mereka. Jadi apakah Natabooks bisa mengabulkannya?"


"Sebenarnya untuk mengirim naskah tulisan, kami sudah membuka banyak peluang untuk semua penulis. Mungkin nanti saya akan bicarakan dengan tim editing, jadi khusus untuk mahasiswa di sini akan diberikan peluang yang lebih besar."


Ajeng tersenyum.


"Terima kasih, Pak Kevin!"


Seorang pegawai masuk dan membawakan mereka dua cangkir teh manis hangat ke dalam ruangan itu.


"Silakan diminum tehnya," ucap Ajeng.


Kevin pun menyeruput teh beraroma melati itu, memberikan rasa tenang pada hatinya.


"Semoga saja!" ujar Kevin tersenyum.


"Ehm...Jeng, bisa gak kita ngobrol tidak terlalu formal?" tanya Kevin tiba-tiba, membuat Ajeng mengankat alisnya.


"Ini kan urusan pekerjaan, jadi saya berusaha bersikap profesional. Bahkan di depan suami pun saya seperti itu ketika mengajar dulu!"


Kevin terkekeh, ia salut dengan Ajeng yang memegang teguh prinsipnya.


"Oh ya, aku mau minta maaf atas kejadian terakhir yang sudah aku lakukan sama kamu," ucap Kevin tertunduk, mengingat peristiwa setahun lalu yang sudah terjadi di antara mereka.


"Aku udah maafin kamu, Kev! Begitu juga dengan suamiku!"


"Aku hanya berharap kita bisa berteman lagi seperti dulu!"


"Tentu saja, kita selalu berteman kan?"


Mereka saling melempar senyum. Tampaknya Kevin sudah benar-benar move on dari Ajeng. Tentu saja, ia menyadari kesalahan terbesarnya yaitu mencintai wanita yang sudah menikah dan sekarang sudah memiliki anak.


"Oh iya, gimana kabar anak kamu?"


"Arsene tumbuh dengan baik dan sehat."


"Kapan ya aku bisa ketemu, dan apa ayahnya akan mengizinkannya? Aku cuma ingin menyapa keponakanku!"


Ajeng tertawa. "Mungkin aja bisa, lain kali mungkin aku akan bawa ke sini kalau senggang," ucap Ajeng.


"Wah benarkah?" ucap Kevin antusias.

__ADS_1


Ajeng mengangguk.


"Oh iya satu lagi, aku minta doanya ya. Mungkin sekitar dua bulan lagi aku akan menikahi seseorang."


"Wah serius, Kev?" tanya Ajeng tidak percaya.


"Insya Allah, doain aja. Aku masih berjuang mendapatkan hati kakaknya, meski sebenarnya saat ini kami sudah khitbah!"


"Khitbah?"


"Iya! Sudah satu bulan ini kami melaksanakan ta'aruf," terang Kevin.


"Seorang Kevin berta'aruf?!" tanya Ajeng lagi. Ia memang setengah tidak percaya, bagaimana bisa seorang Kevin melakukan proses ta'aruf. Ajeng yakin calon istri Kevin adalah seseorang seperti Karin, sahabatnya, yang seorang akhwat shalihah.


Kevin mengangguk sambil tertawa kecil.


"Aneh ya kedengarannya? Tapi begitulah, seorang akhwat shalihah di kantor bisa mencuri hati aku!"


Ajeng jadi terkekeh-kekeh. "Selamat ya Kev, semoga proses menuju pernikahan kamu bisa lancar."


"Aamiin."


"Ah, kalau kamu antar undangan ke sini, aku bawa Arsene ya. Jadi kamu bisa ketemu anak aku. Gimana?"


"Wah boleh juga tuh! Nanti aku sempatkan ke sini."


"Apa ada yang mau disampaikan lagi?" tanya Ajeng, ia menengok jam tangannya.


"Sepertinya tidak, terima kasih banyak ya Jeng! Aku senang punya teman seperti kamu."


"So do I (begitu juga denganku). Kamu punya cita-cita dan harapan besar pada kampus kita ini, dan aku salut sama kamu. Kita punya cara kita masing-masing untuk memajukan kampus kita."


"Ya, kamu betul, Jeng! Kalau begitu, saya akan kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan."


"Good luck ya Kevin, buat pernikahan kamu. You deserves the best (kamu berhak mendapatkan yang terbaik)!"


"Thank you so much!"


Keduanya pun beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing. Kevin mengambil map yang disodorkan oleh Ajeng, mereka pun berjabat tangan.


"See you soon!" ucap Kevin ketika melangkahkan kakinya keluar ruangan Ajeng.


Ajeng tersenyum.


\=====


Duh babang Kevin udah nemuin jodohnya nih


Kita tunggu undangan lagi yaa ^^


Like, comment, dan votenya ya


Makasiiiih ^^


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2