
Hening terasa malam itu, saat Ferdian baru saja sampai di rumah sakit. Adzan maghrib telah berkumandang, ia langsung menuju ke masjid untuk menunaikan sholat maghrib sebelum masuk ke ruang rawat inap Arsene. Ampunan dan permintaan ia panjatkan setelahnya, agar ia bisa merangkul istrinya ke dalam pelukannya lagi. Dengan hati yang mantap, langkah kakinya bergegas menuju kamar Arsene.
“Assalamu’alaikum….” ucapnya ketika memasuki kamar yang hening itu.
“Wa’alaikumsalam,” jawab papa dan mama mertuanya bergantian.
Ferdian mengedarkan pandangannya, mencari sosok wanitanya. Akan tetapi wanita rupawan itu tidak ada di sana.
“Ajeng kemana, Pa?”
“Barusan dia pulang. Emang gak ngasih tau sama kamu?” tanya papa heran.
“Eh, i-itu, enggak, Pa!” jawab Ferdian kebingungan.
“Aku susul dulu, Pa!” ucap Ferdian terburu-buru dan langsung bergegas keluar.
Dengan langkah tergesa-gesa, Ferdian menuju parkiran motor dan mengambil motornya. Namun ia lupa, kalau Ajeng pasti tidak akan pulang ke apartemen. Setelah mengenakan helm, ia terpaksa melepasnya kembali untuk menghubungi nomor istrinya itu.
Suara aneh terdengar dari sambungannya itu.
Mohon maaf nomor yang Anda hubungi tidak dapat tersambung. Silakan hubungi beberapa saat lagi.
Ferdian menggeram kesal. Dicobanya lagi sambungan itu, tetapi hasilnya sama saja. Ia tidak tahan jika harus seperti ini. Apakah ia harus bertanya pada mertuanya kemana Ajeng pergi? Apakah Ajeng memberitahu mereka?
Terpaksa Ferdian menghubungi papa mertuanya.
“Halo Pa, apa Ajeng bilang dia mau pulang kemana?” tanya Ferdian tanpa basa-basi.
“Ya dia pulang ke apartemen kalian lah,” jawab papa mertuanya itu.
Ferdian menghela nafas. Jawaban papa mertuanya tidak membantu sama sekali.
“Fer….” tiba-tiba suara lembut dari sana. Itu suara mama mertuanya.
“Iya, Ma?”
“Ajeng tidak memberitahu papa. Dia bilang, dia menginap di Hotel Grand Teratai. Kamu mau susul dia?”
“Iya, Ma! Terima kasih, aku akan kesana sekarang.”
“Cepat selesaikan masalah kalian, semoga lancar semuanya!”
“Aamiin. Doakan kami, Ma! Aku pergi dulu, assalamu’alaikum….”
Ferdian memasukan ponselnya ke dalam celana jeansnya, lalu mengenakan helmnya lagi. Setelah menyalakan mesin motornya, ia menarik gas dan melaju kencang mencari keberadaan hotel yang namanya tidak ia hafal. Hanya saja ia tahu dimana letak Jalan Teratai, yang tidak jauh dari sini.
Tidak butuh waktu lama, hotel berbintang 4 itu ditemukannya di sebuah jalan kecil yang hening dan gelap karena berada di jalan yang penuh dengan pepohonan rindang. Ferdian memarkirkan motornya di basemen hotel itu. Lalu melangkah menuju meja resepsionis.
“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” tanya sang resepsionis.
“Saya ingin bertanya, apakah ada tamu hotel dengan nama Ajeng Chandra Diningrat malam ini?"
“Bentar saya cek dulu ya, Mas!”
Petugas resepsionis pria yang mengenakan jas serba hitam itu mengecek daftar tamu hotel yang sudah tercantum dalam komputernya. Hati Ferdian cemas dan gelisah menunggu hasilnya.
“Nyonya Ajeng Chandra Diningrat ya? Baru saja ia melakukan check-in di sini. Apa Mas-nya sudah memiliki janji dengannya?”
“Ya betul! Bisa tolong antarkan saya ke kamarnya? Atau nomor berapa kamarnya?” tanya Ferdian resah.
“Baiklah, nanti akan kami antarkan Mas ke kamarnya.”
Sang resepsionis memanggil seorang pelayan lain dan memberitahunya untuk mengantarkan pria muda ini ke kamar atas nama Nyonya Ajeng. Pria berbaju kemeja maroon itu pun mengantar Ferdian menuju lantai 3 menggunakan lift, lalu berhenti di depan pintu kamar nomor 302.
“Tolong kamu ketuk pintu itu dulu!” suruh Ferdian pada pelayan itu. Ia khawatir Ajeng tidak akan membukakan pintu itu untuknya.
“Baik, Mas!”
Pelayan itu mengetuk pintu dengan pelan, beberapa kali. Ferdian bersembunyi di sisi tembok. Sampai akhirnya pintu itu terbuka, seorang wanita cantik menyapa dengan bertanya-tanya.
“Ada apa ya?” tanya Ajeng yang rambutnya basah karena baru saja membersihkan tubuh.
“Ada yang mau bertemu Nyonya,” ucap pelayan itu sopan, lalu melirik ke sebelah kirinya.
Ferdian pun muncul di hadapannya seraya tersenyum tipis. Mata Ajeng membelalak terkejut.
“I need to talk to you (Aku perlu bicara denganmu!” ucap Ferdian to the point, meski suaranya terdengar ragu-ragu karena ia khawatir Ajeng akan menolaknya.
Ajeng menghela nafas, lalu melangkah ke dalam kamarnya. Pintu itu masih terbuka. Berarti ia mengizinkan suaminya itu masuk.
“Makasih ya, Mas!” ucap Ferdian memberikan tips untuk pelayan yang mengantarnya itu.
__ADS_1
Dengan hati berdebar dan cemas, Ferdian melangkah masuk ke dalam kamar hotel istrinya, lalu menutup pintu pelan-pelan. Ajeng tengah terduduk di atas kasur berukuran queen, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Tubuhnya membelakangi Ferdian yang masih berada di balik pintu.
Wangi parfum milik istrinya itu menyeruak dan memenuhi kamar itu. Hati Ferdian semakin gugup saja, karena baru saja ia menyadari bahwa ia sangat merindukan wanita yang tidak mau menatapnya itu. Ferdian berjalan perlahan mendekati istrinya sampai ia berdiri di hadapan wanita itu.
“Ada apa?” tanyanya tanpa meliriknya sama sekali.
Ferdian tertunduk, lalu berlutut di hadapannya sambil tertunduk. Wajahnya menyiratkan penyesalan yang amat dalam. Ajeng menatapnya terkejut.
“Maafkan aku, Sayang! Aku salah karena menyalahkanmu atas semua yang terjadi pada Arsene. Aku akan tarik semua kata-kataku pagi tadi. Aku ingin kita bersama lagi,” ucapnya lirih sambil mengambil tangan istrinya dan menggenggamnya erat.
Ajeng menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, tubuhnya mulai bergetar lagi.
“Maafin aku, Sayang! Aku gak bermaksud menyepelekan kamu,” ucap Ferdian lirih.
“Aku tarik semua ucapan aku! Aku minta maaf. Kumohon maafkan aku!” ucapnya lagi kini ia memeluk tubuh istrinya yang bergetar. Wangi tubuh yang selalu dirindukannya tercium kuat. Ia sadar betapa rindunya itu sangat besar, sehingga ketika memeluknya seperti ini ia ingin semakin mengeratkannya lagi.
Ferdian menangkup pipi istrinya, melihat matanya yang bengkak karena berhari-hari menangis. Ia sadar istrinya itu tengah menderita, lalu tadi pagi ia meminta menjauhinya, tentu saja lukanya semakin parah saja.
“Maafin aku karena tidak bisa mendampingi kamu dengan benar. Maafin aku yang telah menyalahkanmu atas semua ini. Padahal ini salah aku juga yang mungkin mengabaikan kalian selama beberapa bulan ini!”
Ajeng tidak berhenti mengeluarkan air matanya. Hatinya meronta, memohon untuk dipeluk lagi karena sudah terlalu rapuh. Bibirnya bergetar ketika lidahnya itu mulai berbicara.
“Tolong jangan minta aku jauhin kamu lagi! Aku selalu butuh kamu!” ucap Ajeng tersedu-sedu, menghamburkan dirinya di tubuh suaminya
Ferdian kembali memeluk tubuh istrinya, kali ini lebih erat, membuat rasa hangat yang tidak bisa diterjemahkan oleh kata-kata. Akan tetapi kata nyaman cukup untuk menggambarkannya. Pria itu mengelus lembut rambut istrinya yang terasa setengah kering dan wangi, membuat hasrat yang selama ini dipendamnya berbulan-bulan, tiba-tiba muncul membuncah, mengalir deras dan dengan cepat menyentak pusat tubuhnya.
Ia menarik wajah istrinya untuk diciumnya lekat dan perlahan. Mata mereka saling terpejam dengan kulit yang saling bersentuhan lembut.
Hati dan perasaan yang tengah bergejolak membuat ciuman yang saling berpagutan di antara mereka menjadi syahdu. Nafas keduanya terasa sangat sesak, terlebih lagi mereka terlalu lama memendam rasa rindu yang begitu dalam. Ferdian membawa tubuh istrinya dengan lembut di atas kasur, mendesak wajah wanitanya hingga terpojok di permukaan papan kasur yang empuk, sehingga dengan sigap ia mengunci tubuh wanita itu dengan seluruh energinya yang panas.
Ajeng tidak bisa menghalaunya, dia terbawa arus permainan yang dipimpin suaminya. Ia masih terus menangis antara haru dan bahagia kalau suaminya masih menginginkannya. Sesekali suara desah lembut keluar dari lisannya ketika area sensitif miliknya diperlakukan lembut. Lisan wanita itu menyebut nama pria yang selama ini memenuhi pikiran dan hatinya, membuat Ferdian semakin menaikan tempo permainan bersama-sama meraih puncak kenikmatan dunia, karena keduanya berlarut dalam percintaan yang menguras tenaga dan perasaan.
"I love you all my life (Aku mencintaimu seumur hidup)," bisik Ferdian lembut di telinga kanan istrinya.
"I love you too, please don't make me far away from your side....(Aku juga, tolong jangan buat aku jauh dari sisi kamu) " ucap Ajeng lirih.
"I promise.... (Aku janji)," jawab Ferdian.
Penyatuan cinta dan rindu berlangsung lama, dramatis, dan emosional karena berbagai perasaan mereka tengah bercampur menjadi satu. Segala sesuatu yang tertahan selama ini, lepas satu persatu malam itu.
Ferdian membetulkan anak rambut yang menutup sebagian wajah istrinya. Ditatapnya lekat wajah istrinya yang sedang tertidur lelap berbalut selimut yang menutupi tubuhnya. Pipinya terlihat kurus, ada sedikit cekungan dan lingkaran hitam di sekitar matanya. Ia sadar istrinya itu menderita karena dirinya berada jauh. Ia mencium keningnya, membuat wanita itu merubah posisi tidurnya lalu membuka matanya perlahan.
“Aku kangen kamu, Sayang!” ucapnya lirih mengelus pipi suaminya yang masih menatapnya hangat.
Ajeng merengkuh tubuh suaminya dan menaruh kepalanya di atas dada suaminya itu.
“I like your warm body! And I always miss it every night (Aku suka tubuh hangatmu, dan aku selalu merindukannya setiap hari)!” ucapnya pelan.
“I like your scent! And I love everything about you (Aku suka wangi tubuhmu, dan aku cinta segala hal tentang kamu)!”
Ajeng tersenyum mengeratkan pelukannya. Ferdian mengecup puncak kepala istrinya, lalu kembali mengelusnya.
“Kamu mau kembali ke Chicago?” tanya Ajeng menatap suaminya yang ada di hadapannya
Ferdian membalas tatapan istrinya.
“Kamu tau jawabannya, Sayang!” jawabnya tersenyum tipis.
Ajeng menunduk. Hatinya berkata tidak, tentu saja.
“Kita akan rawat Arsene bareng-bareng. Kamu dan aku. Kita akan usahakan Arsene pulih dan bisa berjalan lagi,” ucap Ferdian mengambil tangan istrinya dan mengecupnya.
“Apa rencana kamu?” tanya Ajeng.
“Aku akan bawa Arsene berobat di rumah sakit terbaik yang bisa kita usahakan, lalu melakukan terapi. Kita akan mendampingi dan membuatnya menjadi anak yang kuat.”
Ajeng tersenyum.
“Apa rencana kamu, Sayang?” tanya Ferdian balik bertanya.
Ajeng menghela nafasnya. Ia sudah memikirkan hal ini bahkan sebelum peristiwa kecelakaan Arsene. Ia terdiam lalu mengambil nafas. Ia mengambil tangan kekar suaminya, dan menautkan jari di antara jari-jari tangan suaminya.
“Aku akan berhenti bekerja dan mengejar karirku. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi, sekalipun ke ujung dunia. Dan seperti kata kamu, kita akan membuat Arsene menjadi kuat,” jawab Ajeng bergetar.
Ferdian menatapnya. Ia sadar bagi istrinya, melepaskan karir yang dibangunnya selama ini bukannya hal yang mudah. Untuk mengatakannya pun bukan perkara yang simpel. Namun ia bisa melihat keyakinan istrinya itu di dalam matanya, bahwa istrinya sedang bersungguh-sungguh. Ferdian memeluk istrinya, memberinya kekuatan. Mereka sedang saling menguatkan untuk masa depan yang tidak bisa ditebak. Inilah rencana mereka.
“Kamu serius, Sayang?”
“Ya, aku serius. Bahkan aku sudah memikirkannya sebelum kecelakaan Arsene. Aku akan berhenti tepat di tahun ini,” terang wanita pemilik iris mata cokelat itu.
Ferdian tersenyum tipis. Hatinya bahagia, keinginan yang sempat diutarakannya dulu kini sudah diputuskan oleh istrinya.
__ADS_1
“Oh ya... Aku ingin memberitahu kamu, kalau ayah akan memberi bantuan pengobatan Arsene ke Singapura. Menurut kamu gimana?”
Ajeng tertegun.
"Alhamdulillah...."
“Tapi kita harus pindah ke Singapura dan tinggal di sana sampai Arsene benar-benar pulih. Apa kamu mau?” tanya Ferdian ragu.
Ajeng terdiam menatap wajah suaminya. Lalu ia tersenyum sendiri sambil menunduk.
“Kapan kita berangkat?” tanya Ajeng.
Ferdian tersenyum, ini berarti istrinya setuju.
“Kita akan berangkat segera setelah urusan kamu di kampus selesai. Kamu siap?”
“Aku akan selesaikan pekerjaan dulu sesegera mungkin.”
Hati Ferdian sedang melayang saat ini. Tanpa selaan, tanpa omongan panjang, istrinya itu langsung menyetujui tawaran ini. Ia menyadari perubahan yang terjadi pada istrinya. Hanya saja wajahnya itu masih memendam rasa sedih yang mendalam.
"Aku juga sudah minta pada ayah, untuk tidak ditempatkan di perusahaannya. Kita akan benar-benar mandiri membangun keluarga kita. Hanya saja, ayah tetap meminta aku untuk membangun usaha seperti yang aku lakukan di sini," terang Ferdian.
"Kamu minta itu sama ayah?"
Ferdian mengangguk.
"Aku akan membangun usaha kuliner di sana, karena pengalaman bisnisku cukup untuk menjadi bekal. Walaupun ayah tetap memantau situasi kita, hidup kita akan tetap mandiri. Jadi kita akan berjuang bersama, kamu siap kan?" tanya Ferdian mengangkat dagu sang istri.
"Insya Allah aku siap, Sayang. Yang penting di hidupku selalu ada kamu."
Ferdian tersenyum dan mengecup bibir istrinya.
“Sayang, aku boleh minta sesuatu sebelum pergi?” tanya Ajeng melirikan bola matanya ke arah kiri dan kanan.
“Apa itu?”
“Aku ingin mengkaji dan mengenakan hijab, apa boleh?” tanyanya ragu.
DEG. Hati Ferdian terkesiap. Apa ia tidak salah mendengar ucapan istrinya itu?
“Kamu serius?” tanya Ferdian seolah tidak percaya.
“Aku sudah pikirkan ini sebelum kamu pulang kesini. Aku tau aku sempat menunda hal ini, setelah kamu suruh aku. Dan setelah kejadian ini, rasanya aku benar-benar menyesal. Aku mau ngaji dan pakai hijab, kamu gak keberatan kan?”
“Aku gak keberatan sama sekali. Aku justru seneng banget apalagi kamu mau pakai hijab. Kecantikan kamu gak akan pernah pudar di mata aku,” jawab Ferdian membuat mata Ajeng berbinar.
“Maafin aku selama ini, belum bisa jadi istri yang baik untuk kamu. Kadang, aku lebih merasa di atas dibanding kamu, karena kamu cuma mahasiswa aku. Aku tahu, sikap keras dan egoku membuat aku susah menuruti apa mau kamu. Maafin aku, Sayang!“ ucap Ajeng lirih yang kini menenggelamkan wajahnya di dada telanjang suaminya, dan merangkul tubuhnya.
Hati Ferdian bergetar mendengar ucapan yang dilontarkan istrinya. Ia tak menyangka Ajeng akan berkata-kata seperti itu, sesuatu yang tidak pernah diduganya sama sekali. Padahal selama ini, istrinya sudah cukup baik meskipun kadang memang egonya itu membuat ia bersikap keras kepala. Sejak awal mereka berbicara, ia ingat sekali ketika pernikahannya itu disembunyikan, begitu juga dengan rencana menunda anak. Wanitanya itu juga tetap ingin mempertahankan karirnya setelah melahirkan anaknya dan terakhir, ia selalu mencari alasan untuk menunda kajian yang disarankannya.
Ferdian membawa tubuh wanitanya terduduk di atas kasur. Ia menatapnya tajam dengan mata berkilauan sambil memegang bahunya.
“Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku. Kamu adalah anugrah terindah yang Allah kasih buat aku,” ucap Ferdian mendekap erat tubuh istrinya.
“Aku sadar aku pun belum bisa memimpin keluarga ini dengan baik. Aku kadang juga tidak menghargai usaha kamu. Mulai saat ini kita harus sama-sama berjuang agar Allah ridho dengan keluarga ini. Kamu mau kan terus di samping aku sampai di surga nanti?”
Ajeng mengangguk, sambil memejamkan matanya. Tekadnya sudah kuat dan bulat.
“Aku mau! Aku akan selalu di sisi kamu. Jangan pernah bosan untuk nasihati dan bimbing aku, ya Sayang?”
“Tentu aja! Kamu juga, ingatkan aku kalau salah dan keliru.”
Keduanya saling berpelukan erat lalu berciuman, dan mengulangi apa yang baru saja mereka lakukan sebelumnya.
\=\=\=\=\=
Quotes:
“He’s not perfect. You aren’t either, and the two of you will never be perfect. But if he can make you laugh at least once, causes you to think twice, and if he admits to being human and making mistakes, hold onto him and give him the most you can. He isn’t going to quote poetry, he’s not thinking about you every moment, but he will give you a part of him that he knows you could break. Don’t hurt him, don’t change him, and don’t expect for more than he can give. Smile when he makes you happy, yell when he makes you mad, and miss him when he’s not there. Love hard when there is love to be had. Because perfect guys don’t exist, but there’s always one guy that is perfect for you.”
― Bob Marley
Translate:
Dia tidak sempurna. Kamu juga, dan kalian berdua tidak akan pernah sempurna. Tetapi jika dia bisa membuat kamu tertawa setidaknya sekali, membuat kamu berpikir dua kali, dan jika dia mengaku sebagai manusia, lalu membuat kesalahan, berpeganganlah padanya dan berikan dia apa yang bisa kamu beri. Dia tidak akan mengutip puisi, dia tidak bisa memikirkan kamu setiap saat, tetapi dia akan memberi kamu bagian dari dirinya yang dia tahu bisa saja kamu hancurkan suatu waktu. Jangan sakiti dia, jangan ubah dia, dan jangan berharap lebih dari yang bisa ia berikan. Tersenyumlah saat dia membuat kamu bahagia, omel dia saat membuat kamu marah, dan rindukan dia saat dia tidak ada di sana. Cinta itu sulit ketika ada cinta yang bisa didapat. Karena laki-laki sempurna itu tidak ada, tapi selalu ada satu laki-laki yang cocok untuk kamu."
\=\=\=\=\=
kuterharu :')
Jangan lupa like, comment, dan vote yaa
__ADS_1
Support terus
Makasiiiih