Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 91


__ADS_3

Ferdian baru saja memasak sayur bayam dan ayam goreng di dapur. Untung saja dua menu masakan itu tidak terlalu sulit, jadi ia bisa menyelesaikannya lebih cepat. Wangi aroma rempah tercium sampai ke dalam kamar. Ajeng baru saja keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan tubuhnya, mencium aroma rempah ayam goreng kesukaannya, perutnya langsung berbunyi keroncongan.


Ajeng melangkah ke dapur setelah wangi dan bersih. Untung saja baby Arsene sudah tertidur lelap malam itu, jadi ia dengan leluasa bisa menyantap masakan buatan suaminya itu.


"Yuk makan!" ajak Ferdian yang baru saja cuci tangan. Pria tinggi itu melepas apron masaknya yang berwarna biru dan menggantungnya di tembok. Ia menghampiri istrinya yang sedang mengambil piring makan.


"Udah kamu duduk cantik aja, biar aku yang sajikan semua di atas meja. Biar kamu bisa langsung makan," ucap Ferdian mengambil piring yang sudah diambil oleh istrinya itu seraya tersenyum.


Ajeng jadi tersenyum merona dibuatnya. Ia merasa tersanjung diperlakukan seperti itu oleh suaminya.


"Terima kasih, Suamiku Sayang!" ucap Ajeng, lalu ia duduk manis di kursi meja makannya sambil menatap pada suaminya yang sibuk menghidangkan menu makan malam hari ini.


 


Dengan telaten, Ferdian menata piring-piring makan di atas meja. Ia mengambil beberapa sendok nasi dan menaruhnya di atas piring milik istrinya.


"Jangan terlalu banyak, Sayang!" seru Ajeng ketika Ferdian akan menaruh satu sendok nasi lagi di atasnya.


"Oke!"


Lalu pria berdagu lancip itu menaruh sepotong ayam goreng rempah kuning di pinggir nasi dan juga semangkuk berisi sayur bayam, di samping piring istrinya. Tak lupa,air putih segar dituangkannya ke dalam gelas bening. Ajeng jadi terharu melihatnya. Suaminya itu jadi terlihat lebih tampan 100 kali lipat di matanya. Lebay? Ah tidak juga, perlakuan baik suami kepada istri tentu mendapat pahala yang sangat besar, apalagi kondisi istrinya itu baru saja melahirkan anaknya.


"Makasih banyak, Sayangku!" ucap Ajeng lagi. Ferdian tersenyum tersipu mendengar ucapan istrinya itu.


Ajeng menunggu suaminya selesai menyiapkan hidangan, agar bisa makan bersama.


"Gimana rasanya?" tanya Ferdian setelah melihat Ajeng berdoa dan menyuapkan sendok berisi sayuran bayam itu ke dalam mulutnya.


"Enak bangeeet! Seger!" jawab Ajeng antusias.


Mata Ferdian berbinar mendengar pujian istrinya.


"Masakan kamu selalu enak dan aku selalu suka, makasih banyak ya Sayang," ucap Ajeng yang terus menyuap sendok demi sendok ke dalam mulutnya. Entah memang kelaparan atau memang ia selalu ketagihan dengan masakan suaminya itu, dengan lahap ia menikmati makan malamnya.


"Sama-sama, makan yang banyak ya, biar ASI kamu lancar. Jadi anak kita gak kelaparan."


"Siap, Sayangku..."


 


\=====


 


Malam itu, Arsene telah tidur di ranjang kecil miliknya. Hanya saja ranjang itu tidak berada di kamar yang selama ini kosong. Ranjang itu telah Ferdian pindahkan ke dalam kamarnya. Agar ketika bayi imut itu menangis, orang tuanya bisa langsung menghadapinya.


 


 


Ajeng telah tertidur lelap di atas kasur miliknya, sementara Ferdian memeluk tubuh istrinya yang sekarang bisa ia rangkul kembali seperti dulu, sebelum istrinya itu hamil. Dada wanita itu terlihat padat dan berisikan sumber makanan bergizi untuk anaknya. Dua jam berlalu, tiba-tiba sebuah suara nyaring pecah malam itu.


 


 


Dengan berat, Ajeng berusaha membuka matanya. Suaminya itu masih merangkul tubuhnya sehingga ia kesulitan untuk bangun.


"Sayang, geser dulu tangannya, Arsene bangun..." ucap Ajeng dengan suara parau.


"Mmhh...." erang Ferdian. Bukannya menggeser tangannya, ia malah menarik tubuh Ajeng dalam dekapannya.


"Arsene bangun, Fer!" ucap Ajeng lebih keras. Akhirnya Ferdian menggeser dan membalikan tubuhnya ke arah lain tanpa sadar.


 


 


Ajeng menghampiri ranjang kecil dan menggendong bayinya yang masih dibedong itu. Bagian bawah tubuhnya basah. Ia harus mengambil wadah berisi air di kamar mandi dan juga pakaian anaknya untuk diganti. Namun karena langkahnya yang masih terasa linu, ia belum bisa melangkah jauh.


"Sayang....bisa tolong bantu aku?" ucap Ajeng menggoyang-goyang tubuh suaminya.


"Mmhhh...?" Ferdian membuka matanya.


"Bisa tolong ambil baju Arsene di kamar sebelah? Sama tolong ambilkan wadah untuk air hangat?"


"Oke," jawab Ferdian dengan suara seraknya. Pria itu kemudian berjalan keluar kamar, sambil menggaruk-garuk kepalanya.


 


 


Ajeng melepas semua pakaian Arsene yang basah. Tak lama kemudian, Ferdian kembali. Ia membawa pakaian Arsene dan segelas air hangat di tangan kanannya. Istrinya itu langsung terkekeh.


 


 


"Aku bukan minta minum, Sayang. Aku minta wadah baskom untuk air hangat, ini Arsene badannya basah semua karena buang air kecil."


"Ooh..." jawabnya tanpa ekspresi.


 


 


Ferdian membalikan tubuhnya dan kembali menuju dapur dengan langkah gontai.


 

__ADS_1


 


"Tunggu sebentar ya, anak Mommy cakep!" ucap Ajeng pada bayinya yang masih terus menangis.


 


 


Kali ini Ferdian berhasil membawakan barang yang benar. Dengan sigap, Ajeng membersihkan tubuh Arsene dan mengganti semua pakaiannya. Ia juga kembali membedong anaknya agar terasa hangat. Ferdian hanya memperhatikannya dengan tatapan sayu. Lalu ia berjalan lagi keluar kamarnya. Ajeng menatap suaminya heran. Mau kemana suaminya itu?


 


 


Ajeng mendudukan tubuhnya di atas kasur ketika anaknya itu sudah terdiam dari tangisannya. Ia kembali menyusuinya agar Arsene tertidur kembali, sambil melafalkan surat-surat pendek Al-Quran yang dihafalnya.


 


 


Ferdian terlihat sedang mendorong lemari kecil berisi pakaian anaknya. Ajeng menatapnya terkejut, meskipun ia tahu mungkin Ferdian melakukan itu agar ia atau suaminya itu tidak bolak-balik ke kamar sebelah hanya untuk mengambil pakaian milik Arsene.


 


 


"Besok aku rapihin lagi," ucap Ferdian. Ia mendorong lemari kecil itu sampai menempel di sebelah pintu walk-in wardrobe-nya.


"Makasih Sayang!"


 


 


Lalu pria itu merebahkan kembali tubuhnya di samping istrinya yang sedang menyusui.


"Kayanya kamar kita perlu ditata ulang," ucap Ajeng.


"Iya, nanti aku minta petugas cleaning service bantu buat rapihin kamar kita lagi," ucap Ferdian, sambil membetulkan posisi bantalnya.


"Sayang, itu pintunya belum ditutup," ujar Ajeng memberitahu.


"Oh iya!" Ferdian kembali beranjak dari kasurnya dan menutup pintu kamarnya. Namun setelah ditutup, ia kembali membuka pintu dan berjalan keluar. Lalu ia kembali sambil membawakan termos kecil dan menaruhnya di atas nakas di sisi Ajeng.


"Ini air panas kalau Arsene kebangun lagi."


 


 


Ajeng tersenyum dan mengucapkan terima kasih lagi kepada suaminya yang hari ini benar-benar seperti malaikat di matanya. Pria itu pun tertidur kembali.


 


 


\=====


 


 


"Woy...New Hot Daddy, selamat ya!" ucap Malik mengagetkan Ferdian yang baru saja akan memejamkan mata.


"Oh wow, ada panda di sini!" ujar Syaiful melihat mata sayu Ferdian.


"Ciyeee. yang udah jadi bapak-bapak langsung kena mata panda gitu euy!" Ghani menimpali.


"Hehehe!" Ferdian hanya menyengir saja, merespon kawan-kawannya itu.


 


 


"Gimana jadi orangtua perdana nih?" tanya Ridho.


"Gak perlu gue jawab juga kalian pasti udah tau!" jawab Ferdian lemas.


"Hahaha, ah elo mah bikinnya doang yang semangat, anak udah keluar lesu begini! Gimana tuh?" seru Danu, yang baru datang dan langsung duduk di samping Ferdian.


"Ya namanya perdana, pasti capek lah! Gue yang masak, nyuci, beberes, tadi malem pun kebangun gara-gara istri minta tolong. Tapi gue seneng kok, anak gue udah lahir," jawab Ferdian.


"Itu lah resiko jadi orang tua. Nikmatin aja, Men!" ujar Ridho.


"Iya gue juga nikmatin, cuma ternyata ya capek juga."


"Ah lo mah, gampang. Tinggal cari asisten rumah tangga selesai dah!" ucap Syaiful.


"Iya, kita juga udah ada kok. Rencananya besok baru datang."


"Kapan nih kita bisa jenguk keponakan baru?" tanya Malik antusias.


"Terserah kalian aja lah. Cuma istri gue juga masih sama-sama capek, kebayang aja kalian ribut-ribut di apartemen, entar bikin anak gue nangis seharian!"


"Wooo, dasar! Emangnya kita mau bikin konser?" timpal Danu.


Ferdian tertawa-tawa saja.


"Terserah lah. You're all welcome!"

__ADS_1


"Yeah! Nanti pas Jumat aja yuk, pulangnya kan agak siang, jadi bisa lah nengok keponakan bentar," usul Ghani.


"Bawain kado yang banyak ya buat Arsene!" seru Ferdian.


"Gaya beud dah, namanya macam pelatih Arsenal dulu aja!"


"Gak tau tuh, Ajeng yang kasih nama! Tapi gue suka sih, keren dan artinya juga bagus."


"Emang apa sih nama lengkapnya?" tanya Syaiful.


"Arsene Rezka Winata, artinya seorang yang kuat, setia, dan penyayang dari keluarga Winata"


"Aseek, mantap lah!" seru kawan-kawan Ferdian kompak.


 


 


"Eh Mr. Mike masuk tuh!" seru Malik yang heboh mencari kursi kosong di depan kawan-kawannya. Begitu pula dengan kawannya yang lain, yang langsung duduk rapi ketika dosen blasteran Amerika itu masuk ke dalam ruangan.


 


 


Ferdian terpaksa harus membuka matanya lebih lebar agar tidak merasakan kantuk lagi untuk dua jam kedepan.


 


 


\=====


Sore itu Ferdian baru saja pulang dari kampusnya, ia juga membawa sebungkus makanan untuk makan malamnya. Ia telah tiba di apartemen miliknya. Tiba-tiba ia melihat wajah-wajah yang dikenalnya baru saja keluar dari pintu utama apartemen. Itu adalah dosen-dosen Sastra Inggris. Ada Novi, Susan, Ardi, Pak Julian, Bu Ratih, dan Bu Sekar. Mungkin mereka baru saja menjenguk Ajeng dan bayinya. Ferdian mengambil helm miliknya ketika telah mengunci motornya di halaman parkir khusus penghuni apartemen. Dosen-dosen itu sudah masuk ke dalam mobil mereka, ia jadi tidak sempat untuk menyapanya. Ferdian pun melangkah menuju huniannya.


"Assalamu'alaikum..." Ferdian memasuki apartemennya.


Tak lama, Ajeng menyambutnya sambil menggendong baby Arsene yang terbangun. Meski tampil sederhana dengan dress rumah bunga-bunganya, wanita itu tampak cantik dan segar.


"Wa'alaikumsalam..." Ajeng mengecup punggung tangan suaminya.


"Eh anak Daddy lagi bangun ya?"


"Iya Daddy, barusan ada tamu kesini. Kalian ketemu di bawah gak?"


"Enggak. Aku lihat sih, tapi mereka keburu pergi," jawab Ferdian sambil menaruh helmnya.


"Ooh..."


 


Ajeng menaruh baby Arsene di kasurnya. Lalu kembali keluar dan mengambilkan minum untuk suaminya yang terlihat kelelahan.


"Kamu capek, Sayang?" tanya Ajeng memperhatikan wajah suaminya.


"Sedikit."


"Besok, Bi Asih datang diantar Mama Papa kok. Jadi bisa bantu kita di sini!" ujar Ajeng.


"Iya, alhamdulillah. Seenggaknya aku bisa fokus untuk skripsi lagi."


"Iya tenang aja. Kamu bakal lulus tepat waktu kok!"


"Aamiin. Ini aku bawain makanan buat kamu!" ujar Ferdian memberikan dua kotak makan.


"Beli dimana?"


"Di warung nasi Padang."


"Wow, pasti bakal enak banget nih!" seru Ajeng riang.


"Ibu menyusui emang beda ya, makannya lahap!" ucap Ferdian terkekeh-kekeh.


"Iya nih bawaannya lapar terus. Duh gawat kalau makin tambah berat badanku!"


"Gak apa-apa, Sayang! Yang penting Arsene bisa dapat ASI-nya, toh aku gak akan pindah ke lain hati cuma gara-gara kamu gendut!"


"Ih bisa aja deh gombalnya!" colek Ajeng pada pipi suaminya.


"Iya dong, cuma kamu yang aku cinta."


 


Sontak wajah Ajeng jadi merona dibuatnya. Ia pun berjalan ke dapur sambil menahan senyumnya yang tersipu-sipu.


\=====


 


 


Bersambung dulu yaa


Komennya dong biar rame, hehe...


Like dan votenya juga jangan lupa


 


 

__ADS_1


Follow instagram author ya @aeriichoi


Thank youuu


__ADS_2