Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 137. Sebar


__ADS_3

Rangkaian masa orientasi untuk mahasiswa baru di tahun ajaran baru terselenggara hari itu. Hari ini adalah pengenalan para organisasi dan unit kegiatan mahasiswa dalam rangka agar mahasiswa akan bisa mengenal berbagai organisasi intra kampus, baik tatarannya dalam fakultas ataupun universitas. Dari sana mereka juga bisa langsung mendaftarkan diri dalam kegiatan di luar jam kuliah itu demi mendapat pengalaman berharga dalam organisasi, mengasah bakat maupun minat.


Arsene dan kawan-kawan LDK DKM Asy-Syifa sudah bersiap sejak pagi untuk mendirikan tenda mereka dan menghiasnya dengan berbagai foto kegiatan yang sudah terselenggara di tahun-tahun sebelumnya. Alunan sholawat serta lagu-lagu Islam perjuangan disetel untuk semakin membuat semangat, serta menyemarakkan kegiatan mereka untuk melakukan perekrutan anggota baru.


Di sebelah tenda ikhwan, tenda khusus akhwat juga sudah berdiri di sana. Hiasan-hiasan cantik dengan warna-warna manis lebih dominan menjadi dekorasi tenda. Sudah terpampang juga foto-foto kegiatan untuk LDK Keputrian. Beberapa standing banner yang menampilkan profil LDK DKM Asy-Syifa berdiri di depan tenda. Beberapa anggota mereka bersiap untuk menyebarkan brosur serta kuesioner untuk beberapa mahasiswa baru yang lewat. Meski berbeda cara merekrut, tetapi ikhwan dan akhwat kompak untuk bisa bersama-sama memperbesar anggota demi dakwah kampus yang bisa tersebar luas.


Arsene sudah siap dengan beberapa brosur yang dibawanya. Rencananya ia akan menyapa para mahasiswa baru yang lewat di depan tenda LDK dan langsung mengajaknya mengobrol ke dalam. Tidak berbeda dengan suaminya, Zaara yang mengenakan gamis hitam berumpak dan kerudung pinknya, juga sudah berdiri di depan tenda. Mereka saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum untuk memberikan semangat. Karena keduanya sudah suami istri, mereka dijadikan koordinator lapangan di hari itu agar komunikasi antara ikhwan dan akhwat tidak terkendala.


“Sen, tolong tanyain ke panitia akhwat, tools untuk penyebaran ada yang kurang gak?” tanya Kang Ahmad sang Ketua LDK.


“Oh iya, bentar Kang!” Arsene berjalan keluar dari tendanya untuk menemui istrinya yang untung saja berada di luar.


“Neng Zaara, kesini bentar!” serunya. Zaara menghampirinya.


“Kenapa Abang?”


“Kata Kang Ahmad, tools untuk penyebaran masih ada yang kurang gak di akhwat?”


“Tadi sih kurang souvenir aja. Tapi kata Fitri nanti paling minta ke ikhwan kalau emang bener-bener habis,” terang Zaara.


“Oooh, ya udah nanti Abang sampaikan dulu. Jadi brosur dan kuesioner aman ya?”


Zaara mengangguk. “Oke!”


Arsene kembali ke tenda ikhwan dan melaporkan apa yang sudah diketahuinya kepada Ketua LDK.


Suasana lapangan stadion utama kampus benar-benar ramai sejak pukul 9 pagi. Para mahasiswa baru sudah berdatangan dari berbagai fakultas yang ada. Suara hingar bingar musik terdengar dari banyak tenda-tenda organisasi mahasiswa. Mereka juga banyak melakukan promosi seperti tebar brosur, leaflet, atau stiker. Banyak mahasiswa baru yang kebingungan karena organisasi kampus sangat banyak, sehingga kebanyakan dari mereka berjalan mengitari stadion untuk melihat-lihat dulu.


Arsene berdiri di jalan sambil menyembulkan senyuman khasnya, ia menyebar brosur yang ada di tangannya kepada mahasiswa laki-laki. Ia juga sengaja mencegat mereka untuk mengajaknya mengobrol agar bisa memperkenalkan LDK. Tak sedikit mahasiswa perempuan yang juga mendatanginya, untuk menanyakan LDK.


“Ra, suami kamu jadi magnet! Duh, maba-maba tau aja yang cakep!” ucap Terry yang juga ikut menjadi panitia.


“Biarin lah, ntar sama dia diarahin kesini juga kok!” ucap Zaara sambil menyebar leaflet.


“Kamu gak risih gitu?” tanya Terry.


“Ya gimana lagi. Itu bukan maunya juga. Kadang jealous juga sih kalau liat dia makin tenar.”


“Duh sabar ya Ra!”


Benar kata Zaara, Arsene mengarahkan para mahasiswa perempuan yang ingin ikut LDK Keputrian kepada para panitia akhwat. Zaara dan Terry menyambutnya hangat dan mengajaknya untuk mengisi kuesioner di dalam tenda. Para panitia akhwat hanya berharap mahasiswa yang mendaftar kesini memiliki niat lurus. Walau misalnya sempat bengkok di awal, maka sudah menjadi tugas mereka untuk meluruskannya ketika kegiatan pengajian sudah dimulai.


Adzan dzuhur berkumandang. Para panitia bergantian untuk berjaga dan sebagiannya pergi ke masjid. Arsene sudah lebih dulu pergi ke masjid bersama kawan-kawan LDK-nya, sementara Zaara masih berada di tenda.


“Ra, kamu ke masjid duluan. Biar nanti koordinasi gampang soalnya setelah ini kita bakal hitung tools yang tersisa!” ucap Fitri, Ketua Keputrian.


“Oh iya Fit! Suami aku udah ke masjid ya?”


“Iya tadi aku lihat udah pergi sama Kang Ahmad.”


“Oke!”


Zaara mengajak serta sahabatnya Terry dan Hana untuk ikut bersamanya. Sementara yang lain berjaga dan tetap menyebarkan brosur.


Suasana masjid kampus sangat ramai di jam sholat dzuhur. Bahkan tempat wudhu jamaah perempuan sangat penuh, membuat Zaara dan dua sahabatnya mengantri.


Ponsel di saku Zaara bergetar ketika tengah mengantri wudhu. Zaara terpaksa mengangkatnya, itu dari Arsene.


“Dimana?” tanya Arsene.


“Aku lagi mau wudhu. Abang dimana?”


“Baru selesai sholat. Mau makan bareng?”


“Terserah, aku masih antri nih. Kalau mau duluan, duluan aja!” ucap Zaara. Hari itu mereka tidak membawa kotak bekal makan siang karena mereka harus sama-sama koordinasi sejak pagi untuk persiapan hari ini.


“Ya udah, nanti aku telepon lagi. Aku ke tenda lagi ya?”


“Iya.”


Terik matahari siang membakar kulit, membuat sepasang mata orang-orang yang berjalan di tengah lapang mengernyit kesilauan. Mereka menjadikan brosur-brosur yang didapatkan sebagai pelindung panas. Keringat berpeluh, membuat kulit mengkilap bagai minyak.

__ADS_1


Zaara dan beberapa akhwat Keputrian sudah kembali dari masjid. Rasa lapar menghampiri perut yang sejak tadi kosong.


“Kita di sini sampai jam berapa, Fit?” tanya Hana pada Fitri.


“Sampai jam 15.00 kalau lihat di timeline. Kalian udah makan siang?” tanya akhwat semester 5 itu.


“Belum, laper nih!” ucap Terry mengusap perutnya.


“Ya udah makan aja dulu!”


“Horeee, yuk, Ra!”


“Bentar aku tanya Arsene dulu.” Zaara kembali keluar tenda yang dipenuhi oleh mahasiswa baru yang sedang mengisi kuesioner.


Zaara tampak canggung untuk menyapa ikhwan yang berjaga di luar. Arsene tidak ada di sana, mungkin ada di dalam. Angga yang juga adalah teman se-SMA-nya untung ada di sana. Ia sudah kenal cukup baik dengan pria itu.


“Angga! Ada Arsene di dalam gak?” tanya Zaara.


“Arsene? Ooh, tadi ke kantin belakang masjid sama Adit, Ra!”


“Oh iya, syukron!”


Zaara mengajak Terry dan Hana untuk mampir juga ke kantin yang terletak di belakang masjid kampus. Suasana di masjid masih ramai, sudah dipastikan di dalam kantin pun akan ramai. Benar saja, meja-meja di kantin sudah sangat penuh.


“Gimana? Mau beli roti aja?” tanya Hana melihat keramaian di dalam sana.


“Ya udah yuk!” Zaara dan Terry setuju.


Akhirnya mereka hanya membeli beberapa camilan berat dan juga minuman untuk mengganjal perut mereka yang kosong beberapa menit. Zaara juga tidak menemukan sosok suaminya di sana. Setelahnya mereka keluar melalui pintu yang lain. Ketiganya memutuskan untuk memakan apa yang sudah dibeli di bawah rimbunnya pepohonan. Terdengar suara berintonasi tinggi sedang berbicara tidak jauh dari mereka duduk. Dari suaranya terdengar jelas bahwa pemilik suara itu tengah emosi. Ketiganya malah menjadi penasaran. Di sana berdiri dengan jelas, Adit, Kang Ahmad, dan juga Arsene.


“Kalian tuh udah dibilang tempatnya bukan di dalam stadion, tapi dekat masjid. Kok ngeyel dikasih tau?!” ucap seorang laki-laki berjas almamater.


“Tapi kita udah dapat surat izin dari panitia PMB minggu kemarin, Kang!” terang Ahmad.


“Panitia hari ini tuh bukan PMB, tapi Pansus. Kalian udah punya suratnya belum?”


“Kita udah ada izin dari Kang Rasyid kemarin, katanya kalau mau bikin stand tinggal bikin aja kaya tahun lalu,” lanjut Ahmad.


Ahmad menggeleng. “Saya kira sama aja seperti tahun kemarin. Lagian ini juga udah setengah hari, Kang! Kita LDK resmi di bawah rektorat langsung, kita bukan lembaga ekstra kampus yang butuh perizinan rumit. Apalagi ini demi syiar dakwah Islam di kampus, masa dipersulit seperti ini?” bela Ahmad.


“Tetep aja kalian butuh perizinan resmi dari panitia yang berjaga. Kalau saya gak lewat, para panitia yang masih bau kencur itu gak berani negur kalian. Apa Rasyid gak kasih tau kalau tempat kalian di mesjid?”


“Gak ada pemberitahuan sama sekali, Kang!”


Pria berjas almamater itu terlihat mendengus kesal.


“Pokoknya bereskan tenda kalian! Saya gak mau ada organisasi yang gak punya surat izin sebar-sebar brosur di sana.”


“Tapi Kang, ini tinggal 2 jam setengah lagi. Apa sama sekali gak ada kompensasi?” protes Arsene.


“Peduli amat. Kalian itu gak taat prosedur!”


“Bukan gak taat prosedur. Tapi Kang Rasyid sendiri yang mengizinkan kami untuk mendirikan tenda itu di dalam stadion, hanya saja tidak ada surat karena dia gak bilang!”


“Saya gak mau tau! Pokoknya tenda LDK mesti dibereskan sekarang! Area stadion mesti steril dari panitia kalian!”


“Astaghfirullah! Kita sama-sama organisasi kampus Kang! Apalagi ini untuk dakwah Islam, mahasiswa baru juga butuh bekal agama di sini!” bela Ahmad lagi.


“Mereka bisa lari ke masjid kalau butuh!” sentak pria itu.


“Astaghfirullah.”


“Kampus ini beragam, Kang! Anda tidak berhak memisahkan masjid dan LDK dari mahasiswa baru. Tidak ada aturan juga dari rektorat yang melarang LDK untuk melakukan perekrutan atau penyebaran brosur.”


“Cepat bereskan tenda kalian! Kalau tidak, tahun depan jangan harap kalian punya tempat lagi di sini!” pria berjas almamater itu mengancam, kemudian pergi begitu saja dari tiga ikhwan yang memandangnya tajam.


“Astaghfirullah. Gimana ini jadinya, Kang?” tanya Arsene.


“Ya udah, daripada jadi makin rumit, gak baik juga untuk kedepannya. Kita mengalah aja. Ini bukan salah kita juga. Panitia Khusus itu gak jelas kasih perizinan. Nanti saya konfirmasi lagi sama Kang Rasyid terkait hal ini. Sekarang kita balik aja dulu ke tenda dan jelasin ke semua panitia di sana,” terang Ahmad.


Ketiga perempuan berhijab yang sedari tadi menjadi penonton ikut cemas. Camilan berat di tangan mereka sudah habis. Mereka lekas-lekas membuang sampah dan kembali ke tenda.

__ADS_1


Ahmad sebagai Ketua LDK mengumpulkan anggota lainnya untuk rapat dadakan. Ia juga menginstruksikan kepada ketua keputrian dan koordinator lapangan untuk ikut serta dalam rapat yang diadakan di dalam tenda ikhwan. Akhirnya Ahmad memutuskan agar para anggota LDK dan keputrian yang ada di sana membereskan tenda dan melanjutkan perekrutan hari itu di lingkungan masjid saja sampai ashar tiba.


Mahasiswa-mahasiswa yang lewat di depan tenda mereka jadi bertanya-tanya mengapa LDK sudah membereskan diri, sementara UKM lainnya masih standby di stadion. Mereka hanya menggelar tikar dan meja di selasar masjid yang kini sudah sepi, meski masih ada beberapa mahasiswa baru berdatangan untuk sholat. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyebar brosur dan meminta mengisi kuesioner sampai adzan ashar berkumandang.


Selepas maghrib, Arsene dan Zaara kembali ke apartemen mereka. Terasa lelah dan letih tubuh mereka seharian penuh berusaha menyebar brosur untuk merekrut anggota baru untuk mempelajari Islam bersama-sama di kampus. Arsene menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


“Mandi dulu, Abang!” seru Zaara memberikan air minum pada suaminya.


“Nanti bentar lagi.” Arsene menyesap air hangat tawarnya.


“Huff, baru kali ini aku ngerasain diusir kaya gitu! Padahal kita cuma gak punya surat izin, itu pun karena salah paham, dan waktu tinggal sisa dua jam lebih. Lagian kita bukan organisasi macam-macam. Udah jelas kita itu lembaga dakwah kampus, yang langsung payungnya itu di bawah rektorat. Beda sama UKM lain yang sebatas di bawah fakultas.” Zaara mengeluh di samping suaminya.


“Tahun kemarin gak gitu kan?” tanya Arsene.


“Enggak, baik-baik aja kok! Panitia PMB sekarang tuh kaya punya hurt feeling gitu sama DKM, gara-gara kita punya calon untuk maju ke presma. Jarang kan, anak LDK ikut presma. Padahal ini politik kampus, kok bisa sih segarang itu?! Apalagi udah politik negara, wuih bisa sikut-sikutan aja demi dapet kursi!” Zaara mendengus kesal.


“Yah bisa jadi sih. Pendukung calon dari anak LDK lumayan banyak, meski akhirnya kalah. Mungkin mereka mau gertak, karena kita masih punya calon lain untuk maju tahun ini,” sahut Arsene.


“Iya betul. Tapi itulah, sekulerisme bikin mereka jadi mengasingkan masjid dan agama dari kehidupan lainnya. Kaya kampus tuh gak butuh masjid. Yang butuh aja yang boleh cari masjid. Hmm… nanti di akhirat tau rasa loh, cari syafaat bakal susah karena gak bela masjid dan agama Allah!” Zaara sepertinya sudah sangat kesal dengan apa yang terjadi hari ini.


“Sabar, Sayang!” Arsene mengelus kepala istrinya.


“Kesel sih! Pakai acara bentak-bentak lagi!”


“Kamu lihat tadi?” tanya Arsene.


“Iya, aku kan baru dari kantin juga. Duduk dulu deket situ, kita tontonin kalian!”


“Ya Allah. Terus kalian gimana?”


“Pengen rasanya lempar botol ke senior yang tadi tuh!”


“Astaghfirullah, sabar, Sayang! Ini cobaan buat anak-anak LDK. Di luar aja, dakwah makin susah. Kampus itu refleksi dari sebuah negara. Jadi gak akan jauh beda. Rasulullah saw. aja dakwahnya dicaci maki, apalagi kita yang gak ada apa-apanya. Kita mesti sabar, gak boleh tersulut emosi meski kita berada di pihak yang benar. Karena Islam itu fitrah, orang pasti akan menjemput ketika hatinya sudah terbuka.”


Zaara menghela nafas dan beristighfar.


“Iya kamu betul.” Zaara menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


“Jadi sekarang apa?” tanya Arsene tiba-tiba.


“Apa?” tanya Zaara tidak mengerti.


“Mandi?”


“Iya, duluan sana! Aku mau siapin makan malam.”


“Bareng!” ucap Arsene dengan wajah datarnya.


“Iya nanti makan bareng!”


“Mandinya!”


“Ish, gak mau ah! Aku males!”


“Eh, pahala lho! Mau pahala?” memainkan matanya.


“Abang mah!” Zaara menepuk dada suaminya.


\======


Bersambung dulu yaa, wkwk


Like, comment dan vote jangan lupa yaa


Gratis kok buat dukung Aerii


Makasiiih ^_^


Yang suka cerita Acen Zaara bantuin Author promo di medsos kalian yaa


Kalau di instagram jangan lupa tag @aeriichoi

__ADS_1


Uuunch makasiiiih ^_^


__ADS_2