
Arsene kembali ke mejanya setelah ia berbincang-bincang dengan kedua kawannya, Abdul dan Fahri. Ia tersenyum kecil ketika Zaara mengeluarkan buku catatan miliknya.
“Kayanya ada yang lagi seneng nih?” ucap Arsene memperbaiki posisi kursinya.
“Siapa?” tanya Zaara.
“Kamu.”
“Enggak, biasa aja tuh!” jawab Zaara mengambil pulpen dan mulai membuka buku catatannya.
Guru mata pelajaran Biologi belum datang. Zaara ingin sekali menanyakan perihal kue yang sering ia dapatkan beberapa hari ini. Bahkan pagi ini, Arsene juga memberikannya sekotak burger, yang laki-laki itu berikan langsung padanya. Kecurigaannya pada Arsene semakin jelas, ketika ia merasakan kue-kue yang dikirim Arsene ketika mendatangi rumahnya. Rasa dan aromanya sangat mirip. Ia ingin memastikannya dan menanyakan apa tujuan dari dikirimnya kue-kue itu untuknya.
“Arsene…” panggil Zaara pelan.
Arsene yang sedang membaca buku pelajarannya menoleh heran.
“Kenapa?”
“Aku mau tanya sesuatu, boleh?” tanya Zaara memandangi Arsene sekilas dan tetap tertuju pada bukunya.
“Apa itu?”
Zaara bergumam sebentar, lalu melanjutkan keperluannya.
“Umm.... apa kamu yang nyimpen kue di bawah meja itu buat aku?” tanya Zaara kini pandangannya tertunduk.
DEG. Hati Arsene terkejut. Matanya melebar, tetapi Zaara tidak melihatnya.
“Apa yang membuat kamu berpikir kue itu dari saya?” tanya Arsene.
“Hmm… kemarin kamu bawa kue ke rumah, rasanya mirip banget dengan kue yang biasa aku dapat di sini. Apalagi rasa blueberry-nya, itu persis banget sama kue yang aku makan beberapa hari lalu. Aku suka blueberry, dan aku sering rasain, tapi punya kamu itu beda,” terang Zaara.
DEG. Arsene menggaruk pelipisnya.
“Betul atau betul?” tanya Zaara.
“Apa kamu keberatan?” tanya Arsene, seolah secara tidak langsung ia mengakui kalau memang ia lah orang yang mengirim kue-kue itu pada Zaara.
Zaara mendongakkan tubuhnya, lalu menoleh pada kawan pria di sampingnya yang sedang tertunduk.
“Jadi beneran kamu?” tanya Zaara memastikan.
“Kamu gak suka ya?” tanya Arsene lesu. “Maaf kalau saya lancang!”
Zaara terkekeh kecil.
“Enggak kok! Aku suka kuenya. Tapi buat apa kamu kirim kue sembunyi-sembunyi gitu?” tanya Zaara lagi.
“Saya cuma pengen berteman, dan gak mau kamu galak--galak sama saya,” jawab Arsene jujur, hal itu membuat Zaara menahan tawanya.
“Maaf ya, kalau pas awal kita kenalan aku pernah galak sama kamu. Tapi gak maksud gitu sih, aku cuma pengen jaga jarak aja,” terang Zaara.
“Jujur aja, mungkin kamu itu cowok pertama yang bisa sedekat ini sama aku. Itu pun karena kita teman sebangku. Jadi aku gak mungkin bisa terus-terusan galak sama kamu, capek tau! Bikin cepet tua nanti” terang Zaara lagi, mengalir begitu saja.
Arsene tertawa kecil, dalam hatinya ia bersyukur karena Zaara mau berterus terang dengan dirinya sendiri terkait pertemanannya dengan dia.
“Kalau dikirimin kue masih mau?” tawar Arsene.
“Gak usah repot-repot. Pertemanan itu gratis, cukup dibayar dengan kepercayaan dan kesetiaan aja,” ucap Zaara.
Arsene tersenyum lebar. Ia merasa usahanya tidak gagal untuk membeli kepercayaan Zaara padanya.
“Makasih banyak buat kuenya. Jujur aja itu kue terenak yang pernah aku rasain. Umi kemarin bilang gitu juga kok. Kata Tante Ajeng, kamu sendiri yang bikin, betul?”
__ADS_1
“Ah... Mommy udah ngasih tau Tante Karin?”
Zaara mengangguk.
“I-iya betul,” jawab Arsene grogi.
“Hebat banget! Ajarin kapan-kapan ya?! E-eh, maksudnya kasih resep gitu kek,” ucap Zaara salah tingkah.
“Siap!” jawab Arsene senang.
“Jadi kita berteman ya?” pinta Arsene.
“Oke!” jawab Zaara singkat.
Senyuman merekah dari kedua bibir mereka, meskipun keduanya tidak saling berpandangan satu sama lain. Hanya saja hal itu sudah cukup membuat kedua hati mereka bahagia.
\=\=\=\=\=
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Arsene melangkahkan kakinya di sepanjang koridor depan perpustakaan bersama siswa-siswa lainnya. Siswa yang pulang semakin banyak ketika dari arah tangga muncul banyak siswa kelas sepuluh.
“Abang Aceeeen!” sebuah teriakan dari arah tangga membuat Arsene tertegun. Suara cempreng melengking itu sangat dikenalnya. Itu suara Fea, yang sudah pindah ke sekolahnya hari ini. Banyak siswa menoleh ke arah suara itu.
“Abang Aceeeen!” teriaknya lagi sambil menuruni tangga. Ia menghamburkan dirinya pada abang sepupunya itu dan memeluknya dari belakang, membuat Arsene risih karena banyak pasang mata tertuju pada keduanya. Ia melepaskan diri.
“Yeaaay, kita ketemu disini!” ucap Fea riang, kini tangannya merangkul lengan Arsene.
“Pulang bareng yuuuk!” ajaknya.
Arsene hanya mengernyitkan keningnya.
“Kamu kan pulang bareng Pak Ujang!” sergah Arsene.
“Tapi tungguin Fe dulu dong, Pak Ujang belum dateng nih!” rengeknya manja.
“Anter ke kantin dulu yuk?! Fe haus. Nanti Abang aku beliin minum juga!” ucapnya, tanpa persetujuan Arsene, Fe menarik lengan Arsene dan membawanya menuju kantin yang terletak di samping masjid sekolah. Lelaki itu hanya bisa pasrah.
Fea membeli sebotol minuman teh hijau dingin untuknya, lalu memberikan botol lain yang sama untuk sepupunya itu. Mereka pun duduk di bangku panjang yang ada di depan kios itu.
“Rain mana, Bang?”
“Udah nunggu di depan kayaknya,” jawab Arsene lalu meneguk teh hijau miliknya.
Fea cekikan membuat mata sipitnya terlihat tertutup. Lalu kembali meminum teh miliknya. Rasain, ucapnya dalam hati.
“Tungguin Fe ya! Fe gak mau sendirian di sekolah!” ucap gadis itu lagi.
“Udah punya temen belum?” tanya Arsene.
“Ada sih, tapi udah pulang duluan,” jawab Fea pura-pura memasang raut cemberut.
Tiba-tiba datang sekelompok siswi berhijab, termasuk Zaara di sana. Mereka mendatangi warung kantin untuk membeli sesuatu sebelum pulang. Arsene melihatnya, seperti biasa Zaara selalu memasang senyum lebar ketika bersama kawan-kawan rohisnya itu. Tetapi tadi siang, ia pun tersenyum seperti itu ketika bersama Arsene. Tatapan mereka saling bertemu, membuat Zaara menunduk, lalu memilih sesuatu untuk dibelinya.
“Fe mau beli sesuatu lagi ya? Tunggu sebentar!” ucap gadis itu beranjak dari tempat duduknya, lalu membeli sesuatu lagi.
Gadis itu berdiri di samping kawanan siswi berhijab, sambil mengucap permisi ia mengambil sesuatu di rak, lalu langsung membayar barang yang dibelinya.
“Nih buat kamu yang udah baik nemenin aku disini….” ucapnya riang sambil menyerahkan sebatang cokelat dan langsung duduk di samping menempel pada tubuh Arsene.
“Thank you,” jawab Arsene pelan sedikit agak risih dengan kelakuan centil adik sepupunya itu. Apalagi Zaara sempat melirik ke arahnya, karena suara sopran Fea memang luar biasa menarik perhatian.
“Kata orang, cokelat itu simbol cinta dan kasih sayang lho. Aku kasih ini, karena aku sayang sama kamu!” ucap Fea manja. Hal itu tentu saja membuat Arsene terbelalak dan menepuk jidatnya, lalu beranjak pergi dari warung kantin tiba-tiba.
“Iiih...mau kemana?” teriak Fea protes lalu mengejar Arsene.
__ADS_1
“Abang Aceeen!” panggilnya lagi setelah keluar dari warung kantin. Gadis itu setengah berlari mengejar Arsene yang langkahnya cepat.
“Mau pulang!” jawab Arsene datar.
“Iiih tunggu, Abang!” protes Fea mengambil lengan Arsene yang sudah berada di sampingnya.
Sampai akhirnya, kedua remaja sepupuan itu tiba di halaman sekolah. Rainer sudah berdiri di sana, memasang wajah kesalnya. Fea tampak tegang melihat sepupu galaknya di sana, meski misi untuk mengerjainya itu bisa dikatakan berhasil.
“Heh! Lo sengaja bikin gue nunggu di sini ya?!” sentak Rain pada Fea yang berjalan di depannya sambil pura-pura tidak melihat.
“Kabooooor!” ucapnya sambil berlari kencang.
“Woy!” teriak Rainer.
“Yuk pulang!” ajak Arsene menepuk pundak adiknya yang masih memandangi Fea.
“Si Fe balas dendam kayanya,” ucap Rainer masih menatap punggung sepupunya yang berlari menuju sebuah mobil van hitam yang terparkir di sisi jalan.
“Kayanya!” ucap Arsene singkat.
“Lo diapain dia, Bang?!” tanya Rainer.
“Itu mobil opa sejak kapan ada di sana?” tanya Arsene bertanya balik.
“Sebelum gue kesini juga udah ada. Kayanya udah lama juga.”
“Sial emang!”
“Emang dia ngapain lo, Bang?!"
“Itulah, bilangnya Pak Ujang belum datang, makanya minta temenin di kantin. Terus dikasih ini!” terang Arsene, sambil memotong beberapa potong cokelat untuk adiknya.
“Lo dikasih ini sama dia?” ucap Rainer memasukan batangan cokelat itu ke dalam mulutnya.
Arsene mengangguk, “sambil bilang gini, ‘cokelat itu lambang kasih sayang, jadi aku kasih ini karena aku sayang kamu…’ ucap Arsene nyinyir sambil mempraktekan gaya bicara Fea yang centil.
Tawa Rainer pecah di sana, bahkan membungkuk sambil memegang perutnya.
“Parahnya, dia ngomong begitu di depan temen sebangku Abang!”
“Wah, cewek berhijab yang kemarin Abang ceritain?”
Arsene mengangguk-angguk, masih menahan kesal pada gadis centil itu. Rainer tertawa lagi, nasibnya ternyata tidak seburuk abangnya.
“Kan bisa bikin orang salah paham,” ucap Arsene yang kini sudah berada di samping motornya.
“Jangan-jangan dia tau, kalau Abang sebangku sama cewek berhijab itu,” sahut Rainer memakai helmnya.
“Ah masa? Kapan dia lewat depan kelas, gak pernah lihat tuh!”
“Fe itu jago berkamuflase, entahlah apa yang dia lakuin sampai bisa tau kalau Zaara itu temen sebangku Abang. Atau, jangan-jangan dia juga tau kalau Abang naksir sama cewek itu…”
DEG.
\=\=\=\=\=
Aduuuh Fea....
Bersambung dulu yaa
LIKE, COMMET, dan VOTEnya dong
Makasiiiih
__ADS_1
.