
Zaara telah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian santai kaos pendek dan celana panjangnya yang pas di tubuhnya yang tinggi ramping. Kepalanya masih terlilit handuk karena rambutnya yang basah. Melihat Arsene yang tertidur di atas karpet sambil menutup wajahnya dengan lengannya, Zaara jadi tersenyum. Pria itu benar-benar tertidur setelah frustrasi menghinggapinya.
Zaara mengaplikasikan pelembab wajah dan bibirnya, dan menyapukan bedak tabur di wajahnya. Tak lupa ia bubuhkan lipcream berwarna pink nude untuk bibirnya. Parfum disemprotkan ke lehernya dan beberapa bagian tubuhnya. Handuk yang menutupi kepalanya dilepas, dan digosokkan pada rambutnya yang masih basah.
Mencium aroma menyegarkan itu, membuat Arsene terbangun. Ia membuka matanya perlahan. Tetapi ia masih berpura-pura tidur. Matanya sedikit mengintip keberadaan istrinya yang sedang menyisir rambutnya itu. Zaara duduk di atas karpet di samping kaki suaminya. Ia masih menyisir rambutnya yang terlihat lurus karena masih basah dan akan menjadi bergelombang kembali ketika kering. Kemudian, tangannya mengambil sebuah kotak kado berwarna pink.
Arsene membangunkan tubuhnya, Zaara menoleh.
“Istriku udah cantik nih!” ucapnya berseri dengan rambut yang berantakan.
“Iya, tinggal suaminya yang belum mandi,” ucap Zaara tak kalah berseri.
“Aku mandi dulu deh!” ucap Arsene berdiri dan mengambil handuknya.
Wangi sabun milik Zaara masih tertinggal di dalam kamar mandi, membuat Arsene terlena. Pria itu lekas-lekas mengguyur tubuhnya dan menggosok badannya dengan sabun miliknya.
Sementara suaminya mandi, Zaara membuka ponselnya. Gadis itu membuka aplikasi instagramnya, ternyata banyak dari teman rohisnya di SMA dulu menandai namanya juga nama Arsene dalam postingan dan cerita ketika menghadiri pesta pernikahannya kemarin. Ada juga dari kawan-kawan kuliahnya. Zaara tersenyum, ternyata kawan-kawannya sangat perhatian padanya. Ia merasa bersyukur karena kehidupannya terasa lebih baik, apalagi kini Arsene menjadi suaminya. Meskipun ada rasa sedih melanda menyadari lelaki manis itu akan pergi esok lusa. Apakah dirinya bisa menahan rindunya?
Beberapa menit kemudian, Arsene keluar dengan santai yang hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya, seperti kebiasaannya sehari-hari. Sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah, pria itu menatap ke jendela luar. Zaara menoleh padanya dengan mata yang membesar.
“Astagfirullahaldziim!” ucap Zaara kaget. Tangannya refleks menutup wajahnya dan memunggungi dari suaminya yang masih berdiri.
Arsene terkekeh puas melihat tingkah Zaara, sepertinya ia harus mengerjai istrinya kali ini. Setelah tadi ia yang merasa tegang karena melihat sebagian saja tubuh istrinya di kamar mandi.
“Kenapa mesti tutup mata? Kan udah halal?!” ucapnya mendudukan dirinya di atas kasur, sambil menyisir rambutnya yang setengah kering.
“Gak tau, aku belum kuat!” ucap Zaara dari balik telapak tangannya.
Arsene tertawa-tawa. Ia semakin gemas saja. Lelaki itu menyemprotkan parfum di badannya sehingga tercium ke seantero ruangan tidur yang cukup luas ini. Dengan perlahan ia berjalan mendekati istrinya.
Arsene duduk berselonjor dengan tubuh yang bersandar di punggung istrinya. Sebenarnya ia sendiri tidak sanggup menahan diri dan tubuhnya pun bergemetar, hanya saja ia ingin sekali mengerjai istrinya yang salah tingkah itu.
“Arsene pakai baju dulu!” seru Zaara mendorong tubuh suaminya yang berada di belakang punggungnya.
“Gak mau!” ucapnya.
“Cepet ih!”
“Gak mau, asal….”
“Asal apa?”
“Asal kamu cium aku dulu!” ucapnya tertawa-tawa, meski kini tubuhnya terasa panas.
Zaara makin salah tingkah saja mendengar permintaan Arsene.
“Cepet sini!” seru Arsene tertawa riang.
Zaara membalikan tubuhnya, dan memperhatikan suaminya yang segar dan kegirangan meski wajahnya terlihat memerah. Zaara hanya sanggup melihat wajahnya, dan mengabaikan badan suaminya yang proporsional dengan ototnya yang masih belum terlalu menonjol. Ini pertama kali baginya melihat tubuh pria selain ayah dan adiknya.
Zaara mengernyitkan matanya.
“Duduk sini!” ucap pria itu menepuk pahanya yang berhanduk. Sambil terus berusaha santai dan tidak tegang.
Zaara benar-benar lemas dan pasrah saja mendengar permintaan konyol suaminya. Tangan dan kakinya gemetaran selagi berdiri. Terpaksa ia mendudukan dirinya di atas pangkuan suaminya itu dan hanya fokus melihat wajah tampannya saja yang terus menahan tawa. Jantungnya berdebar tidak karuan, wangi tubuh Arsene membuatnya tertarik.
“Terus?!” tanya Zaara ragu menatap mata suaminya.
Arsene menunjuk pipi kanannya, meminta gadis itu mendaratkan kecupannya di sana.
Zaara menahan nafasnya dengan ekspresi salah tingkahnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk mengatasi rasa canggung yang hebat ini.
"Ayo cepet!" seru Arsene yang sebenarnya tidak kalah grogi, sambil terus menahan tawanya.
Zaara mengecup pipi pria tampan itu dengan cepat. Arsene tersenyum dan kembali menunjuk pipi sebelah kirinya. Zaara kembali mengecupnya dengan kikuk, tanpa bunyi kecupan.
Arsene tertawa puas di depan wajah istrinya yang memendam kekikukan.
"Dah pake baju sana!" perintah Zaara.
"Sebentar!" sergah Arsene.
Arsene mengambil lengan Zaara dan menaruhnya di pundak miliknya, sehingga gadis itu bisa merangkul lehernya.
Jantung keduanya berpacu dengan cepat dengan darah yang sama-sama berdesir mengirimkan sinyal-sinyal tertentu pada bagian tubuh mereka. Keduanya saling bertatapan dalam dan menusuk hingga ke hati untuk yang pertama kalinya. Nafas mereka menderu kencang. Arsene merangkul pinggang gadis yang dipangkunya. Lalu mendekatkan wajahnya pada Zaara. Ia memperhatikan sejenak bibir istrinya itu lalu menciumnya lembut dan perlahan. Kedua mata mereka saling terpejam, meski hanya ******* kecil, tetapi keduanya terlena dalam ciuman pertama mereka itu selama beberapa menit.
__ADS_1
Zaara melepaskan diri dengan nafas yang tidak beraturan.
“Aku kan lagi haid!” ucapnya pelan dengan kening yang menempel pada kening suaminya, ia merasakan ada sesuatu di bawahnya yang terasa aneh.
“I know it! But once more, pleaaase (Aku tahu! Tapi sekali lagi, kumohon)!” pinta Arsene dengan mata sayunya yang lembut dan padam.
Wajah keduanya bersentuhan lagi dengan bibir yang siap menyambut.
TOK TOK TOK
“Abang… Zaara…!”
Mata mereka saling bertatapan terbelalak. "Mommy!" ucap keduanya berbarengan.
“Cepet pake baju!” Zaara bangkit dan menjauhkan diri dari suaminya
Sementara Arsene menghela nafas panjang, lalu bangkit dari duduknya sambil membetulkan handuknya yang terlepas sedikit. Ia mengambil pakaiannya sementara Zaara sudah berada di balik pintu kamarnya, siap-siap untuk membukakan pintu untuk ibu mertuanya.
“Iya Mommy?” Zaara menyambut ibu mertuanya itu.
“Kalian lagi sibuk?” tanya Ajeng.
Arsene yang sudah mengenakan celana selututnya dan membawa kaos oblongnya, menghampiri ibunya. Melihat Arsene yang bertelanjang dada. Ajeng jadi merasa bersalah.
“Nanti lagi deh!” ucapnya.
“Mommy! Kita tanggung nih, nanti malah keganggu lagi!” ucap Arsene yang sedikit kesal.
Ajeng menyengir. “Ups, I’m sorry deh! Bentar aja kok!” Ajeng masuk ke dalam kamar mereka.
“Kenapa Mom?” tanya Arsene.
“Ini ada hadiah dari kita buat Zaara!” ucap Ajeng menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna navy.
“Apa itu Mom?!” tanya Zaara terkejut.
Ajeng membuka kotak itu, dan memperlihatkan isinya yang berupa kalung emas dengan liontin berhuruf A. Zaara takjub dengan isinya. Begitu pula dengan Arsene.
“Sini mommy pakaikan!” ucap Ajeng mengambil kalung itu dan melingkarkannya ke leher Zaara. Zaara mengambil rambutnya agar ibu mertuanya itu bisa dengan mudah memakaikannya. Mata gadis itu berkaca-kaca karena mendapat hadiah istimewa dari mertuanya.
“Jazakillah khair, Mom!” Zaara memeluk ibu mertuanya itu.
“Sama-sama, Zaara Shaliha.”
“Ya udah lanjutkan aktivitas kalian ya!” ucap Ajeng mengerlingkan matanya pada anak sulungnya.
“Makasih Mom!” jawab Arsene.
"Cen, tuh ada noda di bawah bibir kamu!" seru Ajeng melihat secuil noda lipcream berwarna pink di bawah bibir Arsene.
Arsene terciduk. Ia mengusap bawah bibirnya dengan jari. Melihat noda lipstick milik istrinya, wajah pria muda itu merona di hadapan ibunya sendiri. Ajeng cekikikan saja sambil keluar dari kamar.
Arsene kembali mengunci pintu kamarnya. Pria itu langsung merangkul pinggang istrinya dan mendorongnya ke atas kasur. Seketika pria itu menindih tubuh istrinya.
“Mau lanjut yang tadi?” tanyanya, matanya berkedip-kedip manja.
Zaara tersenyum tersipu-sipu.
Arsene meluncurkan aksinya kembali, meski hanya kecupan-kecupan ringan saja yang mendarat di wajah Zaara. Ia khawatir hasratnya akan terbangkitkan lebih besar. Pria itu menarik tubuh istrinya dan mendekapnya erat. Rasa hangat yang tidak bisa diterjemahkan ini begitu membuat keduanya merasa nyaman satu sama lain. Entah mengapa bisa seperti itu, mereka pun tidak mengerti.
“Yuk kita buka kado!” ajar Arsene.
“Yuk!”
Zaara duduk di atas karpet, sementara Arsene membawakan semua kado mereka pada gadis yang sedang membuka sebuah kotak persegi panjang. Arsene bergabung dengannya.
“Apa itu?” tanya Arsene.
“Sprei, lucu motifnya!” ujar Zaara.
“Dari siapa?”
“Angga dan Adit! Selamat ya Arsene dan Zaara! Semoga cepet kasih ponakan!” ucap Zaara membacakan kertas di atas bungkusan itu.
Arsene tertawa mendapatkan kado dari teman kuliahnya itu.
__ADS_1
Zaara dan Arsene membuka kotak lainnya bersamaan yang ukurannya kecil-kecil. Sebenarnya kado mereka masih banyak dan di simpan di sebuah ruangan tidak terpakai di lantai bawah, yaitu kado-kado yang lebih besar seperti perabotan rumah tangga. Sedangkan yang dibawa ke dalam kamar ini adalah kado yang berukuran kecil.
“Eh, barang bawaan kamu emangnya udah siap buat besok lusa?” tanya Zaara.
“Tenang, udah aku siapin, tinggal bawa koper aja sama ransel.”
“Oh, syukur deh.”
“Toko siapa yang kontrol?” tanya Zaara lagi.
“Nanti aku serahkan ke Kak Alice. Daddy bantu kontrol! Tapi aku tetap awasin dari jauh via Kak Al!”
Zaara mengangguk-angguk.
“Kamu sedih gak bakal ditinggal aku?” tanya Arsene.
“Umm.... sedih gak ya?” tanya Zaara menggodanya.
Arsene langsung memasang ekspresi sedih manjanya.
“Sedih pastinya!”
“Aku juga, jangan lupa bikin catatan harian ya. Nanti aku kirim email sama paswordnya sama kamu.”
“Oke!”
Arsene menatap wajah istrinya yang kembali membuka kado. Pertanyaan banyak muncul di benaknya. Arsene menarik lengan Zaara, lagi-lagi menyuruhnya untuk duduk di pangkuannya.
“Kenapa Abang Sayang?” tanya Zaara menatap mata Arsene yang terlihat sendu, sementara tangannya sudah melingkar di leher pria itu.
“Apa bisa aku hidup tanpa kamu?” tanyanya pelan.
Zaara jadi terkekeh mendengarnya.
“Sebelumnya aja bisa, jadi setelah ini pasti bisa.”
“Kalau gak kuat?”
“Pulang aja dulu, terus balik lagi.”
“Tiket mahal, aku gak mau minta sama Daddy.”
“Kalau gitu kamu harus kuat!” ucap Zaara.
“Lima bulan ya?! Terus kamu ikut aku. Terus aku lulus bulan Juli, kamu datang ke wisuda aku ya?”
“Iya Abang Sayaaaang!”
“Terus aku balik lagi sini, dan besarin toko!”
“Kuliah Sasing kamu gimana?” tanya Zaara mengingat pria itu masih akan melanjutkan kuliahnya di sini.
“Akan aku pikirin lagi.”
Arsene menatap mata bulat Zaara dan alisnya yang cukup tebal, lalu beralih ke hidung bangirnya dan bibir tebal imutnya. Pipinya yang selalu merona selalu membuatnya gemas.
Ia akan merindukan wajah ini.
Arsene mengecup pelan pipi Zaara, membuat gadis itu tersipu.
“May I (Bolehkah aku)?”
“Hah?!” tanya Zaara tidak mengerti.
“May I taste this once again (Bolehkah aku merasakan ini sekali lagi?)” tanyanya, satu jarinya menyentuh bibir bawah istrinya.
Zaara menahan senyumnya lalu mengangguk pelan.
\======
OMG, can't help my self >.<
Rajin votenya yaaa
LIKE dan Komentar juga jangan lupa
__ADS_1
Makasiiiih ^_^