
Sebuah apartemen modern telah dipilih Arsene dan Zaara. Mereka cepat sekali memutuskan untuk memilih apartemen yang letaknya tidak jauh dari kampus mereka itu setelah beberapa kali survey. Itulah pertimbangan mereka pertama kali karena letaknya yang dekat dengan kampus, jadi Zaara pun masih bisa berjalan kaki jika ia tidak bisa pulang bersama Arsene. Apalagi harga sewa per tahunnya cukup terjangkau dengan desain dan tipe kamar yang nyaman dan sederhana. Berharap setelah mereka tinggal di sana, hidupnya akan semakin mandiri.
Siang itu, Arsene dan Zaara dibantu para asisten rumah tangga Ajeng membantu membawakan barang milik mereka. Apartemen yang memiliki dua kamar tidur dengan luas bangunan 40 meter persegi itu sudah full furnished. Mereka tinggal membereskan perabotan tambahan yang mereka bawa. Zaara merapikan baju-baju, sementara Arsene mengelap perabotan. Untung saja banyak kado pernikahan mereka yang berisi perlengkapan dan alat-alat rumah tangga, sehingga mereka tidak perlu membeli banyak barang lainnya.
Setelah ini, mereka akan menerapkan pola hidup sederhana dan hidup dengan apa yang ada, tidak berutang, dan tetap bekerja keras untuk bisa menabung untuk membangun rumah impian.
Sore itu mereka telah selesai membereskan kamar baru mereka yang berjarak 2 kilometer saja dari kampus. Arsene mengajak istrinya jalan-jalan untuk mengunjungi ruko tokonya yang sedang tutup. Rolling door besi menutupi semua kaca dan pintu ruko itu.
“Apa Abang yakin dengan keputusan Abang?” tanya Zaara menatap suaminya yang sedang menatap ruko tokonya yang sudah tidak beroperasi selama satu minggu.
Arsene menghela nafas, lalu mengangguk.
“Besok aku akan kerja sendirian di sini, mumpung kuliah masih libur. Jadi seenggaknya aku bisa kejar apa yang tertinggal.”
“Terus pas udah masuk kuliah, gimana?” tanya Zaara.
“Akan aku pertimbangkan lagi. Aku belum sanggup untuk memperkerjakan karyawan lagi. Uang modal kita udah habis, dan itu bener-bener untuk beli bahan aja. Kemarin aja kasih uang pesangon untuk Kang Rio dan Kang Hanif terpaksa harus ngambil dari tabungan kita.”
Zaara tertegun. Arsene memang memberhentikan semua karyawannya, termasuk Alice, sepupunya, untuk memangkas semua biaya operasional yang setidaknya masih bisa diandalkan oleh dirinya. Jadi Arsene akan benar-benar memulai usaha ini dari awal oleh dirinya sendiri. Zaara akan membantu tentu saja.
Sedih hati sebenarnya. Usaha ini sudah berjalan satu tahun lebih. Hanya saja kerumitan yang terjadi beberapa bulan ini telah menghabiskan uang investasi bisnisnya. Keuangan dan perputaran modal tidak sehat, tidak ada aliran uang. Bahkan beberapa aset di dapurnya terpaksa dijual agar ia bisa mendapat modal tambahan.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Arsene mengambilnya dari dalam jaket.
“Kenapa Dad?!” tanyanya.
“Bisa ke rumah sekarang?”
“Ada apa?”
“Daddy mau bicarain bisnis toko kamu!”
“Iya bentar lagi kesana.”
Arsene menutup ponselnya.
“Siapa?” tanya Zaara.
“Daddy! Kita ke sana ya?”
Arsene dan Zaara menaiki motor dan melesat menuju kediaman Ferdian.
Suasana rumah itu tampak ramai terlebih Finn sudah bisa berjalan dengan lancar, sehingga ia bermain dengan Kirei mengelilingi rumah. Sementara itu, Rainer memilih bermain playstation di ruang tengah bersama Zayyan yang berencana menginap di sana di akhir pekan ini.
Ferdian menyuruh anak dan menantunya duduk di meja makan. Sambil menunggu hidangan makan malam, Ferdian mengajak anaknya berbincang. Zaara membantu ibu mertuanya menyiapkan hidangan.
“Kamu mau apain toko kamu?” tanya Ferdian sambil menyesap teh manis hangatnya.
“Besok aku kerja sendiri Dad, seenggaknya sampai kuliah masuk.”
“Terus kalau udah masuk gimana?”
“Aku mau lihat perkembangannya selama dua minggu kedepan, baru bisa memutuskan.” Arsene memainkan jarinya.
“Kamu pasti butuh tambahan modal kan?” tanya Ferdian.
“Enggak, yang ada di aku masih cukup kok! Aku akan coba putar semua uang yang ada di kas.” Arsene menata ayahnya dengan yakin.
“Yakin? Daddy mau kasih modal buat kamu, seenggaknya kamu bisa coba taruh satu karyawan di sana untuk bantu selama kamu kuliah.”
Arsene menatap wajah ayahnya. Ia sudah memikirkan hal ini dan ia akan mengantisipasi jika hal ini terjadi.
“Makasih Dad! Tapi aku pikir, modal itu lebih baik Daddy gunakan untuk yang lain. Aku ingin tantang diri aku sendiri dengan apa yang aku punya saat ini. Aku udah berkeluarga, dan aku gak mau ngerepotin Daddy atau Opa Gunawan lagi!”
Ferdian menatap anaknya tidak percaya.
“Yakin?! Kamu gak perlu gantiin kok!”
Arsene mengangguk, tekadnya sudah bulat.
“Aku yakin. Aku akan coba ini sendiri!”
Ferdian menggeleng-geleng. Ia tahu anaknya itu keras kepala seperti ibunya. Jika sudah berkata tidak, dia tidak bisa dikompromikan lagi.
"Abang, kamu udah pikirin semua resikonya?" tanya Ajeng menaruh pinggan berisi ayam goreng di meja makan.
__ADS_1
"Udah Mom! Ini adalah resiko terkecil yang aku ambil. Makanya aku belum butuh tambahan modal baru. Kalau toko bisa berkembang lagi selama dua minggu ini, baru mungkin aku pikirkan untuk cari modal tambahan."
Ajeng dan Ferdian menatap anaknya bersamaan.
“Ya udah, Daddy akan hargai keputusan kamu! Resiko kamu pegang sendiri. Daddy akan pantau terus usaha kamu meski sekarang Daddy bakal lepas tangan.”
Arsene menenggak salivanya, tegang. Ia tahu jika ayahnya lepas tangan berarti ia akan bekerja sendirian dan tidak seperti kemarin-kemarin ketika ayahnya turut serta mencarikan koki dan karyawan untuk ditempatkan di tokonya. Arsene mengangguk. Tekadnya sudah bulat.
\=\=\=\=\=
Pagi itu, Arsene membuka tokonya. Bersama Zaara ia masuk ke dalam toko pagi sekali. Menyiapkan bahan tersisa yang ada untuk dibuat menu kue andalannya, muffin dan eclairs. Ia tidak tahu sejauh apa respon pelanggan terhadap tokonya itu selama beberapa bulan terakhir. Hanya saja dilihat dari komentar di media sosial, banyak pelanggan kecewa terhadap rasa kue mereka.
Zaara mengelap dan membersihkan perabotan yang berdebu karena toko telah ditinggal selama satu minggu. Sementara Arsene bersiap-siap membuat adonan.
Stok bahan di pantry sudah menipis. Arsene mengecek tanggal kadaluarsa setiap bahan yang akan digunakannya. Cukup aman karena tanggal kadaluarsa masih lama. Ia membuat muffin terlebih dahulu untuk 20 porsi.
Pria muda itu bekerja sangat cepat di dapurnya. Ovennya yang telah dinyalakan sejak tadi, kini dibukanya. Dimasukkannya adonan muffin dengan berbagai varian topping, 5 pcs varian coklat, 5 pcs varian vanilla kismis, dan 10 pcs varian cokelat kacang. Sambil menunggu muffin matang, kini kerjanya beralih untuk membuat adonan eclairs.
Bahan frosting dan filling untuk eclairs tidak sebanyak sebelumnya. Hanya tersisa frosting cokelat dan strawberry saja. Jadi ia akan menyajikan dua varian itu saja hari ini.
Zaara telah selesai membersihkan, ia memasang tablet digital yang biasa dijadikan sebagai mesin kasir selama ini. Gadis itu pergi ke dapur untuk melihat kerja suaminya.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya sambil mencuci tangan.
Tiba-tiba alarm oven berbunyi, pertanda muffin telah matang. Arsene mematikan kompornya selagi membuat adonan eclairs. Ia berlari menuju oven dan membukanya. Mengeluarkan loyang berisi muffin, ia meminta Zaara memindahkannya ke tempat lain untuk didinginkan.
Arsene melanjutkan pekerjaannya. Ia mencetak adonan eclairs untuk dipanggang dalam oven. Sementara itu Zaara membawa muffin ke etalase dan memajangnya di sana sesuai dengan varian masing-masing. Menu pertama telah selesai, gadis itu kembali ke dapur.
Arsene tengah sibuk menyiapkan frosting, sambil sesekali mengecek adonan eclairs miliknya. Zaara melihat suaminya yang terlihat sedikit panik, beberapa hari itu Arsene memang pendiam. Mungkin terlalu banyak yang dipikirkannya. Pria itu mengeluarkan adonan yang sudah matang dan mematikan oven gasnya.
Zaara menghampirinya, menggenggam bahu suaminya.
“Gak usah panik! Rezeki udah ada yang atur.” Zaara meyakinkan suaminya.
“Iya aku tau. Makasih udah ingetin!”
“Kalau kamu cemas terus, nanti kuenya gak enak.”
Arsene menaruh kepalanya di atas bahu istrinya. Menaruh segala beban pikiran yang selama ini mengumpul. Zaara memeluknya memberi kekuatan.
Arsene menatapnya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Adzan dzuhur telah berkumandang. Arsene dan Zaara yang duduk di sofa yang sama tampak lelah menunggu pelanggan yang tidak kunjung datang. Padahal sudah tiga jam berlalu semenjak toko itu buka. Bahkan mereka membuka lebih awal dari jam operasional biasa. Tetapi belum ada satu pun pelanggan yang datang.
“Kamu solat duluan, aku jaga di sini dulu!” ucap Arsene pada istrinya.
“Oke!”
Tiba-tiba sebuah mobil minivan datang terparkir di depan toko. Arsene harap-harap cemas, ia berdiri di belakang etalase. Seorang wanita berkacamata hitam turun dari mobil itu lalu berjalan menghampiri toko sebelah. Arsene menghela nafas, ternyata itu bukan pelanggannya. Ia kembali mendudukkan dirinya di atas sofa.
Zaara sudah kembali, ia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang. Sengaja ia membawa beberapa kotak bekal makan agar tidak boros makan di luar seperti permintaan Arsene. Sementara pria itu menuju lantai atas untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Bunyi lonceng pintu berbunyi nyaring. Seorang wanita berambut panjang mendatangi toko. Zaara langsung menyambutnya dengan ramah.
“Sweet smile for a sweet treat!”
Wanita itu melihat isi etalase yang minim menu karena hanya ada muffin dan eclairs saja.
“Gak ada cheese cake?” tanyanya.
“Kebetulan di toko kami sedang kosong, Bu! Hanya ada dua menu ini saja!” ucap Zaara ramah.
“Pesen sekarang bisa gak?”
“Untuk sekarang Bu?”
“Iya bisa gak? Tolong anter ke kawasan Dago nanti sore!” pinta wanita itu sambil menatap layar ponselnya.
“Saya tanya sama ownernya dulu ya Bu?!”
“Oke!”
Arsene menuruni tangga dan menghampiri mereka. “Ada yang bisa dibantu, Bu?” tanyanya ramah.
“Kamu owner toko ini?” tanyanya menelisik penampilan Arsene, rambutnya basah sehabis wudhu. Wajah putihnya berkilauan.
__ADS_1
“Iya Bu, saya owner toko sekaligus pembuat kue di sini. Kenapa ya?”
“Ibunya mau pesen cheesecake,” ucap Zaara.
“Iya saya mau pesen cheesecake untuk diantar jam 4 sore ke kawasan Dago, bisa gak ya? Kalau gak bisa saya mau cari ke toko lain!”
“Bisa Bu, silakan tulis alamatnya di sini! Nanti akan kami antar!” ucap Arsene ramah sambil menyodorkan tablet digital berisi format pelanggan.
Wanita itu mengambilnya dan mengetikkan alamatnya serta nomor kontaknya di sana.
“Pakai DP gak ya?”
“Gak perlu, ibu bisa langsung bayar cash nanti setelah pesenannya jadi. Silakan pilih menunya dulu.”
Wanita itu menunjuk gambar cheesecake strawberry. Ia pun keluar dari sana.
“Kamu jaga toko dulu, aku pergi belanja bahan yang gak ada!” ucap Arsene mengambil helm dan kunci motornya. Pria itu bergegas pergi menuju supermarket, sementara Zaara memandanginya dari dalam toko.
Padahal setahunya uang modal untuk belanja itu sudah habis dibelikan tadi pagi. Memang ada beberapa bahan yang tidak tersedia seperti krim keju, whip krim, lemon, dan strawberry. Entah mengapa hati Zaara tidak karuan, apalagi cara memandang wanita itu pada suaminya terlihat aneh. Akan tetapi ia menepis pikirannya yang tidak-tidak.
Setengah jam berlalu, Arsene datang membawa kantong belanjaan.
“Zaara Sayaaang, ada yang beli?” tanya Arsene masuk ke dalam dapur. Wajahnya terlihat sumringah.
“Ada tadi satu orang, beli dua muffin!”
“Alhamdulillah,” Arsene menaruh belanjaannya di dalam kulkas.
“Abang makan dulu, baru bikin kuenya!”
“Iya, yuk!”
Zaara membuka kotak bekalnya dan mereka menikmati sajian makan siang di dalam tokonya berdua.
Sore itu sesuai dengan janjinya, Arsene pergi mengantar cheesecake strawberry ke sebuah perumahan elite di kawasan Dago. Ia menjalankan motornya perlahan, sambil memperhatikan rumah-rumah megah yang ada di pinggir jalan. Ia sudah menanyakan pada satpam depan komplek. Arsene memberhentikan motornya di sebuah rumah bergaya modern seperti milik kakeknya. Melihat nomor yang tertera di tembok pagar, Arsene yakin ini adalah rumah ibu pemesan yang tadi.
“Permisi!” ujarnya pada seorang petugas keamanan yang ada di depan rumah itu.
“Mau cari siapa, A?”
“Benar ini kediaman Ibu Rachel?”
“Iya betul! Ada perlu apa?” tanya satpam itu.
“Saya mau antar pesanan Ibu Rachel! Tapi Ibunya belum bayar.”
“Oh tunggu sebentar!”
Satpam menggunakan telepon pararelnya untuk dihubungkan ke dalam rumah megah itu. Berbicara sebentar lalu menutupnya lagi.
“Disuruh masuk katanya!” ujar Pak Satpam.
“Ooh…”
Pak Satpam membukakan pintu pagar untuknya. Ia menitipkan motornya pada Pak Satpam karena ia tidak mau parkir di dalam, ia pikir urusannya hanya sebentar untuk mengantar kue saja dan menerima pembayaran.
“Silakan masuk, A!” ucap seorang paruh baya membukakan pintu utama.
“Silakan duduk, Nyonya bentar lagi turun!”
“Baik Bu!” Arsene menaruh kotak pesanan di atas meja tamu. Ia mendudukkan dirinya di atas sofa empuk.
Rumah ini begitu besar dan megah. Lampu-lampu kristal menggantung dari atas plafon berukir. Sebuah foto keluarga berbingkai emas menghias di dinding, sekilas Arsene menatap ke arahnya. Ada satu wajah yang sepertinya ia kenal.
“Arseeeene!”
Seorang gadis berteriak tiba-tiba, membuat jantungnya melompat tinggi.
“Cinta?!” tanya Arsene terkejut.
\=\=\=\=\=
Bersambung dulu....
Jangan lupa VOTE, LIKE, & COMMENT yaa
__ADS_1
Makasiiiih ^_^