Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 54. Cemas


__ADS_3

Kepanitiaan Idul Adha telah dibubarkan seiring selesainya acara. Arsene mengucap terima kasih kepada seluruh kawan-kawan masjidnya yang telah berpartisipasi aktif, serta dalam menyukseskan agenda yang sudah terselenggara. Selanjutnya, ketua pelaksana diharuskan membuat laporan akhir penanggungjawaban dari seluruh divisi dibantu oleh SC mereka.


Arsene berjalan kembali menuju kampusnya untuk mengambil motor miliknya sore itu, karena ia harus bergegas mengontrol tokonya. Sebuah notifikasi muncul tiba-tiba.


[Arsene, maaf merepotkan tapi apa boleh Tante minta tolong?] ketik Tante Karin di grup Ta’aruf Zaara-Arsene.


[Minta tolong apa, Tante?]


[Mau titip sesuatu buat Mommy Ajeng, bisa mampir ke rumah dulu?]


[Siap, Tante!] jawabnya.


Arsene memasukan ponselnya ke dalam sakunya. Hari semakin gelap saja, dan awan di atas sangat pekat dan tebal. Sepertinya akan turun hujan lebat, ia harus segera pergi dari sana.


Arsene memacu motornya kencang menuju tokonya. Benar saja, belum tiba di tokonya, hujan rintik-rintik sudah mulai turun beserta angin. Pria muda itu memutar gasnya lebih kencang lagi sebelum hujan lebat benar-benar turun. Sampai tiba di depan tokonya, ia berlari kecil.


“Kehujanan Cen?” tanya Alice yang menyapanya.


“Dikit lah!” ucapnya sambil mengusap tetesan air yang menempel di jaket denimnya.


“Wah hujan badai kayaknya!” ucap Alice yang mendekati jendela depan toko dan mengintip keadaan luar.


“Iya tuh!”


Arsene berjalan ke dapur menanyakan kendala yang dialami pegawainya hari ini. Hanya saja, mereka akhirnya mengobrol saja terkait munculnya pelanggan yang cukup ngotot. Pelanggan itu memborong banyak kue di toko, bahkan memaksa mereka untuk segera membuat cheese cake dan menunggunya dengan sabar. Padahal mereka sudah memberitahukan bahwa untuk memesan cheese cake haruslah dipesan sehari sebelumnya. Tetapi pelanggan itu tetap ngotot dan akan menunggu sampai selesai. Akhirnya terpaksa mereka membuatkan cheese cake, sehingga menghancurkan SOP pekerjaan yang sudah ditetapkan. Untung saja pelanggan lain tidak terlalu banyak berdatangan, sehingga kedua chef bisa menyelesaikan tugas mereka. Arsene mengapresiasi kerja keras kedua chefnya, lalu kembali keluar setelah meminta dibuatkan secangkir cappucino untuk dirinya sendiri.


Arsene duduk di salah satu kursi yang menghadap keluar jendela. Di luar angin bertiup menyahut terdengar mengerikan, beserta pasukan air yang menyerbu bumi secara bersamaan. Langit benar-benar gelap, dan udara terlihat seperti berkabut saking besarnya hujan sore itu. Alice masih berdiri di depan jendela melihat kondisi yang ada di luar.


“Kak Al, mau cappucino gak?” tawar Arsene setelah salah seorang pelayan tokonya memberikan minuman panas itu dengan sebuah muffin cokelat.


“Thanks, Cen! Gue suka lihat hujan badai gini!”


“Kakak suka hujan badai?” tanya Arsene keheranan.


“Enggak sih, maksudnya gue jadi bisa tau, kapan gue bisa lari kalau tiba-tiba ada angin tornado datang, haha!”


Arsene menyesap cappucinonya, lalu terkekeh mendengar jawaban sepupunya itu.


“Kalau hujan itu lebih baik dzikir dan doa, Kak! Dzikir pertanda kita takut sama Allah, dan berdoa karena hujan adalah salah satu waktu diijabahnya doa.”

__ADS_1


Alice menoleh pada adik sepupunya yang kini sudah banyak berubah.


“Sejak kapan lu jadi ustadz gini, Cen?” tanyanya menghampiri.


“Aku bukan ustadz Kak! Aku masih harus belajar banyak terkait agama,” jawab Arsene santai.


“Keren! Lu aktif di masjid kampus ya?”


“Pengennya sih, tapi kegiatanku banyak. Mudah-mudahan sih bisa.”


Angin semakin mengerikan saja mengguncang pepohonan di luar. Kali ini petir menyahut. Alice menutup telinganya, sedangkan Arsene beristighfar. Tiba-tiba pria itu teringat Zaara yang masih berada di masjid kampus, gadis itu pasti belum pulang karena hujan lebat ini.


Lekas-lekas ia mengambil ponselnya, mengetikan sesuatu di sana.


[Zaara masih di masjid? Dijemput siapa?] tanyanya di grup.


Hening di sana, belum ada balasan. Arsene menunggu balasan karena khawatir. Sebuah nomor yang belum sempat ia simpan mengetik di sana.


[Zayyan yang jemput, Sen! Tenang aja! :)] ketik Tante Karin.


[Oh iya, Tante!]


Arsene bernafas lega. Sebenarnya ia malu menanyakan terkait hal itu di grup, karena aktivitas komunikasi mereka akan terus dipantau oleh orangtua mereka. Tetapi ia khawatir jika saja Zaara harus pulang sendirian lagi seperti waktu itu.


[Mom!]


[Hati-hati kamu di grup itu ya! Jangan sampai goda-goda Zaara kalau gak mau taarufnya dibatalin] Ketik Ajeng memperingatkan.


[Yes, Mom! Aku juga ngerti! Hehe kadang gatel pengen iseng] ketiknya sambil tersenyum-senyum


[Sabar Abang! Kalau udah halal, gatel yang lain juga boleh kok! Haha!]


Arsene tak kuat menahan tawanya, meskipun ia tidak mengerti apa yang dimaksud ibunya itu, membuat Alice yang duduk di depannya terheran-heran.


“Lagi jatuh cinta ya lu?” tebak Alice.


“Mau tau aja sih, Kak!” ucap Arsene.


“Ya kan gitu kalau orang jatuh cinta, suka ketawa-ketiwi sendiri kayak orang gila.”

__ADS_1


“Emang Kak Al pernah jatuh cinta, kok nebaknya kaya gitu?” malah Arsene yang kini jadi bertanya.


“Huh! Mau tau aja!” jawabnya, skor 1-1 untuk mereka berdua.


Arsene tidak sabar ingin segera membaca CV ta’aruf Zaara yang belum dikirimnya. Apa sesulit itu membuat CV? Toh kemarin dia saja bisa menyelesaikannya dalam waktu empat jam. Masih ada dua hari lagi untuk menunggu kapan Zaara akan mengirim CV-nya. Arsene kembali menyesap cappucino-nya yang kini sudah hangat.


Angin ribut sudah berhenti menyisakan hujan deras yang masih mengguyur. Sepertinya jalanan akan banjir di beberapa titik ketika melewati rumahnya nanti. Toko tutup lebih awal, mengingat hujan di luar masih turun, sudah pasti tidak akan ada yang datang. Lagi pula, kue yang ada pun sudah tersisa sedikit. Arsene meminta kue itu dibungkus untuk diberikan pada Keluarga Zaara dimana ia akan singgah dulu di sana setelah pulang dari sini. Adzan maghrib berkumandang, pria itu bergegas mengambil air wudhu dan shalat di lantai dua tokonya.


Arsene melihat ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 18 lewat. Hujan telah berhenti total. Jalanan di depan tokonya terlihat padat merayap karena mungkin ada genangan banjir di suatu tempat sehingga membuat kendaraan bermotor sulit melewatinya.


“Kak Al, pulang kapan?” tanya Arsene setelah melihat kemacetan jalan raya.


“Ga tau nih, gimana pulangnya kalau macet gini?”


“Bareng saya aja Kak Al!” tawar Ardan yang sudah siap-siap.


“Lha mobil gue?!”


“Tinggal aja dulu, kita kan sejalan, besok saya jemput lagi deh paginya!” ucap Ardan santai.


“Ya udah deh gue ikut lu aja! Daripada kena macet gitu!”


“Yuk ah balik semua!” ucap Alice lagi. Wanita itu langsung mengambil jaket dari dalam mobilnya dan memastikan keamanan mobilnya yang terparkir di halaman toko.


Arsene, Alice, dua chef dan satu pelayan keluar dari toko setelah mereka membereskan barang-barang setelah bekerja. Kondisi jalanan yang macet memang menyulitkan mobil untuk berjalan. Satu persatu mereka meninggalkan toko untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing. Arsene masih menggunakan helmnya setelah rekan-rekan kerjanya pulang duluan. Ia menengok ponselnya yang berbunyi notifikasi.


[Mi, Zayyan mana? Zaara sendirian di masjid :’(]


DEG.


Tiba-tiba chat itu terhapus di grup beberapa detik kemudian. Sepertinya gadis itu telah salah kirim. Tetapi chat itu masih sempat terbaca oleh Arsene. Hatinya kini cemas.


Apa yang harus ia lakukan? Haruskah mengantarkannya seperti waktu itu?


\=\=\=\=\=\=


Ehem....


Yuk ah like, comment dan votenya jangan lupa

__ADS_1


Lanjut besok ya :D


Makasiiiih ^_^


__ADS_2