
Pria muda itu tengah mengenakan apron merah miliknya di dapur. Hari ini jadwal kuliahnya kosong, sehingga ia akan menguji coba kembali resep-resep miliknya. Arsene memang seringkali melakukan percobaan kecil untuk menu-menu pastry-nya. Kadang ia menambahkan bahan tertentu untuk membuat kue-kue itu semakin lembut. Tentu saja eksperimennya kadang berhasil atau gagal. Ia sering menonton channel dari pastry chef terkemuka di dunia. Hanya saja karena peluncuran tokonya adalah untuk masyarakat kota dari kalangan menengah ke atas, ia akan menggunakan bahan seperti biasanya saja. Ia juga meraba trend kue apa yang sedang digandrungi oleh masyarakat saat ini. Kue-kue yang akan dijualnya nanti adalah trend pastry kekinian, seperti eclair, muffin, cupcake, cake pop dan cheesecake. Ia akan melihat dulu respon para konsumennya, sehingga nanti ia akan mengembangkan resep serta jenis-jenis kue yang lain sesuai dengan permintaan.
Soft launching sebuah toko kue bergaya shabby chic, yang memadukan warna-warna lembut terang seperti peach, biru muda, putih gading, pink lembut, toska muda, serta aksesoris benda zaman dahulu ini dipilih Arsene untuk tokonya yang bernama “Sweet Recipes” sebagai hadiah dari opa Gunawan, karena cita-citanya yang tertunda. Ruko berlantai dua itu terletak di kawasan yang ramai akan bermacam-macam tempat kuliner, sehingga memungkinkan bagi Arsene untuk cepat bisa mengembangkan toko kuenya. Ia beruntung karena letak tokonya itu tidak jauh dari kampusnya, cukup lima menit menggunakan motornya, ia akan bisa tiba tepat waktu di sana.
Arsene memperhatikan kembali konsep marketing yang sudah dirancangnya jauh-jauh hari. Selain promo langsung dengan menyebarkan leaflet, ia sudah memiliki media promosi digital yang akan dimanfaatkannya untuk menggencarkan materi promosi tokonya. Ia juga sudah bekerja sama dengan sebuah perusahaan content writer serta desainer grafis untuk membuat promosi tokonya tampak sempurna.
Arsene beruntung karena memiliki ayah yang juga bergerak di bidang kuliner, sehingga kini ada dua pastry chef yang membantunya untuk membuat kue-kue manis miliknya. Arsene sengaja menginap di tokonya untuk memastikan semuanya lancar. Bahan-bahan untuk mempersiapkan pembukaan tokonya hari ini sudah disimpannya seminggu sebelumnya. Dekorasi toko sudah terlihat sempurna. Ia sangat bangga dengan hasil desain dekorasi seperti yang diinginkannya, meskipun Ajeng selalu memberinya masukan yang sesuai dengan seleranya itu.
Dini hari itu Arsene sudah bangun. Pemuda itu melaksanakan shalat tahajud dan shalat hajat untuk meminta yang terbaik pada Allah untuk kelancaran hari ini. Setelah itu, pria itu langsung pergi ke dapur untuk mempersiapkan bahan muffin yang akan dibuatnya sendiri sebagai hadiah untuk para pengunjung pertama. Rencananya, toko akan dibuka tepat pukul 09.00 WIB.
“Assalamu’alaikum,” salam dua orang pemuda yang kurang lebih berusia 21 tahun.
“Wa’alaikumsalam.”
Dua orang itu adalah chef pastry yang siap bekerja di sana untuk enam bulan kedepan. Ferdian mengambil mereka dari sekolah akademi memasak yang sebelumnya ia ambil untuk usaha cafenya. Mereka adalah Ardan dan Satrio.
“Udah siap, Bos?” tanya Satrio yang menjabat tangan Arsene lebih dahulu.
“Harus siap, Kang!”
“Jadi instruksinya sama kaya kemarin ya?” tanya Ardan.
“Iya, untuk sebulan ke depan, kita masih tahap uji coba. Kang Satrio jadi boulanger untuk mengolah resep yang sudah saya buat, lalu Kang Satrio jadi decorator dan bagian finishing untuk adonan yang sudah jadi. Saya akan memimpin Akang berdua. Kalau respon dari konsumen bagus dan kita berkembang, insya Allah nanti akan ada penambahan chef lagi,” terang Arsene.
“Siap!” jawab mereka berdua yang tampak kompeten dan profesional meskipun harus dipimpin oleh anak muda yang usianya di bawah mereka.
“Yuk langsung ke dapur!” ajak Arsene.
Dapur di bagian belakang disiapkan untuk dapur pastry saja, sehingga hanya ada peralatan dan mesin-mesin yang mendukung untuk pembuatan kue dan sejenisnya. Rak-rak bahan sudah terisi penuh dengan berbagai macam tepung, pengembang kue, essence, pewarna, perasa, dan banyak bahan lainnya. Ada sebuah kulkas besar juga di sana. Satu meja marmer, dan sebuah meja berbahan stainless steel berdiri di sana. Dua buah oven bakery dengan dua susun juga sudah berdiri di sana. Arsene sangat betah berada di sini. Ia sendiri akan berada di depan untuk berhadapan langsung dengan para konsumen dari balik etalase cantik dan meja kasirnya.
Hanya saja khusus hari ini, ia akan membuat sekitar 100 muffin untuk promo pertama bagi tokonya itu. Sengaja ia melebihkan jumlah kue dari pengumuman di leafletnya. Ia optimis, konsumen di hari pertamanya akan ramai. Berharap saja seperti itu.
Waktu menuju peluncuran toko tinggal 30 menit. Arsene sedang berada di dapur untuk mempersiapkan muffin gratisnya. Sementara Ardan dan Satrio membantunya membuat kue-kue lain seperti eclair, cake pop, dan cupcake dengan jumlah terbatas dan varian yang berbeda-beda. Seorang karyawan khusus pencuci piring dan alat-alat sudah datang untuk bekerja, merangkap sebagai petugas kebersihan dan pelayan untuk sementara.
Arsene menghela nafasnya. Ia membuka pintu tokonya, jalan raya yang cukup lenggang menjadi pemandangan pertamanya. Ia memasang standing banner promo di halaman teras tokonya yang berwarna peach dan hijau pastel. Pria itu juga merapikan kursi dan dekorasi-dekorasi unik untuk memastikan penampilan sempurna interior tokonya.
Beberapa kue dengan bermacam-macam varian sudah tersaji di etalase toko. Menu hari ini adalah eclair, yaitu semacam kue sus berbentuk lonjong dengan saus vla di dalamnya, ditambah juga dengan topping berbagai macam varian.
Lalu ada cake pops, kue ringan yang dibentuk seperti lolipop, sehingga orang mudah memakannya tanpa harus memotongnya terlebih dahulu.
Ada cupcake, menu pastry andalan Arsene, dengan berbagai rasa dan varian topping.
Terakhir ada muffin, kue yang membuat perut kenyang dengan teksturnya yang berat dan padat.
__ADS_1
Arsene puas sekali dengan hasil kerja para chefnya, ia optimis tokonya akan bisa berkembang dengan pesat. Tak lama, sebuah mobil sport besar berwarna abu gelap terparkir di depan tokonya. Pria muda itu was-was, tetapi ia hafal betul mobil itu milik siapa. Itu adalah ayah dan ibunya yang berkunjung.
“Hei sweetheart, gimana persiapannya?” tanya Ajeng memeluk anak sulungnya itu.
“Alhamdulillah, semuanya udah siap, Mom! Tinggal nunggu konsumen pertama aja,” jawabnya.
“Ya Allah semoga lancar dan sukses ya, Abang sayang!”
“Aamiin, doakan aku terus ya Mom!”
“For sure, with all my heart!” jawab Ajeng mengecup kepala anaknya yang tingginya sudah melampaui tubuhnya sendiri.
Sementara itu, setelah Ferdian juga memberikan semangat dan motivasi besar bagi anaknya itu. Pria tinggi itu pergi ke dapur, untuk memeriksa para chef yang bekerja. Ia hanya memastikan agar mereka semua bekerja dengan profesional. Ia juga akan memberikan bonus pada pegawai yang memiliki kinerja bagus.
“Besok-besok kamu harus taruh kasir di sini. Tapi siapa yang bisa? Daddy belum ketemu orang yang pas untuk gantiin kamu,” ucap Ferdian yang baru saja dari dapur.
“Aku juga bingung Dad, dia harus udah kerja Senin ini.”
“Nanti coba Daddy tanyain Bude Resha lagi deh!”
\=====
Sudah satu jam berlalu dari jam buka toko, tetapi belum ada tanda-tanda kedatangan pelanggan pertama toko itu. Arsene jadi was-was, ia duduk di kursinya.
“Abang sayang, tenang, ini masih pagi kok! Kamu tutup toko jam berapa?” tanya ibunya yang mengelus kepalanya itu.
“Tuh, masih ada sembilan jam lagi. Kamu udah buat muffin berapa?”
“20 muffin.”
“Ya udah tunggu aja, pasti sebentar lagi datang,” ucap Ajeng menyemangati.
Tidak lama kemudian, datang dua orang pemuda yang tampak sedang tertawa-tawa ketika memasuki toko Sweet Recipes itu. Arsene langsung beranjak dan berdiri di belakang etalase.
“Hei, kalian!” sapanya ketika melihat Angga dan Adit menjadi konsumen pertama dirinya.
“Hello Mas Bro!” sapa keduanya.
Arsene bersiap-siap mengucapkan tagline sambutan di tokonya.
“Sweet smile for a sweet treat!” ucapnya tersenyum lebar.
Kedua kawannya itu tertawa-tawa karena perlakuan Arsene yang terlihat imut bak gadis kecil. Menggelikan.
“Kalian itu harusnya tersenyum, bukan ketawa lebar kaya gitu!” protes Arsene.
“Harus kaya gitu ya?” tanya Adit ragu.
__ADS_1
“Ya kalau mau dilayani dengan baik, sedekahkan senyuman kalian dulu,” terang Arsene tersenyum.
“Hebat euy tagline-nya! Nih senyuman gue!” Angga menyengir, memperlihatkan deretan giginya.
“Itu mah nyengir, Bro! Bukan senyum!” protes Adit.
“Sama aja itu smile!” ucap Angga keukeuh.
Arsene terkekeh-kekeh saja melihat kawan-kawannya itu.
“Jadi gimana nih biar kita dapat gratis muffinnya?” tanya Adit.
“Datang aja bisa langsung dapet kah?” tanya Angga menyeringai.
“Bisa sih, tapi apa kalian gak tergoda dengan kue-kue di etalase ini?” tanya Arsene berusaha menyelipkan promosi terselubung di balik kata-katanya.
Di dalam etalase memang sudah berjejer menu-menu kue yang begitu menggoda mata. Bahkan banyak sekali varian dalam satu menu. Apalagi aroma kue begitu kuat menusuk hidung. Angga dan Adit memperhatikan kue-kue itu satu persatu berikut harga-harganya yang bisa dibilang terjangkau bagi mahasiswa.
“Ah kayanya gue mau coba yang ini deh!” ucap Angga menunjuk pada sebuah cake pops berbentuk bulat dengan topping lelehan cokelat yang sudah kering bertabur sprinkle.
“Boleh. Makan di sini atau dibungkus?”
“Di sini aja deh, biar rame!”
“Sipp, mantap!”
Arsene mengambil sebuah pinggan kecil dan menaruh cake pops di atasnya. Setelah itu, Angga memilih kue muffin cokelat bertabur kacang di atasnya sebagai hadiah karena sebagai pengunjung pertama.
Pertanyaan yang sama ia ajukan pada Adit. Pria berkulit gelap itu memilih sebuah eclair dengan toping matcha di atasnya dan muffin kismis sebagai hadiahnya. Kedua pemuda itu memilih satu meja dengan dua kursi yang dekat dengan sebuah rak buku bacaan, dan menikmatinya di sana setelah mereka membayar langsung pesanan kue mereka.
Ajeng mendekati anaknya yang sedang memeriksa tabletnya setelah ada transaksi tadi.
“Kamu yakin, mau melakukan ini sendirian?” tanya Ajeng setelah ia memperhatikan Arsene melayani konsumennya.
“Yes, Mom!”
“Tapi Mommy gak mau kuliah kamu terbengkalai ya, meskipun tahun depan kamu mungkin keluar dari sana.”
“Yes Mom!” jawab Arsene tegas. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk tetap fokus di kedua aktivitasnya ini.
Matahari semakin naik, Angga dan Adit sudah pulang. Mereka memuji kue-kue yang ada di toko milik kawannya itu. Bahkan mereka membeli kembali untuk dibawa pulang. Ajeng dan Ferdian juga sudah kembali ke rumahnya, karena Finn mereka titipkan pada Rainer. Mereka hanya menitip pesan untuk tetap semangat dan positive thinking pada anaknya itu.
Bunyi lonceng terdengar ketika seseorang memasuki toko. Ia menampakkan senyumannya yang khas, Arsene langsung beranjak dari tempat duduknya.
“Selamat datang ….” ucapnya semangat.
\=====
Bersambung...
__ADS_1
like, vote, commentnya yaa
terima kasih ^_^