
Ujian akhir semester telah selesai. Saatnya bagi para mahasiswa untuk sejenak merehatkan diri dan pikirannya demi menyongsong semester baru yang pasti akan lebih keras. Kampus yang biasanya ramai dipenuhi oleh mahasiswa di setiap gedung fakultas, kini hanya dikunjungi oleh para dosen, staff dan mahasiswa yang berkepentingan saja.
Ferdian memutuskan untuk mengontrol cafe dan juga salah satu rumah makan yang juga bagian dari bisnisnya. Sementara Ajeng masih ada kerjaan untuk membimbing mahasiswa semester akhir menyelesaikan skripsinya. Ia duduk di salah satu kursi di ruangan khusus perpustakaan yang penuh dengan koleksi-koleksi buku yang tidak bisa dipinjam.
"Good Morning, Miss! Maaf saya terlambat!" ujar seorang mahasiswa laki-laki semester 9, tubuhnya tinggi dan wajahnya nampak seorang blasteran, entah Eropa atau Amerika, Nathan, namanya.
"Good Morning! Silakan duduk!" Ajeng mempersilakan mahasiswa itu untuk duduk di depannya.
"Mana hasil skripsimu?" tanya Ajeng setelah baru saja mahasiswa di depannya itu mendudukan tubuhnya.
Nathan mengeluarkan berkas-berkas skripsi yang sudah dikerjakannya dan memberikannya pada Ajeng.
"Ini Miss! Saya sudah mengerjakan bab 4 dan bab 5 juga, tolong dikoreksi!" ujarnya gugup.
Ajeng memperhatikan tulisan-tulisannya dengan seksama, mencoba memahami antar paragraf satu dengan lainnya, apakah berkesinambungan atau tidak. Namun tampaknya, mahasiswa di depannya itu sudah sangat menguasai teori sastra yang dipakainya juga implementasinya terhadap karya sastra yang diambilnya. Tidak terlalu banyak masalah juga dari hasil tulisannya yang rapi dan terstruktur.
"Nice! Kamu sudah menguasainya ya?"
"Iya Miss!" jawabnya.
"Sipp! Sepertinya sudah bisa dipastikan, kamu bisa maju sidang bulan depan, siap?" tanya Ajeng.
"Bulan depan ya? Baik, Miss, akan saya persiapkan!"
"Good! Kamu bisa ikut wisuda tahun ini kalau lulus, semoga berhasil ya?" Ajeng memberikan semangat.
"Wah terima kasih Miss!"
Ajeng memberikan persetujuan agar skripsi milik Nathan diajukan kepada tim penguji mahasiswa. Ia juga menyuruhnya untuk segera memberikan karya ilmiahnya itu sebelum bulan puasa tiba. Jadi ia bisa lebih cepat selesai.
\=====
Sudah lama rasanya Keluarga Besar Winata tidak mengadakan acara kumpul keluarga, apalagi setelah Ajeng dan Ferdian menikah.
Pagi itu, Ajeng tampak gugup untuk menghadiri acara keluarga besar suaminya itu. Maklum saja, inilah kali pertama Ajeng bisa berkumpul dan bertemu dengan keluarga besar Ferdian. Ia mengecek riasan di wajahnya berkali-kali, juga memastikan apakah dress yang dikenakannya itu sudah pas atau belum. Ferdian, yang melihat hal itu, memegang lengan Ajeng dan menatapnya.
"Kamu keliatannya gugup ya?"
"Maaf Fer, aku emang paling gugup kalau ikut acara kaya gini," ucap Ajeng jujur.
"Gak apa-apa, jarang-jarang kok! Biasanya sih setahun sekali sehabis lebaran, tapi karena kita baru nikah, ayah merasa wajib memperkenalkanmu ke keluarga besarnya,"
"Iya, aku ngerti! Bantu aku ya Fer?!"
"Sure!"
Mobil Ferdian telah tiba di sebuah rumah megah dengan halaman luas Itu adalah rumah milik kakeknya, dimana semua keluarga Winata akan berkumpul di sana. Ferdian turun dari mobil dan berjalan bersama Ajeng. Keduanya tampak serasi satu sama lain. Ferdian mengenakan setelan jas casual berwarna navy dengan kemeja abu dan celana jeans. Sedangkan Ajeng terlihat anggun dan elegan dengan dress selutut berwarna silver dengan bolero brokat cantik. Mereka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan menuju kediaman kakek Ferdian.
"Hai, anak dan menantu Bunda udah datang nih!" sapa Bunda Bella di hall room rumah kakek Ferdian, Tuan Marta.
Ajeng mengecup punggung tangan mertuanya dan mencium pipi kanan dan kiri.
"Kamu cantik banget, Jeng!" puji Bunda.
"Makasih, Bun!"
"Yuk kita ke halaman belakang, udah pada kumpul semua," ajak Bunda membawa mereka berdua ke halaman belakang dimana acara silaturahim ini diadakan.
Benar kata Bunda. Semua keluarga sudah berkumpul, mereka berbincang-bincang di meja bundar yang sudah disediakan. Memang tidak banyak jumlah keluarganya, mungkin sekitar 20-30 orang dari keluarga besar Winata, termasuk cucu dan cicit mereka.
"Wah ini dia pengantin baru kita, sehat, Fer?" tanya Om Sakti, adik ipar dari Pak Gunawan, ayah Ferdian.
"Alhamdulillah sehat, Om!" jawab Ferdian. Ajeng ikut menyapanya.
Keduanya menyalami semua kerabat yang ada, yang sudah mengisi tempat duduk yang tersedia.
"Hai, Bang Dre, Bang Nick, apa kabar nih?!" tanya Ferdian kepada sepupunya Andre dan Nicky.
"Baik, Fer! Wah kamu, aku datang ke Indonesia ternyata udah nikah aja. Kalah nih kita!" ujar Andre menyikut lengan kakaknya..
"Iya, kok kita yang lebih tua diduluin sama kamu sih?!" ujar Nicky.
"Haha, makanya jangan kelamaan sekolah! Aku juga sekolah tapi sambil nikah, asyik kan?"
"Ah dasar, kalau kita sih pilih calon sendiri, bukan dijodohin kaya kamu!" ujar Nicky.
"Aku juga pilih sendiri!" timpal Ferdian tidak mau kalah.
Akhirnya mereka hanya tertawa-tawa saja ketika sudah lama tidak bertemu. Maklum saja Andre dan Nicky tinggal di luar negeri untuk meneruskan kuliah mereka.
"Rencananya nanti aku pindah kesini kok, aku udah diterima buat jadi dosen di kampus kamu," cerita Andre.
"Serius?! Kamu mau jadi dosen di kampus aku?" tanya Ferdian tidak percaya.
"Iya! Betul!" jawab Andre yakin.
"Oh iya ini kenalin istriku, Ajeng Chandra, dosenku juga ya!" Ferdian memperkenalkan istrinya stelah Ajeng berbincang dengan Bunda, karena kedua sepupunya itu memang tidak datang ke pernikahannya waktu itu.
"Hai, salam kenal!" sapa Ajeng ramah.
Andre menatap Ajeng lekat, seolah-olah ia pernah bertemu dengan wanita itu.
"Katanya Andre bakalan kerja di kampus kita nih jadi dosen," terang Ferdian kepada istrinya.
"Oh ya? Memang rencananya bakal ngajar di fakultas apa?" tanya Ajeng.
"Sastra Inggris!" jawab Andre.
Seketika hal itu membuat kedua pasangan itu membelalak antusias.
"Wow, seriusly?"
"Yes, I'm serius, of course!" jawab Andre santai.
\=====
"Ajeng ya?" tanya seorang wanita berusia 50-an, ia duduk di samping Ajeng, ketika Ferdian sejenak meninggalkannya untuk berbicara dengan kakak tertuanya, Damian.
"Iya betul, Tante Siska ya?" Ajeng memastikan.
Wanita bergelung tinggi dengan lipstik merah cerah itu tersenyum. Setahu Ajeng, Tante Siska adalah kakak ipar dari ayahnya Ferdian.
__ADS_1
"Gimana udah hamil?" tanyanya, membuat Ajeng sedikit terkejut.
"Belum, Tante!" jawab Ajeng singkat tersenyum kecil.
"Kamu sengaja tunda ya?" tebaknya, membuat Ajeng menjadi gugup.
"Kenapa Tante?"
"Ya, kamu kerja kan? Ferdian masih kuliah juga, pasti kalian sengaja nunda punya momongan,"
Tepat sekali memang jawaban Tante Siska. Namun entah kenapa hatinya jadi berdebaran untuk merespon pertanyaan itu. Ajeng hanya tersenyum saja.
"Harusnya sih gak usah ditunda-tunda. Kamu tahu kan, mertua kamu itu belum punya cucu. Meski Damian dan Resha, kakaknya Ferdian itu udah pada nikah, tapi sama-sama belum punya anak karena semuanya serba sibuk," ujar wanita itu tanpa memandangi lawan bicaranya.
"Iya sih, tapi ini juga memang rencana kami setidaknya sampai Ferdian lulus kuliah," jawab Ajeng ragu.
"Heran, kenapa sih Gunawan itu selalu cari jodoh untuk anak-anaknya, selalu orang yang sibuk?"
Ajeng hanya terdiam.
"Bisnis sih bisnis aja! Saya sih gak mau anak saya dijodoh-jodohkan kaya kalian itu," cerocosnya, membuat Ajeng merasa tidak nyaman.
"Saya ke belakang dulu, ya Jeng!" pamitnya kemudian.
"Baik Tante!" Ajeng merasa sedikit lega karena itu.
"Hei, boleh duduk di sini?" tanya Andre sambil yang membawa sepiring berisi potongan kue cokelat.
"Silakan!"
"Jadi bener, kamu juga ngajar di Fakultas Sastra Universitas Mentari?"
"Iya, betul!"
"Sejak kapan ngajar di sana?"
"Kurang lebih 3 tahun yang lalu, tapi awalnya magang dulu sih!" terang Ajeng.
"Wah masih baru juga ya?"
"Iya lumayan. Oh ya, kenapa memutuskan ingin mengajar di Universitas Mentari?" tanya Ajeng penasaran, ia meminum cocktail buah miliknya.
"Ini rekomendasi bundanya Ferdian, katanya di sana masih kekurangan dosen muda, betulkah?"
"Iya betul, kami cuma berempat saja yang terhitung masih muda," ujar Ajeng.
"Begitu ya,"
"Jadi kapan Bang Andre ini mulai mengajar?"
"Awal semester besok!"
"Oooh... baguslah, kita bakal jadi rekan kerja nanti ya?!"
"Iya, can't wait for new adventure (gak sabar untuk dapat petualangan baru)!" ujar pria berkemeja abu gelap itu.
"Oh ya, kalau boleh tau usia kamu berapa, Ajeng?" tanya Andre menatapnya.
"Saya 25 tahun," jawab Ajeng, ia menyelipkan rambutnya ke telinganya.
"Oh ya?!"
Andre tersenyum, "Panggil aku Andre aja ya?"
"Oke deh!"
"Wajah kamu itu mirip banget sama seseorang yang aku kenal waktu SMA," ujar Andre memperhatikan wajah Ajeng, membuat wanita itu agak sedikit merasa canggung.
Ajeng tersenyum saja, "Wajahnya pasaran ya?"
"Haha, enggak, maksudnya ya mirip aja! Aku jadi ingat temen aku itu, anaknya kocak soalnya!" jawab Andre menyuapi mulutnya dengan kue di piringnya.
"Andre, maaf saya permisi dulu ya, mau cari Ferdian!" ucap Ajeng setelah ia menyadari suaminya itu tidak kembali saja.
"Oh iya, silakan!"
Ajeng berjalan mencari-cari sosok Ferdian, karena sejak tadi hp yang ditinggalkan di tas istrinya itu terus berbunyi. Namun ia tidak ada di halaman, mungkin ia sedang berada di dalam rumah kakeknya itu. Ia juga sempat menanyakan kepada sanak saudaranya yang lain, tetapi mereka pun tidak mengetahui dimana Ferdian.
Ajeng memasuki rumah megah yang terlihat klasik itu, seperti rumah orangtuanya. Namun, ukuran rumah kakeknya Ferdian ini jauh lebih besar 2 atau 3 kali lipat. Furnitur-furnitur kayu jati khas jepara mendominasi interior di setiap ruangan.
"Ajeng kamu mau kemana?" panggil sebuah suara wanita, suara Tania, kakak ipar Ferdian istri dari Mas Damian.
"Saya mau cari Ferdian, Kak Tan, kakak lihat?" tanya Ajeng kaku.
"Oh Ferdian di atas, masih ngobrol sama Mas Damian, mau tunggu?"
"Oh...ya udah saya tunggu di luar lagi aja,"
"Sini, ngobrol sama aku aja di sini," ajak Kak Tania. Wanita dengan rambut bergelombang itu mengajaknya duduk di sofa ruangan tengah yang luas, dinding ruangan itu banyak dihiasi oleh foto-foto keluarga Winata. Mulai dari anak pertama sampai anak ke lima. Ayah Ferdian adalah anak ke 4 dari Tuan Besar Marta Winata, almarhum, seorang pengusahawan kelas atas keturunan Jepang-Cina-Jawa.
Ajeng memperhatikan satu per satu foto keluarga itu. Ia tersenyum ketika melihat foto Ferdian kecil yang duduk di samping bundanya, lucu sekali. Ia tentu masih sangat ingat wajah kecil suaminya itu karena dahulu mereka sering bertemu.
"Kamu baru kesini ya?" tanya Kak Tania, wanita itu memiliki tubuh tinggi dan langsing. Wajahnya cantik dan penampilannya elegan. Ia berusia sekitar 30 tahunan.
"Iya Kak, ini pertama kalinya aku kesini," jawab Ajeng mendudukan tubuhnya di atas sofa berwarna beige.
"Jadi gimana perasaan kamu setelah menjadi Nyonya Ferdian?" tanya Tania ramah.
"Gimana ya? Campur aduk, Kak! Kakak tau kan, dia mahasiswa aku," jawab Ajeng tertawa kecil.
"Haha, iya pasti rasanya agak aneh dan canggung gitu kan?" tebak Tania.
"Iya betul Kak,"
"Terus di kampus gimana, orang-orang udah pada tahu kalian sudah nikah?" tanya Tania penasaran.
"Awalnya mereka gak tahu, karena kami bersikap biasa saja. Tapi lama kelamaan gosip itu berkembang, ya udah kami tunjukin aja hubungan kami di depan mereka," terang Ajeng.
"Haha...kayanya lucu banget ya kalian itu kalau di kampus. Denger-denger kalian itu sama-sama idola di kampus kan ya?"
Ajeng terkekeh geli kalau dikatakan ia idola kampus.
__ADS_1
"Kak Tania, sama Mas Damian udah nikah berapa tahun?" tanya Ajeng gugup.
"Sekitar 7 tahun kalau ga salah, kenapa emang?"
"Enggak sih, tanya aja!"
"Pasti kamu penasaran ya, kenapa aku belum bawa anak kemana-mana?" Tania menebak saja.
"Enggak sih Kak, kalau masalah anak aku kira itu terlalu sensitif,"
"Haha, santai aja kali Jeng! Lagian itu kan urusan Allah, aku sendiri gak pernah tunda kok, segimana dikasihnya aja sama Allah. Cuma memang ya komentar orang tuh kadang bikin telinga panas. Padahal bukan maunya kita juga lama-lama punya anak, iya gak?"
Ajeng tersenyum mengangguk.
"Kalau pun tunda sebentar juga kan balik lagi ke kesepakatan suami istri, kenapa yang ribut malah orang lain yang bahkan mereka gak peduli sama kita," jelas Tania santai.
"Iya betul kak,"
"Dalam keluarga pun pasti suka ada aja omongan yang bikin telinga panas. Nah, yang gitu gak usah dimasukin ke hati ya, Ajeng Sayang! Fokus aja untuk keluarga kecil kita dan tetap berbuat baik sama mereka. Aku juga udah biasa kok kaya gitu. Selama 7 tahun nikah sama Mas Damian, ujian yang kita alami pun banyak macamnya, mulai dari kabar orang ke-3, ekonomi, masalah pribadi masing-masing, dan lainnya deh. Yang pasti tetap positive thinking aja, kalau Allah ngasih ujian tuh karena Dia sayang sama kita," jawaban Tania membuat hati Ajeng benar-benar tenang.
Memang, seharusnya Ajeng banyak mendengar kisah-kisah orang yang sudah lama mengarungi bahtera rumah tangga, sebagai bahan referensi dan pelajaran hidup rumah tangganya yang baru seumur jagung.
Tak lama, Ferdian terlihat menuruni tangga, wajahnya berseri. Entah apa yang membuatnya menjadi berseri-seri setelah mengobrol dengan kakak tertuanya itu. Ia melihat istrinya tampak asyik berbincang-bincang dengan kakak iparnya itu.
"Ngobrol apa sih, kayanya asyik banget deh!" ujar Ferdian menghampiri dua wanita yang sedang duduk di sofa itu. Tangannya menggenggam bahu sang istri.
"Women things ya, Fer!" jawab kakak iparnya.
"Ooh...jadi laki-laki gak boleh kepo ya?"
"Boleh tapi cari tau sendiri aja, ya!"
Ferdian tersenyum saja mendengar ucapan kakak iparnya, yang kini berdiri.
"Ajeng, kakak ke belakang dulu ya, udah ketemu kan Ferdiannya?"
"Hehe, makasih banyak ya Kak!"
"Yuk, anytime!"
Tania berjalan menghampiri suaminya dan berjalan menuju halaman belakang untuk kembali berkumpul dengan keluarganya yang lain. Sementara Ferdian memandangi wajah istrinya itu sambil merapikan rambutnya yang tergerai.
"Kamu ngobrolin apa sama Kak Tania?"
"Biasalah, masalah rumah tangga," jawab Ajeng menghadap pada suaminya.
"Masalah anak?"
"Enggak sih," jawab Ajeng singkat.
"Apa ada yang bikin kamu gak nyaman?"
"Enggak juga, cuma jadi kepikiran aja. Kak Tania dan Mas Damian yang udah nikah 7 tahun aja masih banyak ujian dalam rumah tangganya, berarti kita yang baru berumah tangga pun harus selalu siap dengan kemungkinan ujian yang akan hadir,"
"Ujian rumah tangga itu akan selalu ada, Sayang! Tapi gak usah takut, karena kita berdua yang akan hadapi. Jadi jangan salah satu di antara kita lari dari masalah ya?"
Ajeng mengangguk tersenyum, dan Ferdian mencium kening istrinya.
\=====
Tak terasa matahari sudah berlari ke barat, menuju persembunyiannya yang lain. Pertemuan keluarga yang berlangsung singkat ini pun berakhir. Memang acara tidak terlalu formal, jadinya tidak ada susunan acara yang mengiringi para anggota keluarga. Cukuplah bertatap muka dan bersapa kabar demi terjaganya silaturahmi.
"Bang Andre, kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Ferdian, setelah hampir setengah dari anggota keluarga Winata sudah pulang.
"Aku masih tinggal di rumah Mama sementara. Bulan depan kayanya pindah ke apartemen deket kampus kamu," jawab Andre memakai kaos kakinya usai menunaikan sholat Maghrib.
"Apartemen mana nih?" tanya Ferdian lagi.
"Apartemen Royal Kenanga kalau gak salah namanya," jawab Andre sedikit mengernyit, mengingat nama apartemen yang baru saja disewanya.
"Wah deket dong sama apartemen kita,"
"Emang kalian dimana?"
"Kita tinggal di Grand Suite Kenanga, masih di Jalan Kenanga juga!"
"Woah, bisa nih mampir-mampir ya," ujar Andre.
"Boleh lah!"
"Wah abang bakalan jadi favorit baru mahasiswa ini mah, aku dapat saingan baru nih!" celetuk Ferdian, menyisir rambut yang basah karena wudhunya dengan tangannya.
"Emang kamu populer?" tanya Andre seolah-olah tidak yakin.
"Iya dong, aku dan istriku kan selebriti kampus, haha!"
"Sumpah ini anak, pede kebangetan, siapa yang ngajarin?!"
"Ya abang lah, mulai dari gombalan sampai narsis kan cuma abang yang jago. Mas Damian mana ada kaya gitu!" ujar Ferdian tertawa-tawa, mengingat hubungan antara dirinya dan Andre memang sangat dekat sewaktu kecil sampai keduanya tumbuh menjadi dewasa, jadi Ferdian sangat mengenal karakter Andre ini. Berbeda dengan Damian, kakak Ferdian yang satu itu cukup dingin dan galak.
Andre tertawa-tawa saja mendengar jawaban Ferdian. Ia jadi teringat seseorang yang dulu menjulukinya dengan Mister Gombal, karena terlalu sering membuat bualan selama di sekolahnya.
"Yuk pulang, Sayang!" ajak Ajeng ketika melihat Ferdian sudah selesai sholat maghrib.
Andre menoleh pada wanita itu. Ya, Ajeng memang sangat mirip dengan teman semasa SMA-nya itu, yang memberikan julukan Mister Gombal padanya. Ah, kenapa ia jadi merasa rindu dengan kawannya selama SMA itu? Dimana ia berada sekarang? Tanyanya dalam benaknya sendiri.
"Yuk, kita pamitan dulu!" ajak Ferdian menggandeng lengan istrinya.
"Bang, kita duluan ya! Nanti kalau udah masuk kampus, kabar-kabarin aja!" pamit Ferdian.
"Sip lah! Hati-hati!"
Ajeng tersenyum pada Andre berpamitan.
\=====
Kenalin ya, ini ada tokoh baru namanya Andre Geraldy.
Andre ini sebenarnya karakter cowok pertama di novel pertama punya Author Aerii, yang judulnya Miss Dreamer & Elizabeth's Diary. Author udah kangen pengen bikin cerita tentang Andre ini, makanya jadinya Andre dimasukan ke cerita Ajeng dan Ferdian aja sekalian.
We'll see ya, gimana hubungan mereka seperti apa nanti ^^
__ADS_1
KEEP VOTE, LIKE, & COMMENT
THANK YOU FOR READING <3