
(S2) Ep 8. Hari Sabtu (1)
Sabtu pagi itu adalah hari yang cerah. Matahari bersinar berkilauan bersanding dengan langit biru bersih tanpa awan. Angin pagi bertiup lembut. Rainer turun dari motor abangnya yang mengantarkannya tepat di depan halaman sekolah.
“Kamu pulang jam berapa?” tanya Arsene pada adiknya.
“Belum tau, nanti gue telepon!” jawab Rainer sambil membetulkan tali sepatu basketnya.
“Okay, enjoy your day (Nikmati harimu)!” ucap Arsene lalu menutup kaca helmnya dan pergi berlalu.
Rainer berjalan menuju halaman sekolah yang tampak ramai dengan siswa-siswa yang berlatih taekwondo. Sementara di sudut lain, siswa lainnya pun sedang memperagakan jurus karate. Mereka terlihat keren dengan seragam khas Jepang dan beragam warna sabuk. Rainer memasuki gerbang dalam sekolah dan lapangan basket sudah dipenuhi oleh siswa-siswa anggota tim basket yang sedang melakukan pemanasan.
Cowok bertubuh tinggi dan ramping itu berjalan santai mendekati kakak kelas yang ia temui kemarin, lalu menyapanya.
“Saya telat ya Kak?” tanya Rain pada Evan.
“Baru mulai kok, kamu langsung ikut pemanasan aja! Banyak yang baru gabung juga,” terang Evan.
“Makasih, Kak!”
Rainer langsung berlari dan bergabung dengan barisan siswa-siswa kelas sepuluh yang sedang melakukan pemanasan. Sementara itu dari barisan paling depan, ada jantung yang sedang bergetar melihat kedatangan pemuda itu. Tetapi ternyata ia tidak sendiri. Banyak siswi-siswi yang juga tidak konsentrasi saat melihat kedatangan Rainer. Apalagi pemuda itu tampak bercahaya dengan kaos basket berwarna hitamnya. Kulit putihnya terlihat menyilaukan mata. Ia sangat terlihat keren.
“KONSENTRASI WOY!” teriak Evan di depan sambil menepuk kedua tangannya, menyadari para anggotanya yang terus menoleh dan melirik pada Rainer.
Akhirnya para anggota tim basket kembali fokus untuk menyelesaikan pemanasan mereka di pagi hari itu, meski tetap saja pandangan mereka tidak fokus, karena ada satu ‘mutiara’ berkilau di sana.
\=====
Arsene sedang berbelanja di supermarket yang dekat dengan kediaman kakek dan neneknya, untuk membeli bahan-bahan kue yang akan ia buat hari ini. Rencananya ia akan membuat satu box berisi 12 cupcake dengan topping yang beragam. Ia tidak tahu persis keluarga Tante Karin, sahabat mommy-nya itu. Mungkin saja mereka memiliki anak kecil yang sangat menyukai kue dan cream yang manis dan berwarna-warni, seperti adik perempuannya, Kirei. Jadi, Arsene memutuskan untuk membuat itu saja. Lagipula, mommy-nya tidak menjelaskan secara detail dan menyerahkan semua padanya.
Arsene menaruh seluruh bahan keperluannya membuat cupcake di atas meja dapur milik neneknya. Ruangan dapur neneknya itu tidak seluas meja kerja dapur milik mommy-nya, jadi ia akan berusaha memaksimalkan ruang kosong yang ada. Apalagi ia berencana akan membuat lebih cupcake itu, yang akan ia berikan kepada opa dan omanya sore nanti.
Dengan lihai, ia mulai mengocok margarin dan gula pasir hingga keduanya teraduk rata. Lalu ia menambahkan beberapa butir telur satu persatu ke dalam wadah yang sudah berisi margarin dan gula tadi. Oven sudah ia nyalakan sejak tadi agar ketika ia memasukan adonan yang sudah jadi, matangnya akan sempurna.
Nenek Aryani yang baru saja keluar dari kamar mendengar kebisingan di dapurnya. Wanita tua itu menghampiri.
“Bikin apa Sen?” tanya nenek yang kemudian duduk di kursi meja makan.
“Lagi bikin cupcake, Nek!”
“Buat siapa?” tanya neneknya sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.
“Mommy minta aku bikin kue buat dikirim ke temannya.”
“Ooh… buat Karin ya?”
“Iya, Nek! Kok tau?”
“Ya itu kan sahabatnya dia sejak SMA. Sekarang suaminya Karin kerja sama kakek kamu, bahkan Reza itu sudah jadi General Manager di perusahaan kakek,” terang neneknya.
“Ooh…” Arsene mengangguk saja, sambil menyiapkan loyang dan kertas kue untuk cetakan.
Arsene sudah menambahkan bahan-bahan lainnya ke dalam adonan cupcake miliknya. Tidak butuh waktu lama sampai adonan itu menyatu dengan rata dan sempurna. Ia sendiri membagi adonan menjadi dua. Satu dengan perisa vanilla, dan satu dengan perisa cokelat. Setelah menuang adonan cupcakenya ke dalam cetakan, ia memasukkannya ke dalam oven.
Sambil menunggu kue itu matang sempurna, Arsene membuat topping untuk melengkapi rasa. Ia mengocok heavy cream hingga benar-benar pekat dan kaku, ditambah perasa juga pewarna agar semakin menarik. Tring. Alarm oven pun berbunyi. Arsene mengeluarkan kue-kue mini itu dan mendinginkannya.
Seketika ponsel yang diletakkan di atas lemari hias kayu di ruang keluarga berbunyi nyaring. Arsene menaruh bahan-bahan yang ia pegang sejak tadi dan berlalu meraih ponselnya.
“Halo, Mom?” tanyanya.
“Kamu udah selesai bikin kuenya?” tanya mommy Ajeng.
“Belum, sebentar lagi. Tinggal finishing, Mom. Kenapa?”
“Kira-kira berapa menit lagi?”
“I need fifteen minutes more (Aku butuh lima belas menit lagi)!” jawabnya.
“Okay. Mommy mau bilang Tante Karin dulu. Alamatnya udah keterima kan?”
“Done, Mom!”
“Okay, thank you sweetheart. Bye!”
“Bye!”
Arsene bergegas kembali ke dapur dan menyelesaikan pekerjaannya pagi itu.
Dua box masing-masing berisi 12 buah cupcake dengan aneka topping dan dua rasa, vanilla dan cokelat, sudah terbungkus rapi. Sengaja Arsene membeli kotak dengan desain cantik, karena ini diberikan untuk teman lama mommy-nya, ia juga akan memberikan pada oma dan opanya sore ini. Rencananya ia akan mengajak Rainer juga untuk menginap di sana. Arsene mengemudikan motor besar hitamnya. Ia menaruh dua box itu di atas body motornya, agak riskan memang, tetapi bagaimana lagi. Tidak ada yang bisa dimintai pertolongan.
Ternyata alamat rumah Tante Karin tidak terlalu jauh dari rumah opa dan omanya. Jadi ia bisa merasa lebih santai, hanya saja sore nanti ia harus kembali menjemput Rainer di sekolahnya. Rumah itu terletak di sebuah bukit landai, sehingga pemandangan Kota Bandung bisa terlihat indah. Udaranya pun lebih sejuk. Arsene berhenti di sebuah rumah minimalis modern dengan pagar putih. Ia memperhatikan alamat yang dikirimkan oleh mommy-nya. Sudah benar.
Pria muda itu turun dari motornya yang masih terparkir di depan halaman rumah berlantai dua itu. Lalu membawa kotaknya dan membuka pagar rumah itu untuk langsung saja mengetuk pintu utama. Tante Karin pasti sudah mengetahui kedatangannya. Arsene berdiri di depan pintu dan menekan tombol bel yang ada di samping pintu kayu bercat putih itu.
DINGDONG.
“Assalamu’alaikum…” ucapnya dengan suara yang cukup lantang.
“Wa’alaikumsalam,” jawab sebuah suara lembut sayup dari belakang pintu. Suara kunci yang terkunci pun terbuka. Pintu itu terbuka sedikit demi sedikit.
“Apa benar ini rumah Tante Karin?” tanya Arsene sambil melihat layar ponselnya lalu tersenyum pada orang yang menyambutnya.
DEG. Tiba-tiba jantungnya melompat.
“Zaara?!” ucap Arsene terkejut.
__ADS_1
“Arsene? Ngapain kamu kesini?” tanya Zaara tidak percaya.
“Aku mau kasih ini buat Tante Karin,” jawab Arsene sambil menunjukan kotaknya.
"Kok kamu kenal umi aku? Atau jangan-jangan kamu kurir ojek online?!" canda Zaara terkekeh.
Arsene berdecak saja, ternyata bisa juga Zaara menggodanya.
"Tante Karin ibu kamu?" tanya Arsene tidak percaya.
"Iya. Bentar, aku panggil umi dulu. Kamu masuk aja!” ucap Zaara membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
Arsene pun masuk ke dalam dan duduk di atas sofa panjang yang ada di sana dan menaruh kotak kuenya di atas meja. Ia tak menyangka sama sekali ternyata Zaara, teman sebangkunya, itu adalah anak dari sahabat mommy-nya sendiri. Dunia begitu sempit.
Sementara Zaara tengah memanggil uminya ke belakang. Tiba-tiba seorang laki-laki dewasa berbadan tegap dan berjanggut, keluar dari sebuah kamar, ia tersenyum pada anak muda yang sedang duduk di sofanya itu. Arsene berdiri lalu mengangguk seraya tersenyum kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Ini anaknya Ajeng dan Ferdian ya?” tanya Reza, ayah Zaara.
“Iya Om, saya Arsene!” ucap Arsene mengangguk.
Keduanya duduk di atas sofa.
“Gimana kabar orangtuamu di Singapura?” tanya Om Reza ramah.
“Alhamdulillah baik, Om! Mommy lagi hamil, mungkin sekitar satu atau dua bulan lagi lahiran,” terang Arsene.
“Masya Allah, jadi sekarang adik kamu ada berapa?”
“Sekarang ada dua, Rainer dan Kirei, insyaAllah nambah satu, jadi kita empat bersaudara.”
“Alhamdulillah ya, semoga orangtua kamu sehat terus.”
“Aamiin…”
Tidak lama kemudian, Tante Karin keluar, ia menangkup tangannya kepada anak muda itu sambil tersenyum lebar.
“Aduh ini Arsene udah besar aja,” ujarnya sambil duduk di samping suaminya.
“Ya iyalah, Zaara aja udah besar. Mereka kan seumuran.”
“Iya atuh Abi, cuma karena udah lama gak lihat jadinya berasa kaget. Mirip Ferdian banget ya, Bi?!” ucap Karin.
Arsene tersenyum saja.
“Oh iya Tante, ini ada titipan mommy!” ujar Arsene memberikan sebuah kotak kue yang agak besar itu pada Karin.
“Syukron katsiron, Arsene, Tante juga udah bilang ke mommy kamu, kok!”
Arsene mengangguk.
“Zaara shaleha, tolong bikin minum!” ucap Karin sambil berlalu ke belakang mencari anaknya.
“Umi mau ngobrol sama Arsene dulu temenin abi. cepetan ya?!” pinta uminya itu.
“Iya!” jawab Zaara terpaksa. Gadis itu pun langsung mengambil tiga cangkir untuk diisinya dengan teh manis hangat.
Karin kembali lagi ke ruang tamu.
“Kapan katanya daddy dan mommy kamu pindah?” tanya Karin.
“Umm...mungkin setelah lahiran, Tante! Ini juga sebenarnya masih nunggu rumah selesai, baru bisa pindah ke sini,” terang Arsene.
Memang daddy Arsene, Ferdian, tengah membangun rumah baru di Bandung untuk mereka tempati tahun ini. Rumah itu memang belum selesai pembangunannya, sehingga mereka sekalian saja menunggu kelahiran anak ke-empat mereka.
“Alhamdulillah, bisa pindah lagi ke Bandung. Dulu Tante itu teman SMA mommy kamu. Setelah kalian lahir, dan mommy kamu hijrah, kita ngaji bareng-bareng di sini,” terang Karin.
Arsene mengangguk-angguk. Zaara pun muncul sambil membawakan tiga cangkir berisi teh hangat. Ia menaruhnya di atas meja.
“Makasih, Ra!” jawab Arsene pelan, membuat Karin dan Reza saling bertatapan.
“Eh, kalian udah saling kenal emangnya?” tanya Reza, Zaara berdiri tegang, ia takut abinya mengetahui kalau Arsene adalah teman sebangkunya.
“Zaara teman se-kelas, Om!” jawab Arsene tersenyum.
“Oh iya?!” ucap Reza dan Karin bersamaan.
“Lha kenapa Zaara gak pernah kasih tau?” tanya Reza memandangi putrinya yang masih berdiri. Karin menarik tubuh anaknya itu sehingga duduk di sampingnya. Zaara tertunduk.
“Kalian itu udah pernah ketemu sejak bayi. Pas balita kalian sering main bareng waktu kajian di sini,” terang Karin.
“Oh ya?” tanya Arsene tidak percaya.
“Iya betul itu.”
“Tapi kan Zaara mana tau Arsene itu anaknya Tante Ajeng?” sergah Zaara.
“Iya gak apa-apa, Sayang!”
Arsene tersenyum tipis. Tidak menyangka kalau sebenarnya mereka pernah bertemu sebelumnya ketika kecil dulu, ia jadi merasa geli.
“Zaara di sekolah gimana? Pasti galak ya?” tanya Karin.
“Umiii…” protes Zaara.
Arsene menyengir, “ya gitu deh, Tante!”
“Maaf ya kalau dia galak, emang gitu anaknya. Dia lagi berusaha jaga diri. Tau lah, anak-anak sekarang pergaulannya kaya gimana, makanya dengan jadi galak ibaratnya itu benteng pertahanan dia,” jelas Karin sambil mengusap lengan putrinya.
__ADS_1
Arsene tersenyum tipis, ia menyadari juga hal itu setelah berbicara dengan mommy-nya. Ia akan tetap menjaga jarak dengan Zaara meskipun mereka teman sebangku.
Tiba-tiba sebuah mobil sport besar berwarna putih berhenti tepat di rumah itu, membuat Karin dan Reza bertanya-tanya dan langsung beranjak untuk keluar rumah. Sementara dua anak remaja itu ditinggalkannya di ruang tamu. Arsene menatap kecil pada Zaara.
“Kamu jangan pernah kasih tau ke abi dan umi, kalau kita teman sebangku ya?” pinta Zaara.
“Iya, aku janji!” ucap Arsene.
“Aku tinggal dulu ya, masih banyak kerjaan di dapur!” ucap Zaara.
“Ngapain? Makan ya?” canda Arsene.
Zaara hanya mencebikkan bibirnya, lalu melenggang begitu saja meninggalkan Arsene yang sedang terkekeh-kekeh.
Zaara mengintip kotak kue pemberian Arsene pada uminya. Ia terkesima dengan banyak kue kecil dengan macam-macam topping menarik di dalamnya. Ia ingin sekali mencomot satu, tetapi belum meminta izin pada uminya, terpaksa ia harus menahan diri.
Sementara itu di teras rumah, Karin terlihat riang menyambut sahabatnya, Sita yang berkunjung bersama anak keduanya, Raffa.
“Ya Allah, aku seneng banget hari ini ih. Baru aja dapat titipan dari Ajeng, sekarang kedatangan dokter cantik!” ucap Karin memeluk sahabatnya.
“Eh, ada Ajeng?!” tanya Sita terkejut.
“Enggak, tapi ada Arsene, anak pertamanya itu lho!” jawab Karin.
“Wah? Arsene di Bandung, sejak kapan?”
“Arsene kan emang pindah duluan ke Bandung bareng adiknya, nanti Ajeng menyusul katanya.”
“Eh, Ajeng gak pernah bilang kalau anaknya balik sini. Waaaah senangnya, nanti bisa kumpul lagi!”
“Iya, yuk masuk!”
Mereka pun memasuki ruang tamu. Arsene berdiri dan menyalami wanita berhijab pendek itu, bersama pria muda yang ada di belakangnya.
“Arsene, kenalin ini Tante Sita, dokter yang bantu mommy Ajeng lahirin kamu,” terang Karin.
Mata Arsene membesar lalu tersenyum ramah.
“Ya Allah, Arsene ganteng banget kamu, Nak! Coba usia Anggun seumuran, udah pasti aku bujuk Ajeng buat jodohin sama anak Tante!” ucap Sita heboh menyebut nama anak ketiganya.
Arsene tersenyum tersipu saja.
“Nah ini anak Tante, namanya Raffa, dia mahasiswa kedokteran gigi semester 5,” ucap Sita memperkenalkan anak keduanya.
Arsene dan Raffa saling tersenyum.
“Abi, Arsene, sama Raffa ngobrol di sini aja ya! Kita mau ngobrol di ruang keluarga,” ucap Karin lalu menarik lengan Sita.
Sementara ketiga pria yang ada di sana mulai mencari topik untuk dibicarakan.
“Ayahmu masih di Jakarta, Fa?” tanya Reza pada Raffa.
“Iya Om. Besok baru pulang kayanya, mau ambil liburan seminggu ini,” jawab Raffa merunduk sopan.
“Oh baguslah. Kuliah gimana, lancar?”
“Alhamdulillah, Om! Sudah mulai banyak praktek.”
Arsene hanya menyimak percakapan di antara dua pria yang lebih dewasa itu.
“Zayyan mana, Om?” tanya Raffa.
“Zayyan lagi di sekolah, ada latihan karate tiap akhir minggu,” jawab Reza. Menyebutkan nama Zayyan, Arsene teringat Rainer, apakah latihannya sudah selesai atau belum? Arsene tentu saja tahu kalau Zayyan adalah teman sebangku Rainer di kelasnya.
“Om maaf saya izin keluar dulu, mau telepon adik saya!” ucap Arsene sopan.
Reza pun mengangguk.
Sementara itu di ruang keluarga, para ibu-ibu heboh bercerita tentang masa lalu mereka saat-saat mereka masih sering kumpul-kumpul bersama Ajeng tentunya. Kini anak-anak mereka sudah tumbuh besar, ternyata waktu begitu cepat berputar. Zaara sudah kembali ke kamarnya ketika ia meminta satu buah cupcake dengan topping buah blueberry.
“Rin, aku mau tanya sesuatu nih!” ucap Sita ketika Karin sedang menata kue-kue pemberian Arsene di atas piring untuk disajikan.
“Tanya apa?”
“Kalau aku tanya terkait pernikahan kamu bakal terkejut gak?” tanya Sita ragu-ragu.
"Pernikahan siapa?"
"Raffa pengen nikah muda!"
\=====
[Visual Raffa si calon dokter gigi]
\=====
Bersambung dulu yaa....
Jangan lupa LIKE, COMMENT, & VOTE
Terima kasiiih
__ADS_1