Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 92. Masalah


__ADS_3

Hari sudah gelap. Meskipun begitu tamu-tamu semakin banyak saja berdatangan ke restoran sambil membawa pasangan atau keluarga mereka ke sana. Mereka hanya ingin merasakan suasana tenang dengan menikmati sajian istimewa yang disajikan oleh para chef pemula.


Kerja Arsene sudah selesai malam itu dan akan digantikan oleh chef lain yang mengisi posisinya untuk membuat hidangan penutup. Pria muda itu telah melepas pakaian kerjanya dan mengganti dengan pakaian hariannya kembali. Sambil membawa tas selempang kecilnya, ia berjalan menuju pintu keluar dari belakang gedung.


“Arsene!” panggil seseorang dari belakang.


Menghentikan langkahnya, Arsene menoleh sebentar.


“Ada apa?!” tanyanya pada seorang gadis berambut pirang panjang.


“Aku ikut denganmu!” ucapnya sambil mengikat rambutnya. Nama gadis itu Fiona Anderson, usianya 21 tahun, seorang warga negara Australia asal Melbourne, ibukota negara bagian Victoria, Australia. Matanya besar dengan manik cokelat terang yang indah. Hidungnya lancip dan tajam dengan dagu bentuk muka yang ramping. Tubuhnya tinggi semampai bak model. Ia adalah koki spesialisasi untuk menu cuisine atau masakan.


Letak asrama Fiona memang tidak jauh dengan Arsene, hanya beberapa blok saja. Gadis itu selalu pulang bersama dengan Arsene jika sore hari bersama siswa lainnya. Hubungan mereka bisa dibilang cukup akrab akhir-akhir ini, mengingat Arsene seorang yang terbuka dan ramah. Mereka juga bekerja bersama di resto milik Chef Fang setiap hari Senin.


“Kamu sudah makan malam?” tanya Fiona ketika keduanya mulai berjalan menyusuri trotoar Blaxland yang hening.


Arsene membawa sebuah kantong plastik di tangannya. Ia menunjukkannya pada gadis itu.


"Nasi goreng buatanku?!" tanya Fiona memastikan.


"Iya aku belum memakannya. Aku akan makan malam di kamar!” jawab Arsene


“Ah, begitu ya? Tadinya aku akan mentraktir kamu makan di restoran cepat saji ujung jalan.”


Arsene tersenyum, “terima kasih, Fiona! Tapi ada seseorang menungguku.”


“Oh ya?!” Fiona melebarkan matanya meski dalam cahaya remang.


Arsene mengangguk.


“Aku dengar kemarin keluargamu datang ke sini ya?” Fiona memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket berbahan wol.


“Ya, mereka  sengaja datang kemari untuk berlibur bersama. Padahal mereka tidak memberiitahukannya sama sekali!”


“Wow. Lalu dimana mereka sekarang?” tanya Fiona ingin tahu.


“Mereka sudah pulang beberapa hari yang lalu. Ayahku harus segera mengurus keperluan bisnisnya lagi.”


“Ooh, lalu siapa yang menunggumu?!” tanya Fiona penasaran. “Apakah pacarmu?!” tebaknya.


Arsene terkekeh, “ya begitulah!”


“Ah ternyata kamu sudah punya pacar. Kalian tinggal bersama di sana?” tanya Fiona lagi, keingintahuannya akan pemuda yang berjalan di sampingnya itu begitu besar. Arsene memang selalu jadi magnet di akademi. Banyak siswa yang mengidolakannya karena tampang kerennya dan sifatnya yang menyenangkan.


“Dia datang kemari dari Indonesia untuk menemaniku beberapa minggu ke depan karena kuliahnya sedang libur.”


“Oh begitu!” nada suara Fiona terdengar mengecil, seperti menyiratkan nada kecewa di sana.

__ADS_1


Angin malam menyentuh lembut menerbangkan rambut keduanya. Arsene menghentikan langkahnya karena ia telah tiba di halaman depan asramanya. Beberapa mobil kecil melewati jalan yang cukup lebar, menyorotkan lampu pada keduanya ketika lewat.


“Aku duluan, Fiona!” pamit Arsene.


“Baik, sampai jumpa lagi!” ucapnya tersenyum di bawah cahaya lampu jalanan. Gadis itu menunduk dan melanjutkan langkahnya menuju gedung asrama yang berada hanya beberapa blok saja dari sana.


Sementara itu Arsene melangkah santai menuju asrama. Mengambil ponselnya dari dalam tas, ia terkejut mendapati pesan yang belum dibaca dari istrinya beberapa jam yang lalu. Setelah siang hari, dirinya tidak lagi sempat membuka ponsel karena pengunjung terus berdatangan dan membuat pesanan. Apalagi banyak pengunjung memilih dessert buatannya itu.


Arsene berlari menuju kamarnya, tidak sabar untuk menemui kekasihnya. Ia mengetuk pintu kamarnya.


“Zaara, assalamu’alaikum!”


Namun tidak terdengar balasan di sana. Arsene mengetuk lagi lebih kencang, khawatir istrinya tertidur di saat maghrib. “Zaara Sayang!”


Seorang pria bermata sipit dengan tubuh agak berisi menghampirinya. Ia penghuni asrama di sebelahnya, yang juga berasal dari Indonesia. Ia pelajar dari salah satu universitas di Sydney.


“Kamu cari istri kamu, Sen?!” tanya pria itu, Felix namanya.


Seluruh penghuni asrama ini tahu kalau Arsene sudah menikah muda. Berbeda dengan para siswa di akademi, hubungan privasinya itu tidak banyak yang mengetahui kecuali yang sama-sama tinggal di asrama ini. Hanya saja kebanyakan mereka tidak peduli.


“Tadi siang dia keluar. Sepertinya dia belum kembali, soalnya dari tadi aku terus duduk di ruang tengah,” terang Felix.


“Astaghfirullah, kemana Zaara?!” tanyanya pada diri sendiri. Ia tahu Zaara meminta izin untuk makan siang di restoran akademinya, tetapi ia tidak tahu kapan datangnya.


Arsene membuka lagi ponselnya. Ia kembali melihat pesan istrinya. Sudah empat jam berlalu sejak pesan itu diterima. Arsene berusaha menghubungi istrinya via telepon. Tidak ada nada sambung yang terhubung dari sana. Kini perasaannya kalut dan cemas. Tetapi ia belum menunaikan shalat maghrib. Arsene meminta izin pada Felix untuk ikut shalat maghrib di kamarnya. Felix yang juga seorang muslim membiarkan teman se-asramanya itu menunaikan ibadahnya di dalam kamar.


“Ya Allah, Zaara kamu dimana?” ucapnya pada dirinya sendiri, panik.


Sementara Felix hanya memandangnya dengan simpati.


“Ponsel kalian terhubung dengan GPS gak? Siapa tau ponselnya mati karena kehabisan baterai. Biasanya masih terlihat jejak terakhir kalau kalian saling membagikan lokasi dengan GPS.” Felix berinisiatif.


Arsene terdiam, lalu membuka aplikasinya, ia ingat sudah saling menghubungkan GPS ponselnya dengan ponsel istrinya. Mudah-mudahan saja bisa terbaca.


Beberapa detik kemudian, titik lokasi akhir dari Zaara bisa terbaca. Gadis itu terdeteksi berada di sebuah masjid di kawasan Parramatta, masjid yang biasanya Arsene kunjungi saat Jumat. Zaara terdeteksi berada di sana sekitar satu jam yang lalu. Mudah-mudahan saja gadis itu masih berada di sana.


“Makasih, Lix! Aku pergi dulu!” Arsene membalikkan tubuhnya.


“Udah ketemu?”


“Di Masjid Parramatta!”


Arsene berjalan dengan langkah setengah berlari menuju trotoar Blaxland. Untuk mencapai Masjid Parramatta, dirinya harus mencapai Top Ryde Community untuk bisa menaiki bus menuju jalan Phillip di kawasan Parramatta. Bukan jarak yang dekat untuk kesana, butuh waktu sekitar 50 menit perjalanan dengan transportasi umum. Apalagi bus datang sekitar 20 menit sekali. Mudah-mudahan saja busnya cepat datang setibanya ia di halte. Jantungnya berpacu seiring langkahnya yang ia percepat. Mengapa Zaara bisa sampai ada di sana? Apalagi ia tidak memberitahukannya lagi keberadaannya. Apa yang terjadi?


Arsene mempercepat larinya ketika dilihatnya sebuah bus berwarna putih biru berhenti di halte. Ia segera menaiki bus dan menempelkan kartu pembayaran tiket di tempat yang tersedia. Nafasnya terengah-engah setelah pria muda itu duduk di bangku paling belakang sambil memegang kantong plastik berisi dua kotak makan malamnya. Pikirannya benar-benar kalut dan cemas, apalagi Zaara tidak bisa dihubungi sama sekali.


Tiba-tiba ponselnya berdering saat ia mencoba mengatur nafasnya kembali normal. Nama sepupunya tertera di sana. Ada apa lagi ini? pikirnya.

__ADS_1


“Kenapa Kak Al?!” tanyanya, suaranya terdengar menderu tidak karuan.


“Lu lagi ngapain Cen? Gue ganggu yak?!” tanya Alice, pikirannya kotor.


“Apa sih Kak? Aku habis lari-lari ini!”


“Lari-lari malem, ngapain?” Alice malah bertanya hal yang tidak penting.


“Udah buruan ada apa?!” tanya Arsene setengah emosi.


“Ardan ngundurin diri, Cen! Gue mesti gimana?! Dia kayanya udah kirim pesen juga sama lu deh!” infonya membuat jantung Arsene terentak.


Arsene menghela nafas berat. Mengapa dua masalah datang di saat yang bersamaan seperti ini. Ia tidak mengerti.


“Ya Allah, Kak! Aku belum sempet buka whatsapp lagi, Kak! Zaara ngilang!” terangnya panik.


“Ngilang?! Ngilang gimana maksud lu?!” Alice terdengar setengah berteriak.


“Gak tau, dia gak ada di kamar. Katanya mau jalan keluar, tapi sekarang gak bisa dihubungi. Untung lokasi di GPS masih kelacak. Aku mau nyusulin dulu. Mudah-mudahan dia masih ada di sana.” Sambil berbicara, ia melihat-lihat kondisi jalanan yang masih ramai.


“Ya Allah, Zaara! Itu anak kemana?!” Alice jadi ikut cemas.


“Urusan Kang Ardan, nanti aku urusin lagi. Aku fokus cari Zaara dulu ya? Doain aja mudah-mudahan Zaara baik-baik aja.”


“Iya Cen! Gue kirim doa dari sini.”


“Jangan kasih tau siapa-siapa dulu Kak! Nanti aku kabarin lagi!”


“Siap! Lu hati-hati juga Cen!”


“Iya, makasih Kak!”


Pikiran anak muda itu semakin kalut saja berkali-kali lipat. Ada apa lagi dengan Ardan, sampai dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari kerjaannya di toko. Padahal penjualan sedang bagus-bagusnya akhir-akhir ini. Arsene mencoba menenangkan diri dan tetap berpikir positif. Fokusnya untuk saat ini adalah menemukan istrinya. Ia mengambil botol minum dari tas selempangnya dan meneguknya. Kerongkongannya terasa kering setelah berlari-lari tadi.


Pemuda itu terus berdoa di dalam hati agar istrinya aman dan baik-baik saja.


\======


Waduhhh....


Klik LIKE ya


Vote yang banyak


dan tinggalkan komentar kalian untuk dukung terus Author Aerii


Terima kasiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2