Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 96. Pulang


__ADS_3

Awan putih berarak di langit biru berkumpul satu sama lain di siang hari yang terang. Tiupan angin menerbangkan kecil ujung hijab motif milik Zaara yang kemudian tangannya tahan agar tidak tersingkap. Jantung gadis itu berdebaran untuk sekian kalinya. Bukan karena salah tingkah menghadapi betapa manisnya perlakuan Arsene. Ini karena keduanya hendak terpisah jarak kembali, setelah bersama-sama tinggal selama satu bulan di negeri orang.


Hatinya kecut. Nafasnya terasa sesak seolah ada batu besar mengganjal di tenggorokan. Ia berusaha mengatur emosinya. Sabar. Kata yang selalu diucapkan dalam hatinya agar hatinya kuat dan tegar bagai batu karang yang diterjang ombak.


Arsene menarik koper merah kecil milik istrinya itu. Perasaan pria muda itu pun sama bergejolaknya. Kini celengan rindunya harus kembali ia isi, meski tersisa beberapa bulan saja. Setidaknya, kisah kasih selama 4 minggu di Sydney akan menjadi kekuatan dan energi untuk menjalani hari-harinya ke depan.


Arsene mendekap tubuh istrinya sebelum berpisah di bandara. Arsene sangat mencemaskan Zaara ketika gadis itu harus pulang sendiri ke negara asalnya.


"Aku udah besar, Abang Sayang! Aku emang ceroboh, tapi aku bisa tanya sama orang kalau kesulitan!” Zaara berusaha menepis kekhawatiran berlebihan suaminya.


“Iya aku tau. Pokoknya setelah sampai di bandara Soetta wajib telepon aku ya?!” pinta Arsene mengelus kepala istrinya.


“Insya Allah. Abang sehat-sehat di sini. Jangan genit, jangan bandel!” Zaara mencolek hidung suaminya. Hatinya sudah tenang ketika teman-teman seangkatan di akademi memasak Arsene mengetahui status mereka.


“Siap, Nyonya Arsene!” Arsene bertingkah layaknya pemimpin upacara yang memberi hormat pada pembina upacara.


Zaara terkekeh-kekeh.


“Aku bakal kangen kamu setiap detik!” ucap Arsene.


“Aku juga. Setidaknya kita udah punya modal setelah ketemu nanti. Kita akan hidup mandiri seperti di asrama. Mungkin lebih berat perjuangan kita kedepannya.”


“Iya, kamu betul! Tantangan hidup setelah ini mungkin bakal lebih sulit. Janji ya, kita akan selalu hadapi bersama?!”


“Aku janji. Ada Allah bersama kita.”


Arsene tersenyum lebar dan menangkup pipi istrinya.


“I love you, Zaara!” pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak itu mengecup pelan bibir istrinya, menaruh semangat dan kekuatan untuk hari-hari ke depan.


“I love you too, Abang Acen!”


Dada keduanya sesak. Mata mereka berkilauan tetapi senyum lebar menghiasi perpisahan di siang hari itu. Keduanya sudah merasa lebih baik setelah bersama, memecahkan celengan rindu, merajut benang kasih, dan menyatu dalam cinta. Yakin mereka bisa menjalani hari berikutnya dengan harapan dan doa yang sama.


Zaara melambaikan tangannya ketika melangkahkan kaki menuju tempat check in di bandara. Arsene memandangnya tersenyum. Perjuangan menuju cita-citanya tinggal sedikit lagi, ia harus kuat menahan rindunya untuk Zaara. Ia akan bisa mendapat gelar chef profesional setelah ini, dan bekerja di restoran atau hotel mewah atau berjuang untuk membesarkan bisnisnya yang kini tengah meluncur turun.


Zaara memejamkan matanya ketika sudah duduk di kursi pesawat yang akan mengantarnya ke negara tempat lahirnya. Ayahnya akan menjemputnya di sana. Zaara mengambil buku catatan hariannya dari tas selempang miliknya. Ia membukanya. Foto-foto yang dicetak melalui kamera polaroid sudah ditempel di bukunya itu. Memandang senyuman suaminya yang khas selalu membuat dirinya tersadar, betapa ia sangat jatuh cinta pada teman sebangkunya dulu. Kini ia akan berusaha meracik resep cintanya, mempersiapkan kehidupan mereka yang selanjutnya yang mungkin tidak lagi mudah.


Dan tunggulah aku di sana


Memecahkan celengan rinduku


Berboncengan denganmu mengelilingi kota


Menikmati surya perlahan menghilang


Hingga kejamnya waktu


Menarik paksa kau dari pelukku


Lalu kita kembali

__ADS_1


Menabung rasa rindu saling mengirim doa


Sampai nanti sayangku


[Celengan Rindu - Fiersa]


\======


Suasana kampus Universitas Bumi Pertiwi telah ramai oleh mahasiswa-mahasiswa baru. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian kemeja putih dan bawahan hitam untuk fakultas dan jurusan tertentu. Ada juga dari mereka yang mengenakan pita-pita berwarna-warni di rambutnya sesuai dengan warna fakultas. Tampaknya masa orientasi fakultas belum semuanya usai.


Zaara berjalan di atas trotoar depan fakultasnya sambil membawa beberapa buku di tangannya. Tas gandengnya sudah tidak muat, ketika gadis itu memutuskan untuk meminjam beberapa buku teori semantik dan morfologi dari perpustakaan.


Tubuhnya yang berjalan santai ditemani terpaan angin lembut yang menjatuhkan dedaunan kering yang rapuh. Beberapa kali, kaki yang mengenakan sepatu sneaker putih itu menginjak makhluk tak berdaya itu tidak sengaja.


“Zaara, tunggu!” teriak seseorang yang mengenakan hijab, ia berlari mengejar Zaara yang langkahnya terhenti.


“Terry, mana Hana?” tanya Zaara melihat sahabatnya tengah membungkuk sambil mengambil udara dan mengatur nafasnya.


“Ah jajan mulu dia mah! Gue tinggalin aja deh!” jawabnya terengah-engah.


Terry telah berhijab di semester ketiganya ini. Gadis kurus dan tinggi itu memutuskan untuk berhijab setelah melihat pernikahan muda sahabatnya ini.


“Kuliah masih tiga puluh menit lagi kan?” tanya Zaara.


“Iya, mau kemana kita?”


“Kantin?!”


Kedua mahasiswi itu berjalan menuju kantin di pagi hari. Biasanya untuk mengganjal perut sebelum perkuliahan dimulai dengan makanan semi berat atau camilan. Suasana kantin cukup ramai, banyak mahasiswa baru di sana. Terlihat dari pakaian mereka. Meskipun ada juga mahasiswa baru yang tidak mengenakan hitam-putih itu, biasanya mereka adalah mahasiswa Sastra Inggris yang lebih fleksibel memiliki aturan dalam masa orientasinya.


“Minggu depan ada acara training motivasi di LDK lho, mau ikut gak?” tawar Zaara setelah membeli roti keju kesukaannya.


“Ikut dong, gue butuh energi nih. Rasanya bete banget kuliah di jurusan sastra!” Terry mendengus. Jurusan Sastra Indonesia memang bukan pilihan utamanya. Jadi ia sedikit tidak menikmati.


“Nanti aku daftarin ya, kebetulan aku juga panitia!”


“Iya siap! Eh ngomong-ngomong, aku boleh kepo gak Ra?!” tanya Terry memainkan ujung jari telunjuknya satu sama lain.


“Kepo apa sih Ry?”


“Itu, mmh… anu, apa lo udah melakukan sesuatu sama Arsene?” tanya Terry ragu-ragu.


Pipi Zaara sontak memerah. Panas terasa di seluruh wajahnya.


“Ngelakuin apa?” tanya Zaara pura-pura polos.


“Ah pasti udah lah ya? Gimana rasanya?!” tanya Terry lagi. Wajah Zaara semakin merah saja.


“Ya ampun Ra! Itu wajah apa kepiting rebus? Merah banget deh!” ucap Terry tertawa-tawa.


“Habisnya ditanya begituan, aku kan jadi grogi!”

__ADS_1


“Hehe, sorry! Gue lagi belajar nulis fiksi, jadi pengen tau lah sedikit-sedikit biar gak polos amat!” Kikikan Terry membuat Zaara tidak sanggup melihat kawan di depannya itu.


“Yang gitu mah lebih baik dirasain sendiri. Malu kalau cerita, apalagi di sini!”


“Please, kasih tau dikiiiit aja!” Terry memasang wajah memelasnya.


Zaara meremas kantong kresek yang dibawanya.


“Aku juga gak tau! Karena rasanya aneh tapi….” Zaara tidak melanjutkan, terlalu malu memberitahukannya.


“Tapi apa?” Terry memajukan wajahnya.


“Aah Terry tanggung jawab nih, aku jadi inget dia!” Zaara berteriak sambil menutup wajahnya, terlalu malu.


“Eaaa, langsung kebayang-bayang gitu jadinya ya?!”


Tawa Terry yang keras, memancing perhatian para pengunjung kantin sehingga mereka menjadi pusat perhatian.


“Kalau ciuman?” ternyata pertanyaan Terry belum selesai.


“Ya Allah, Terry! Kamu cepetan nikah sana, biar bisa jawab sendiri!” sergah Zaara.


“Cepet jawab satu kata aja!”


“Mmh… lembut, ...manis!”


Terry menaruh kedua tangan di pipinya, terlalu girang dan antusias.


“Awas jangan coba sebelum nikah!”


“Iya atuh Ceu! Jadi apa perut lo udah isi?”


Zaara menghela nafas menjadi narasumber tiba-tiba seperti ini.


“Udah!”


“Beneran?!” tanya Terry tidak percaya sekaligus senang.


Zaara mengangguk, “nih, sama roti!”


“Gubrakkk!!”


\======


Bersambung dulu yaa


Jangan lupa VOTE nya yaa


Klik Like


Tulis komentarnya

__ADS_1


Makasiiiih ^_^


__ADS_2