
Malam begitu pekat dan udara dingin terasa menusuk. Angin berhembus kencang memasuki celah-celah jendela dan pintu. Arsene mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya. Rasa gundah dan gelisahnya entah mengapa tiba-tiba saja menghilang ketika ia menikmati aliran mimpi yang mampir di malam ini. Tiba-tiba ia terbangun. Alunan musik yang ia nyalakan tadi malam masih terdengar, lampu-lampu kamar masih menyala. Ia memperhatikan wajah istrinya yang sedang tertidur menghadap ke arahnya. Arsene mengecup kening Zaara, lalu beranjak dari kasur. Ia memperhatikan sesuatu yang tersembunyi.
Pria yang mengenakan kaos tidur hitam itu menghela nafas. Pantas saja rasa gelisahnya berkurang. Pria itu telah selesai bermimpi basah, dan kini bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum adzan subuh berkumandang.
Pintu kamar mandi terbuka setelah pria itu selesai menunaikan mandi wajibnya. Zaara sudah bangun dan menatap heran pada suaminya yang telah mandi di waktu subuh.
“Kenapa udah mandi?” tanya Zaara dengan suara seraknya.
Bukannya menjawab pertanyaan, Arsene malah menyengir memperlihatkan gigi rapinya.
“Ih kok gak dijawab?” sungut Zaara.
Arsene mendudukan dirinya di tepi ranjang.
“Aku mimpi basah!” jawabnya tersipu-sipu.
“Oooh....” Zaara cukup terkejut.
Zaara jadi tersenyum kecil melihat suaminya yang masih mengenakan handuk menutupi pinggang sampai lututnya itu. Zaara menyelimuti seluruh tubuhnya hingga menutupi kepala, membiarkan suaminya agar bisa segera mengenakan pakaian lengkapnya.
“Kamu gak mau tonton pertunjukan hebat?” goda Arsene.
“Enggaaaak… Cepet pake baju!” seru Zaara dari balik selimutnya.
Arsene cekikikan saja dan segera mengenakan pakaiannya lalu mengamparkan sajadahnya. Zaara membuka selimutnya ketika terdengar olehnya suara lirih Arsene yang sedang mengerjakan shalat. Gadis itu menghela nafas, mengingat hari ini keduanya akan berpisah jarak. Bergegas Zaara pun membersihkan tubuhnya.
“Berangkat jam berapa?” tanya Zaara setelah suaminya menyelesaikan shalat subuh.
“Jam 9. Aku take off sore, tapi siang udah harus kumpul di hotel sama siswa lain dari Indonesia.” Arsene melipat sajadah miliknya.
“Ooh jadi berangkatnya bareng sama siswa lain?”
“Iya, soalnya nanti kita ditempatin di satu asrama gitu.”
Zaara merapikan tempat tidurnya. Wajahnya terlihat risau di pagi hari yang mentari belum menyinari. Arsene bisa melihatnya dengan jelas, tatkala gadis itu juga mulai membereskan barang-barang miliknya. Zaara akan kembali ke rumahnya seperti sediakala ketika berjauhan dengan suaminya.
“Zaara Sayaaaaang?” panggil Arsene pelan.
“Hmm…” ucap gadis itu menoleh.
“Sini duduk!” seru Arsene menepuk tepi kasurnya.
Zaara menuruti perintah suaminya dan duduk di tepi kasur, sementara Arsene mengambil kursi belajarnya sehingga duduk sejajar berhadapan dengan gadis itu.
Arsene mengambil kedua tangan istrinya dan menggenggamnya erat.
“Seperti yang udah kita bicarakan sebelumnya saat taaruf, LDR ini pasti berat buat aku dan kamu. Tapi kalau kita saling percaya, setia, dan komunikasi kita bagus pasti masalah akan terlihat sangat kecil. Kamu percaya aku kan?” tanya Arsene menatap tajam istrinya.
Zaara mengangguk-angguk. Lisannya tertahan karena nafasnya yang tercekat di dalam tenggorokannya.
“Aku juga percaya kamu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Whatsapp dan telepon aku tersedia 24 jam untuk kamu. Meskipun misalnya aku sibuk, aku akan berusaha menghubungi kamu secepatnya.”
“Ada yang mau kamu sampaikan?” tanya Arsene.
Mata Zaara berkaca-kaca. Ia tidak sanggup berkata apa-apa, sehingga ia biarkan saja air matanya mengalir sebagai ungkapan kesedihannya. Ini pertama kalinya Arsene melihat Zaara menangis seperti itu di depan matanya sendiri. Pria itu sungguh tidak tega melihat istrinya tengah membanjiri pipinya dengan air mata. Arsene lekas memeluk tubuh gadis itu.
“Everything will be okay. Aku janji 5 bulan lagi kita akan bertemu!” ucap Arsene mengelus lembut punggung istrinya.
“Maafin aku. Aku gak tau kalau ternyata hubungan jarak jauh seberat ini.” Zaara tersedu-sedu.
“Gak apa-apa, Sayang! Mungkin ini ujian untuk level kesetiaan dan kepercayaan kita.”
“Aku sayang kamu!” ucap Zaara lirih.
“I love you more, more, and more!” ucap Arsene mengecup kepala istrinya.
Arsene membawa koper dan ranselnya menuju lantai bawah setelah urusannya selesai pagi itu. Semua keluarganya akan mengantarnya langsung ke Jakarta, ke sebuah gedung dimana para calon siswa dari Indonesia akan berkumpul. Ferdian tengah memanaskan mobilnya selagi Arsene memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi mobil.
Ferdian dan Rainer duduk di jok depan, sedangkan Ajeng, Kirei, dan Finn duduk di jok tengah. Arsene dan Zaara duduk di jok belakang. Dua sejoli itu tentu saja harus duduk bersama demi menikmati momen kebersamaan yang tersisa. Sengaja Ferdian menepikan mobilnya di depan rumah besannya, agar Arsene bisa berpamitan pada mertuanya.
__ADS_1
Setelah itu mereka benar-benar melakukan perjalanannya. Arsene menaruh kepalanya di atas pangkuan istrinya sambil melihat langit yang bergerak di luar jendela. Sementara itu Zaara mengelus lembut kepala suaminya, membuat Arsene mengantuk. Tetapi pria itu berusaha mungkin untuk menepis rasa kantuknya dan bangkit untuk duduk di sebelah istrinya. Arsene menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya, merasakan tubuh yang hangat itu untuk beberapa waktu lagi.
Arsene mengambil sebuah bantal lalu menarik dagu istrinya untuk ia kecup bibirnya. Bantal itu ia gunakan untuk menutupi aktivitas mereka dari orang-orang yang duduk di depannya.
“Ssst!” ucap Arsene ketika Zaara hendak menghindar dari kecupan yang ia berikan.
“Malu…” bisik Zaara.
“Ini aku tutup!” balas Arsene berbisik.
Dan mereka berciuman di dalam mobil di tengah-tengah keluarga mereka, meski sebuah bantal besar menutupinya.
Ferdian melihat ke spion tengah, ia terkejut melihat bantal besar menutupi wajah Arsene dan Zaara. Ferdian tertawa-tawa menggeleng-geleng. Ia tak menyangka anaknya akan berlaku seperti itu. Mudah-mudahan saja adik-adiknya tidak melihat. Ia hanya khawatir akan ada polisi lewat yang menciduk mobil mereka.
Arsene dan Zaara terkekeh kecil bersamaan setelah melakukan hal itu. Zaara mengambil tisu untuk mengelap bibir suaminya yang terdapat noda lipcream miliknya yang berwarna coral pink.
“I got hypnotized by you!” ucap Arsene pelan.
“Lebay!” balas Zaara menyenggol tubuh suaminya sambil tertawa kecil.
Arsene baru bisa tertidur di pangkuan istrinya setelah itu, di dalam perjalanan yang akan menghabiskan waktu kurang lebih dua jam lagi.
Tak terasa perjalanan berakhir. Ferdian memasuki sebuah gedung hotel tinggi di kawasan Jakarta Pusat, dimana para siswa WNI dari akademi Le Cordon Bleu berkumpul untuk berangkat bersama. Arsene menurunkan semua barangnya.
Ferdian dan keluarganya mengantar Arsene ke lobby hotel yang cukup mewah itu. Di sana sudah banyak tamu yang sepertinya juga mengantar anak-anak mereka untuk pergi ke Sydney bersama-sama. Entah berapa siswa yang akan berangkat hari itu. Kebanyakan siswa adalah perempuan. Meski ada juga laki-laki tetapi tidak banyak. Arsene membawa barang miliknya ke sebuah sofa yang masih kosong.
“Daddy mau langsung pulang?” tanya Arsene dengan wajah sendu.
“Sepertinya ya, besok ada meeting pagi sama klien yang mau take over bisnis Daddy di Singapore.” Ferdian berdiri di depan Arsene yang masih digandeng oleh Zaara.
Arsene menghela nafas, terasa sesak beban di dadanya. Pria itu membuang nafasnya berat, lalu memandangi gadis di sebelahnya yang belum melepas lengannya sejak tadi.
“Be focused on what you will achieve. Everything will be on the track as you wish (Fokus dengan apa yang mau kamu capai. Semuanya akan sesuai di jalur yang kamu inginkan)!” ucap Ajeng mengelus wajah anak sulungnya.
“Yes, Mom. I’ll try!” jawabnya sambil memeluk tubuh ibunya yang selalu mendukungnya selama ini.
Arsene menggendong adik kecilnya, Finn, dan mengecup gemas pipinya. "Kita ketemu lagi nanti ya, Finn?!" ucap Arsene menggenggam tangan mungil adiknya.
“I will. Thanks, Dad!” Arsene melihat wajah optimis dan kepercayaan dari ayahnya.
“Abaaang, Kirei bakal kangen Abang lagi! Kenapa sih selalu pergi ninggalin Kirei?!” ucap Kirei tersedu-sedu memeluk kakak pertamanya.
“Sekarang ada Abang Rainer di sisi kamu. Baik-baik ya, jangan berantem terus sama Bang Rain! Kamu juga bisa main sama Teteh Zaara kalau ke rumah,” ucap Arsene mengelus-elus punggung adik perempuan satu-satunya. Kirei memasang wajah sedihnya, karena itu kali kedua Arsene meninggalkannya jauh setelah satu tahun yang lalu dirinya pun ditinggal saat di Singapura.
Kali ini Arsene menatap adiknya Rainer yang memiliki tubuh lebih tinggi sedikit darinya.
“Jaga adik-adik ya, Rain! Apalagi Kirei, dia adik perempuan kita satu-satunya. Sekolah yang bener jangan kebanyakan main game!” pesan Arsene pada adik yang berbeda 3 tahun dengannya itu.
“Iya, Bang! Abang juga sehat dan baik-baik di sana. Cepet balik lagi sini. Semoga cita-cita Abang cepat terwujud!” ujar Rain memeluk tubuh kakaknya.
Kini Arsene beralih menatap gadis yang sedari tadi berdiri memandanginya.
“Hai Zaara Sayaaang!” sapa Arsene ramah menengok wajah istrinya yang terlihat tegang.
Pria itu sungguh tidak tega melihat mata Zaara yang sedang menggenang air di sana.
“Aku pinjem Zaara dulu sebentar ya Mom, Dad!” ucapnya pada ayah dan ibunya.
Ajeng dan Ferdian tersenyum getir dan membiarkan keduanya pergi menuju sudut taman hotel yang sepi dan berdiri di balik bangunan tinggi itu.
Arsene menggenggam erat tangan istrinya selagi menuntunnya ke tempat yang sepi dimana tidak ada orang lewat di sana. Perasaannya sungguh tidak karuan, tetapi ia harus tetap kuat. Pria itu menghentikan langkahnya ketika dirasa suasana sekitar telah mendukung. Arsene memeluk erat tubuh istrinya yang bergetar, membiarkan gadis itu meruntuhkan semua apa dirasakannya saat ini ketika mereka akan berpisah sebentar saja. Zaara menangis tersedu-sedu di atas bahu suaminya tidak bisa menahan lagi apa yang ada di dalam perasaannya dan mengeluarkan semua gejolak emosinya. Sementara Arsene tidak berhenti mengelus punggung gadis itu.
“Hey, Zaara Sayaaang! We’ll be fine, okay?!” ucap Arsene berusaha tersenyum sambil memegang kedua bahu Zaara. Ia menatap pada wajah istrinya yang tidak sanggup membalas tatapannya. Arsene mengusap wajah lembut istrinya itu.
“Promise me one thing!” ucap Arsene lagi.
Zaara terisak dalam tangisnya. Ia menatap suaminya yang terlihat tegar itu.
“Apa itu?” isaknya.
__ADS_1
“Doakan aku terus ya?!” pinta lelaki yang mengenakan setelan kemeja dan t-shirt biru cerah itu.
“Aku janji!” jawab Zaara masih dengan isakan tangisnya.
“Good! That’s my only princess! Aku juga bakal sebut nama kamu dalam doaku, agar rinduku terus tersampaikan.” Arsene kembali memeluk Zaara dan mengecup kepala gadis itu.
Arsene menangkup pipi istrinya, mengecup beberapa kali bibir yang beberapa hari terakhir ini membuatnya ketagihan. Benar saja, ia benar-benar akan merindukan lembut dan manisnya ciuman itu dan merasakannya kembali saat ini, lalu beralih mengecup lekat kening istrinya, sambil menghela nafas. Ia kembali menuntun lengan Zaara pada keluarganya. Sedangkan Zaara terus berusaha menghentikan lajur air matanya.
“Mom, aku titip Zaara!” ucap Arsene mengembalikan Zaara pada ibunya.
Ajeng mengangguk tersenyum.
“Kita pulang duluan ya, Abang Sayang! Doa terbaik kami selalu menyertaimu!” ucap Ajeng kembali memeluk anaknya.
“Makasih banyak, Mom!” ucapnya dengan nafas yang terasa mencekat di tenggorokan.
Arsene berdiri memperhatikan kepergian keluarga yang dicintainya. Dari balik jendela mobil, tersembul simpul senyum berderai air mata dari Zaara yang melambaikan tangan padanya. Mata pria muda itu berkaca-kaca, ia memberikan ciuman jarak jauh pada istrinya seraya tersenyum getir. Hujan rintik-rintik menemani perpisahan sementara di siang itu. Terasa dingin dan hampa.
Doa akan menyampaikan rindu mereka yang terhalang jarak. Sampai jumpa.
\======
My love is a melody
which I sing high and low
My love is a seagull
that flies high and low
If I tried to call out in the sunset,
I wonder if I'd encounter the gentle you
My love is a diary
that spells the pages of my life
My love is a boat
that goes throughout the empty sea
If I looked back in the sunset,
I wonder if you'd be looking for me
Yesterday’s love is nothing more but tears
They will soon dry out and disappear
Tomorrow’s love is a mere refrain
Words that have no end
If we met by chance in the sunset
I wonder if you’d embrace me.
– Summer of Goodbye (From Up on Poppy Hill - Ghibli Studio)
"Cinta kemarin tidak lebih hanyalah sebatas air mata
Mereka akan segera mengering dan menghilang
Cinta esok adalah sebuah pengulangan belaka
Kata-kata yang tidak ada habisnya
Jika kita bertemu secara kebetulan saat matahari terbenam
__ADS_1
Aku ingin tahu apakah kamu akan memelukku"