
Ferdian dan kawan-kawan kampusnya masih mengobrol asyik mengenai masa-masa indah dan konyol di kampus mereka dulu setelah menunaikan shalat dzuhur. Sepertinya acara lepas rindu ini masih akan berlangsung lama. Ferdian menatap layar ponselnya dan melihat jam yang tertera di sana. Waktu menunjukan pukul 13.30 WIB.
“Kita video call sama Ridho yuk!” ajaknya.
“Emang di London jam berapa sekarang?” tanya Ipul.
“Masih gelap sih kayanya, kita iseng aja!” ucapnya dengan raut wajah yang jahil.
Tentu saja kawan-kawan lainnya setuju pada usulan Ferdian. Lelaki beranak empat itu pun mulai melakukan panggilan video pada sahabat kecilnya. Sudah beberapa menit, panggilan itu belum diangkat.
“Halo?” wajah Ridho yang segar dengan rambut basahnya terpampang di video call itu. Ekspresinya tampak terkejut ketika Ferdian mengarahkan kamera depannya pada semua kawan-kawannya itu memakai tongsis.
“Eh kalian!”
“Bos kamana wae atuh bos (Bos kemana aja)?!” seru Danu.
“Nu, kumaha damang? Saha wae diditu? (Nu, gimana kabarnya? Ada siapa aja di sana)?” ucap Ridho, logat Sunda khasnya keluar.
“Eh kumargi teh, basa Sunda na tos leungit (Eh dikirain, Bahasa Sundanya udah hilang)!” kali ini Malik menimpali.
“Henteu atuh, da ieu mah basa lokal, basa pun indung! (Engga dong, soalnya ini bahasa lokal, bahasa ibu)!” jawab Ridho terkekeh-kekeh.
Kawan-kawannya tertawa-tawa mendengar ucapan Ridho yang ternyata masih sama saja.
“Mana atuh pun istri teh? Hoyong ningali (Mana istrinya? Pengen lihat dong),” ucap Malik
“Nuju di dapur Mang! Aya oge pun anak didieu! (Lagi di dapur, Mang! Ada juga anak di sini)!” sahut Ridho menoleh ke samping, lalu mengarahkan layar ponselnya pada anak perempuan sulungnya.
“Say hi, they are my closest friends in college (Katakan Hai, mereka teman dekat papa di kampus) !” ucapnya berbisik pada putrinya.
Seorang gadis cantik bermata bulat dengan kulit putih khas bule terlihat tersenyum manis di sana.
“Hai!” sapa gadis cantik itu ramah.
“Dho, anak maneh keur urang we (Dho, anak kamu buat aku aja dong)!” teriak Danu.
“Eh gandeng, Nu! Leutik keneh! Maneh mah kolot teuing! (Berisik kamu, Nu! Masih kecil juga. Kamu terlalu tua)!”
Danu tertawa terbahak-bahak.
“Introduce yourself (Perkenalkan dirimu)!” seru Ridho pada anaknya lagi.
“Hai, my name is Malala!” seru gadis berusia 12 tahun itu.
“Haloo Malala!” sapa semua.
“Lala, you’re so cute!” celetuk Danu.
“Thank you!”
Ridho mengembalikan layar ponselnya pada mukanya lagi.
“Aduh, jadi pengen ngumpul euy!”
“Hayu atuh pulang kampung, sibuk jadi agen?” celetuk Ghani.
Ridho tertawa-tawa.
“Nanti lah lebaran kita kumpul ya, jangan pada mudik hayo!” ucap Ridho.
“Siap lah!”
“Salam buat Paty ya!” ucap Ferdian.
“Sip. Awas hayo kalau saya pulang kalian harus ngumpul!”
“Iya pak Bos!”
“Ya udah selamat berakhir pekan, assalamu’alaikum!” ucap Ferdian berpamitan.
“Wa’alaikumsalam.”
Mereka tertawa-tawa tidak menyangka karena Ridho masih kental dengan bahasa Sundanya, meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di Inggris.
Sally mengangkat ponselnya yang berdering, setelah tertawa bersama dengan kawan-kawannya, lalu menyuruh suaminya pergi ke depan karena ternyata anak mereka sudah tiba di sana.
“Udah di depan?” tanya Ipul pada istrinya.
__ADS_1
“Iya lihat aja, khawatir nyasar!” seru Sally.
Syaiful berjalan menuju pintu depan dan mengecek keberadaan putrinya di depan pagar kediaman Ferdian. Ia menemukan anak gadisnya yang mengenakan setelan jeans dan kaos oblong berwarna kuning.
“Kamu kesini sama siapa?” tanya Ipul pada putrinya.
“Sama temen, Pih!”
“Mana temennya?”
“Udah pulang!”
“Ya udah yuk masuk, nanti salam sama semua temen Papih ya?”
Gadis berkuncir poni kuda itu mengangguk lalu mengikuti langkah ayahnya ke dalam rumah Ferdian. Semua kawan Syaiful menyambut putri sulungnya. Ferdian tampak memperhatikannya.
“Siapa namanya?”
“Seraphine! Panggilannya Sera!” jawab Ipul.
Sera menyalami punggung tangan teman-teman orangtuanya. Ajeng langsung menyuruhnya untuk mengambil makan siang. Sera bukanlah gadis yang canggung, jadi ia cuek saja mengambil makan siang yang masih tersedia lalu memilih sebuah kursi di bawah pohon dekat keranjang basket. Ia tertarik dengan rumah besar ini karena memiliki lapangan kecil untuk bermain basket. Tiba-tiba ia tersedak oleh makanannya sendiri, ketika melihat Rainer berjalan bersama dengan Zayyan sambil membawa bola basketnya.
Pandangan mereka bertemu satu sama lain.
“Lo?!” ucap mereka saling menunjuk.
Syaiful yang masih memperhatikan anak gadisnya, kemudian menyenggol tubuh Ferdian yang duduk di sebelahnya.
“Apa anak-anak kita saling kenal?” tanya Ipul terheran-heran masih memperhatikan anak gadisnya.
Ferdian mengikuti kemana pandangan Syaiful berada. Ia melihat Rainer tampak berkata-kata pada gadis yang ada di depannya dengan ekspresi dingin.
“Kayanya!” jawabnya singkat.
“Yes, bisa dijodohin nih!” ucap Ipul riang.
“Apaan sih lu?!” dengus Ferdian.
“Ya Allah jodohkan anak gadisku dengan anak Ferdian ya Allah, biar kita jadi besanan!” ucap Ipul menengadahkan tangannya ke atas.
“Sera kenal sama Rainer anaknya Ferdian, Mih!”
“Yang mana sih?”
“Itu yang ganteng! Anak kedua!”
“Aduh, beneran Pih?!”
Syaiful mengangguk-angguk senang.
Ferdian menggeleng-geleng saja melihat tingkah laku konyol salah satu sohibnya ini.
Sementara itu di lapangan kecil, Rainer kembali bermain basket setelah menyelesaikan shalat dzuhurnya bersama Zayyan. Ia tidak mempedulikan keberadaan Sera di sana dan hanya kembali fokus untuk bermain bola lagi. Ia memang tidak menyangka, gadis yang selalu dianggapnya aneh dan berisik itu ternyata merupakan anak salah satu teman ayahnya itu.
“Rain, abis gue makan, kita tanding yuk!” ajak Sera yang masih berusaha menghabiskan makanannya. Gadis itu memang terlihat sok akrab pada Rain yang dingin.
“Ntar perut lo sakit!” ucap Rainer sambil memasukan bolanya ke keranjang.
“Biarin, gue makan gak banyak!”
“Terserah!” jawab Rain. Sera tersenyum berseri mendapat jawaban itu.
Matahari sudah semakin condong ke barat, beberapa tamu sudah kembali pulang seperti Malik dan Ghani beserta istri mereka karena sudah harus kembali ke Jakarta, tempat di mana mereka tinggal sekarang. Sementara Danu dan Ipul masih berada di sana, karena rumah mereka pun tidak jauh, jadi terasa santai.
Sera sudah menyelesaikan makanannya sejak lima belas menit yang lalu. Ia menagih pemintaannya pada Rainer untuk bertanding basket.
“Cari kawan tim lo! Kita main 2 lawan 2.” seru Rain.
“Siapa?” tanya Sera menoleh kiri dan kanannya.
“Cari lah sendiri!”
Tiba-tiba Arsene lari menghampiri mereka dan mengajukan diri untuk bergabung menjadi tim Sera.
“Abang aja!” Sera mentos tangan Arsene, meski tidak mengenalnya.
“Siapa wasitnya?” tanya Sera.
__ADS_1
Raffa pun mengajukan diri untuk menjadi wasit pertandingan kecil sore itu. Tim Rainer - Zayyan vs Tim Sera - Arsene. Para orangtua mengambil kursi taman lipat dan menaruhnya di sisi lapangan kecil itu untuk menonton pertandingan kecil anak-anak mereka. Raffa melempar bola basket dengan tangannya menandai permainan dimulai.
Syaiful dan Sally bersorak untuk putri mereka yang memang terkenal jago bermain basket. Rainer berhasil merebut bola yang terlempar lebih dahulu, karena ia yang memiliki tubuh lebih tinggi di antara pemain lainnya. Tidak tanggung-tanggung, ia langsung membawa bola itu menuju keranjang dan memasukannya tanpa perlawanan berarti. Poin untuk Tim Rainer.
Keranjang basket memang hanya ada satu buah, tetapi hal itu tidak membuat mereka lantas menyepelekan permainan. Kedua tim tetap serius bermain basket. Kali ini Sera memegang bola, membawanya sedikit lalu memberikannya pada Arsene. Tubuhnya yang kecil dan gesit menjadikannya sulit ditebak oleh Rainer atau Zayyan. Apalagi Zayyan terasa kaku bermain, karena ada perempuan di sana. Arsene langsung menembakan bola ke keranjang setelah ia menerima umpan bola dari Sera. Poin untuk Tim Sera. Arsene dan gadis berkuncir itu saling men-tos-kan tangan.
Tiba-tiba gadis itu membungkuk, sambil memegangi perutnya.
“Sakit!” ucapnya meringis.
“Dikasih tau juga apa?!” ucap Rainer memandanginya.
“Ih jutek banget sih jadi cowok!” kali ini Sera berjongkok.
Arsene menghampiri Sera dan menanyakan keadaannya.
“Gue baru makan, Kak! Makanya sakit perut!” jawab Sera.
“Istirahat aja dulu, jangan maksain!” ucap Arsene.
Sera pun berjalan pelan sambil menahan sakit di perutnya. Sally langsung menjemput anaknya itu.
“Udahan aja nih?” tanya Rainer pada abangnya.
“Aku masuk!” ucap Raffa. “Tapi kita tuker pemain, gimana?” tawarnya.
Arsene menatapnya tajam, lalu melirik ke adiknya.
“Oke!” jawab Arsene.
“Aku main sama Zayyan, kamu sama adik kamu!”
“Gak masalah!”
Raffa menggulung kemejanya sampai ke sikut. Pakaiannya yang semi formal akan menyulitkannya bergerak. Apalagi dengan celana jeansnya itu, sudah pasti ia akan sulit melangkah bebas. Berbeda dengan pakaian santai Arsene yang hanya mengenakan celana selututnya dan kaos oblongnya. Entah kenapa aura pertandingan jadi mendadak mencekam tidak seperti tadi.
“Om jadi wasit ya?!” ucap Syaiful.
Mereka semua mengangguk bersamaan. Skor sebelumnya dihapus karena tim mereka sudah berubah total.
Ajeng, Zaara, Karin, dan Sita menonton pertandingan itu dari sisi lapangan yang dekat dengan pintu dapur.
“Awas keceplosan,” bisik Karin pada dua sahabatnya, ia tidak mau anaknya mengetahui pembicaraan mereka sebelumnya. Adanya pertandingan ini mungkin suara-suara ibu dari anak-anak tampan yang sedang bertanding bisa saja tercetus keluar.
“Arsene, Rainer, semangat!” teriak Ajeng pada anak-anaknya.
Karin dan Sita pun tidak mau kalah menyemangati anak-anak mereka.
Pertandingan dimulai. Bola pertama lagi-lagi direbut oleh Rainer, meski kali ini dia tidak lagi menjadi yang tertinggi, karena Raffa memiliki tubuh yang sama tinggi dengannya. Ia langsung membawa bola ke depan dan melemparnya pada abangnya. Dengan mudah dan tanpa perlawanan, Arsene bisa memasukan bola itu ke dalam keranjang. Pertandingan semakin panas, ketika Zayyan berhasil merebut bola dari tangan teman sebangkunya, Rainer. Tetapi bola itu berhasil direbut kembali, kini Raffa berusaha merebutnya dan berhasil.
Raffa membawa bola itu langsung ke depan, tetapi ia mendapat halauan dari Arsene yang bisa leluasa bergerak menahan lajunya. Raffa berbalik memberi bola itu pada Zayyan yang langsung menembak ke jantung sasaran. Bola pun berhasil masuk. Kedudukan poin satu sama.
Pertandingan masih panas, para orang tua meneriaki nama anak mereka masing-masing. Kini Arsene membawa bola yang dihalangi langsung oleh Raffa. Arsene membuat gerakan gesit membelakangi Raffa sambil terus memandulkan bolanya agar tidak direbut. Rainer sudah berada di depan bersiap menerima bola dari abangnya, meskipun mendapat penjagaan ketat dari Zayyan.
Namun karena langkah Raffa terbatas, Arsene bisa melepas diri darinya dan berlari ke depan sambil melompat dan memasukan bola itu ke dalam keranjang. Adzan ashar pun berkumandang, membuat pertandingan itu usai. Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Tim Arsene dan Rainer.
Arsene menghampiri Raffa dan menjabat tangannya.
“Lain kali kita tanding lagi, Mas!” ucap Arsene tersenyum puas.
“Siap! Siapa takut!” ucap Raffa tersenyum menyungging.
\=\=\=\=\=
Tanding apa nih? hihi....
Ayo serbu kolom komentar
Jangan lupa LIKE dan VOTE ya
Thank youuu
Tim Arsene atau Tim Raffa nih?
__ADS_1