Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Bonus Episode 8


__ADS_3

Tanah pemberian Kakek Jaya untuk Arsene sudah dibangun untuk dijadikan rumah masa depannya bersama keluarga kecilnya. Hari Sabtu itu ia mengontrol para pekerja bangunan. Progres kerjanya memang masih sangat kecil, sekitar 30 persen. Sengaja ia lakukan itu karena target selesainya di tahun depan, ketika dirinya sudah selesai skripsi dan wisuda. Ia berharap rezekinya selalu mengalir deras agar bisa menghidupi keluarganya dengan sebaik-baiknya.


Setelah mengontrol pekerjaan rumahnya, Arsene bertolak menuju sebuah yayasan sosial milik kakeknya, Opa Gunawan. Ia sendiri sudah menjadi donatur tetap tiap bulannya. Meski jumlah sedekahnya tidak sebesar milik keluarga lainnya, menyisihkan dari hasil keuntungan penjualannya membuatnya berhati lapang. Berharap Allah selalu mencatat kebaikan kecil yang ia lakukan.


Yayasan itu sudah berdiri lama bahkan ketika dirinya belum lahir. Hanya saja sepuluh tahun belakangan ini, yayasan itu berubah konsep. Dari yayasan sosial biasa, menjadi yayasan yatim piatu yang berbasis pendidikan Islam. Di sanalah para anak yatim piatu tinggal sekaligus mendapatkan pendidikan Islam sesuai dengan standar madrasah ibtidaiyah dan tsanawiyah. Mereka juga dibekali dengan skill tertentu yang nantinya akan mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke pendidikan berikutnya jika mereka lulus dengan nilai dan kepribadian yang baik.


Arsene hanya akan memastikan bahwa kue-kue yang ia pesan kepada para chefnya akan diantar dalam acara milad yayasan tahun ini untuk para anak-anak di sana. Meskipun dirinya tidak akan hadir dan akan langsung menuju kampusnya karena ada Tabligh Akbar pergantian Tahun Hijriyah.


“Kamu gak mampir, Cen?!” tanya Oma Bella yang baru saja tiba di sana, ketika Arsene sedang menginstruksikan karyawannya yang sedang mengantar kue untuk jamuan.


“Maaf Oma! Di masjid kampus ada Tabligh Akbar, jadi aku harus awasin semuanya,” Arsene mengecup punggung tangan putih yang keriput itu.


“Kamu rajin sekali! Oma selalu bangga sama kamu yang bertanggung jawab! Gimana kabar cicit Oma?”


“Alhamdulillah Ryu sehat Oma! InsyaAllah minggu depan kita mampir ke rumah ya?!” ucap Arsene.


“Alhamdulillah.”


Opa Gunawan menghampiri cucunya itu, Arsene lekas-lekas menyambut untuk menghormatinya.


“Kamu langsung pergi lagi?” tanya Opa Gunawan.


“Iya, Opa! Maaf ya!”


“Ya udah gapapa, lagian daddy kamu sebentar lagi juga datang! Hati-hati, Cen!”


“Aku pamit dulu, Oma, Opa!”


Sebelum Arsene pergi ke masjid kampus, ia akan menjemput istrinya yang juga akan mengikuti acara Tabligh Akbar, sekalian temu kangen dengan sahabat di keputrian LDK.


Ryu sudah terbalut dengan outfit jumper berwarna navy dan jaket tebalnya. Kulit putihnya sangat kontras dengan warna bajunya. Di kepalanya terpasang topi rajut yang membuat wajahnya terlihat semakin bulat saja. Ia begitu antusias tatkala ibunya membawanya ke dalam sebuah gendongan di depan dada.


“Ryu kita ke masjid ya. Kamu harus jadi anak sholeh!” pesan Zaara sambil menunggu kedatangan suaminya.


Anak itu menggoyang-goyangkan kakinya karena kegirangan. Zaara menutup tubuh anaknya itu dengan selimut tambahan. Sebuah ransel berisi semua kelengkapan Ryu sudah ada di dalam.


Arsene mengklakson di depan pagar.


“Horeee, ayah datang! Kita berangkat yuk!” ajak Zaara


“Salam sama nenek dan kakek!” Zaara dan Ryu berpamitan.


“Udah siap semuanya?” tanya Arsene memakaikan helm di kepala istrinya.


“Udah!”


“Ryu baik-baik selama ikut ngaji ya!” pesan Arsene melihat wajah anaknya yang tenggelam di dalam selimutnya. Wajah imutnya terlihat menggemaskan sekali. Arsene tidak kuat untuk tidak menciumnya di puncak hidungnya.


Mereka pun berangkat menuju kampus.


Sudah hampir 10 bulan Zaara tidak menginjakkan kakinya di kampus, membuat dirinya sangat rindu. Apalagi rindunya pada masjid yang dikelilingi rimbunnya pepohonan, ia merasa takjub bisa berada di sini sambil membawa anaknya kali ini.


“Ryu mau sama ayah? Apa sama uma?” tanya Arsene melihat wajah anaknya. Matanya berkilauan.


“Nanti kalau rewel, cepet telepon aku ya?!” ucap Arsene pada Zaara.


“Iya!”


“Dadaaah, Ryu!” Arsene melambaikan tangan pada anaknya.

__ADS_1


Mereka berpisah di halaman masjid karena Arsene harus masuk ke dalam area ikhwan yang sudah ramai. Zaara melanjutkan langkah kakinya menuju teras selasar bagian akhwat. Melihat kehadirannya di sana sambil menggendong anak, Hana dan Terry berlarian menghampirinya.


“Zaara!” teriak mereka antusias. Sudah lama sekali mereka tidak berjumpa. Terakhir kali, mereka menengok saat Zaara baru melahirkan. Keduanya memang sibuk karena menyiapkan skripsi mereka tahun itu.


“Ya Allah, aku kangen banget sama kalian!” seru Zaara memeluk sahabatnya.


“Ryuuuu… Ya Allah, lucu bangeeet!” Terry gemas sekali melihatnya.


“Ayo duduk dulu!” ajak Hana, karena mereka jadi pusat perhatian para ikhwan yang sedang mempersiapkan acara.


Teman akhwat lainnya mendatangi Zaara dan menyambut kedatangannya dengan riang. Zaara melepas gendongannya dan mengeluarkan Ryu dari sana.


“Masya Allah, lucu banget ih!” ucap Fitri menggenggam jari Ryu.


“Udah berapa bulan usianya?” tanya Ema.


“8 bulan.”


“Gemeees banget ih! Pengen aku gigit pipimu, Nak!” ucap Terry.


“Jangan Tante!” sergah Zaara terkikik.


“Ya ampun, gue udah jadi tante-tante yak?!” ucap Terry tertawa-tawa.


Para akhwat di sana tertawa-tawa. Ryu benar-benar menjadi pusat perhatian. Bayi itu hanya diam menatap wajah-wajah asing di hadapannya satu persatu dengan tatapan awas.


“Galak banget sih kamu jadi cowok!” Terry mencolek pipi bayi itu.


Ryu menatap ke arahnya tajam dan diam. Yang lain tertawa melihat ekspresi Ryu yang dingin dan galak. Tiba-tiba ia menangis.


“Nah lho, Ry! Tanggung jawab Ry, dia nangis!” ucap Fitri.


Terry tertawa-tawa dan berusaha membuat ekspresi lucu di depan Ryu. Tetapi nihil, anak itu tetap menangis. Zaara berusaha menenangkannya dengan sebuah boneka koala kesukaan anak itu.


“Ya iya lah emang anak Pak RT?!” seru Hana.


“Ya Allah gemes banget ih!” seru Terry lagi berulang kali.


“Hey-hey, mau mulai tuh acaranya. Yuk masuk-masuk!” ajak Ema.


Zaara sudah diberi kotak makanan ringan dan segelas air mineral untuk acara itu. Ia masuk ke dalam masjid bersama sahabatnya. Untung saja Ryu sudah tenang kembali.


Zaara memilih duduk di dekat pintu. Jadi ketika Ryu rewel, ia bisa keluar segera tanpa mengganggu yang lainnya. Antisipasi lainnya, ia juga sudah membawa banyak mainan milik Ryu dan snack, serta bubur mpasi yang disiapkannya dalam kotak bekal.


Dua orang MC ikhwan membuka acara Tabligh Akbar dengan tema “Hijrah Menuju Ketaatan Sempurna”. Para jamaah sudah memenuhi isi masjid dan juga sebagian di teras selasar meski tidak terlalu ramai karena mahasiswa sedang libur di tanggal merah.


Seorang wanita yang mengenakan blouse maroon dan rok hitam serta hijab motifnya tengah mengisi daftar hadir. Ia duduk di sebelah Zaara yang masih kosong. Zaara menoleh padanya.


“Eh Kak Al?!” sapa Zaara membuat Alice melebarkan matanya.


“Hey! Duh ponakan ganteng gue juga dateng!” Alice lekas menggendong Ryu di pangkuannya.


“Sendirian Kak?!” tanya Zaara.


“Iya, mau sama siapa lagi?!” ucap Alice terus memperhatikan Ryu.


“Hehe.”


“Minggu depan kita kajian kan?” tanya Alice memastikan. Ia sudah melangsungkan kajian rutin bersama Zaara setiap seminggu sekali. Spesial pekan ini, Zaara mengajak Alice untuk mengikuti tabligh akbar saja.

__ADS_1


“Iya Kak!”


Mereka kembali fokus mengikuti acara yang sudah dibuka oleh MC.


“Selanjutnya, untuk memberkahkan majelis kita, mari kita undang kepada qari kita, Kang Muhammad Angga Setiadi, untuk membacakan ayat suci Al-Quran,” ucap MC.


Hati Alice tersentak mendengar nama Angga, dan dirinya semakin terkejut saja ketika tahu bahwa Angga yang datang ke depan adalah Angga yang selama ini menjalin komunikasi dengannya. Ia tidak tahu kalau Angga adalah seorang qari.


Angga mulai melantunkan ayat suci Al-Quran surat Ar-Rahman. Kepala Alice tertunduk, begitu pula dengan hatinya yang bergetar di kala suara Angga sudah menggema di dalam dan luar masjid. Hatinya begitu tersentuh mendengar suaranya yang indah, lebih-lebih lagi ayat Quran sudah membuatnya semakin tunduk, membuat air matanya menetes begitu saja.


Menyadari hal itu, lekas Zaara menyodorkannya sebuah tisu. Alice mengambilnya masih terus memangku Ryu. Suara Angga memang sangat merdu ketika melantunkan bacaan Al-Quran seolah langsung menyentuh hati.  Pria itu kembali setelah menyelesaikan tugasnya.


“Kok gue baru tau dia seorang qari, Ra?” tanya Alice mengusap matanya.


Zaara tersenyum, “dia mungkin ingin Kakak tahu sendiri.”


“Padahal setau gue, dia itu narsis, Ra!”


Zaara terkekeh kecil. “Mungkin untuk hal tertentu aja. Kalau menurut aku, dia gak mau meninggikan diri untuk hal ini.”


Alice tersenyum kecil, ia ingin sekali mendengar suara indahnya lagi. Sudah akan tiga bulan komunikasi yang terjalin di antara mereka, tetapi Alice belum memutuskan apapun. Padahal Angga sudah memberanikan diri mengutarakan niatnya untuk melamarnya. Waktu bagi mereka sudah semakin tipis.


MC kembali ke depan yang membacakan acara selanjutnya, dimana ketua DKM akan memberikan sambutan. Ustad Firman maju dan menyampaikan sambutannya bagi jamaah. Tidak butuh waktu lama, kini giliran ketua LDK yang maju menyampaikan sambutan untuk acara itu.


“Ryu, lihat ayah di depan tuh!” ucap Zaara yang sudah memangku kembali anaknya dari Alice, karena anak itu terus merengek.


Sambil memegang biskuit bayinya, Ryu menatap ke depan. Entah ia menatap ayahnya atau lukisan kaligrafi besar berwarna emas yang indah, atau mungkin kemana saja ia suka.


Di hadapan para jamaah, Arsene memberikan sambutan singkatnya. Intinya semoga para jamaah bisa memetik hikmah dari ceramah yang akan disampaikan dan membawa kebaikan agar Kaum Muslimin bisa berhijrah menuju ketaatan pada Allah. Arsene kembali ke tempatnya setelah sambutannya selesai.


Pria itu duduk di sebelah sahabat-sahabatnya. Ia menepuk pelan lutut Angga.


“Ada Kak Al tuh datang!”


“Eh? Beneran?!”


“Iya. Mau ngobrol? Ntar gue temenin. Mumpung ada Zaara juga di sini.”


“Sehabis ini?”


“Ya, boleh! Coba ajak aja.”


“Bentar, gue coba tanya dulu.”


Angga mengeluarkan ponselnya dan langsung mengetikkan sesuatu di aplikasi whatsappnya. Ia meminta Alice untuk mengobrol sebentar terkait hubungan mereka dan kelanjutannya. Tidak lama ia mendapat balasan dari Alice, wanita itu menyetujuinya.


“Angga ngajak ketemuan, Ra!” ucap Alice.


“Oh? Kakak mau? Kita temenin."


“Iya, udah gue iyain. Habis ini temenin gue ya, Ra! Kayanya gue mau langsung ngasih jawabannya.”


Mata Zaara berbinar dan mengangguk. Mereka kembali menyimak acara pagi itu.


\=\=\=\=\=\=


Bonus episode bersambung...


Tetap tekan like, komentar, dan votenya

__ADS_1


Makasiiih banyak ^_^


Up lagi nanti malam yaa 😁


__ADS_2