
Raffa memberhentikan motornya di depan sebuah rumah. Terlihat ada sebuah mobil SUV sport di depan rumah itu. Ia merasa pernah melihat mobil itu tetapi ia tidak ingat sama sekali dimana. Rupanya sedang ada tamu, pikir pria yang hari ini tetap keras kepala untuk mengunjungi rumah gadis pujaan hatinya, meski jadinya ia hanya pergi sendiri saja. Ia hanya akan mengirim sebuah kue dan sebuah permintaan maaf atas ucapan yang pernah ia lontarkan pada Zaara terakhir mereka bertemu, yang mungkin membuat gadis itu ketakutan karena ekspresinya yang terlihat marah.
Hatinya tidak gentar meski ada tamu di sana. Ia berjanji akan segera pergi setelah mengirim soft cake blueberry untuk Zaara. Pria yang terlihat tampan dengan setelan kemeja navy dan celana jeansnya itu menghela nafas.
“Kalian yakin akan tinggal sendiri setelah nikah nanti?”
Sebuah pertanyaan terdengar cukup keras dari dalam. Ia mendengarnya dengan jelas. Perasaannya mendadak tidak karuan. Namun ia tetap memberanikan diri.
“Assalamu’alaikum…,” ucapnya berdiri di depan pintu yang sedang terbuka lebar itu, dengan jelas memperlihatkan siapa tamu yang sedang berada di dalam sana. Jantungnya meledak seketika, dengan mata yang membesar. Tubuhnya kini mematung tatkala ia tahu tamu yang sedang ada di sana. Bagai terkena gempa bumi berskala 10.0 SR, retakan terjadi di sekujur tubuhnya menggema di pusat hatinya.
“Wa’alaikumsalam.” Para tamu sekaligus pemilik rumah tak kalah terkejut dengan kehadiran Raffa di sana.
“Eh, ada Mas Raffa!” ucap Reza yang juga kaget.
Raffa benar-benar mematung di depan pintu rumah Reza dengan wajah kaku yang sendu. Ia bergeming di sana masih sambil membawa kotak kue itu di tangannya. Ia sempat menatap rivalnya di sana meski tidak searogan sebelumnya, karena kekecewaan tengah melanda dirinya.
Reza menghampiri calon dokter gigi itu, karena tampaknya ia terkena serangan jantung ringan dengan pikiran yang tengah kebingungan seolah terjebak pada sebuah labirin.
“Masuk dulu, Mas!” ucap Reza. Raffa memandangi Reza dan mundur beberapa langkah dari sana dengan dada yang naik turun.
“Saya permisi lagi, Om!” ucapnya memberikan kotak kue itu pada Reza dan langsung berlari menaiki kembali motornya.
Reza memandangi anak muda itu dengan perasaan tidak enak, bahkan ia tidak sempat menjelaskan apapun padanya. Mungkin ia harus segera memberitahukan informasi ini pada orangtua anak itu.
Raffa memacu motornya dengan kencang dengan banyak patahan dan retakan di hatinya. Mengingat pertanyaan yang sempat terdengar sebelum ia menyapa, hatinya merasa tertusuk-tusuk beberapa kali oleh panah yang menyasar padanya. Apa benar mereka akan menikah? Raffa berteriak sendiri di atas motornya yang masih melaju. Untung saja kesadarannya masih berjalan, ia masih bisa mengendalikan motornya yang menuju rumahnya. Air mata tergenang di pelupuk matanya, berusaha sekuat mungkin untuk tidak menetes dari sana. Terlalu gengsi.
Raffa membuka pintu rumahnya dengan kasar dan membantingnya. Keluarganya yang sedang berkumpul di sana otomatis menoleh padanya dengan terheran-heran.
“Kamu darimana?!” tanya Sita terkejut, ia sama sekali tidak tahu kepergian anaknya siang itu.
Mata Raffa terlihat memerah, raut wajahnya sendu dan menyimpan kekecewaan mendalam. Raffa tidak menjawab pertanyaan ibunya itu. Sebagai gantinya ia malah menendang-nendang pintu kamarnya, lalu menjatuhkan dirinya di atas kasur miliknya. Sita segera menghampirinya.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih pulang tiba-tiba marah gitu?” tanya Sita penasaran dengan tingkah laku anaknya itu.
Raffa bangkit, wajahnya masih terlihat merah padam.
“Tanya aja teman Mama itu!” jawabnya dengan nafas terengah-engah.
“Apa maksud kamu?” tanya Sita tidak mengerti.
“Tanya teman Mama, Tante Karin sama Tante Ajeng!”
Sita mengernyitkan keningnya berusaha menebak-nebak apa yang telah terjadi sehingga membuat anaknya itu terlihat memendam amarah. Apa ini ada kaitannya dengan Zaara dan Arsene? tanyanya dalam hati.
“Kamu gak boleh emosi gitu, Fa! Itu urusan mereka.” Sita berusaha menenangkan anaknya itu.
“Mereka itu ngekhianatin Mama di belakang dengan menjodohkan anak-anak mereka!” ucapnya sok tahu.
“Darimana kamu tahu? Dan jangan ucap sembarangan tentang mereka!”
Sita memandangi anaknya, ia berusaha menetralkan dirinya dan tidak akan terhasut oleh perkataan anaknya sendiri. Ia sendiri sudah gemas dengan anaknya yang keras kepala ditambah sifat temperamennya itu.
“Raffa, stop! Mama gak mau kamu bicarakan ini lagi. Ini salah kamu sendiri, kamu terlalu ngotot! Sementara diri aja belum siap. Jangan bicarakan masalah ini, atau Mama terpaksa hentikan semua uang untuk kamu! Udah Mama kasih tau kemarin, fokus sama kuliah dan karir dulu sambil kamu perbaiki diri. Gak usah ngomong lamaran atau pernikahan lagi. Biarkan aja mereka, jodoh kamu gak akan kemana!” Sita menekankan itu lagi pada anaknya.
“Terserah!” ucap Raffa menjatuhkan dirinya lagi di atas kasur.
Sita menggeleng-geleng saja melihat kelakuan anaknya yang sedang patah hati itu. Ia akan mengkonfirmasi sendiri terkait hubungan Arsene dan Zaara pada sahabat-sahabatnya.
\=======
Sementara itu di kediaman Reza, semuanya kebingungan menanggapi kepergian Raffa dari sana. Reza menaruh kotak kue pemberian Raffa itu di atas meja. Belum ada yang memulai percakapan di sana. Sementara Arsene menatap pada Zaara yang terlihat tidak nyaman. Mungkin gadis itu merasa bersalah karena penolakannya pada pria itu.
“Kamu gak usah pikirin Mas Raffa, Ra! Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku aja,” ujar Arsene memecah keheningan yang ada di sana. Zaara menatap Arsene, lalu mengangguk kecil.
__ADS_1
“Mungkin sebaiknya kita langsung hubungi keluarga Mas Teddy dan Sita terkait hubungan Arsene dan Zaara, agar tidak ada salah paham. Ini bukan perjodohan, karena anak-anak kita sendiri yang menentukan pilihan mereka sendiri,” ujar Reza, membuat semua orangtua di sana mengangguk-angguk.
Karin mengambil kotak kue pemberian Raffa lalu membukanya. Terdapat sebuah lipatan kertas di sana. Karin mengambilnya, lalu menyerahkannya pada anaknya dan menyuruhnya untuk membacanya, karena pasti itu ditujukan pada gadis itu.
Zaara menerimanya dengan ragu-ragu dan membuka kertas itu lalu mulai membacanya. Mata Zaara menelisik setiap kata-kata yang ada di sana. Arsene menegakkan posisi tubuhnya, ia penasaran dengan isi kertas yang diberikan Raffa.
“Apa katanya?” tanya Karin.
Zaara memandangi ibunya yang duduk di sampingnya. Sementara semua perhatian tertuju padanya.
“Ini ucapan permintaan Mas Raffa karena beberapa waktu lalu kita pernah ketemu di kampus,” ungkap Zaara.
“Kalian ketemu di kampus?!” tanya Reza.
“Iya, Bi! Waktu itu dia tanya apa dia masih punya kesempatan untuk melamar Zaara? Tapi di sana dia bentak Zaara karena Zaara gak jawab pertanyaan dia yang lain.”
Reza menatap anaknya yang terlihat tidak nyaman. Ia sadar, Raffa sangat menyukai putrinya itu. Tetapi ia sendiri tidak terlalu suka dengan sifat Raffa yang keras kepala, dan cukup emosional. Wajar saja, putrinya menolak pria itu.
“Ya udah, terima aja permintaan maafnya. Semoga saja, Raffa bisa legowo.” Reza mengusap kepala putrinya.
Zaara menundukkan kepalanya. Sementara Arsene hanya menghela nafasnya, berharap jalan menuju pernikahannya dimudahkan. Ia tahu ini adalah kerikil cobaan yang harus mereka lewati, artinya pernikahan pun pasti akan lebih berat cobaannya.
\======
Bersambung dulu yaa
Jangan lupa like, vote, dan commentnya
Terimakasih ^_^
__ADS_1