Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 92


__ADS_3

Baby Arsene sudah berusia 7 hari. Mama mengutus Bi Asih untuk membantu Ajeng merawat anaknya, sehingga Ajeng tidak merasa terlalu repot. Sudah banyak juga kerabat-kerabat terdekat yang menjenguk mereka untuk melihat wajah imut Arsene. Ajeng bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik hati. Hari ini rencananya Kak Resha, Kak Tania dan suami mereka akan berkunjung. Ajeng meminta Bi Asih untuk menyiapkan berbagai hidangan untuk kakak-kakak iparnya itu, sementara ia sendiri akan fokus merawat Arsene. Ferdian bertugas untuk mencuci semua pakaian kotor mereka di ruang laundry.


 


 


"Sayang, udah selesai?" tanya Ajeng menghampiri suaminya yang masih di ruang laundry.


"Udah sebentar lagi!" ucapnya sambil menjemur pakaian anaknya di balkon.


"Yuk cepetan siap-siap, kayanya kakak-kakak kamu bentar lagi datang nih!"


"Iya, nih udah selesai!" jawab Ferdian merapikan bekas cucinya. Pria itu pun langsung pergi ke kamar mandi.


 


 


"Bi, udah selesai?" kali ini Ajeng memastikan kepada asisten rumah tangganya.


"Udah, Neng!"


"Makasih Bi! Bibi istirahat aja dulu, nanti kalau tamunya udah datang aku minta tolong lagi ya Bi?!"


"Siap, Neng!"


 


 


Karena Bi Asih sudah pindah kemari, jadi kamar yang awalnya diperuntukan untuk Arsene kini dipakai untuk Bi Asih. Untung saja kamar utama Ajeng dan Ferdian sangat luas, jadi ia bisa menaruh semua perlengkapan milik Arsene di kamarnya. Sepertinya Ferdian harus membeli rumah baru ketika anak-anaknya bertambah nanti.


 


 


Satu jam kemudian bel apartemen mereka berbunyi. Ferdian bergegas membukakann pintu.


"Assalamu'alaikum..." salam dari para tamu. Itu kakak-kakak Ferdian.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Ferdian yang langsung menyuruh mereka semua masuk.


Ferdian memeluk kakak-kakaknya yang jarang ditemuinya itu.


 


 


"Duh papi muda!" ucap Kak Resha, kakak kedua Ferdian yang mengenakan hijab. Ia memeluk adiknya itu.


"Bahagia Fer?" tanya Kak Tania, kakak ipar pertamanya.


"Pastinya!" jawab Ferdian.


"Selamat ya Fer! Ga nyangka kamu bakal duluan dari kita-kita," ucap Abang Leon, suami Kak Resha. Ia menaruh sebuah kotak besar di dalam, hadiah untuk Arsene.


"Alhamdulillah, udah rezeki, hehe..." ucap Ferdian tersipu.


"Selamat ya Fer!" kali ini kakak tertuanya, Bang Damian yang mengucapkan selamat.


"Makasih Bang!"


 


 


"Sayang...." Ferdian menghampiri istrinya yang ternyata sedang menyusui Arsene.


"Aku nyusul ya, Fer!"


"Oke!"


 


 


Ferdian meminta kepada Bi Asih untuk membuatkan minuman untuk kakak-kakaknya itu.


"Kak tunggu ya, anakku lagi disusuin dulu!" ucap Ferdian.


"Santai aja Fer! Lagian kita juga gak buru-buru kok!" jawab Kak Resha.


Bi Asih menghidangkan jamuan.


"Jadi gimana nih perasaan menjadi orang tua selama seminggu?" tanya Bang Leon.


"Seru, capek, seneng, ah macem-macem lha pokoknya. Skripsiku jadi sedikit keganggu!" jawab Ferdian tertawa.


"Oh kamu lagi skripsi ya?" tanya Kak Tania.


"Iya Kak, harusnya sih semester depan, cuma aku kejar dari sekarang biar bisa fokus jadi orang tua. Eh ternyata bayinya lahir lebih cepet."


"Udah gak apa-apa, yang penting dua-duanya dijalankan," ujar Kak Resha.


"Nanti habis lulus rencananya kamu lanjut kemana Fer?" tanya Bang Damian.


"Aku ada dua opsi sih. Antara lanjut S2 Manajemen Bisnis atau langsung terjun fokus ngurusin usaha kita."


Damian mengangguk-angguk.


 


 


Tidak lama kemudian Ajeng keluar sambil membawa bayinya yang kini terbangun, matanya terbuka, dan ia tidak menangis.


"Hai..." sapa Ajeng, ia berjalan menuju sofa dimana semuanya telah berkumpul.

__ADS_1


"Hai..." sapa semuanya.


Kak Resha dan Kak Tania menghampiri Ajeng karena tidak sabar ingin melihat Baby Arsene.


"Ya Allah, imut banget anak kamu, Jeng! Cakep ih!" Kak Resha memuji.


"Siapa dulu orangtuanya dong!" ujar Ferdian menimpali.


"Ih ini mah mirip mamanya, bukan mirip kamu!" kata Kak Tania.


Ferdian jadi tertawa-tawa.


"Biasanya kalau anak cowok pertama bakal dominan mirip ibunya lho! Katanya yaa..." kata Bang Leon.


"Masa?"


"Lihat aja nih, wajah Abang kamu, mirip siapa?" ucap Kak Tania.


Ferdian memperhatikan wajah abangnya itu, sehingga membuat abangnya memelototinya.


"Eh iya mirip Bunda! Kok aku baru nyadar ya?"


Damian memang lebih mendominasi wajah bundanya yang lebih terlihat blasteran Eropa. Sementara Resha lebih oriental seperti ayahnya.


"Kemana aja kamu, Fer?!"


Ferdian terkekeh-kekeh. Wajahnya sendiri sebenarnya imbang campuran antara bunda dan ayahnya.


"Ah tapi udah jelas anakku itu mirip sama aku, lihat aja hidungnya sama," ucap Ferdian tidak mau kalah.


"Lihat nanti aja udah besarnya, deh! Capek debat sama kamu mah!" ucap Kak Resha.


 


 


Ajeng tertawa-tawa saja mendengar obrolan kakak beradik itu.


"Duh ya Allah, kita kapan ya Ceu?" tanya Resha pada Tania.


"Iya, mudah-mudah promilnya berhasil," respon Tania.


"Aamiin!"


"Kasih tipsnya dong Jeng!" seru Kak Resha.


Ajeng jadi tertawa-tawa.


"Aku juga gak tau bakal hamil, karena kita emang sama-sama nunda. Tapi ternyata Allah kasih lebih cepet."


"Harus rajin bikin sama rajin berdoa!" celetuk Ferdian.


 


 


"Hahaha, iya percaya deh, apalagi Bang Damian, dingin-dingin ternyata di kasur bisa panas!"


Damian hanya menggeleng-geleng kepala saja mendengar celotehan adik laki-lakinya itu.


 


 


"Aku gendong ya, boleh?" pinta Kak Tania.


"Boleh!" jawab Ajeng tersenyum.


Tania menggendong bayi itu dengan riang. Betapa bahagia wajahnya ketika melihat Arsene yang menguap. Ia membawanya pada suaminya. Namun suaminya itu menatapnya dingin. Ferdian melihat itu, entah kenapa kakak tertuanya itu tidak pernah berubah, tetap dingin dan seperti kurang peduli. Padahal Damian dan Tania sudah menikah bertahun-tahun. Namun ia tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga kakaknya itu. Kali ini Resha yang meminta menggendong bayi itu. Ia juga membawanya pada suaminya. Leon sangat jauh berbeda responnya, pria itu memasang eskpresi lucu pada Arsene yang tidak mengerti apa-apa. Tampaknya Leon masih lebih baik daripada kakak kandungnya itu.


 


 


Ajeng meminta Bi Asih untuk menyiapkan hidangan makan siang, karena sudah masuk jam makan. Sementara Arsene masih digendong oleh Resha, ia membantu Bi Asih menata hidangan di meja makan.


 


 


"Perusahaan kita aman-aman aja kan?" tanya Ferdian.


"Alhamdulillah aman aja Fer!" jawab Kak Resha.


"Cuma gak tau tuh bisnis properti, aman gak Bang?" tanya Leon pada Damian.


"Sejauh ini sih aman, cuma kemarin kita kalah tender sama perusahaan Nataprawira untuk proyek jalan tol di Jawa Timur."


Ferdian mengangguk-angguk saja.


"Fer kayanya kalau kamu lulus mending langsung terjun ke perusahaan deh!" ucap Leon.


"Kenapa?"


"Kita rencananya bakal buka satu bidang baru yaitu fashion! Kamu bisa pegang nanti, jadi kamu bisa fokus ke kuliner sama fashion!"


"Oh gitu?"


"Iya, rencananya tahun ini bakal kita survey dulu. Nantilah kita diskusikan lagi," ucap Leon lagi.


 


 


"Kakak-kakak yuk kita makan siang dulu!" ajak Ajeng sehingga otomatis membuat semuanya menoleh.


Tanpa menunda lagi, semuanya pun beralih ke meja makan untuk mengambil hidangan makan siang. Ajeng kembali menggendong bayinya, namun Ferdian mengambil dari tangannya. Jarang sekali Arsene bisa terbangun dan tidak menangis, jadi ia ingin bermain-main dulu dengannya, meskipun Ajeng sudah menyuruhnya untuk makan siang bersama kakak-kakaknya yang lain.

__ADS_1


"Kamu makan dulu, temenin kakak-kakak kamu!"


"Iya bentar lagi!" ucap Ferdian, tetap memasang ekspresi lucunya pada anaknya.


"Arsene masih mau main sama Daddy kan ya?" tanya Ferdian pada bayinya yang memiliki mata sipit itu. Bayi itu tampak menjilati bibirnya.


 


 


"Neng, biar dedek Arsene sama Bibi aja! Neng sama Cep Ferdian biar makan dulu aja!"


"Oh iya, Bi! Fer yuk kita makan dulu!"


"Ya udah!"


 


 


Ferdian memberikan bayinya itu pada Bi Asih. Lalu ia dan Ajeng bergabung dengan kakak-kakaknya yang lain untuk makan siang, meski sebenarnya kursi meja makan terbatas karena hanya berjumlah empat buah. Jadi mereka semua memutuskan untuk duduk di sofa saja.


 


 


"Ajeng kamu cuti berapa bulan?" tanya Kak Resha.


"Tiga bulan aja kak, soalnya peraturannya gitu."


"Ooh...rencananya nanti masih lanjut kerja?" tanya Resha lagi.


"Iya Kak, sejauh ini masih ingin lanjut karir. Soalnya ada Bi Asih juga yang bantu rawat Arsene."


Resha mengangguk.


 


 


"Oh ya Fer, kalau kamu nanti terjun ke perusahaan ayah, kamu wajib ikut training lho!" ujar Bang Leon.


"Oh ya?" Ferdian melebarkan matanya, lalu menyuapkan sendok makan ke dalam mulutnya.


"Iya kan Say?" tanya Leon pada istrinya untuk memastikan.


"Iya, betul! Meskipun kamu anak ayah, tapi kamu tetep harus ditraining," terang Resha.


"Trainingnya berapa lama?" tanya Ferdian.


"Antara enam bulan sampai satu tahun, tergantung kesiapan dan kemampuan kamu nanti," jelas Resha lagi.


"Ooh..."


"Tapi nantilah kita obrolin lagi, kamu fokus aja dulu sama skripsi kamu, dan pikirkan rencana kamu matang-matang setelah lulus nanti. Biar kita siapkan juga keperluan kamu!" ujar Resha.


 


 


Resha adalah kakak perempuan yang paling mengerti Ferdian. Oleh karena itu, Ferdian lebih merasa nyaman dan dekat dengan kakak perempuannya itu dibanding dengan Damian. Bahkan dengan sukarela, Resha masih membantu bisnis kuliner milik Ferdian dan memberikan semua keuntungan penjualan untuk adiknya itu. Meskipun sebenarnya, Ferdian juga masih tetap melibatkan diri dalam bisnisnya itu.


 


 


Tak terasa matahari sudah condong ke barat, sehingga kakak-kakak Ferdian memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua mereka sebelum akhirnya besok kembali ke kediaman masing-masing.


 


 


"Kalian mau ke rumah ayah dulu?" tanya Ferdian pada kakak-kakaknya.


"Iya, kita kan emang belum sempet kesana. Semalem kita nginep di hotel deket sini, terus langsung kesini," jawab Tania.


"Ya udah! Titip salam buat ayah bunda ya?"


"Oke!"


"Kita pulang dulu ya Ajeng Sayang, sehat terus buat kalian! Sekali-kali main ke Jakarta ya apalagi kalau Arsene udah gembul!" ucap Resha memeluk Ajeng.


"InsyaAllah Kak, nanti kita agendakan," jawab Ajeng.


"Oh ya itu, kado buat Arsene dari kami semua, semoga bermanfaat ya!" ucap Tania yang kini memeluk Ajeng.


"Wah, makasih banyak!"


 


 


"Yuk Fer kita pergi dulu, sehat-sehat dan sukses terus!" ujar Damian menepuk-nepuk pundak Ferdian.


"Iya Bang! Abang juga!"


"Doain kita ya biar Arsene ada temennya," kali ini Leon yang berucap.


"Aamiin!"


 


\=====


Like, comment dan vote ya


Keep reading

__ADS_1


Thank youu ^_^


__ADS_2