Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 71


__ADS_3

"Kamu udah siap buat seminar judul minggu depan?" tanya Ajeng di meja makan malam itu.


Ia menyodorkan gelas berisi air putih untuk suaminya itu. Sementara Ferdian masih menikmati makan malamnya.


 


 


"Udah!" jawabnya yakin.


"Fix ambil judul itu?"


"Ya mudah-mudahan langsung dapat acc dari dosen-dosen!"


"Kalau konsep kamu udah matang dan beda dari karya ilmiah lain, pasti gampang dapat acc!" terang Ajeng meyakinkan suaminya.


"Doain aja ya, mudah-mudahan dapet dosen pembimbingnya kamu!" ujar Ferdian tertawa.


"Dih, gak perlu ditunjuk itu sih, aku bakal terus bimbing kamu!" ucap Ajeng menyuap dimsum ayam miliknya.


"Really (benarkah)?"


"Sure (pastinya)!"


 


 


"Siapa yang kamu harapkan jadi dosen pembimbing nanti?" tanya Ajeng, mengingat Ferdian masuk ke pengutamaan Sastra, ada banyak dosen yang cukup tegas bisa menjadi pembimbingnya nanti.


"Hmmm....siapa ya? Kalau menurut kamu, dari karya yang bakal aku bahas, kira-kira siapa yang cocok?"


"Ardi dan Pak Julian!"


"Waduh!" ucap Ferdian menggaruk-garuk kepalanya.


"Kenapa emangnya?"


Ferdian menyengir saja.


"Ardi itu spesialis karya era Romantis Amerika lho. Kalau gak salah skripsi punya dia juga tentang hal-hal yang berbau gothic!" ujar Ajeng mengingat-ingat, karena ia pernah menemukan skripsi milik rekannya itu di perpustakaan dan Ferdian kebetulan mengambil karya milikk .


"Kalau Pak Julian udah pasti lah ahli banget sama teori sastra yang kamu ambil itu!" lanjut Ajeng.


"Kalau Andre?" tanya Ferdian.


"Aku belum tau dia spesifiknya sastra di bidang apa. Cuma kayanya dia lebih ke karya kontemporer. Tanya aja deh sendiri."


 


 


"Kalau kamu sendiri?" tanya Ferdian.


"Aku minat sama karya Victorian pasca Revolusi Industri, kaya karya Charles Dickens atau Bronte bersaudara, yang banyak memuat isu-isu sosial dan politik saat itu."


"Aku kira kamu minat sama karya feminis!"

__ADS_1


"Isu feminis kan juga banyak muncul di era Victorian, kaya karya Bronte. Sebenarnya banyak banget isu yang bisa diangkat kalau kamu pilih karya Victorian. Feminisme adalah salah satu isu yang enggak pernah mati sampai sekarang."


"Karena?"


"Karena permasalahan perempuan dianggap gak pernah clear dari masa ke masa. Feminisme muncul di era Victorian terutama setelah Revolusi Industri terjadi di Inggris. Masalah perempuan pada saat itu adalah para perempuan menganggap diri mereka tidak berharga, dipandang sebelah mata oleh kaum lelaki, mereka tidak mendapatkan hak pendidikan dan politik seperti para lelaki. Jadilah mereka protes menuntut hak persamaan derajat dan kesetaraan. Setelah mereka dapat hak yang mereka tuntut, akhirnya banyak industri memanfaatkan isu ini untuk merekrut tenaga kerja wanita, dalam hal ini wanita yang berpendidikan kurang ya. Mereka pun direkrut banyak oleh industri-industri, namun akhirnya ketimpangan sosial terjadi. Banyak pengangguran dari kaum laki-laki karena kinerja perempuan dianggap lebih bagus dan mereka bisa digaji lebih murah. You see! Permasalahan perempuan akan terus berputar seperti itu, bahkan sampai sekarang pun sama. Makanya isu feminisme ini terlihat seksi dan menjual, cantik di mata perempuan tapi sebenarnya merusak mereka," terang Ajeng panjang lebar.


 


"Aku kira kamu penganut feminisme, hehe!"


"No, aku emang wanita karir yang menuntut profesionalitas. Tapi aku digaji bukan untuk membuat kaya seseorang di atas sana. Aku bekerja karena aku ingin mencerdaskan mahasiswaku, aku berkontribusi untuk kemajuan bangsa, jadi jujur aja, dengan menjadi dosen aku gak bisa egois karena yang aku inginkan adalah seberapa besar manfaat diri aku untuk masyarakat?"


"Wow, amazing (luar biasa)!"


 


"Kamu harus bedain, kalau berbicara masalah feminisme, sebenarnya isu ini tetap dihembuskan oleh para pemilik kepentingan, you know what I mean (kamu tahu maksudku), para kapitalis, pejabat besar, pemilik-pemilik perusahaan multinasional, agar perekonomian 'uang' mereka tetap berputar dengan modal kecil tapi mereka dapat keuntungan besar dengan cara merekrut karyawan perempuan yang bisa digaji lebih murah tapi dengan kerja lebih baik, dengan dalih persamaan hak dan derajat. Makanya kasian banget orang-orang yang termakan dengan isu ini lalu menyuarakan feminisme. justru mereka malah memperparah kondisi perempuan itu sendiri."


"Termasuk para orang tua kita?"


"Bisa jadi, apalagi perusahaan ayah kamu banyak kan ya?" ucap Ajeng tersenyum.


"Hmm....iya juga ya!" Ferdian mengangguk-angguk.


 


"Makanya aku selalu nolak waktu Papa tawarin aku kerja di perusahaannya. Aku cuma ingin aku bermanfaat untuk orang banyak, bukan untuk mengambil untung aja."


"You're really like such an angel, baby (Kamu benar-benar seperti bidadari, Sayang)!" puji Ferdian membuat Ajeng tersipu-sipu, wajahnya merona.


 


"Duh, aku jadi gak enak waktu bertingkah konyol di depan dia dulu!"


"Haha...tapi Ardi profesional kok, jadi percaya diri aja!"


"Ya mudah-mudahan dia gak illfeel duluan sama aku, yang udah ngerebut gebetannya dulu!"


Ajeng yang sedang minum jadi tersedak mendengar ucapan suaminya.


 


"Emang kamu rebut aku dari dia?"


"Iya lah, dosen cantik gini pasti jadi rebutan banyak pria keren. Untung aku yang menang, haha!" Ferdian tertawa puas.


"Bangga banget kayanya!"


"Iya dong bangga!" ucap Ferdian mencolek hidung istrinya.


 


 


"Kalau kamu bangga gak sama suami kaya aku?" Ferdian balik bertanya.


"Bangga enggak ya?" Ajeng melirikan matanya ke atas.

__ADS_1


"Ah pasti enggak bangga ya, apalah aku ini cuma mahasiswa tengil yang beruntung aja dapetin dosennya lewat perjodohan," ucap Ferdian sedih.


"Ih, dijawab sendiri. Apa sih gak usah mellow gitu deh!"


Ajeng mengambil piring bekas makan suaminya dan dirinya, ia langsung mencucinya. Seketika Ferdian beranjak dari kursinya dan langsung merangkulnya dari belakang, memeluk perut Ajeng yang berisi anaknya. Ia menaruh dagunya di bahu istrinya.


"Bangga enggak punya suami kaya aku?!" tanyanya lagi.


Ajeng tersenyum melihat tingkah konyol suaminya. Ia mengelap tangannya yang basah. Ajeng memutar tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan. Ia merangkul tubuh suaminya.


"Kalau aku gak bangga sama kamu, mungkin aku bakalan pindah kampus karena perut besar ini!"


"Terus kenapa dulu kamu pengen sembunyiin pernikahan kita?"


"Karena waktu itu kan aku belum siap sama respon orang-orang. Apalagi pernikahan kita termasuk mendadak. Bukan berarti aku gak bangga bersuamikan kamu, aku hanya butuh waktu karena statusku yang baru sebagai Nyonya Ferdian Winata."


Ferdian tersenyum mendengar jawaban istrinya. Ia mengecup hangat keningnya.


"Ngomong-ngomong, apa kamu udah dapet nama buat anak kita?" tanya Ferdian mengelus perut istrinya.


"Udah!"


"Siapa namanya?"


"Sabar, aku masih cari yang lain kalau-kalau ada yang lebih bagus. Kalau yang ini artinya kuat, percaya diri dan mandiri. Aku berharap anak kita ini bisa seperti kamu yang kuat dan percaya diri. Dan nama keduanya memiliki karakter penyayang dan setia, benar-benar mirip kamu yang seperti itu."


"Ehm...ehm, emang aku seperti itu ya?" wajah Ferdian tampak merona setelah mendapat pujian dari istrinya.


"Umm....gimana ya?" ucap Ajeng berpikir-pikir lagi.


"Ah tadi bilangnya mirip aku!"


"Ya udah, makanya jangan tanya lagi dong! Ucapan aku itu tulus from my deepest heart, so you don't have to worry about (dari hati terdalam, jadi kamu gak perlu khawatir lagi)," kerling Ajeng.


"Nah kalau gini kan aku jadi pengen dikelon di kasur! Yuk ah!"


Ferdian menggendong istrinya dan membawanya ke dalam kamar.


\=====


Yuk like, vote, tips, dan komennya jangan lupa


Thank youuu...


Bonus



Yang pengen dikelon



yang dipuji kaya bidadari


 


 

__ADS_1


__ADS_2