
Pria berwajah putih dengan hidung mancung itu dibawa ke ruang perawatan setelah dirinya pingsan di halaman parkir motor. Kini tubuhnya sudah terbaring lemas di atas matras dengan selang infus. Arsene mengalami dehidrasi berat karena terlalu fokus melakukan investigasi di hari itu, sehingga tubuhnya kekurangan cairan. Mengakibatkan tubuhnya terlalu letih dan kepalanya pusing.
Arsene berusaha menggerakan bola matanya dan membuka kelopak matanya. Sinar lampu menggantung di langit atap kamar rumah sakit menyilaukan matanya, membuat ia mengerjap. Rasa nyeri di kepalanya sudah hilang. Ia memandangi lengannya yang terdapat selang infus.
Seorang lelaki tua berjenggot dan berambut putih terlihat duduk di sampingnya, seraya tersenyum padanya.
“Kakek!” ucapnya lemas sambil berusaha bangun.
“Udah kamu tiduran aja!” ucap Kakek Jaya yang menjaganya.
Arsene menaruh kepalanya lagi di atas bantal.
Ruangan serba putih itu terasa menyilaukan matanya. Arsene melipat tangannya dan menaruhnya di atas dahinya. Bau semerbak alkohol tercium di hidungnya.
“Sekarang udah jadi detektif di sekolah ya? Sampai lupa makan dan minum?” tanya kakeknya itu tersenyum. Pria tua itu bersandar di sebuah kursi di samping matras Arsene. Sambil sesekali melihat jam tangannya, ia memperhatikan wajah pucat cucu keduanya itu.
Arsene menyengir kaku mendengar pertanyaan kakeknya, mungkin lebih tepat dikatakan sindiran. Ia sadar, pengejarannya terhadap pelaku bullying Zaara membuatnya lupa makan siang, bahkan ia meminum sedikit saja dari botol air yang dibawanya. Terlebih lagi, ada korban lain setelah Zaara yang benar-benar membuatnya tidak habis pikir, mengapa ada yang tega berlaku demikian.
“Maaf, Kek!” ucapnya pelan.
Kakek Jaya mengelus rambut cucunya itu. Dalam hatinya tersemat rasa bangga. Cucu laki-laki pertamanya ini berhati besar dan berani. Bahkan sejak semalam anak muda ini sudah beraksi.
“Kamu itu mirip banget sama mommy kamu. Ambisius dan idealis. Sekalinya terjun untuk beraksi, kalian bisa totalitas tanpa peduli lagi pada diri sendiri atau keluarganya!”
Arsene terkekeh tersipu.
“Apa kamu segitu perhatiannya sama teman kamu itu?” tanya kakek.
__ADS_1
Arsene melirik kakeknya dengan hati tidak menentu. Ia sendiri pun tidak tahu, mengapa ia ingin sekali membongkar dan menemukan pelaku bullying Zaara. Apa ia benar-benar peduli pada teman sebangkunya? Atau justru perhatiannya terlalu berlebihan? Sepertinya tidak juga, ia merasa wajib menolongnya dan membongkar semuanya karena ia sudah ikut terlalu dalam urusan Zaara.
“Rainer udah cerita semua. Ditambah lagi Om Reza juga cerita sama kakek, jadi kakek udah tahu semuanya,” terang Kakek Jaya.
“Jangan-jangan, kamu sudah menaruh rasa sama anaknya Om Reza itu ya?” tembak kakeknya, membuat mata Arsene membesar.
Arsene hendak bersuara, meski terbata-bata dan tidak tahu kata apa yang akan dikeluarkan dari mulutnya.
“Masa remaja itu masa paling indah, katanya! Jatuh cinta pada saat remaja, boleh saja! Tapi jangan membuat kamu kehilangan diri sendiri. Contohnya, seperti apa yang terjadi pada pelaku bullying itu. Mereka sudah kehilangan identitasnya, entah akan jadi apa masa depan mereka setelah ini.”
Arsene terdiam, bertanya-tanya. Apa iya dia sudah jatuh cinta? Ia meragukannya.
“Dulu daddy kamu sering membuat hal konyol sampai-sampai masuk rumah sakit karena begal. Itu karena dia terlalu cinta sama mommy kamu! Tapi dia bisa mengendalikannya setelah itu.”
“Kamu jangan sampai seperti itu, cinta itu boleh, sewajarnya saja. Apalagi kamu masih muda. Masa depan masih panjang kalau umurnya juga panjang. Cinta juga harus rasional.”
Arsene menghela nafas, entah kenapa kakeknya itu malah menceramahi dirinya tentang cinta. Sesuatu yang bahkan dirinya saja masih mempertanyakannya. Arsene menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.
“Ga tau!”
“Yang penting kamu sehat!” ucapnya lagi serasa tidak berkesinambungan dengan ceramahan sebelumnya. Kakek Jaya tertawa-tawa sendiri karena merasa dirinya sudah tua, jadi omongannya kemana-mana. Arsene hanya ikut tertawa bersamanya.
\=====
Pagi itu Arsene pulang dari rumah sakit. Hari ini ia tidak masuk sekolah dan hanya beristirahat saja di rumah. Ia masih memikirkan terkait kondisi Zaara dan Arief, belum ada yang mengabari keadaan mereka sampai saat ini. Ia merasa bodoh, mengapa sebelum pulang tidak mencoba menjenguk mereka di rumah sakit? Padahal kedua murid itu dirawat di rumah sakit yang sama. Ah sudah terlambat juga, ia mengeluh sendiri.
Tiba-tiba bel rumah kakeknya itu berbunyi nyaring. Arsene pergi membukakan pintu. Matanya cukup terkejut karena yang datang adalah dari pihak kepolisian yang akan membawanya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan terkait kasus yang terjadi kemarin. Kakek Jaya mendampingi cucunya itu memberi kesaksian dan juga bukti yang dimilikinya. Arsene bersyukur karena pihak sekolah menindaklanjuti kasus ini pada yang berwenang.
__ADS_1
Pembullyan adalah bukan kasus kejahatan kecil, ini tidak boleh diremehkan karena merusak psikologis seseorang bahkan tertanam di benak dan alam bawah sadarnya hingga mereka dewasa nanti. Arsene hanya berharap para pelaku kejahatan ini dihukum dengan tegas sesuai dengan undang-undang yang berlaku, juga mereka bisa menyadari bahwa perbuatannya itu salah.
Pihak sekolah yang akan mengurusi kasus ini kedepannya.
\=====
Hari itu, Arsene sudah kembali ke sekolah. Kasus Zaara dan Arief sudah menyebar di kalangan siswa-siswa. Teman-teman sekelas menyorakinya sebagai pahlawan, sontak kini dirinya menjadi lebih populer dari sebelumnya. Mereka mengelu-elukan dan membanggakannya. Arsene hanya tersenyum kecil saja ketika teman-temannya itu bersorak-sorai karena keberaniannya.
Sementara Cinta dan kawan-kawannya terlihat murung. Mereka tidak menyangka kalau salah satu dari teman mereka menjadi pelaku perundungan pada kawan sekelas mereka sendiri. Anin adalah gadis yang ceria, supel, dan bersahabat, tetapi pergaulannya yang salah telah menjerumuskannya sehingga dengan mudah dimanfaatkan oleh orang-orang berwatak licik dan pedendam, seperti Astria.
Anin, Astria, Samsul, dan juga Bobby kini tengah diperiksa oleh pihak kepolisian setempat untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka lakukan kepada teman-teman mereka sendiri. Pihak kepolisian untungnya merespon dengan cepat sehingga tidak butuh waktu lama untuk memproses mereka. Keempat siswa ini diduga telah melanggar pasal 54 UU 35/2014 tentang perlindungan anak dan mendapatkan hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
\=====
Arsene memandangi bangku Zaara. Sudah tiga hari Zaara tidak masuk sekolah, ia masih dalah tahap pemulihan di rumah sakit yang merawatnya. Info terakhir terkait kondisi kesehatan Zaara, gadis itu sering mengalami mimpi buruk yang kerap mendatanginya di malam hari.
Tentu saja, kejadian itu pasti membuat batinnya sedikit terganggu. Apalagi ini kejadian yang pertama baginya, meskipun ia juga sering kali mendapat bullying secara verbal, tetapi tidak sebesar itu efek pada dirinya.
Arsene ingin sekali melihat kondisi gadis itu.
Apakah ia harus menjenguknya?
\=====
Bersambung dulu yaa....
Jangan lupa like, vote, dan komen
__ADS_1
Ditunggu
Makasih