Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 71. Putih


__ADS_3

Malam itu terdengar hening meski nyanyian serangga malam terdengar berirama mengalun di suasana tenang yang gelap. Udara dingin di luar, angin berbisik lembut dari balik celah-celah jendela. Arsene yang sudah berada di bawah selimutnya terlihat resah. Ia membetulkan posisi tidurnya. Hatinya gelisah padahal ia sudah berusaha memejamkan matanya. Lampu-lampu kamar juga sudah dimatikan. Tetap saja hati dan pikirannya tidak bisa tidur. Wajar saja besok adalah hari pernikahannya, di usianya yang masih sangat muda yaitu 19 tahun.


Arsene menarik nafas dan mengembuskannya perlahan. Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap, lalu mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Menatap jam yang tertera di sana, sudah pukul 22.45 WIB. Ia membuka grup taarufnya, lalu mengetikkan sesuatu di sana.


[Gak bisa tidur!] ketiknya menyalurkan keluh yang ia rasakan.


Ia tidak peduli apa akan mendapat respon dari seseorang di grup itu atau tidak.


Tiba-tiba sebuah notifikasi muncul, ketika ia sedang membuka aplikasi lainnya.


[Dzikir!] balas Zaara.


Arsene tersenyum melihat jawaban calon istrinya itu. Ia yakin gadis itu juga pasti tidak bisa tidur sama dengan dirinya.


[Udah. Tapi tetep aja deg-degan] balasnya lagi.


[Udah hafal teks kabulnya?] tanya Zaara.


[Udah lama aku hafalin, hehe]


[Abi juga tegang tuh!]


Arsene terkekeh melihat ketikan Zaara di sana. Pria itu mengetik lagi.


[Udah baca buku Kado Pernikahan?] tanyanya.


[Udah tapi belum selesai]


[Sampai bab apa?] tanya Arsene penasaran.


[Rahasia!]


Arsene lagi-lagi terkekeh geli. Ia tahu judul bab-bab di buku Kado Pernikahan itu sangatlah ekspresif dan terbuka untuk mereka yang sudah mengerti. Ia sendiri juga belum menyelesaikan semua bab-nya. Ia masih tertahan di bab yang berjudul ‘Sentuhan Mesra untuk Berdua’. Sebenarnya geli baginya, tetapi bagaimana lagi, ia harus membacanya untuk pengetahuannya di jenjang kehidupan barunya esok hari. Ia sendiri sudah memikirkan rencana selama tiga hari yang bisa ia habiskan dengan kekasih barunya mulai besok. Meskipun ada satu hal yang membuatnya ragu, ia akan membicarakannya dengan Zaara besok ketika pernikahan sudah halal bagi mereka.


[Ya udah, selamat malam. Sampai jumpa besok di pelaminan :)] ketik Arsene, hatinya sudah terasa lebih tenang. Ia bisa memejamkan mata, hati, dan pikirannya malam ini. Lelaki itu pun tidur dengan bibir yang terkembang sudutnya.


Persiapan pernikahan sudah siap seluruhnya, karena Ajeng dan Karin menyerahkannya pada sebuah Islamic Wedding Organizer yang sudah berpengalaman bertahun-tahun untuk menyelenggarakan pesta pernikahan secara islami. Akad nikah dan resepsi diadakan di sebuah gedung yang cukup besar, mengingat keluarga Ferdian mengundang keluarga, rekan, dan koleganya sampai 1000 undangan.


Meskipun pada pesta nanti tamu undangan laki-laki dan perempuan akan terpisah. Hanya saja untuk pelaminan tidak dibuat terpisah. Mempelai pengantin laki-laki dan perempuan akan duduk di satu kursi pelaminan bersama orangtua mereka yang mendampingi. Pihak WO akan mengatur jalannya para tamu yang akan mengucapkan selamat pada mereka agar bisa teratur dan tidak bertabrakan antara tamu laki-laki dan perempuan. Keluarga Ferdian dan Reza sudah mempercayakan seluruhnya pada pihak WO.


Dekorasi gedung sudah disulap menjadi indah dengan tema modern elegan. Warna cream, cokelat muda, dan salem mendominasi ballroom luas itu. Lampu-lampu kristal beserta dekorasi bunga-bunga cantik menggantung di atas panggung pelaminan. Karpet merah terjulur dari pintu depan sampai pelaminan sebagai alas injak bagi para tamu yang hadir. Kain-kain satin dan ceruti menjuntai indah dipadukan dengan aksesoris bunga segar menjadi sekat bagi para tamu. Kursi-kursi dipersiapkan di dalam, agar para tamu bisa menikmati menu-menu yang disajikan sambil duduk dan tidak dianjurkan makan atau minum sambil berdiri. Di luar, para penerima tamu sudah bersiap. Foto Arsene dan Zaara terpampang di sebuah bingkai putih secara masing-masing. Begitu juga dengan sebuah papan di pintu gerbang yang menandakan tamu ikhwan dan akhwat.


Kedua belah pihak dari keluarga mempelai perempuan dan laki-laki sudah datang. Meja untuk prosesi akad telah siap di atas panggung pelaminan. Keluarga Ferdian sudah datang disambut dengan alunan instrumental dari piano, biola, dan cello yang mengalun lembut. Arsene tampak sangat tampan mengenakan setelan tuksedo putih dengan kemeja hitamnya, rambutnya disisir rapi dan berkilauan. Ia berdiri diapit oleh kedua orangtuanya ketika hendak memasuki ballroom yang tercium wangi segar bebungaan. Di belakangnya, berbaris rapi anggota Keluarga Besar Gunawan Winata dan Keluarga Besar Jaya Diningrat yang membawa barang-barang hantaran bagi Zaara. Di sana, Keluarga Reza menyambutnya dan bersama-sama berjalan menuju panggung pelaminan.


Jantung Arsene berpacu dengan cepat meski irama instrumental yang menemani di dalam ruangan luas itu mengalun lembut. Ajeng merangkul lengan anaknya itu.


“Be relax, sweetheart!” ucap Ajeng lembut.


“I try, Mom!” balasnya.


Di meja akad, sudah duduk petugas KUA dan dua saksi dari pihak keluarga masing-masing mempelai. Reza mendudukan diri di kursi disusul oleh Arsene yang duduk di hadapannya. Keduanya tampak menghela nafas, lalu mengembuskannya, sama-sama tegang, terlihat dari raut wajah dan rahangnya.


MC membuka acara pagi itu dan menyambut semua para hadirin. Seorang qiroah dan saritilawah maju ke atas panggung pelaminan untuk melantunkan ayat suci Al-Quran dan terjemahannya untuk membuat para malaikat menaungi acara yang diberkahi ini. Sebelum akad dimulai, seorang ustadz diundang untuk memberikan khutbah terkait pernikahan.


Zaara yang mendengar khutbah itu dari dalam ruangan rias terlihat tegang. Gadis itu telah dibalut dengan sebuah gaun nikah syari putih yang berbahan brokat lembut dengan kristal swarovski menghias di khimarnya yang menutupi hingga perutnya. Kain tile transparan menghias di kepalanya. Riasannya tampak tipis dan seulas saja, meski mata bulatnya lebih hidup karena polesan eyeliner dan maskara. Bibir imut berisinya dipoles dengan lipcream berwarna pink nude. Sungguh sangat sederhana dan tidak berlebihan, ia tetap terlihat cantik.


Zaara telah ditemani oleh Terry dan Hana yang mengenakan pakaian bridesmaid gaun syari pilihan teman dekatnya itu. Bahkan Terry yang tidak berhjab, hari itu spesial mengenakan hijab.


“Siap-siap, akad dimulai!” seru Terry pada Zaara yang terus mengepalkan tangannya.


Petugas KUA memuji Allah SWT dan memberi shalawat serta salam pada Rasulullah saw. sebelum membuka akad nikah. Mas kawin yang diminta Zaara telah berada di atas meja di dalam sebuah kotak kaca yang terlihat indah. Begitu juga dengan berkas-berkas yang harus dipenuhi oleh pengantin setelah ini yang sudah berada di sana.


Arsene berusaha menenangkan dirinya agar teks ijab kabul yang sudah dihafalnya tidak hilang begitu saja. Ia ingin ucapan kabul itu selesai dalam satu tarikan nafas.

__ADS_1


Reza tidak kalah tegang, tangannya menggenggam erat tangan Arsene ketika keduanya berjabat tangan. Matanya terlihat merah karena menahan haru karena pria itu siap melepas putri sulungnya pada anak muda di hadapannya itu. Petugas KUA memerintahkan mereka untuk memulai ijab kabul pagi ini.


“Bismillahirrahmaanirrahiim. Saya nikahkan Ananda Arsene Rezka Winata dengan putri kandung saya, Zaara Haniya Kusumawijaya binti Muhammad Reza Kusumawijaya, dengan mas kawin 5 gram cincin emas, dibayar tunai.”


Petugas KUA menepuk pelan tangan Arsene agar pria itu segera menjawab ijab pria di hadapannya.


“Saya terima nikahnya Zaara Haniya Kusumawijaya binti Muhammad Reza Kusumawijaya dengan mas kawin 5 gram cincin emas, dibayar tunai.”


“Bagaimana para saksi?” tanya petugas KUA.


“Saaaaaah!!!”


“Alhamdulillahhirobbil ‘alamiin…” ucap semua para hadirin. Seketika perasaan Arsene lega seperti tengah berenang di samudera luas yang tenang tanpa ombak.


Semuanya menengadahkan tangan ke langit, bermunajat kepada Ilahi agar pernikahan anak mereka Arsene dan Zaara diberkahi Allah, sehingga mengantarkan pernikahan mereka menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah sampai ke surga.


Doa telah selesai. MC mempersilakan mempelai wanita keluar dan bersanding dengan kekasih halalnya. Zaara keluar dari ruangan itu dengan jantung yang berdebar-debar, tidak sesuai dengan langkah kakinya yang terasa lambat. Ia mencengkram sebuah buket bunga mawar putih di tangannya yang gemetaran. Terry dan Hana mengantar sahabatnya itu sampai duduk di kursi di sebelah Arsene. Mereka membetulkan kain tile yang menjuntai di kepala gadis itu lalu meninggalkannya di sana.


Sementara Arsene tidak sanggup menatap teman sebangkunya yang kini telah resmi menjadi istrinya. Pria itu tertunduk dengan mata berkaca-kaca, apalagi alunan piano dan cello mengiringi kedatangan istrinya itu.


Setelah mengisi berkas-berkas administrasi untuk keperluan pencatatan, keduanya diperintahkan untuk berdiri saling berhadapan. MC menyuruh mereka untuk saling bertatapan satu sama lain, yang membuat mereka tertawa tersipu-sipu.


“Tatapannya udah halal ya, jadi berpahala, gak usah malu-malu atuh!” ujar MC malah semakin membuat keduanya menjadi merona saja. Tetap saja keduanya tidak bisa melakukan hal itu di hadapan banyak orang yang ikut tertawa bersama mereka.


“Iya, sekarang, sesi pemasangan cincin. Mangga Kang Arsene dipakaikan cincin mas kawinnya buat Neng Zaara.”


Arsene membuka kotak perhiasan kaca itu lalu mengambil cincin emas yang sudah dipilih Zaara. Arsene memberikan kode pada gadis di depannya itu, meminta izin untuk menyentuh tangannya. Zaara mengangguk tersenyum.


Sentuhan tangan Arsene di tangan kanan Zaara berhasil membuat gadis itu semakin grogi. Arsene dengan sigap memasangkan cincin itu di jari manis yang terasa dingin dan bergetaran. Setelah berhasil memasangkan cincin itu, ia mendekap tangannya sebentar memberi energi positif dan kehangatan.


Zaara mencium tangan punggung suaminya, bentuk penghormatan dan bakti pada pria di depannya itu, karena di pundak pria itu kali ini surganya berada.


“Ayo cium kening Neng Zaaranya, Kang Arsene!” ujar MC berinisiatif, membuat keduanya terbelalak. Jantung mereka berpacu cepat.


Wajah keduanya memerah, tidak sanggup menahan rasa malu lagi.


Arsene melangkah ke depan, mendekati tubuh istrinya itu. Tubuh Zaara yang tinggi, membuatnya pas sekali menempelkan bibirnya di kening istrinya itu sekejap. Sentuhan itu membuat keduanya berdesir.


“Tahan! Foto dulu!”


Hawa panas menjalar pada wajah keduanya. Zaara hanya bisa mengernyitkan matanya dan menahan nafasnya ketika Arsene melakukan itu di depan kamera yang menangkap momen indah sekaligus tegang bagi mereka.


Keduanya tertawa-tawa saja setelah lepas dari momen itu. Kemudian melanjutkan sesi foto lainnya. Hari akan terasa menyenangkan meskipun waktu panjang masih menunggu di hari ini.


\=\=\=\=\=\=


Arsene dan Zaara telah duduk di kursi pelaminan. Keduanya beserta orangtuanya bersiap-siap menyambut tamu yang akan memberi selamat kepada mereka berdua. Karena acara resepsi belum dimulai, mereka berdua berbincang kecil saja di sana, meski rasa canggung masih meliputi diri mereka.


“Mau makan camilan gak?” tawar Arsene pada Zaara.


“Aku belum lapar,” jawab Zaara.


Arsene tampak memperhatikan riasan wajah istrinya yang biasa saja tetapi tetap cantik di matanya, membuat Zaara tersipu-sipu dibuatnya.


“Sebentar!” ucap pria itu lalu mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


Zaara tertegun dan menahan nafas ketika Arsene menarik dagunya. Matanya terpejam. Pria itu meniup wajahnya dengan lembut, aroma mint tercium dari embusannya itu.


“Kenapa?” tanya Zaara terkejut dan menjauhkan diri dari suaminya itu.


“Ada bulu mata jatuh di pipi kamu!”


“Ooh!”

__ADS_1


Tak lama kemudian para tamu berdatangan untuk mengucapkan selamat secara bergantian. Panitia mempersilakan tamu perempuan dulu yang naik ke panggung pelaminan, sementara tamu laki-laki menunggu sebentar. Begitulah seterusnya.


“Selamat Arsene dan Zaara!” ucap Sita yang datang bersama anaknya, Anggun.


“Maafin Raffa ya. Dia gak bisa hadir hari ini,” ucap perempuan yang mengenakan gaun berlayer itu.


“Makasih Tante udah datang!” ucap Arsene dan Zaara bersamaan.


Raffa tentu saja tidak akan sanggup menghadiri pesta pernikahan gadis pujaan hatinya. Pria itu sedang berbenah diri dan bersiap-siap untuk melanjutkan kehidupannya seperti janjinya pada kedua orangtuanya.


Telah datang juga kawan-kawan mereka dari LDK baik yang ikhwan dan akhwat.


“Barakallah ya Zaara & Arsene!” ucap Ema yang juga datang ke pesta pernikahan temannya itu. Gadis itu tidak menaruh hati pada Arsene meski sempat tertarik, jadi ia biasa saja setelah tahu bahwa ternyata Zaara adalah gadis yang dilamar oleh Arsene. Ia menangkupkan tangannya pada Arsene ketika mengucap selamat padanya.


Pesta resepsi sudah hampir berakhir siang itu. Setelah dua jam terus menyambut tamu yang berdatangan tanpa henti, Arsene dan Zaara menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang sejak tadi mereka duduki.


“Capek?” tanya Arsene pada gadis di sebelahnya.


“Lumayan,” jawab Zaara singkat. Wajahnya terlihat letih. Gadis itu menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal.


“Setelah ini kamu ada rencana mau kemana?” tanya Arsene lagi.


“Aku ikut kamu aja!”


“Ke rumah aku ya? Kita istirahat di sana,” ajak Arsene.


Zaara mengangguk pelan. Ekspresi letih gadis itu membuat Arsene gemas untuk  menggodanya. Arsene menaruh satu jarinya di pipi kenyal istrinya lalu menusuknya pelan dengan jarinya itu, terasa kenyal dan empuk.


Zaara melirik heran pada suaminya.


“Kamu ngapain ih?!” Malu diliatin tamu!” ucapnya menunduk.


“Biarin ah. Lucu pipinya!” ucapnya santai dan tidak melepas jarinya itu.


Hawa panas lagi-lagi menjalar ke seluruh tubuh Zaara terutama pipinya, yang semakin terlihat merah. Arsene semakin gemas saja melihat wajah Zaara yang merona. Arsene mencubit pipi gadis itu dan Zaara pasrah saja meski ia benar-benar tersipu dibuatnya. Beberapa tamu yang memperhatikan keberadaan pengantin di depan tertawa-tawa melihat tingkah laku pengantin muda ini.


“Mereka mah masih malu-malu, gak kayak kamu, Sayang!” ucap Ajeng pada suaminya yang juga memperhatikan anaknya.


“Emang aku dulu gimana?” tanya Ferdian pura-pura lupa.


“Kamu mah main nyosor aja waktu kita makan siang dulu! Padahal masih banyak orang juga.”


Ferdian tertawa-tawa mengingat masa lalunya.


“Itu aja Abang Acen pengen nyosor cuma masih bisa nahan diri, haha!” ucap Ferdian melihat ekspresi gemas anak sulungnya.


“Iya makanya, gak kaya kamu, Yang!”


Pesta resepsi pun berakhir siang itu. Arsene membawa istrinya langsung menuju kediamannya setelah dari sana. Entah apa yang akan mereka rencanakan setelah ini, mengingat tiga hari lagi, Arsene akan pergi ke Sydney.


\=\=\=\=\=\=


Alhamdulillah Arsene & Zaara sah


Bersambung dulu yyaa


Jangan lupa sawerannya buat penganten baru ya


Vote poin dan koin yang banyak, haha


Like dan komentarnya jangan lupa


Makasiiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2