
Ferdian, Ajeng, dan anak-anaknya telah berpergian keluar untuk menyusuri kota terpadat di Australia itu dengan mengunjungi berbagai tempat wisata yang dianjurkan oleh para penasihat wisata. Terpaksa meninggalkan Arsene dan Zaara di villa, karena permintaan Arsene hari itu.
Suasana villa sudah sepi dan hanya ada Arsene dan Zaara yang sedang duduk di sofa ruang santai yang menghadap ke lautan lepas, membiarkan angin menjadi tamu di sana. Keduanya masih belum berbicara banyak, rasa cemas masih melanda pikiran masing-masing dengan rasa bersalah mereka.
“Maaf untuk semalam!” ucap Zaara pelan, melirik kecil pada suaminya yang menyelonjorkan kakinya santai.
Arsene menoleh padanya. Ia menggeser tubuhnya mendekati istrinya, lalu menarik bahu gadis yang sudah tidak lagi mengenakan hijab rumahannya sehingga menempel ke dadanya.
“Gak apa-apa, mungkin karena kita belum terbiasa!” ucap Arsene mengelus lembut rambut istrinya.
“Maaf, aku terlalu tegang semalam. Kita bisa coba lagi kan?” tanya Zaara menatap cemas suaminya, khawatir suaminya itu benar-benar kecewa terhadap dirinya yang tidak menjalankan tugas sebagai istri untuk pertama kalinya.
Arsene tersenyum kecil mendengar pertanyaan istrinya. “Of course!”
“Kamu bawa dress yang waktu itu dibeli untuk hantaran?” tanya Arsene.
“Dress yang dipilihkan Mommy? Dress untuk pesta itu?” tanya Zaara memastikan.
Arsene mengangguk menatap matanya.
“Aku bawa. Kamu mau aku pakai itu hari ini?”
Arsene tersenyum lebar, matanya berbinar-binar. “Boleh kan?”
“Boleh kok,” jawab Zaara tersenyum berseri.
“Sekarang?!”
“As you wish, Abang Sayang!” Zaara beranjak dari sofa, seketika itu Arsene menarik lengannya.
“Jangan keluar kamar sebelum aku suruh keluar ya?” pinta Arsene membuat kening Zaara mengernyit.
“Kenapa emangnya?”
“Aku siapkan sesuatu dulu, mungkin sekitar 30-45 menit.”
“Jadi aku diem di kamar aja selama itu?”
“Ahah, bisa kan?!”
“Ya udah kalau kamu maksa, awas jangan siapin yang aneh-aneh!” ucap Zaara curiga.
__ADS_1
“Gak Sayang!” ucap Arsene tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi rapinya.
Zaara memasuki kamarnya dan mempersiapkan dirinya untuk kencan rumahan yang dipersiapkan oleh suaminya. Apa yang harus ia lakukan selama 30 menit di kamarnya itu?
Haruskah ia melulur badan dan berendam sebentar untuk bisa menaikkan moodnya? Sepertinya ide bagus, apalagi ia juga sudah membeli sabun cair aromaterapi dan minyak esensial greentea. Zaara mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi.
Sementara itu, Arsene bergegas ke dapur setelah Zaara menutup pintu kamarnya. Untung saja ia membeli beberapa potong tenderloin dan sayuran yang cocok untuk menjadi side dish menu utamanya. Rencananya ia akan membuat menu Beef Tenderloin Steak with Asparagus and Mashed Potatoes with Barbeque Sauce. Arsene membumbui potongan daging sapi itu dengan garam, merica, daun rosemary, dan thymes. Ia menyiapkan teflonnya, sepotong butter dilelehkannya. Ia juga telah mengupas bawang putih yang kemudian digepreknya dan dimasukannya ke atas lelehan butter. Arsene menaruh daging yang sudah dibumbui ke atas teflon panas. Ia menyesuaikan api kompor agar tidak terlalu panas. Lelehan butter yang sudah bercampur dengan bawang putih, disiram-siramkannya ke atas permukaan daging untuk dimarinasi sehingga bumbu dan rempah bisa meresap rata ke dalam daging.
Arsene sudah menyalakan oven di bawah kompornya. Setelah membolak-balikkan dagingnya, ia memasukkan daging yang masih setengah matang itu ke dalam oven untuk menyempurnakan tingkat kematangannya dengan level well-done. Sambil menunggu dagingnya matang sempurna, ia merebus asparagus dan kentang. Ia juga menyiapkan saus barbeque yang memang sudah dibelinya.
Kentang yang sudah matang, ia tumbuk untuk dicampur dengan susu dan butter sampai benar-benar halus. Ia menambahkan sedikit keju, garam, dan merica. Mashed potatoes dan asparagus sudah selesai. Ia bersiap untuk plating. Dua piring datar disiapkannya di atas meja dapur, ia menaruh mashed potatoes di atasnya dan menyusunnya bersama asparagus. Tampaknya daging steaknya pun sudah matang. Ia mengeluarkannya dan langsung memotongnya untuk melihat bahwa daging itu matang sempurna. Daging yang matang ditaruhnya dengan rapi berdampingan dengan kentang tumbuk dan asparagus. Lalu ia menyiramkan saus barbeque di atasnya. Perfecto.
Arsene berlari ke dalam kamar untuk memanggil istrinya bahwa hidangan sudah siap. Ia juga harus mempersiapkan diri untuk merapikan penampilannya. Arsene mengambil pakaian casual dan jasnya dari dalam lemari, seketika Zaara keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk yang menutupi tubuhnya. Wangi segar green tea menyeruak dari arahnya, membuat pria itu tergoda.
“Udah selesai?” tanya Zaara melihat Arsene sedang mengganti pakaiannya.
“Udah, aku tunggu di luar ya?” ucapnya sumringah.
“Emang mau kemana?” tanya Zaara melihat penampilan suaminya yang sudah rapi dan tampan.
“Kita kencan di sini aja!”
Zaara tersenyum.
“Iya, aku siap-siap dulu!”
Arsene kembali keluar dari kamarnya, untuk menyempurnakan makan siang yang sudah ia persiapkan. Untung saja ada gelas cantik yang tersedia di sana. Arsene mengeluarkan minuman soda dan menuangkannya di dalam gelas cantik dan menaruh beberapa buah anggur hijau di dalamnya, sehingga seperti sebuah minuman champagne. Pria itu dengan gesit menyiapkan penataan meja makan sehingga terkesan romantis, meski tidak ada bunga di sana. Alunan instrumental piano dinyalakannya dari mesin audio di ruang tengah.
Tidak lama kemudian, Zaara keluar dari kamarnya. Dengan langkah ragu-ragu ia menghampiri suaminya yang masih menata meja. Tubuhnya sudah dibalut dengan dress selutut berwarna dusty pink dengan lengan model off shoulder yang menampakkan bahu dan leher jenjangnya. Kalung yang diberikan mertuanya berkilauan di dada atasnya. Ia juga mengenakan sepatu high heels cantik. Zaara tampak risih dengan penampilannya, karena ia tidak pernah terbiasa mengenakan dress terbuka seperti itu meski hanya di dalam rumahnya. Rambutnya digelung ke atas menyisakan anak rambut di depannya. Bibirnya terlihat ranum dengan lipmatte senada dengan outfit anggunnya. Zaara berdiri kaku sambil memeluk tubuhnya sendiri.
“Hai!” ucapnya agar suaminya itu menoleh.
Arsene yang sedang meletakkan garpu seketika menoleh, matanya terpaku dan terpana takjub dengan makhluk indah di depannya, sehingga tidak terasa menjatuhkan garpu yang masih ia pegang.
“Ini Zaara, istri aku?!” tanyanya saking tidak percaya kalau gadis di depannya adalah Zaara.
Zaara hanya terkekeh mendengar ungkapan suaminya.
Arsene lekas-lekas mengambil garpu dan menggantinya dengan garpu lainnya. Ia kembali memperhatikan istrinya dari atas sampai bawah, dan menyuruhnya berputar, semakin membuat Zaara salah tingkah.
Arsene mempersilakan istrinya itu duduk di kursi meja makan yang sudah tersaji hidangan menu mewah ala restoran. Wangi daging bercampur aroma rempah sangat menggugah selera. Zaara takjub dengan hidangan di depannya, apalagi menu ini spesial dibuatkan oleh suaminya sendiri. Rasa haru, bahagia, dan takjub bercampur menjadi satu.
__ADS_1
“Maaf, date pertama kita seadanya aja ya. Mungkin lain kali kita keluar, tapi aku pengen banget lihat kamu pakai baju itu!” ucap Arsene jujur.
“I’m speechless, gak tau lagi harus ngomong apa. Kamu benar-benar cantik, Zaara Sayang!” ungkap Arsene lagi, tentunya membuat mata Zaara berkilauan dengan pipi merah merona sempurna.
“Makasih banget, aku suka semua yang kamu persiapkan untuk kita!” ucap Zaara berkaca-kaca. Arsene menghampirinya, gadis itu memang sensitif, terharu sedikit air matanya menetes.
“Ooh...My dear!” Arsene menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
“Kita makan dulu yaa?” pinta Arsene. Zaara mengangguk dan kembali ke kursinya.
“Jadi kita makan menu apa ini?” tanya Zaara menyeka air matanya sambil tersenyum.
“This is a special menu from Chef Arsene, Young Lady! It’s called Beef Tenderloin Steak with Asparagus and Mashed Potatoes with Barbeque Sauce. I hope you like it!” ucapnya menuruti gaya Gordon Ramsay, chef terkenal internasional.
“Aku coba ya?”
“Please!”
“Bismillah…”
Zaara menyuapkan potongan daging lembut dan berair itu ke dalam mulutnya. Arsene menatapnya antusias ketika gadis itu mengunyah. Mata gadis itu membesar dan berkilauan.
“Masya Allah, enak banget! Aku baru makan ginian pertama kali,” ucap Zaara jujur, wajahnya terlihat menggemaskan di mata suaminya.
“Nanti aku buatkan lagi kalau kamu suka,” ucap Arsene. “Habiskan ya? Kita butuh banyak energi hari ini!” lanjutnya tertawa-tawa.
Zaara tertunduk tersipu-sipu. Keduanya pun menikmati dengan syahdu makan siang mewah yang sederhana di villa itu ditemani iringan alunan instrumental piano. Sungguh indah.
\======
Bersambung dulu yaa
Like, comment, dan votenya jangan lupa
Makasiiiih
__ADS_1