
Ajeng menghamburkan dirinya pada Mama setelah wanita itu tiba di rumah orangtuanya. Mama memeluk dan mengecup anak bungsunya itu, lalu mengelus perut yang di dalamnya ada calon cucunya.
"Mama sehat?" tanya Ferdian yang membawa bingkisan kecil berisi sekotak kue brownies kesukaan papa mertuanya. Ia mengecup punggung tangan mama mertuanya itu.
"Alhamdulillah, Mama dan Papa sehat Fer!"
"Papa kemana, Ma?" tanya Ajeng melihat sosok papanya itu tidak kunjung terlihat.
"Papa lagi ke Jakarta, katanya bentar aja, cuma mau ngecek proyek yang sedang mangkrak," jelas Mama.
"Oohh...."
Ferdian merebahkan tubuhnya di sofa. Sementara Ajeng dan Mama berjalan ke dapur. Ferdian memandangi dinding yang di sana terpampang foto-foto keluarga Ajeng. Memang ia jarang sekali datang ke rumah mertuanya ini, jadi pemandangan di rumah itu seperti baru baginya. Ajeng kecil terlihat dipajang di sana. Ia cukup familiar dengan wajah imut dan cantik itu. Ia jadi bertanya-tanya apakah anaknya akan mirip dengan dirinya atau justru istrinya. Dokter memberitahukan kalau anaknya itu berjenis kelamin laki-laki. Ah, ia jadi tidak sabar untuk segera menemui anaknya nanti.
Tiba-tiba Ajeng menghampirinya, sambil membawa mangkuk berisi rujak serut segar yang dibuat mamanya. Ia duduk di samping suaminya.
"Mau?" tawar Ajeng.
"Cobain dong!" pinta Ferdian.
Ajeng menyuapkan sendoknya. Mata Ferdian menjadi lebih segar setelah menyicip rujak buatan mama mertuanya yang berisi potongan mangga muda, wortel, dan bengkoang juga perasana lemon. Begitu segar dan pas rasa pedasnya, apalagi rujak serut itu sudah didinginkan terlebih dahulu.
"Buat aku, ya?" pinta Ferdian.
Ia langsung merebut mangkuk dan sendok dari tangan istrinya kemudian melahapnya sendiri. Ajeng cemberut dibuatnya, terpaksa ia harus mengambil mangkuk lain untuk diisinya lagi.
"Ajeng ngidam apa aja, Fer?" tanya Mama yang memandangi Ferdian tampak lahap menikmati rujak buatannya itu.
"Apa ya? Kayanya gak ada, Ma!" ucap Ferdian melirik ke atas.
"Bagus dong ya? Jadi kamu gak repot-repot! Dulu waktu hamil Ajeng, mama sering ngidam aneh-aneh, dan waktunya gak tepat. Misalnya dulu Mama pengen makan rujak kaya gini tengah malam. Papa sampai kebingungan. Untung aja dulu di rumah tetangga punya mangga muda, jadi Papa bikin dulu tengah malam," cerita Mama membuat Ferdian tak berkedip, meski mulutnya terus mengunyah.
"Wah hebat Papa!" ucap Ajeng yang baru duduk kemudian melahap rujaknya kali ini.
"Iya, pokonya pas Mama hamil kamu tuh ngidamnya aneh-aneh deh!"
"Oh iya, Ma! Kalau Ajeng tuh ngidamnya cuma satu!" ucap Ferdian kali ini, alis Ajeng mengernyit.
"Apa itu?" tanya Mama.
"Ngidam aku terus-terusan, Ma!" ucap Ferdian mendelik genit pada istrinya.
Mama tertawa-tawa saja.
"Emang kenapa?" tanya Mama lagi.
__ADS_1
"Kalau di kampus pokoknya harus ketemuan sama aku siangnya, dan dia cemburuan banget Ma!" terang Ferdian.
"Iya kah?"
Ferdian mengangguk mantap sambil menyuapkan sendok berisi rujak ke dalam mulutnya.
"Biasa aja kok Ma! Cuma emang agak lebih manja aja!" kata Ajeng meluruskan, mendelik kesal pada suaminya.
"Baguslah itu, kalian harus terus mesra, bentar lagi bakalan susah lho mesra berduaan aja! Karena nanti ada yang ganggu! Pasti kerasa banget waktu pacaran kurang," ucap Mama.
"Kalian harus manfaatkan momen kalian berdua, jalan-jalan kemana gitu, atau baby moon biar lebih rileks lagi buat ngehadapin kelahiran anak kalian nanti," lanjut Mama.
"Iya tuh, mumpung kita lagi libur kan Fer! Kita coba main kemana gitu?!" pinta Ajeng sumringah.
"Boleh deh!" jawab Ferdian.
"Eh kalian nginep di sini aja ya hari ini. Katanya Papa pulang malam," pinta Mama pada kedua anak di depannya.
Ajeng menatap Ferdian dengan tatapan memelas, berharap mengabulkan permintaan Mamanya itu.
"Iya, Ma! Kita nginep di sini malam ini! Kasian Mama gak ada temen," ujar Ferdian, membuat kedua wanita yang ada di sampingnya tersenyum lebar.
"Nanti Mama minta masakin makan malam spesial ke Bik Asih," ucap Mama senang.
"Eh tapi aku gak ada baju ganti," ujar Ferdian menatap istrinya.
Ferdian mendeliknya, tetapi bagaimana lagi, untuk beli pun sepertinya ia malas untuk keluar. Apalagi di luar awan mendung sudah menggantung meski hari masih siang.
"Nanti Mama cariin baju kaos yang agak kekecilan di Papa, kalau gak salah ada kok!"
"Makasih Ma!" ucap Ferdian tersipu.
Ferdian kemudian membisiki istrinya.
"Daleman aku gimana?" bisiknya berusaha mungkin tidak kedengaran mama mertuanya.
"Nanti aku beli online, cari yang COD (cash on delivery), wkwk!" jawab Ajeng.
"Beneran ya? Cepet beli sekarang!" seru Ferdian.
"Iya Pak Boss!" seru Ajeng langsung membuka aplikasi marketplace.
__ADS_1
\=====
Malam itu langit begitu berat, sehingga ia tak sanggup lagi menahan bebannya. Hujan turun sangat deras menghujam bumi. Untuk bersuara pun harus menaikan level volumenya agar terdengar jelas. Ajeng dan Ferdian masuk ke dalam kamar setelah berbincang panjang dengan Mama terkait dengan kehamilannya. Waktu masih menunjukkan pukl 20.05 malam itu.
Kamar Ajeng yang sudah lama ditinggalnya sudah rapi dan bersih. Kamar Ajeng tidak luas dan juga tidak terlalu sempit. Lemari pakaian miliknya belum kosong, masih ada banyak baju di sana. Kasur di kamar itu lebih kecil dari milik mereka di apartemen, yang menempel ke tembok pada sisi sebelah kiri.
Setelah mandi, Ajeng mengganti bajunya dengan sebuah long dress merah selutut lama miliknya dengan kerah berkerut lebar, sehingga menampakan tulang selangka sampai dada bagian atasnya. Karena hamil, buah dadanya itu makin terlihat besar. Parfum disemprotkan Ajeng ke bagian leher juga lengannya. Ferdian menatap istrinya lekat dengan hasrat kelaki-lakiannya.
"Kamu jangan lihatin aku terus kaya gitu ih, risih tau!" ucap Ajeng yang menyadari tatapan suaminya.
"Kenapa, gak boleh?"
"Bukan gak boleh, biasa aja lihatnya!" ucap wanita itu menutup mata suaminya.
"Kamu itu lagi dapat hujan pahala tau gak? Kalau suami menatap kamu kaya gitu harusnya makin seneng!" seru Ferdian melepas tangan Ajeng yang menutupi matanya.
"Iya deh!" Ajeng menggeraikan rambut panjangnya.
"Gak usah digerai, biar aja diiket gitu! Aku suka!" pinta Ferdian.
Ajeng menghela nafas dan kembali mengikat rambutnya.
Hujan masih terus turun, tampaknya masih akan lama. Ajeng menyandarkan tubuhnya di sandaran kasur. Ia membuka ponselnya. Sementara Ferdian merengkuh tubuh wanitanya dengan hati-hati karena khawatir bertumpu pada perutnya yang sudah besar. Ia menaruh kepalanya di ceruk leher Ajeng yang putih dan wangi.
"Aku selalu suka wangi kamu!" ucap Ferdian lembut.
"Makasih, Sayang!" balas Ajeng mengusap rambut Ferdian.
Ferdian mulai beraksi menyesap aroma leher istrinya. Ia mengecup leher jenjang istrinya sampai Ajeng bergidik kegelian. Ah, keduanya cepat sekali untuk saling memberi respon. Ferdian dengan lembut mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya sehingga mereka saling menautkan satu sama lainnya. Suasana hujan yang mendukung membuat aura cinta semakin panas dan syahdu. Lelaki itu sampai tak tahan menunggu lagi, segera saja ia mengeksekusi apa yang tertanam dalam hasratnya. Dengan cepat ia berpacu dengan waktu. Keringat berpeluh di wajah dan tubuhnya. Nafasnya memburu, jantungnya berderap kencang.
TOK.TOK.TOK.
"Ajeng....!" panggil mama.
Sontak membuat keduanya membeku seketika dan saling berpandangan dengan mulut membisu.
\=====
Duh ada gangguan >.<
Vote yuk ah
__ADS_1
Like & comment yaa
Makasiiiih <3