Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 2. Teman Sebangku


__ADS_3

Zaara kembali terduduk di atas kursinya sendiri setelah mengantarkan Arsene. Sementara siswa cowok itu memutuskan untuk pergi ke kantin seorang diri.


Zaara mendengus kesal, mengapa dirinya jadi repot-repot mengantarkan anak baru itu? Ia membuka kotak bekalnya, yang berisi beberapa buah sandwich buatannya sendiri. Dimakannya roti lapis berisi sayuran dan irisan daging sapi tipis ke dalam mulutnya. Waktu istirahat tinggal sepuluh menit lagi, artinya ia harus cepat-cepat menghabiskannya sebelum bel masuk kembali berbunyi.


Ruangan kelas tampak kosong, hanya ada 2 sampai 3 murid termasuk Zaara di sana. Siswa-siswa memang lebih betah berada di luar. Tiba-tiba Arsene datang sambil membawa sebungkus cokelat dan roti di tangannya. Lagi-lagi Zaara mendengus kesal, kenapa anak baru itu tidak makan di kantin saja?


Arsene duduk di sampingnya, sambil membuka bungkus roti itu lalu memakannya.


“Kalau makan tuh, ucap bismillah dulu!” celetuk Zaara di sampingnya, membuat Arsene menoleh ketika ia mengunyah roti itu.


“Eh sorry, kamu muslim bukan ya?” tanya Zaara melirik sedikit ke arah Arsene.


“Iya, thanks udah ngingetin!”


Arsene kembali melanjutkan makan. Sementara Zaara sudah berhasil menghabiskan roti sandwichnya, ia mengambil botol minumnya dan meneguknya perlahan.


“Alhamdulillah,” ucapnya pelan dan kembali memasukan botol minum itu ke dalam tasnya lagi.


Lutut Zaara bergoyang. Ia merasa risih berduaan saja dengan Arsene di sampingnya. Ditatapnya jam tangannya, masih lima menit lagi menuju bel masuk. Apa yang harus ia lakukan, sedangkan kelas masih sunyi.


“Saya mau keluar, bisa minggir sebentar?” tanya Zaara pada Arsene.


“Mau kemana?”


“Ih, bukan urusan kamu!” ujarnya datar.


“Bentar lagi juga masuk lho!” sergah Arsene.


“Biarin!” ucap Zaara ketus.


Arsene berdiri dari tempat duduknya dan membiarkan Zaara keluar dari bangkunya. Gadis itu pun berjalan menuju luar kelas, seketika bel masuk berbunyi membuat gadis itu membalikan tubuhnya dan kembali ke bangkunya.


Arsene cekikikan melihat hal itu. Ia tersenyum lebar pada Zaara yang wajahnya memberengut kesal.


“Kata saya juga apa!” ucap Arsene kembali beranjak dari kursinya membiarkan Zaara duduk di bangkunya yang menempel ke tembok. Zaara berdecak dan kembali duduk di atas kursinya.


Murid-murid mulai berdatangan dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.


“Saya mau tanya boleh?” ucap Arsene tiba-tiba setelah ia membuang sampai bungkus rotinya.


“Apa?!”


“Tadi pagi kamu gak mau duduk sama saya, karena saya laki-laki. Kenapa?” tanyanya penasaran.


Zaara menghembuskan nafasnya kasar.


“Karena kamu bukan mahram saya, tau?! Makanya gak boleh deket-deket, apalagi sampai sentuhan, BIG NO!” ucapnya ketus.


Alis Arsene terangkat, lalu mengangguk-angguk.


“Kalau saya jadi mahram kamu, mau gak?” tanya Arsene menggodanya.


Zaara menundukan kepalanya, sambil mengepalkan kedua tangannya, kesal. Ia memukul-mukul meja. Sementara Arsene berusaha mungkin untuk menahan tawanya. Ia menggeleng-geleng.


Tak lama, seorang lelaki berjanggut bertubuh tinggi masuk ke dalam kelas. Ia adalah guru fisika yang akan mengajar siang ini. Perhatian murid pun semua tertuju padanya.


\=====


Bel pulang telah berbunyi nyaring, membuat hati para murid yang telah lelah seharian belajar menjadi semangat dan riang. Sebagian besar mereka langsung keluar dari gedung sekolah, sebagian lagi masih bertahan di sekolah.


Zaara membereskan barang-barang miliknya sebelum pulang. Setelah lama mencatat apa yang dijelaskan oleh gurunya, meskipun bisa saja ia mendownload diklat yang dibagikan gurunya itu via penyimpanan online. Gadis itu lebih suka dan merasa lebih efektif jika mencatatnya langsung dalam buku catatannya. Sementara Arsene masih duduk di sebelahnya, sambil mengenakan jaket miliknya. Tiba-tiba geng cewek heboh kembali menghampiri meja mereka.


“Arsene, boleh minta nomor kamu gak?” tanya Cinta terlihat sok dekat dan sok manis.


“Nomor apa?” tanya Arsene pura-pura tidak mengerti.


“Nomor hp lah!” seru Cinta.


“Ooh, saya pake nomor ortu sih!” jawabnya jujur, karena ponsel yang dipakainya pemberian orang tuanya.


“Ah, gak asik! Masa zaman sekarang gak punya nomor pribadi?”


“Ya terserah mau percaya atau enggak, saya gak bohong!”


Cinta berdecak kesal, lalu melenggang pergi dari hadapannya, diikuti oleh ketiga cewek yang lain.


Arsene menggeleng kepala saja, lalu mengambil tasnya.


“Mau bareng?” tanya Arsene pada Zaara yang masih sibuk mengecek barang-barangnya.


“Apa?!” tanya Zaara berharap ia salah mendengar.


“Mau pulang bareng?” tanya Arsene hanya menggoda saja.


“Maaf, aku bisa pulang sendiri!” jawab Zaara ketus lalu berjalan keluar melewati Arsene yang masih berdiri di samping meja.


“Zaara!” panggil Arsene lagi, membuat gadis itu semakin naik pitam. Meskipun begitu ia menghentikan langkahnya lalu menoleh.


“Dompet kamu ketinggalan tuh!” ucap Arsene memegang sebuah pouch kecil berbunyi nyaring, seperti kumpulan koin receh yang saling beradu.


Zaara mengernyitkan keningnya.


“Nih!” Arsene mengulurkan tangannya ketika Zaara berjalan mendekatinya.


“Taruh aja di meja, biar aku ambil!” ujar gadis itu.


“Oke!”


Arsene menaruh dompet kecil itu di atas meja, dan Zaara langsung mengambilnya.


“Makasih!” ucapnya datar, dan langsung berjalan keluar.


“Dasar cewek aneh!” sungut Arsene pelan.


Arsene berjalan keluar kelas menuju pintu gerbang sekolah. Ia mengenakan hoodienya untuk menutupi kepalanya, dan duduk di salah satu kursi yang ada di dekat gerbang, menunggu kedatangan adiknya, Rainer.

__ADS_1


Sambil menunggu Rain, ia membuka novel sastra yang diberi mommy-nya. Akan tetapi fokusnya tidak tertuju ke buku itu. Jadi ia memutuskan untuk mencari sosok adiknya meski hanya duduk di sana. Beberapa siswa yang mengenakan hijab lebar terlihat berjalan di depan melewatinya. Ada lima orang siswa di sana, termasuk Zaara yang sedang tersenyum lebar memperlihatkan giginya, sesekali gadis itu menutup mulutnya sambil tertunduk. Empat siswi lainnya, Arsene yakini bukan termasuk teman sekelasnya. Mungkin sesama anak rohis, pikirnya. Entah kenapa, Zaara terlihat begitu berbeda ketika berada dengan teman-temannya. Zaara yang berhadapan dengannya berbeda 180 derajat, gadis itu begitu galak dan ketus, juga aneh. Tak habis pikir olehnya, ternyata gadis itu bisa tersenyum lebar seperti itu.


“Yuk pulang, Bang!” ucap seseorang yang sudah berdiri di depannya. Arsene mendongakan wajahnya.


“Kok tau abang di sini?”


“Kan abang pake jaket gue!” ucap Rainer datar.


Arsene terkekeh-kekeh, lalu berdiri dan merangkul bahu sang adik menuju parkiran motor.


\=====


Dering ponsel terdengar nyaring dari atas meja belajar milik Arsene di kamarnya. Pria remaja yang sedang membaca kembali pelajarannya itu beranjak dari kasurnya dan menggapai ponselnya. Di layar tertulis nama Mommy yang melakukan panggilan sore itu.


“Assalamu’alaikum….” sapa mommy Ajeng lembut.


“Wa’alaikumsalam….”


“How was your first day at school (Gimana hari pertama kamu di sekolah)?” tanya Ajeng ramah, suara bising ketokan palu menjadi latar belakangnya.


“Great, Mom!” jawabnya singkat sambil kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.


“Udah punya teman?”


“Ada, tapi teman sebangku.”


“Nice! How is he?” tanya Ajeng antusias.


“Dia cewek, Mom! Aku sebangku dengan anak cewek!” ucap Arsene mengklarifikasi.


“Ooh wow! Jadi gimana dia, apakah agresif, sok manja, SKSD, atau sok jaim?” Ajeng memberondong anaknya dengan tebakannya. Maklum saja, putranya itu termasuk kriteria cowok tampan dan cukup populer di sekolah sebelumnya di Singapura. Meskipun tetap saja Arsene mirip seperti daddy-nya yang tidak peduli dengan itu semua. Ya, buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya.


“She is weird (Dia aneh), Mom! Dia kaya semacam punya sifat konservatif gitu!” terang Arsene.


“Konservatif gimana maksud kamu?”


“Ya, kolot! Awalnya dia nolak gak mau sebangku denganku cuma karena aku cowok, terus dia minta jaga jarak sama aku. You see that?!” terang Arsene lagi


“Maksud kamu dia jaga jarak karena kamu cowok? Aww… she is cute!” ucap Ajeng riang


“Cute apaan? Galak banget, Mom!”


“Dia gak kolot, tapi berusaha mempertahankan prinsip agamanya. You should appreciate her (Kamu harus menghargai dia)!” seru mommy-nya itu.


“But….”


“Udah gak apa-apa. Kalau dia maunya kamu jaga jarak, ya ikutin aja! Kamu juga sering ngaji, pasti ngerti kan?!”


“Yes, tapi aku kan gak terlalu begitu!” ucap Arsene membela dirinya.


“Ah, buktinya kamu pun cuek-cuek aja kalau ada yang kejar atau nembak kamu! You’re just the same (Kamu sama aja)!”


“I just don’t like it (Aku cuma gak suka)!”


Arsene menghela nafas, mengapa topik teman sebangku yang dibahasnya?


“Mom, do you miss me (Mom, kamu rindu aku)?” tanya Arsene mengubah topik pembicaraan.


“Of course, sweetheart! Daddy misses you too! (Tentu, Sayang! Daddy juga rindu kamu)!”


“Dimana Kirei?”


“Dia lagi sama Daddy, benerin lemarinya yang rusak! Oh ya Rain mommy mana? Gimana sekolah dia?” tanya Ajeng.


“Rain lagi mandi. Tapi nasib Rain masih lebih baik kok daripada aku.”


Ajeng tertawa-tawa.


“Ya udah, istirahat lagi ya, salam buat kakek dan nenek! I love you!”


“Mom!” panggil Arsene sebelum mommy-nya menutup sambungan.


“Kenapa Sayang?”


“Calon adik aku, laki-laki atau perempuan?”


“Hmm...kemarin sih kalau lihat di USG katanya laki-laki!”


Arsene tersenyum lebar.


“Ya udah ya, mungkin besok daddy yang telepon kalian. Salam sayang buat Rain! We love you, mwuach! Assalamu’alaikum….”


“We love you too! Wa’alaikumsalam….”


Orang tua Arsene dan Rainer, yaitu Ajeng dan Ferdian memang masih tinggal di Singapura. Adik mereka yang berusia 9 tahun, Kirei Elora, masih bersekolah dasar di sana. Lagipula Ajeng sedang mengandung anak keempatnya di usia yang ke 41 tahun, agak riskan memang dengan kehamilan di usianya yang menginjak kepala empat. Oleh karena itu, Ferdian lebih memilih tinggal di Singapura sampai istrinya itu melahirkan, lalu kembali ke Bandung nanti jika memungkinkan.


Saat ini Arsene dan Rainer tinggal bersama kakek dan neneknya, orangtua Ajeng, karena mereka merasa lebih nyaman tinggal di sana daripada dengan oma dan opa mereka dari garis ayahnya. Meskipun sebenarnya keduanya sangat baik. Hanya saja Opa Gunawan jauh lebih sibuk daripada Kakek Jaya, sehingga mereka masih bisa mendapat perhatian penuh.


\=====


Zaara menaruh tasnya di atas meja belajar, sesampainya ia di rumah. Ia menghela nafas panjang sambil merebahkan tubuhnya di kasur, lalu membuka kerudungnya.


“Umiii….” teriaknya saat gadis itu berjalan keluar kamar.


Namun uminya itu tidak menyahut panggilannya.


“Kemana umi?” tanya Zaara pada adik satu-satunya, Zayyan yang berbeda 2 tahun dengannya, sedang mengerjakan PR.


“Ke warung mungkin!” jawabnya tanpa menoleh.


“Eh, di kelas kamu barusan ada murid baru ya?” tanya Zaara duduk di samping adiknya yang fokus.


“Kok Teteh tau?” tanyanya, kini menengok ke arah kakaknya.


“Tau lah! Haha!” ucapnya bangga.

__ADS_1


“Ganteng hayo, Teh! Zayyan punya saingan, euy!” ucap Zayyan antusias.


“Dih, saingan apa?”


“Ya saingan atuh, sama-sama ganteng!” ucap Zayyan percaya diri.


“Heleh, pede banget kamu mah! Siapa nama anak barunya?”


“Namanya Hujan! Alias Rain, nama lengkapnya Rainer Liam, pindahan dari Singapura,” terangnya lengkap sekali.


Zaara mengangguk-angguk.


“Dia sebangku sama aku lho, Teh! Jadi kaya kembar gitu karena sama-sama ganteng! Uh, cewek-cewek langsung kumpul di meja kita!” ucap Zayyan bangga.


“Ehh… bilangin ke abi hayo lho!”


“Belum juga selesai ceritanya. Ya aku usir semua lah cewek-cewek itu!”


“Bagus, bagus!” Zaara memberi dua jempolnya untuk adiknya itu.


“Teh, mandi sana! Kakinya bau ih!” celetuk Zayyan menutup hidungnya.


“Eh, udah cuci kaki juga! Kamu kali yang bau!” sungut Zaara, lalu pergi lagi ke kamarnya.


Zaara kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Ketika suara uminya terdengar, gadis itu langsung beranjak lagi keluar kamar.


“Umiii….”


“Apa Sayang?” tanya uminya membawa belanjaan dari warung.


“Aku mau tanya! Tapi jangan ngobrol di sini, ada Zayyan nguping ntar!” serunya, membuat Zayyan mengerucutkan bibirnya.


“Ganti baju dulu sana!” suruh uminya yang berjalan ke dapur.


Terpaksa Zaara kembali ke kamarnya untuk membuka seragamnya dan memakai pakaian rumahnya. Gadis itu langsung berlari menyusul uminya.


“Mi… aku mau tanya!” ucapnya terduduk di kursi meja makan.


“Iya, kenapa Zaara shaleha?”


“Kalau di sekolah, misalnya ada murid sebangku tapi cewek-cowok boleh gak?” tanyanya memainkan jarinya.


Umi Karin menoleh ke arahnya, ia menaruh belanjaannya di samping tempat cuci piring, lalu duduk di kursi berhadapan dengan putrinya.


“Sebangku, berlawanan jenis?”


Zaara mengangguk.


“Setahu umi, kalau masih dalam proses belajar mengajar sih gak apa-apa. Karena kalau dalam pendidikan, perempuan masih boleh berinteraksi dengan laki-laki. Tapi, di luar keperluan itu, gak boleh. Misalnya karena sebangku, jadi berkhalwat atau berdua-duaan di luar jam pelajaran,” terang Umi Karin.


Zaara termenung, berarti tidak apa-apa kalau ia sebangku dengan Arsene. Hanya saja jika di luar jam pelajaran, maka interaksinya harus dibatasi. Seandainya ada meja kosong yang lain, mungkin ia tidak perlu risau.


“Ada apa memangnya?” tanya umi menatap putrinya.


Zaara menghela nafas, wajahnya memberengut kesal.


“Ada murid baru di kelas Zaara. Kan Zaara duduk sendiri, jadinya murid baru itu sebangku sama Zaara, karena gak ada bangku kosong yang lain,” terang Zaara cemberut.


“Murid barunya laki-laki?”


“Iya, Mi!”


“Ya udah gak apa-apa. Pesan umi, berteman boleh. Asal kamu tetap jaga diri, dan pegang teguh nilai agama. Jangan berdua-duaan kalau bukan masalah sekolah. Umi percaya kamu kok!”


Zaara mengangguk.


“Kalau kamu bisa jaga diri, dia pasti akan segan sama kamu!”


“Haruskah Zaara bilang sama abi?”


“Gak perlu, abi juga percaya sama Zaara!” ucap uminya menguatkan.


“Syukron, Mi!”


Umi tersenyum menatap putrinya yang kembali ke kamarnya. Ia tahu resiko bersekolah di lingkungan yang tidak agamis membuat putrinya itu akan sering bersinggungan dengan makhluk bernama laki-laki. Ia hanya bisa berdoa agar Allah senantiasa menjaga putra-putrinya dimanapun berada.


\=====


Bersambung


LIKE, COMMENT, DAN VOTE YAA


Thank youu


\=====


PENGUMUMAN 🎈


Buat yang nungguin cerita Ridho dan Patricia, kelanjutannya ada di novel sebelah ya


Judulnya :


🔥 High Voltage Love 🔥



Langsung klik foto profil author Choi Aerii di home yaa


Jangan lupa klik FAVORITE


Biar gak ketinggalan notifikasi updatenya


Like, comment dan vote juga ya


terima kasih 😊❤

__ADS_1


__ADS_2