
Malam itu Arsene baru saja pulang. Pria berjaket hitam itu menaiki tangga menuju ke kamarnya, melihat suasana rumah sudah sepi. Para penghuni rumahnya sudah berada di dalam kamar masing-masing. Pria itu bersin ketika menaiki anak tangga. Beberapa kali, pria itu bersin kembali. Seseorang membuka pintu kamar dari lantai bawah.
“Abang!” suara lembut memanggilnya, membuat Arsene menghentikan langkahnya.
“Ya, Mom?”
Ajeng yang mengenakan gaun tidur panjang muncul dari bawah tangga, wajahnya menengadah melihat tubuh anaknya yang masih berdiri di tangga.
“Udah makan malam?” tanya Ajeng sambil mengikat rambutnya yang tergerai.
“Belum, tapi tadi cuma habisin kue yang ada di toko,” Arsene kembali menuruni tangga, dan meraih tangan ibunya untuk dikecup.
“Tuh ada jus di kulkas, siapa tau kamu mau. Baru dibikin kok!” Ajeng memperhatikan wajah anaknya yang terlihat letih.
“Iya, makasih, Mom!”
Arsene berjalan menuju dapur dan membuka pintu kulkas. Melihat segelas jus berwarna oranye terang dengan aroma segar, ia mengambil gelas itu dan langsung meneguknya ketika tubuhnya duduk di kursi meja makan.
Ajeng berjalan mengikuti anaknya, lalu duduk di hadapannya. Wanita yang masih terlihat seperti usia 30 tahunan itu memandangi anak sulungnya sambil tersenyum. Entah kenapa melihat Arsene sekarang ia merasa bahagia sekaligus cemas. Bahagia karena anak muda di depannya itu hidup penuh semangat dengan banyak rencana yang sudah tersusun, teringat seperti dirinya dulu. Tetapi di satu sisi ia cemas, karena khawatir kerja keras anaknya itu menemui masalah besar, mengingat Arsene masih sangat muda meniti karir sekaligus kuliahnya. Bahkan saat melihatnya terluka, karena gadis pujaan hati anaknya itu tengah disasar juga oleh anak sahabatnya. Sebagai ibu, rasa khawatir itu tidak berlebihan. Ia ingin anaknya itu mendapatkan yang terbaik.
“Jangan terlalu memaksakan diri kamu, Cen!” ujar Ajeng masih terus memperhatikan anaknya yang sedang meneguk jus buah buatannya itu.
Arsene melirik ibunya.
“Aku suka semua aktivitas yang aku lakukan, Mom!” jawabnya sambil kembali menghabiskan isi gelas panjangnya.
“Tapi jangan sampai buat kamu sakit. Toko kamu kan udah ada Kak Alice yang kontrol, seenggaknya kamu bisa lebih santai buat mengelolanya,” ucap Ajeng sambil menopang dagu pada satu tangannya.
“Tetap aja mereka harus dikontrol, Mom! Aku harus tau kendala apa yang dihadapi mereka setiap hari,” jawab Arsene beranjak, kemudian menaruh gelas kotornya di basin cuci piring.
Ajeng menggeleng-geleng. Arsene kembali duduk di kursinya tadi lalu melihat isi meja makan yang tertutup tudung saji.
“Kamu mau makan apa?”
“Aku makan yang ada aja, Mom!” Lelaki muda itu mengambil sebuah mangkuk berisi spaghetti bekas makan malam tadi. Arsene memang jarang sekali makan malam bersama keluarganya karena selalu pulang terlambat ke rumah. Pria itu mengambil garpu dan mulai memakan spaghetti yang sudah dingin.
“Aku jadi kepala panitia Idul Adha di LDK, Mom!” cerita pria muda itu.
“Jangan terlalu sibuk, Cen!”
“Aku belum sibuk, Mom! Aku ingin coba juga terjun di sana. Siapa tau aku bisa jadi leader perusahaan opa atau kakek suatu hari nanti,” ucapnya sambil tersenyum, lalu mengunyah spaghettinya.
“Emang kamu mau mimpin perusahaan?”
__ADS_1
“Enggak juga sih! Tapi di LDK aku belajar terkait kepemimpinan dan organisasi. Aku tertarik!” ucapnya santai.
“Mommy gak akan larang kamu, asal kamu tetap bisa fokus sama kuliah dan bisnis kamu.” Ajeng benar-benar melihat Arsene seperti dirinya yang penuh ambisi. Bahkan anaknya itu lebih liar lagi.
Arsene masih asyik mengunyah spaghettinya, kemudian ia mengambil gelas yang diisinya dengan air putih. Pria muda itu meneguknya, lalu menyimpan gelasnya di sisi mangkuk yang isinya kini sudah kosong.
“Oh ya, Mom! Tau gak?” ucapnya belum selesai sambil menatap wajah ibunya.
“Apa itu?” tanya Ajeng.
“Zaara dan Raffa mereka gak ada hubungan apa-apa,” ucap Arsene santai, senyumnya muncul di bibirnya yang merah muda.
“Oh ya?” Mata Ajeng membesar tidak percaya.
Arsene mengangguk.
“Tau darimana kamu?” tanya Ajeng mulai menyelidik, ia pun penasaran dengan apa yang terjadi. Baik Karin dan Sita tidak pernah membicarakan terkait apa yang terjadi pada anak-anak mereka padanya. Mungkin khawatir dirinya akan tersinggung. Ia pun tidak ingin bertanya, biarlah anak-anak mereka menjalani kehidupannya sendiri tanpa campur orangtuanya. Ajeng dan Ferdian sudah berkomitmen tidak akan mencampuri urusan asmara anak-anaknya, meski tetap mereka siap mengarahkan dan memberinya nasihat.
“Aku temuin surat jawaban Zaara untuk Raffa!”
“What?! Are you sure?!” Ajeng benar-benar kaget kali ini. Bagaimana mungkin Arsene menemukan surat dari Zaara untuk Raffa? Apa anaknya itu telah mencurinya? Ajeng benar-benar tidak habis pikir.
“Aku nemu surat mereka di tong sampah di masjid! Haha!” ucapnya bangga sekali.
“How could you do that?!”
“Ya ampun!” Ajeng benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan anaknya. Arsene benar-benar gila mengambil surat itu dari tong sampah. Apa sesuka itu anaknya pada Zaara?
“Terus aku tanya langsung ke Zaara, apa dia ada hubungan sama Raffa? Dia jawab, nope!”
Ajeng terkekeh-kekeh melihat anaknya yang memang ‘gila’ itu. Benar-benar, dia selalu bertindak di luar dugaan, terlebih lagi selalu ada saja kejadian yang memang membuat dia melakukan hal aneh.
“Jadi apa rencana kamu, Abang Acen Sayang, anak mommy paling kece dan keren ini?”
Arsene jadi tersipu-sipu mendengar ucapan ibunya itu. Ia menutup bibirnya yang sedang tersenyum dengan tangannya.
“We’ll see, Mom!” ucapnya tersenyum lebar.
“Jangan bertindak seenaknya, kamu punya orangtua yang bisa buat diajak diskusi!” ucap Ajeng memperingatkannya.
“Sure, Mom! Aku masih nimbang semuanya, terutama masalah diri aku.”
“Baguslah. Don’t ever do anything without consideration (jangan pernah lakukan apapun tanpa pertimbangan), libatkan Allah pada setiap keputusan kamu ya, Sayang?!”
__ADS_1
“I will, Mom! Aku istirahat dulu ya?” Arsene beranjak dari kursinya lalu menaruh mangkok dan gelasnya kembali di basin cuci piring.
“Sleep well, sweetheart!” ucap Ajeng pada anaknya yang melangkahkan kakinya pada anak tangga berjalan menuju kamar tidurnya.
Arsene membersihkan tubuhnya dan menunaikan shalat isya yang tertunda sebelum dirinya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pria itu mengambil sesuatu dari laci meja belajarnya. Sebuah buku agenda yang biasanya dijadikan tempatnya untuk menuliskan rencana, target, evaluasi, serta jadwal agenda.
Pria yang masih menutupi kepalanya dengan handuknya itu membuka lembaran-lembaran kertas buku yang ada di pegangannya. Sebuah pulpen berada di tangan kanannya. Satu frase tertera di sana, bunga indah yang menyenangkan, ia menuliskannya dengan itu. Di bawahnya tertulis sajak pendek yang ia buat sendiri saat pertama kali merasakan rasa itu..
Keras seperti batu
Tangguh seperti baja
Hingga datang ombak menderu
Memecah karang di ujung senja
Aku tahu dirimu sejak dulu
Melalui cerita semanis madu
Namun ingatan tak mengantarkanku
Nyatanya waktu membuat bertemu
Bunga indah sempat layu
Terkulai oleh angin syahdu
Kuharap esok mengantar rindu
Tersambut asa dan cinta penuh haru
Pemuda itu menengadahkan wajahnya ke langit-langit atap kamarnya, seolah pandangannya menembus menuju langit luas, memandang kelap-kelip bintang yang berkilauan, Ia tinggal di bumi, memijak tanah. Akan tetapi harapannya ada di ujung langit tertinggi yang tidak bisa terlihat. Hanya iman yang bisa mengantarkannya pada tempat itu.
Arsene kembali melihat catatannya sendiri. Beberapa cita dan harapannya tertulis di sana. Ia telah men-check list pada harapan yang sudah ia jalani dan sudah berproses. Pria itu mengambil sebuah buku kecil. Buku yang mengubah paradigma hidupnya. Kemudian ia memandangi buku catatannya lagi. Ada banyak list di sana terkait dirinya, yang menurutnya selama ini menjadi kekurangannya.
Sudahkah cukup untuk maju ke misi berikutnya?
\=====
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan komentarnya yaa
__ADS_1
like dan vote juga
terima kasih