
Wangi rerumputan yang baru dipangkas tercium segar. Tanaman-tanaman hijau lainnya merunduk malu tersentuh oleh angin yang tak berwujud. Terdengar gemericik air yang menenangkan hati. Matahari bersinar hangat menyempurnakan fotosintesis para makhluk hijau.
“Makan ya!” ucap Ryu pada ikan-ikan koi yang berenang di kolam pancuran di halaman belakang. Mata balita itu berkilauan ketika mulut ikan melahap butiran makanan yang ia lemparkan ke dalam kolam. Bibirnya melebar.
Setelah pakan ikan di tangannya habis, ia segera berlari ke dalam rumahnya.
“Ayaaah, habis! Minta lagi!” ucapnya pada Arsene yang baru saja akan menghampirinya.
“Ikannya udah kenyang, Sayang! Besok lagi ya?” Arsene memegangi bahu anaknya itu.
Ryu membulatkan bibirnya.
“Cuci tangan yuk! Kita makan dulu, Uma udah masak tuh!”
Arsene menggendong Ryu menuju sebuah wastafel di ruang makan dan mencuci tangan anaknya dengan bersih. Sementara Zaara sudah menyiapkan sarapan pagi dan menatanya di atas meja.
“Ayo makan dulu!” ajak Zaara pada keluarga kecilnya.
Arsene membiarkan anaknya berjalan menuju ibunya. Zaara segera memangku anaknya.
“Bismillahirrahmaanirrahiim…”
Ketiganya menyantap sarapan pagi di rumah baru mereka yang sudah ditinggali selama tiga bulan belakangan ini. Rumah itu sudah terisi lengkap dengan semua perabotannya. Rumah impian mereka benar-benar terwujud di tahun ke-5 pernikahan mereka, sesuai dengan target maksimal yang sudah mereka rencanakan di awal pernikahan.
Kini harapan lain tengah menanti.
\======
Malam terasa sunyi. Hanya ada bunyi riak-riak air dari ikan-ikan yang masih bergerak di kolam, juga beberapa kendaraan yang melintas di jalan raya.
Ryu sudah tertidur di kamarnya sendiri yang bersebelahan langsung dengan kamar orangtuanya. Balita itu sudah hampir berusia tiga tahun sekarang ini. Zaara menyalakan lampu tidur yang hangat dan menutup pintunya kemudian. Ia berjalan menuju kamarnya.
Arsene sudah berada di atas kasur sambil menyalakan laptopnya. Zaara duduk di sampingnya, ikut memperhatikan layar laptop.
“Jadi kapan peresmian cabang toko di Jakarta?” tanya Zaara, ketika melihat materi promosi yang juga sedang dilihat Arsene.
Arsene menegakkan posisi tubuhnya.
“Insya Allah bulan depan. Doain ya, mudah-mudahan setelah Jakarta, kita juga bisa buka di kota lain.”
“Aamiin ya Rabb!”
Arsene memutuskan untuk mematikan laptopnya dan menaruhnya di atas meja kerjanya. Ia kembali berbaring di atas kasurnya sambil merangkul bahu sang istri.
“Apa ada rencana kamu yang lain?” tanya Zaara menatap wajah suaminya, sementara dirinya menyandarkan kepalanya di dada Arsene.
“Hmm… ada, pasti itu!”
“Apa itu?” tanya Zaara ingin tahu.
“Beli mobil, biar aktivitas aku gampang untuk kontrol semua toko aku. Kedua, aku mau kerja di hotel Daddy di waktu tertentu aja, mungkin setelah memastikan dua toko berjalan lancar aku bisa fokus lagi jadi chef pastry. Ketiga, aku pengen kita punya tabungan haji. Keempat …,” kalimat Arsene terputus.
“Apa yang keempat?”
“Tambah istri!” ucap Arsene tertawa-tawa, membuat Zaara mengetuk kepala suaminya, cemberut.
“Bercanda Sayang! Punya kamu aja udah cukup kok! Aku udah bahagia banget bisa hidup sama kamu …” jawab Arsene.
“Tambah anak, maksud aku!” sahut Arsene lagi. “Udah siap lagi belum?” tanya Arsene menatap wajah istrinya.
“Udah belum ya?” Zaara bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Arsene masih menunggu jawaban istrinya.
“Insya Allah. Aku siap!” jawab Zaara pada akhirnya.
“Beneran ini belum isi?” pria itu mengelus lembut perut istrinya sambil menempelkan telinganya di sana. “Nanti kaya waktu itu, tiba-tiba udah isi aja deh!”
“Belum. Lagian baru selesai haid seminggu yang lalu!”
“Oh iya ya!”
“Mau tambah anak berapa lagi?” tanya Zaara.
“Aku pengen buat kesebelasan! Hahaha!” jawab Arsene tertawa-tawa.
“Ih capek ngurusnya!”
__ADS_1
“Ya tinggal nambah asisten rumah tangga aja, gampang kan?”
“Iya tapi kan bukan sekedar fisik aja, tapi perhatian, pendidikan, akidah mereka juga.”
“Bercanda Sayang! Tiga sampai lima cukup lah!” timpal Arsene.
“Hahaha, gimana Allah aja deh!” jawab Zaara pada akhirnya.
Arsene menangkup pipi istrinya, menatapnya lekat pada kedua bola matanya yang membuat jantung Zaara berdesir. Perempuan itu mengedipkan matanya, grogi.
Tiba-tiba suara bel terdengar. Ting tong.
Arsene dan Zaara sama-sama terkejut. Siapa?
“Abang keluar sana. Siapa malam gini bertamu?” tanya Zaara. Ia menengok jam dinding yang menunjukkan jarum ke angka 7.30.
“Gak tau tuh. Kamu pake kerudung juga, temenin aku!” seru Arsene.
Zaara segera mengambil gamis dan kerudungnya. Ia mengikuti langkah suaminya dan berjalan keluar rumah.
Halaman rumah mereka yang luas cukup membuat mereka was-was. Pasalnya tidak banyak kerabat tahu rumah baru mereka.
Arsene mengintip sedikit dari lubang yang ada di pagar besi bertutup panel semi kayu.
“Ya Allah, dikirain siapa?!” ujar Arsene segera membuka pintu pagar rumahnya. Zaara yang berdiri di belakang penasaran.
“Maaf bos ganggu nih malem-malem gini!” ujar seorang pemuda yang usianya lebih tua daripada Arsene. Itu Erwin, salah satu karyawan delivery Sweet Recipes.
“Ada apa, Kang?! Masuk dulu yuk!”
“Di sini aja, Bos! Mau anter kue aja.”
“Kue?! Siapa yang pesen?” tanya Arsene terkejut.
Bukannya menjawab, Erwin malah berlari ke mobil van putih milik Sweet Recipes itu. Pria itu bergegas mengambil sebuah kotak dan mengantarnya pada Arsene.
“Buat siapa?” tanya Arsene terheran-heran menerima kotak berwarna cokelat tua itu.
“Ada lah! Aku balik lagi ya Bos! Anak-anak udah pada nungguin. Hehe!”
“Eh … makasih Kang!” seru Arsene.
Arsene memberi kotak itu pada istrinya yang juga terheran-heran. Pria itu segera menutup dan mengunci kembali pintu pagar rumahnya.
“Dari siapa?” tanya Zaara ketika keduanya masuk kembali ke dalam rumah.
“Coba kita buka aja di dalam.”
Zaara meletakkan kotak itu di atas meja makan. Mereka duduk dan mulai membukanya. Ada sebuah amplop di sana. Arsene membuka amplop yang ternyata berisi sebuah kartu berukuran A5, berwarna biru muda dengan foto Arsene dan Zaara di sana.
Arsene memandangi istrinya yang terlihat antusias. Kartu itu dibuka. Ternyata itu adalah kartu ucapan pop up, sehingga foto yang sudah ditempel terlihat berdiri tegak ketika dibuka. Terlihat foto-foto Arsene dan Zaara lainnya, saat mereka menikah, di Sydney, di toko, dan Ryu saat bayi juga ada di sana.
Happy 5th Anniversary for Arsene & Zaara
Tabarakallah, semoga pernikahan kalian selalu dilimpahkan keberkahan dan kebahagiaan hingga di surga. Aamiin.
From us with a lot of love, (Sweet Recipes Family)
“Masya Allah, mereka kasih kita ini, Sayang! Kita aja gak ngeh kalau hari ini ulang tahun pernikahan kita.” ucap Arsene terharu. Ia benar-benar tidak menyangka, kalau rekan kerjanya mempersiapkan ini untuk dirinya dan Zaara.
Zaara tidak berhenti tersenyum, apalagi ketika memperhatikan kartu pop-up yang sangat membuatnya senang. “Lucu bangeeet!” ucap Zaara.
Arsene kemudian melihat isi kotaknya. Di sana ada kue cotton layer cake dengan frosting berwarna biru dan pink, penuh dengan sprinkle bintang berwarna-warni.
“Cantik banget ini kuenya!” ujar Zaara.
“Mau makan ini?” tanya Arsene.
“Iya aku mau coba!” Zaara antusias.
Arsene segera mengambil pisau khusus kue dan memotongnya. Krim lembut manis berpadu dengan tekstur cotton cake yang ringan adalah kombinasi yang cocok. Manisnya pas sekali.
“Enak?”
“Enak banget!”
“Ini pasti buatan Kang Anton.”
__ADS_1
Arsene tidak mau kalah untuk memakan kue itu. Sambil terus menatap wajah istrinya yang berseri.
“Ryu pasti suka banget kue ini!” ucap Zaara menjilati jarinya yang penuh dengan krim lembut.
“Iya, apalagi warnanya cantik begini.”
Tiba-tiba Arsene tertawa-tawa, membuat Zaara mengernyit keheranan.
“Kenapa tiba-tiba ketawa gitu?” tanya Zaara.
“Kamu lucu!” jawab Arsene.
“Kenapa?”
Arsene segera mendekatkan kursinya pada Zaara. Melihat gelagat mencurigakan Arsene, Zaara terlihat was-was.
CUP. Arsene dengan cepat mengecup bibir istrinya.
“Ih, abang genit!”
“Itu habisnya ada krim nempel di bibir atas kamu,” jawabnya tertawa-tawa sambil menjilati tangannya.
Zaara membulatkan bibirnya. Tetapi sejurus kemudian, dirinya yang mengecup singkat bibir suaminya. Mata Arsene membelalak. Zaara tertawa-tawa.
“Ada krim juga di bibir aku?”
Zaara hanya tertawa dan tidak menjawabnya.
“Sayang ….”
Zaara malah melenggang pergi dari sana dan bergegas mencuci tangannya di basin cuci meja dapur.
Arsene menyimpan kue itu di dalam kulkas dan menyusul istrinya untuk membersihkan tangannya.
“Kamu modus ya?!” tebak Arsene.
“Modus apa?!”
“Buat cium aku.”
Zaara hanya mencebik. Melihat ekspresi istrinya, Arsene semakin gemas saja. Pria itu menarik lengan istrinya dan menempelkan tubuhnya, sehingga mengeliminasi jarak di antara keduanya.
Keduanya saling bertatapan masih berdiri di dapur.
“Kenapa?” tanya Zaara.
Arsene tersenyum lebar. Ia menarik pinggang istrinya dan mendekatkan wajahnya. Meraih bibir bulat imut itu dan mengulumnya lembut. Terpejam sama-sama saling merasakan kehangatan dan kesyahduan suasana itu. Arsene melepaskan ciumannya.
“Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup aku. Aku selalu mengharapkannya. Aku gak nyangka kita sudah sejauh ini melangkah bersama. Semenjak ketemu kamu, hidup aku terasa berwarna, dan hidup aku dipenuhi oleh banyak harapan. Terima kasih sudah menjadi bagian dari sekian impianku yang terwujud. Aku akan terus bersyukur karena kamu ada di sisi aku,” ucap Arsene lirih sambil membelai wajah istrinya yang tersenyum haru.
Ucapan Arsene membuat hati Zaara bergetar dengan matanya yang berkilauan. Membuat air matanya menetes tanpa seizinnya.
“Aku akan selalu berada di samping Abang. Aku juga bersyukur karena Allah mempertemukan kita dan menyatukan kita dalam pernikahan ini. Aku gak tau apa yang terjadi jika Abang gak pernah muncul di hidup aku. Aku sayang kamu!” Zaara memeluk erat tubuh suaminya.
“Aku juga sangat sayang kamu!” balas Arsene mengelus lembut rambut istrinya. Ia mengecup lekat-lekat kepala istrinya dan menggendongnya menuju kamar.
Hidup ini memang tidak panjang, hanya saja harapan dan impian membuatnya terasa lebih berarti. Waktu memberi jejak berharga, menjadi pelajaran dan bekal untuk di masa mendatang. Sedangkan iman akan menuntun agar langkah tidak tersesat hingga terus akan menapaki jalan yang lurus. Keteguhan hati membuat kuat dan sabar untuk menjalani waktu yang tersisa.
Cinta anak muda memang menggebu-gebu, tetapi harapan dan impian mereka jauh lebih tinggi dan besar. Dari titik inilah kehidupan yang lebih baik akan bermula, bersama cita-cita yang akan siap dituai nanti, di saat yang tepat.
Sampai jumpa ~
\======
Terima kasih banyak atas semua dukungan kalian
Terima kasih kebersamaan kalian semua
Sampai jumpa di sekuel MCS berikutnya ^_^
Love you all
__ADS_1