
“Selamat datang!” ucap Arsene semangat. Hatinya berdebar karena pelanggan keduanya adalah orang spesial.
Gadis berhijab itu terlihat datang sendiri dengan senyuman dan mata berbinarnya terpasang di wajahnya. Manik matanya tampak terpesona dengan desain interior dari toko milik temannya itu.
“Sweet smile for a sweet treat (Senyum manis untuk suguhan yang manis)!” ucap Arsene tersenyum lebar menyambut pelanggan barunya.
“Eh apa?” tanyanya tidak terlalu menangkap sambutan pemilik toko itu.
*“Sweet smile for a sweet treat!” *ulang Arsene.
“Ooh…,” Zaara melebarkan senyumannya dengan mata yang melirik ke atas, tampak tersipu merona.
Arsene jadi terkekeh melihatnya, gadis itu terlihat imut sekali di matanya.
“Nanti temen-temen aku kesini, jadi aku mau tunggu di sini dulu. Gak apa-apa kan?” ucapnya.
“Santai aja, duduk aja dulu! Mau pesen apa?” tanya Arsene ramah.
“Lucu-lucu kuenya!” ucapnya berbinar.
“Rasanya juga enak kok! Gak percaya, coba aja semuanya.”
“Haha. Pengennya sih! Aku mau coba eclairnya ya!”
“Rasa apa? Blueberry?”
“Haha, tau aja! Boleh deh,” jawab Zaara.
Arsene membawa pinggan kecilnya lalu meletakan eclair blueberry itu di atasnya.
“Muffinnya mau rasa apa?”
“Ini yang gratisnya itu ya?” tanya Zaara.
“Iya.”
“Vanilla kismis aja deh.”
“Oke, siap!”
Zaara mendudukan dirinya di sebuah kursi sofa berisi empat orang. Di atas meja terdapat buku menu tambahan yang bisa dipesan, seperti berbagai jenis kopi, milkshake, bubble tea dan minuman ringan. Arsene mengantarkan piring berisi menu pesanan gadis itu.
“Selamat menikmati,” ucap Arsene ramah.
“Makasih.”
Arsene kembali ke tempatnya. Ia duduk di sofa miliknya di belakang meja kasir, sambil mencuri pandang pada Zaara yang tengah membuka ponselnya. Gadis itu terlihat cantik, seperti biasanya, dengan hijab berwarna hijau mudanya. Lekas-lekas ia membuyarkan pandangannya. Arsene bertanya-tanya apakah Om Reza sudah memberitahukan perihal buku yang diberinya itu pada Zaara? Ia sungguh cemas, jika Zaara tahu apa responnya? Tetapi melihat gelagat gadis itu sepertinya Om Reza belum memberitahukannya apa-apa. Arsene sedikit merasa tenang.
“Arsene, boleh pesen minumnya?” tanya Zaara yang sudah berdiri di depan etalase, mengejutkan pria itu.
“Oh, boleh! Mau pesen apa?”
“Aku mau pesen Thai Tea aja.”
“Oke siap, dibikin dulu ya!”
Arsene langsung melangkah ke dapur dan memintanya pada pegawainya untuk membuatkannya.
Tidak lama kemudian, ada beberapa pelanggan lainnya yang datang terdengar bunyi lonceng kecil dari pintu. Arsene bergegas berdiri menyambutnya. Itu teman-teman Zaara yang datang, mereka menyapa gadis berkerudung hijau itu dan menaruh barang-barang milik mereka di meja yang sudah ditempati Zaara, lalu pergi memesan kue mereka.
Seperti biasa, Arsene akan mengucapkan kalimat sambutannya, yang membuat keempat gadis di hadapannya terlihat bertanya-tanya. Sama seperti respon Angga dan Adit, mereka semua menyengir ketika disuruhnya untuk tersenyum, terlihat kikuk dan grogi, apalagi melakukannya di hadapan pria muda tampan seperti Arsene. Zaara jadi tertawa-tawa kecil melihat tingkah laku teman-temannya. Akhirnya, mereka kembali sambil membawa menu pesanan mereka masing-masing.
“Sumpah, gue grogi banget waktu disuruh senyum,” seru Terry berbisik.
“Ra, kamu sendiri grogi gak?” tanya Hana berbisik.
Zaara hanya menahan tawanya.
“Ih ditanya tuh jawab, kamu kan datang sendiri!” protes Hana.
“Ya gitu deh,” jawabnya tersipu-sipu.
__ADS_1
“Tapi ramah banget deh,” ucap Sofie.
“Bagus ya tempatnya, nanti kalau kerja kelompok di sini aja yuk!” ajak Dhea.
“Ayoook!” keempat gadis lainnya bersorak semangat, membuat Arsene menoleh kepada mereka. Zaara hanya tersenyum saja.
Pelayan membawakan minuman milik Zaara dan menaruhnya di atas kumpulan lima gadis itu. Satu persatu, gadis lainnya ikut memesan minuman juga.
Bunyi lonceng berbunyi lagi. Arsene berdiri dari tempat duduknya, dan terkejut mendapati sepupu centilnya berada di sini bersama adiknya, Rainer, yang tampak memasang wajah juteknya.
“Halo Abang Acen ganteng!” serunya melebarkan senyuman khasnya. “Aku datang mau bantuin Abang, iya kan Rain?!” ucapnya lagi. Rain hanya terdiam.
“Wah hebat, Fe mau bantuin Abang?!” tanya Arsene terkejut.
“Iya dong, aku bakal bantuin Abang kalau sekolah libur,” ucapnya riang sekali.
“Yes, thank you! Kamu sini aja ya, sambut pelanggan,” ucap Arsene.
“Yeaay, i’m happy with that job!”
Rainer memperhatikan toko milik abangnya. Seketika gadis-gadis mahasiswa baru itu memperhatikannya dan berbisik tentangnya.
“Itu adiknya Arsene!” bisik Zaara.
“Ohhh ….” mereka ber-ooh ria saja. Pantas saja.
Zaara tampak memperhatikan gadis imut yang berdiri di samping Rain, lalu berlari kecil menuju belakang etalase dan langsung memeluk tubuh Arsene, tampak bahagia. Sedangkan Arsene memasang wajah senangnya. Tangan Arsene mengelus dan menepuk kepala gadis itu. Zaara terkejut melihat tingkah laku mereka, entah kenapa hatinya terasa berdenyut.
Ia merasa pernah melihat gadis itu. Pikirannya berusaha mengingat-ingat dimana ia melihat gadis yang sekarang kini menaruh tasnya di atas sofa tempat Arsene duduk.
“Itu pacarnya kali ya?” celetuk Terry berbisik.
Mata Zaara melebar, ia teringat sesuatu pada sore itu, ketika ia mendengar gadis itu mengucap kata sayang pada Arsene. Ah, sepertinya memang kekasih Arsene. Bahkan sekarang gadis itu berdiri di sampingnya untuk membantu. Itu yang dipikirkan Zaara saat ini.
Zaara mengedikan bahunya, menjawab pertanyaan Terry.
“Gue balik lagi ya?” ucap Rainer pada abangnya.
“Eh kenapa kamu gak mau bantu?” protes Fea.
Zaara menyendokan potongan eclairnya pada mulutnya dengan lemas. Entah kenapa moodnya tiba-tiba saja berubah. Padahal keempat kawannya sedang membicarakan tugas baru untuk minggu depan.
“Ra ada ide untuk tugas Pendidikan Agama?” tanya Hana yang juga sibuk memakan cupcakenya.
“Ra!” panggilnya lagi.
“Eh?” tanyanya tidak fokus.
“Hayo mikirin apa?!” goda kawan-kawannya.
“Enggak kok!” sergahnya. “Ayo apa yang mau kita kerjain?”
Keempat kawannya malah menatapnya curiga, lalu tersenyum menyeringai bersamaan.
“Kalian kenapa?” tanya Zaara.
“Enggak kok!” jawab Terry lalu diikuti oleh keempat temannya yang lain, sambil terus terkekeh-kekeh.
\=\=\=\=\=
Sebuah mobil jenis MPV berwarna putih terlihat terparkir di depan toko Sweet Recipes milik Arsene. Beberapa pemuda turun dari sana, Arsene mengenal salah satu wajahnya. Itu adalah Raffa dan kawan-kawannya yang ia temui beberapa hari yang lalu.
Pesanan datang lagi dari meja Zaara, mereka masih sibuk mengerjakan tugas kelompoknya sambil terus menambah pesanan. Arsene terpaksa melayaninya lebih dahulu sebelum Raffa dan kawan-kawannya itu tiba di depan etalase.
“Ada yang perlu dibantu?” tanya Arsene di hadapan lima gadis itu.
“Kita panggilnya apa nih? Mas, Bang, Akang, Aa?” tanya Dhea.
“Panggil aja Arsene, kita kan seangkatan,” jawabnya ramah.
“Ah baiklah Arsene! Aku mau tambah muffinnya ya tapi dibungkus 4 buah rasa cokelat kacang semua.”
__ADS_1
“Okey!”
“Aku juga ah, mau eclairnya 2 buah rasa matcha sama taro, dibungkus juga ya, Sen!” ucap Terry.
Arsene mencatat pesanannya baik-baik. Sementara Zaara terus memperhatikan buku pelajarannya.
“Baik tunggu sebentar, saya siapkan dulu!”
“Makasih!”
Arsene bergegas menyiapkan pesanan pelanggannya. Sementara itu Fea sudah bersiap-siap untuk menyambut pelanggan pertamanya. Raffa berjalan mendekati etalase setelah memperhatikan seluruh ruangan toko milik Arsene yang tampak menarik. Pria itu diikuti oleh kelima kawannya yang tampak terkesima dengan kue-kue menarik yang terpajang di etalase.
“Sweet smile for sweet treat!” ucap Fea dengan suaranya yang riang dan senyumannya yang lebar. Matanya berbinar melihat ada pria tampan gagah bertubuh tinggi di depannya.
“Oh?”
“Satu senyuman untuk satu suguhan manis,” ucapnya menjelaskan.
Raffa pun terpaksa tersenyum di hadapan gadis itu.
“Ehm, manis banget senyumnya, pasti makin manis aja kalau makan kue di sini,” ucap Fea dengan polosnya. Arsene menyenggol tubuh sepupunya itu.
“Selamat datang di Sweet Recipes, Mas! Mau pesan apa?” sapa Arsene menyambutnya. Arsene masih sibuk menyiapkan pesanan kawan Zaara, ia memegang kotak berisi muffin di tangannya.
“Kita lihat-lihat dulu ya?” ucapnya.
“Siap, Mas!”
Arsene melanjutkan pekerjaannya dan kembali ke meja Zaara untuk memberikan pesanan temannya itu. Raffa melirik kemana Arsene pergi dan melihat ada Zaara yang terduduk di sana, sontak wajahnya menjadi berseri. Raffa dengan santai melangkahkan kakinya menuju meja Zaara.
“Hai Ra, di sini juga?” sapanya ramah.
“Eh, ada Mas Raffa! Kebetulan aku lagi kerja kelompok,” jawab Zaara kaku.
“Ooh, gitu! Ya udah semangat ya kerja kelompoknya!” ucapnya tersenyum lalu kembali ke etalase.
Kawan-kawan Zaara lagi-lagi heboh, karena seorang pria tampan menyapa gadis itu.
Arsene sempat memperhatikannya, sebelum akhirnya ia kembali berhadapan dengan lelaki tegap itu untuk melayaninya.
“Saya mau eclair vanilla sama muffin cokelatnya ya?” pintanya, lalu duduk di sebuah meja yang tidak jauh dari meja Zaara.
“Kalau saya, eclair matcha deh sama cupcake strawberry!” ucap Jane.
Arsene mencatatnya baik-baik, sampai kelima kawan Raffa menyelesaikan untuk menyebut pesanannya. Fea bertugas mengambilkan pesanannya dan mengantarkannya langsung pada meja Raffa.
“Selamat menikmati,” ucapnya ramah ketika menaruh pinggan-pinggan itu di atas meja.
“Terima kasih,” jawab Raffa tersenyum kecil.
Fea kembali ke tempat kerjanya sambil cengar-cengir. Wajahnya terlihat sekali sumringah. Arsene memperhatikannya heran.
“Kamu kenapa cengar-cengir gitu?” tanyanya penasaran.
“Cowok yang tadi ganteng bangeeeet! Aku suka, aku suka!” Fea tampak ekspresif.
“Yee, dikirain apa!” Arsene berlalu dari hadapan Fea.
“Iiih Abang cemburu yaaa?!” ucapnya cukup keras, membuat para pelanggan menoleh.
“Ssst jangan bikin ribut di sini!” seru Arsene.
“Iya deh, sorry!”
Zaara melirik ke arah tempat kerja Arsene dan memperhatikan gadis itu dari jauh. Gadis itu terlihat cantik, imut, dan riang, sesekali bersikap manja pada pria yang ada di hadapannya. Bahkan Zaara menangkap momen beberapa kali ketika gadis itu tengah memeluk Arsene dengan wajah riangnya.
“Ra! Jangan ngelamun lagi hey!” lagi-lagi Terry menangkap dirinya yang tengah memperhatikan hal lain. Zaara hanya tersenyum kecil lalu kembali mengerjakan tugasnya.
Sementara itu, Raffa juga tengah memperhatikan gadis berhijab yang duduk bersebrangan dengannya dengan hati yang was-was.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Like, comment, dan votenya dulu dong
terimakasiiih selalu support ^_^