
Zaara masih menunggu ketikan Arsene di grup ta'arufnya. Entah kenapa terasa lama sekali pria itu menekan tombol-tombol abjad di ponselnya. Hatinya semakin tidak karuan saja. Apakah pria itu akan maju ke tahap hubungan selanjutnya? Zaara menenggelamkan wajahnya ke bawah bantalnya.
Sebuah bunyi notifikasi muncul, membuat jantungnya meledak.
[Alhamdulillah, terima kasih atas jawaban kamu yang sama seperti yang aku harapkan. Sudah aku putuskan, kalau aku juga akan maju ke tahap berikutnya. Aku akan datang ke rumah dan melamar kamu. Besok siap? :D]
DUG. DUG. DUG
Sesuatu berhasil menggedor hatinya dengan keras, membuat jantungnya memompa tiga kali lipat dari biasanya. Zaara otomatis berteriak dari dalam kamarnya. Gadis itu berguling-guling di atas kasurnya sendiri dengan rasa panas yang berkumpul semua di kedua pipinya.
"Kenapa?" tanya Reza yang langsung membuka pintu kamar anaknya karena terkejut dengan teriakan Zaara. Gadis itu beranjak dari kasur dan memperlihatkan pesan di grup ta'arufnya.
"Masya Allah. Alhamdulillah." Reza memuji dan memeluk tubuh putrinya.
"Tapi beneran besok nih?!" tanya Reza tidak percaya.
"Gak tau, Bi! Atuh gimana Zaara deg-degan gini ih!" suara Zaara bergetar dengan telapak tangannya yang basah. Pipinya terlihat kemerahan.
"Biar Abi yang tanya!"
"Huaaaah!" Lagi-lagi Zaara berteriak karena histeris, tidak percaya Arsene akan melamarnya secepat itu.
Reza mengambil ponselnya dan langsung mengetikan sesuatu di sana.
[Besok maksudnya hari Minggu, besok banget?!] tanya Reza tidak yakin.
[Iya Om! Saya rasa lebih cepat lebih baik. Gak apa-apa?]
[Baik, akan Om tunggu di rumah besok pagi jam 10]
"Abiiiiii…." Zaara berteriak lagi.
"Persiapkan diri kamu, Ra!"
Arsene mengetik sesuatu lagi.
[Apa ada yang harus saya bawa Om? Seperti cincin atau sejenisnya?]
[Coba tanya Zaara, adakah cinderamata yang diinginkannya? Kalau khitbah dengan ungkapan saja sudah cukup sebenarnya] terang Reza.
Zaara mengetik.
[Aku gak berharap apapun. Kedatangan kamu aja udah cukup kok]
Hanya ada emotikon senyum dari Arsene di sana untuk membalas pernyataan Zaara.
Suasana di rumah itu pun menjadi heboh seketika. Reza berlari menghampiri istrinya untuk memberitahukan kedatangan Arsene besok pagi. Karin terkejut dibuatnya. Ibu beranak dua itu langsung menghubungi pihak katering langganannya untuk menyiapkan jamuan makan besok siang.
Sementara Zaara bingung dengan outfit apa yang harus dikenakannya besok. Ia membuka lemarinya dan memperhatikan gaun syar'i miliknya. Ada berbagai warna yang dimilikinya. Ia mengeluarkan gamis berwarna silver dengan khimar yang senada warnanya. Itu adalah gamis kesukaannya.
Sementara itu di kediaman Ferdian. Arsene yang sejak tadi menyandarkan kepala di paha ibunya terperanjat bangun dan langsung berdiri. Wajahnya tidak bisa berhenti senyum, begitu pula dengan Ajeng yang berada di sana.
__ADS_1
"Mom bantuin Abang bawain cinderamata buat Zaara!" ujarnya riang.
"Mau pergi sekarang?" tanya Ajeng tidak yakin karena langit sudah hampir gelap.
"Iya Mom!"
"Ya udah yuk kita ke mall, tapi Daddy belum pulang nih. Mommy telepon aja deh!"
Setelah shalat Maghrib, Arsene memanaskan mesin mobil yang biasa dipakai ibunya. Sebuah mobil MPV mini berwarna putih, kini keluar dari garasi rumah. Ajeng, Rainer, Kirei, dan Finn semuanya ikut untuk mengantar Arsene membeli cinderamata untuk Zaara. Mereka pergi ke sebuah mall yang cukup ramai dan populer di Kota Bandung. Arsene memperhatikan kembali CV ta’aruf milik Zaara, melihat apa kesukaan gadis itu sehingga bisa menjadi hadiah yang bermanfaat baginya.
“Kamu mau beli cincin?” tanya Ajeng dalam perjalanan.
“Aku belum tau ukuran jarinya, biarlah itu untuk mahar nanti. Ini buat buah tangan aja besok. Aku juga udah telepon Kang Ardan buat bikinin cheesecake malam ini. Nanti dia antar sekalian dia pulang,” terang Arsene yang berada di balik kemudi.
Mereka akhirnya tiba di mall yang ternyata ramai di hari Sabtu malam ini. Finn yang gembul digendong oleh Arsene, sementara Ajeng mengawasi Kirei yang terlalu senang karena jalan-jalan di malam hari. Rainer berjalan santai di samping abangnya sambil melihat-lihat etalase toko.
“Jadi mau beli apa?” tanya Ajeng, setelah mereka berada di lantai dua mall yang bernuansa modern itu.Lampu-lampu aksesoris penghias etalase menyala dengan cantiknya, membuat tergoda orang-orang yang melewatinya. Sejenak Arsene terdiam.
“Aku mau ke toko buku, Mom!” jawabnya sambil mencari-cari toko itu.
“Mau beli buku buat cinderamatanya?” tanya Ajeng memastikan kembali.
Arsene mengangguk.
Ajeng menggeleng, anaknya yang satu ini memang berbeda. Ia teringat pada Sita yang menceritakan anaknya, Raffa, yang memaksanya untuk membelikan cincin untuk Zaara. Begitu pula dengan perjodohannya dulu dengan Ferdian, cincin disematkan pada jari mereka saat itu.
Mereka memasuki toko buku yang cukup luas itu. Di sana Arsene memisahkan diri karena hendak mencari buku yang akan menjadi hadiahnya untuk calonnya itu. Ia mengunjungi rak-rak dengan kategori agama. Buku-buku tebal mendominasi rak yang terbuat dari kayu berwarna krem itu. Arsene memperhatikan judul yang ada di sana satu persatu. Ia ingin buku yang menjadi hadiah adalah buku yang bermanfaat untuk kehidupan di masa depan, dan bermanfaat bukan untuk penerimanya saja melainkan untuk banyak orang atau setidaknya bisa diterapkan dalam kehidupannya.
Arsene menghampiri ibu dan ketiga adiknya. Mereka juga membeli beberapa buku baru di sana. Anak-anak Ajeng semuanya adalah kutu buku, meski dengan genre yang berbeda-beda sesuai dengan minat masing-masing. Wajar saja, sejak bayi bahkan sebelum lahir, mereka selalu dibacakan bermacam-macam cerita oleh Ajeng dan Ferdian.
“Udah selesai?” tanya Ajeng pada anak-anaknya.
“Udah Mom!” jawab mereka bersamaan.
Mereka keluar dari toko buku itu dengan barang-barang bawaan mereka masing-masing. Kirei merengek ketika ia menemukan sebuah stand minuman trendi yang sedang ramai oleh pengunjung. Gadis berambut lurus itu menarik lengan ibunya, membujuknya untuk membeli minuman itu sebelum pulang.
“Itu lagi antri banyak, Rei!” seru Rainer kesal. Anak muda itu memang tidak suka menunggu, lebih baik mencari yang sepi meski tidak populer.
“Cari aja yang lain yuk!” ajak Ajeng.
Kirei membulatkan bibirnya, terpaksa menuruti ibunya.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menikmati makan malam di salah satu restoran fastfood yang tempatnya tidak terlalu ramai. Arsene dan Rainer bertugas untuk memesan makanan pada pelayan di meja kasir. Mereka memang sering mengunjungi restoran fastfood ini, jadi sudah hafal dengan menu kesukaan masing-masing.
Arsene dan Rainer mendiskusikan pesanan menu makan malam itu, lalu memberitahukannya pada kasir di depannya. Pelayan itu menyuruh mereka untuk menunggu pesanan. Tiba-tiba antrian di sebelah Arsene maju, pria itu menoleh sebentar.
“Mas Raffa!” ucapnya refleks.
Pria berkemeja hitam di sampingnya otomatis menoleh ketika namanya dipanggil.
“Hei!” jawabnya singkat saja.
__ADS_1
Arsene teringat perkataan terakhir pria di sampingnya itu agar menjauhi Zaara. Tetapi ternyata Zaara kini jadi calon istrinya. Rasanya ingin menertawainya.
“Sama Tante Sita?” tanya Arsene mencari sosok sahabat ibunya itu.
“Iya, sama siapa lagi?!” ucapnya datar.
Raffa juga melihat sosok Tante Ajeng yang sedang bermain dengan anak bungsunya di meja pojok. Terlihat sebuah kotak biru tua dan silver di sana, tetapi ia tidak peduli. Raffa kembali fokus pada pesanannya. Sementara Arsene sudah selesai dengan seluruh pesanannya.
“Duluan ya Mas!” ucapnya ramah.
Raffa hanya menggerakan dagu dan menyunggingkan sudut bibirnya. Arsene dan Rainer membawa pesanan milik ibu dan adik mereka dan menaruhnya di meja.
“Mas Raffa ada di sini, Mom!” ujar Arsene sambil meletakkan menu makan malamnya.
“Oh ya?! Ada Tante Sita juga?” tanya Ajeng terkejut.
“Ada katanya.”
“Gak usah kasih tau apa-apa terkait rencana besok ya?!” seru Ajeng.
Arsene mengangguk-angguk sepakat. Mereka pun menikmati makan malam di sana.
Makan malam sudah selesai. Ferdian sudah menelepon istrinya karena dirinya sudah tiba di rumah dan tidak ada siapapun di sana. Ajeng lekas mengajak anaknya untuk pulang. Tiba-tiba Ajeng melihat Sita yang juga melihat dirinya.
“Hei Jeng!” sapa Sita yang kemudian berlari ke arahnya. Mereka bercipika-cipiki.
“Dari mana?” tanya Sita penasaran sambil memperhatikan anak Ajeng satu-satu.
“Ah biasa, nganter mereka jalan-jalan,” jawab Ajeng menutupi maksud yang sebenarnya.
“Sama dong ya!”
Raffa memperhatikan kotak besar yang dibawa Arsene.
“Maaf kita buru-buru nih, daddy-nya anak-anak udah nungguin di rumah!” ucap Ajeng membetulkan gendongan Finn di dadanya.
“Ooh gitu, dikirain senggang nih! Padahal aku mau ajakin kamu ke rumah Karin besok!” ucap Sita riang.
“Heh?! Ngapain?” tanya Ajeng kaget.
“Biasa!” ucap Sita melirik anak keduanya, Raffa.
Mata Ajeng dan Arsene membelalak terkejut.
\=\=\=\=\=\=
Huwwaaa >.<
Bersambung dulu yaa gaes
Jangan lupa vote, like, dan komen
__ADS_1
Makasiiih