Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 134. Ajakan


__ADS_3

Malam pekat menggantung di langit. Berhiaskan rembulan yang bersudut kecil, bintang-bintang dengan setia menemani dalam kesendiriannya. Angin berbisik kecil melalui celah jendela dan pintu, menggelitik kulit yang tak tertutup oleh kain. Udara yang terasa dingin membuat pria muda yang selalu mengenakan kaos untuk tidurnya itu seraya terbangun tiba-tiba. Matanya memang masih terpejam di tengah malam, tetapi hati dan hasratnya telah bangun menghampiri tanpa diminta.


Gelap dan sunyi. Begitulah nuansa kamarnya setiap malam. Kehangatan seutuhnya hanya bisa ia dapatkan dari teman seranjangnya. Mata pria itu itu terbuka perlahan. Lekuk wajah sosok yang ia cintai terlihat dari cahaya kecil yang masuk melalui ventilasi pintu. Hidung mancung dan bibir bulat imut seketika mengundangnya untuk menyentuh. Pria itu mengulum bibir istrinya yang terlelap di dunia mimpi, berusaha mungkin membuat tersadar. Tangan yang sejak tadi terlipat, kini menggerayang melepas satu persatu penghalang di antara mereka.


Wanita itu tetap bergeming, hanya gumaman yang keluar sesekali dari mulutnya. Sementara sang pria sudah terjaga penuh, menindih tubuh yang tidak berdaya itu sambil terus membuat wanitanya terbangun.


“Abaaaang....” desahnya tatkala tidurnya itu mendapat gangguan yang memancing hasrat muncul. Zaara mencengkram rambut suaminya. Suara-suara lembut bersahutan dalam gelapnya suasana kamar tanpa lampu.


Arsene berhasil membuat Zaara terbangun, lebih-lebih, menyulut gadis itu untuk terlibat dalam aura panas yang membakar jiwa. Tanpa protes, tanpa cela. Atmosfer pergulatan lembut dua insan manusia yang saling mengasihi itu terjadi begitu saja hingga keduanya tenggelam dalam gairah yang melenakan.


“Ganggu tidur aja ih!” protes Zaara, setelah ibadah selesai, mengenakan kembali gaun tidurnya setelah berwudhu.


Arsene menyeringai kaku. “Ga tau tiba-tiba. Tapi kamu juga kepancing kan?!” Arsene mencebik, usahanya tidak sia-sia membuat istrinya puas.


Zaara hanya menutup wajahnya dengan selimut. Merona malu.


“Bobo lagi yuk! Masih jam 12 malem.” Arsene memeluk tubuh istrinya dalam selimut yang menutupi tubuh mereka. Lega sangat perasaannya, kini tidurnya sudah bisa dipastikan akan lelap di sisa malam.


\=\=\=\=\=\=


Ponsel Arsene berdering pagi itu setelah sarapan selesai. Lekas pria itu menyambutnya, tertulis nama ibunya di sana.


“Kenapa Mom?” tanya Arsene.


“Bulan depan bisa ikut gak ke peresmian hotel daddy?” tanya Ajeng.


“Hotel daddy?” Arsene tidak mengetahui secara detail terkait usaha baru ayahnya itu.


“Pesta peresmian hotel daddy. Seenggaknya ada satu dari kalian yang bisa datang, kuliah kamu masih libur kan?” Ajeng mengharapkan kehadiran anaknya yang sudah dewasa untuk ikut juga.


“Ooh… hmm, masih libur sih! Tapi nanti aku lihat dulu ya agendanya!”


“Mommy udah ajak Rain, tapi kamu tau sendiri, dia mana suka ikut acara formal begitu. Ajak Zaara juga, sekalian dikenalin sama kolega daddy!”


“Mmh… nanti aku kabarin lagi, Mom!”


“Mommy harap kamu dan Zaara ikut ya!”


“Iya aku kasih tau Zaara dulu!”


“Okay, see you darling!”


“Hmm!”


Arsene menaruh ponselnya yang sudah terputus dan meletakkannya kembali di atas meja makan.


“Kenapa Mommy?” tanya Zaara yang sedari tadi duduk di hadapan suaminya.


“Mommy ajakin kita ke acara peresmian. Daddy kan baru bikin hotel baru di sana, kita disuruh mommy untuk ikut acara itu.”

__ADS_1


“Oohh. Kapan emangnya?”


“Bulan depan. Kuliah masih libur sih, tapi kan kita sibuk perekrutan LDK ya? Ada stand buat perekrutan maba kalau gak salah,” ucap Arsene.


“Iya emang ada itu, tapi kalau weekend kan gak ada agenda kecuali kajian rutin,” Zaara menambahkan.


“Nanti aku ngobrol sama Mommy lagi deh. Kamu mau ikut? Aku males sih sebenarnya.”


“Kalau mommy minta, ya seenggaknya bisa ikut. Apalagi kamu anak pertama. Emang acaranya gimana sih?” tanya Zaara penasaran.


“Acaranya formal, biasanya ada gala dinner gitu setelah peresmian. Udah gitu ya acara santai aja, paling sapa-sapa tamu. Itu sih kalau pengalaman aku di acara peresmian hotel punya pakde sebelum kuliah.”


“Ooh… aku ikut kamu aja, Abang Sayang!”


Matahari senja berada di ujung langit sore. Awan menggumpal dengan gagahnya menyambut malam. Arsene dan Zaara menghabiskan waktu mereka di toko Sweet Recipes seharian ini. Beruntung, hari ini pengunjung datang terus menerus tanpa henti. Setelah free endorse dari selebgram lokal, bisa dibilang pemasaran itu berhasil. Rencananya, Lunar akan mengundang beberapa foodie blogger lagi untuk bisa memberikan ulasan toko.


Pengikut akun Sweet Recipes dan akun pribadi milik Arsene juga bertambah setiap harinya. Banyak foto yang menandai keduanya oleh para pengunjung. Admin marketing selalu merepost postingan pelanggan agar terlihat bahwa toko Sweet Recipes memang ramai dan memiliki produk yang wajib untuk dicoba. Bahkan akun Arsene memiliki banyak pesan pribadi yang kadang ia buka atau tidak, tergantung waktu luangnya saja. Arsene sudah rajin membuat postingan setiap hari yang selalu mendapatkan ratusan like sekali posting dan puluhan komentar. Ia semakin populer saja, yang kadang membuat Zaara semakin cemburu. Meski begitu Zaara tidak masalah demi keberlangsungan bisnis mereka, karena gadis itu selalu percaya pada suaminya.


Mood booster terbaik adalah menghabiskan waktu terbaik dengan orang terkasih. Bisa dengan keluarga, sahabat, atau kekasih halal. :)


Ditemani dengan blueberry cheesecake in jar makin bikin hari terasa indah. Gak percaya, cobain langsung ke Sweet Recipes, dan ajak orang terkasih atau langsung dibawa pulang :D


kutunggu :D


Arsene membuat postingan dengan foto blueberry cheesecake in jar dan tangan kanan Zaara yang sedang menyendoknya hari itu, terlihat cincin kawin dan cincin hadiah pemberian Arsene beberapa minggu lalu di sana.


Seketika like dan komentar masuk bertubi-tubi.


[Enak banget itu cheesecake-nya, Chef. Aku udah pernah coba]


[Kangeeeen cheesecake! Betul banget, Chef. Makan cheesecake bikin moodnya bagus!]


[Duh galfok sama tangan di situ. Kamu fotoin siapa, Chef?]


[Chef lagi ditemani kekasih ya?]


[Chef aku otw ke Sweet Recipes, tungguin ya beneran]


[Chef Arsene, mau temani aku gak biar moodnya bagus? wkwk]


[Itu tangan istrinya ya chef, langsung patah hati nih!]


Dan masih banyak komentar lainnya yang senada.


Arsene tersenyum saja melihat komentar yang masuk, ia tidak akan membalasnya sekarang. Zaara yang sedang menikmati cheesecakenya hanya menggeleng-geleng saja.


“Abang ketik apa sih?” tanya Zaara.


“Lihat aja sendiri!”

__ADS_1


“Nanti ah, aku mau habisin ini!”


Arsene tersenyum. Sesekali pria muda itu mengambil foto istrinya yang sedang menyantap cheesecake buatannya itu dengan sembunyi-sembunyi dan mengunggahnya ke penyimpanan album pribadinya.


Beberapa pengunjung berdatangan sore itu. Mereka menyapa Arsene yang memang sedang bersama Zaara.


“Hai Chef!” sapa mereka ramah.


Arsene dan Zaara tersenyum bersamaan.


“Chef, tanggung jawab lho! Cheesecakenya masih ada kan? Aku mau bawain buat pacar aku!” ucap salah satu pelanggan.


Alis mata Arsene terangkat. Padahal dia menulisnya dengan kekasih halal.


“Masih banyak, habisin aja Kak!” ucap Arsene.


“Wah pengennya sih, tapi gimana pacarnya cuma ada satu aja! Haha!”


Arsene menggeleng-geleng terkekeh.


“Duh Chef, jangan bikin baper deh. Pacaran mulu kalau pas datang kesini!” ucap pelanggan lainnya, ketika Zaara menyuapi suaminya.


“Pacarannya berpahala ini sih. Jadi gimana ya kan pengen pahala terus!” seru Arsene menggoda, tertawa-tawa bersama Zaara.


Para pelanggan ikut tertawa juga mendengar ucapan chef favorit mereka yang ramah dan tampan.


“Punya adik ganteng gak Chef? Kasih satu buat aku dong!” seru pelanggan lain yang lebih berani.


“Ada, tapi sedingin es di Antartika! Haha!”


“Ah aku pengennya sehangat matahari di Brasil, Chef!”


Ada-ada kelakuan para pelanggan yang memang sok kenal dan sok dekat. Untung saja Arsene benar-benar ramah dan menganggap itu candaan biasa. Zaara juga biasa saja menanggapinya demi reputasi suami dan tokonya yang tengah merangkak naik.


Tiba-tiba saja ponsel Arsene menyala. Sebuah panggilan tak dikenal masuk. Arsene tidak menyadari ponsel miliknya yang menyala itu. Seketika, Zaara memanggilnya.


"Abang, tuh ada telepon!"


Arsene menengok ponselnya.


"Siapa ya?"


Zaara mengedikkan bahu.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung dulu yaa


Like, komentar, dan votenya ditunggu yaa

__ADS_1


Makasiiih ^_^


__ADS_2