
Arsene mengantar Zaara sampai di depan gedung apartemennya sore itu setelah pulang kuliah. Gadis itu mengecup punggung tangan suaminya.
“Kalau ngantuk, tidur aja duluan. Gak usah tunggu aku pulang.”
“Iya Abang. Abang yang semangat kerjanya ya?” ucap Zaara.
“Abang selalu semangat! Apalagi mau sambut dedek!” Arsene mengelus perut istrinya yang masih datar.
“Hati-hati di jalan!”
“Makasih Sayang, aku berangkat dulu! Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
Arsene memacu motornya menuju pusat kota yang ramai, dimana tempat itu selalu menjadi destinasi favorit bagi para pengunjung dari luar kota. Arsene sudah bekerja di sebuah restoran milik hotel bintang 5. Ia menjadi seorang koki pemula dengan kerja part-time setelah kuliahnya selesai. Damian memberikan rekomendasi pada sebuah hotel mewah itu agar menempatkan keponakannya itu di dapur restoran yang memang selalu ramai oleh pengunjung. Meskipun Arsene direkomendasikan oleh pakdenya sendiri, tetap saja ia harus melewati tes untuk bisa ditempatkan di restoran yang mengusung konsep lokal dan western sebagai sajian makanannya.
Arsene ditempatkan langsung sebagai pastry chef di restoran itu. Pria muda itu akan bekerja hingga pukul 10 malam setiap harinya, dan libur di hari Senin dan Jumat. Karena sudah mengantongi ijazah dari akademi bergengsi internasional, gajinya bisa dikatakan lebih dari cukup yang akan dibayarkan setiap minggunya. Hatinya begitu bahagia dan semangat mendapat pekerjaan yang dicintainya itu. Tokonya sudah tutup sejak seminggu lalu. Kini ruko yang diberi oleh kakeknya itu akan disewakan, yang dari uang sewa itu akan ia alokasikan untuk membayar biaya sewa apartemennya.
\=\=\=\=\=\=
“Abang bangun!” gadis yang masih mengenakan gaun tidur berwarna pink itu menggoyang tubuh suaminya yang terlelap.
“Mmhh…”
“Kita tahajud dulu yuk sambil nunggu adzan subuh!” ucap Zaara. Hal itu memang selalu menjadi kebiasaan mereka, setidaknya sebelum Arsene bekerja di restoran.
“Aku capeeek, masih ngantuk!” ucap Arsene tanpa membuka matanya.
Zaara menghela nafas, ia berlalu keluar kamar dan melaksanakan ibadahnya seorang diri. Ia akan membangunkan suaminya lagi nanti.
Sajian sarapan pagi telah tersedia di atas meja. Satu mangkuk sup campur panas, ditambah dengan tempe dan jamur goreng krispi. Sederhana menunya, tetapi itulah yang Zaara siapkan untuk mereka berdua. Mata Arsene masih terlihat sayu pagi itu. Pria muda itu memang tertidur lagi setelah shalat subuh. Pekerjaannya di malam hari membuat tubuhnya terus meminta untuk berbaring di kasur. Tetapi ia tidak bisa, ia harus segera bersiap untuk kuliah.
“Maaf ya cuma ada ini!” ucap Zaara.
“Gak apa-apa, Sayang!” Arsene mengambil sendok dan mulai menyuapkan menu sarapan itu ke dalam mulutnya.
“Nanti kita belanja lagi ya. Kamu harus banyak makan yang bergizi. Aku gak mau anak kita kenapa-napa,” ucap Arsene.
“Iya. Sekalian besok antar aku ke klinik ya buat pemeriksaan.”
“Besok ya?” tanya Arsene.
“Iya!”
Arsene terdiam. Besok dijadwalkan akan ada seorang pejabat kementerian pusat yang datang, mereka sudah mereservasi restoran tempat kerjanya. Oleh general manajernya, Arsene diminta datang lebih awal untuk mempersiapkan semuanya karena ia harus menyiapkan banyak menu dessert dan kue untuk disajikan secara prasmanan, sehingga kerjanya pasti akan lebih banyak dari biasanya.
“Apa gak bisa diganti jadwalnya?” tanya Arsene ragu-ragu.
“Aku udah sebulan gak cek, Abang! Kalau jadwal ulang nanti lama lagi,” terang Zaara.
Arsene teringat bulan lalu pun, Zaara sengaja tidak mengecek kandungannya karena ia tidak bisa mengantarnya. Mengapa jadwal cek kandungan harus selalu berbenturan dengan pekerjaan pentingnya di restoran?
“Maaf Sayang, besok aku ada kerjaan penting. Ada pejabat kementerian pusat yang datang berkunjung, jadi aku diminta datang lebih awal,” terang Arsene ragu-ragu.
Zaara menatap suaminya, lalu tertunduk.
“Ya udah. Aku bisa kok pergi sendiri. Lagian klinik juga deket,” jawab Zaara datar.
“Beneran gak apa-apa?”
Zaara tersenyum, “gak apa-apa! Daripada nanti aku libur lagi cek kandungannya.”
Arsene mengecup pipi istrinya dari seberang kursi.
Sore itu Arsene mengantar Zaara hingga depan pintu gerbang klinik. Ia tahu mungkin istrinya sedikit kesal karena ia tak bisa mengantar.
“Kamu ngambek?” tanya Arsene melihat wajah istrinya yang biasa saja. Tidak ada senyuman di bibirnya yang imut.
Zaara menggeleng.
__ADS_1
“Mau dibawain apa nanti? Cheese cake? Pie buah? Blackforest?” tawar Arsene ingin membuat hati istrinya senang.
“Bawa apa aja, nanti aku makan!” jawab Zaara tersenyum kecil.
“Siap, Nyonya! Aku pergi dulu ya?!” Arsene meraih tangan istrinya, dan mengecupnya di sana.
“Hati-hati!”
Arsene tersenyum, mengucap salam dan pergi dari sana. Zaara menghela nafas berat sambil melihat kepergian suaminya yang tenggelam terhalang oleh para pengemudi lain.
Zaara berjalan kecil menuju meja pendaftaran klinik dan duduk di depan poli kandungan.
Sambil menunggu antrian, gadis itu membuka ponselnya. Mengecek email, penghasilannya sebagai editor lepas sudah masuk. Ia jadi ingin pergi berbelanja sebentar untuk membeli persediaan buah yang sudah menipis.
Zaara menelepon suaminya.
“Abang aku boleh belanja ke supermarket sekarang?” tanyanya.
Terdengar riuh dari telepon Arsene.
“Apa?!” sepertinya Arsene tidak bisa mendengarnya dengan baik. Apa pria itu sudah mulai bekerja?
“Aku mau belanja ke supermarket setelah pulang, boleh ya?”
“Iya, hati-hati, jangan lama-lama!”
“Makasih Abang, semangat terus!”
Tak lama, namanya dipanggil.
“Silakan Kak!” ucap seorang perawat.
Dokter Aliyah adalah dokter muda di sana. Usianya mungkin masih 25 tahun. Wanita itu sangat ramah, sehingga Zaara merasa nyaman ketika diperiksa.
“Suaminya mana? Gak datang?” tanya Dokter Aliyah ketika Zaara duduk di hadapannya.
“Kerja dok! Dia sibuk kalau malam gini karena kerjanya memang malam hari. Apa saya bisa milih hari selain hari Rabu?” tanya Zaara.
“Senin atau Jumat!” jawab Zaara.
“Senin saya praktek di Rumah Sakit Ananda, Jumat saya praktek di Rumah Sakit Khazanah. Kamu boleh berkunjung ke sana kalau mau. Tapi ya jaraknya cukup jauh dari sini.”
“Oh gitu ya? Ya udahlah!” Zaara terlihat kecewa.
Dokter Aliyah mempersilakannya untuk berbaring di atas matras. Lalu mengoleskan gel untuk ditaruh alat USG di atas perut Zaara.
“Dedeknya sudah mulai ada pergerakan. Alhamdulillah, ukurannya juga normal. Detak jantung bagus.” Dokter Aliyah menjelaskan itu sambil melihat di layar. Usia kandungan Zaara sudah masuk bulan ke tiga saat ini.
Zaara tersenyum, merasa bahagia. Pemeriksaan telah selesai.
“Alhamdulillah, kondisinya bagus semua ya. Dedeknya juga sehat. Tolong pertahankan itu. Perhatikan semua asupan gizinya. Gak boleh terlalu banyak pikiran.”
“Iya, Dok!”
*“Always be happy *ya?!”
“Siap Dok! Saya pamit dulu! Makasih!” ucap Zaara mengangguk dan berlalu dari sana.
Zaara berjalan menuju keluar klinik. Ah, ia teringat akan berbelanja dulu setelah ini. Jarak menuju supermarket memang tidak jauh dari klinik dan apartemen, jadi ia berani saja keluar malam. Zaara pergi menuju mushola klinik dulu untuk sholat maghrib.
Gadis bergamis hitam itu kini menginjakkan kakinya keluar pintu klinik, berjalan menuju trotoar jalan yang akan mengantarkannya ke supermarket. Sebuah mobil putih tiba-tiba saja berhenti di sampingnya. Jendelanya terbuka.
“Mau kemana Ra?!” teriak seorang laki-laki dari dalam mobil. Itu Raffa.
Zaara terkejut, “ah, mau ke supermarket aja sebentar, Mas!”
“Kamu sendirian?”
Zaara tersenyum kecil.
__ADS_1
“Aku antar ya, kebetulan emang mau kesana juga. Mama titip sesuatu soalnya!” ujar Raffa membuka kunci pintu mobilnya.
“Makasih Mas, saya sendiri aja!” ucap Zaara sungkan membungkukan badan.
“Kamu duduk di belakang aja kalau gak nyaman. Gak baik ibu hamil keluar malam sendirian.”
Zaara terdiam sebentar. Tawaran Raffa sedikit menggoyahkannya. Apalagi ada beberapa pria dengan tampang menyeramkan di ujung sana.
“Gak apa-apa saya duduk di belakang, Mas?” tanya Zaara ragu-ragu.
“Iya. Lagian deket kan?”
Zaara mengangguk. “Maaf Mas jadi ngerepotin!” ucap Zaara.
“Masuk aja!”
Zaara membuka pintu mobil Raffa dan duduk di jok belakang dengan sungkan. Raffa tersenyum, lalu melanjutkan kemudinya.
Tiba-tiba hati Zaara merasa tidak karuan. Ia merasa bersalah karena pergi dengan seseorang yang bukan mahramnya. Apalagi suaminya itu tidak tahu.
“Arsene kerja dimana sekarang?” tanya Raffa, pria itu sudah tahu kalau toko Sweet Recipes sudah tutup.
“Di restoran High Feast!” jawab Zaara.
Raffa mengangguk-angguk. Restoran High Feast pernah dikunjunginya, itu adalah restoran casual dining yang mewah yang menyediakan berbagai menu lezat dengan harga yang tidak murah.
Tak lama, mereka tiba di parkiran supermarket. Mereka turun dari mobil dan berjalan bersama menuju pintu masuk.
“Makasih Mas, saya belanja sendiri aja!” ucap Zaara.
“Nanti janjian aja di sini, aku antar kamu pulang ya?!” tawar Rafffa.
“Makasih Mas, tapi gak perlu. Saya bisa sendiri.”
“Sekali ini aja, gak tega biarin bumil pulang malem-malem sendiri. Ya?”
Zaara hanya tersenyum menyeringai ragu. Akhirnya ia mengangguk.
Keduanya berpisah di dalam supermarket. Zaara berniat kabur malam itu, sehingga ia akan pulang sendiri tanpa Raffa. Dengan cepat ia memilih beberapa buah dan sayuran segar. Ia juga mengambil sebuah roti dan selai cokelat. Langkahnya kini menuju kasir dan membayar barang belanjaannya yang tidak terlalu banyak itu.
“Udah selesai juga?” tanya Raffa dari belakangnya. Ia membawa beberapa kotak vitamin C dan susu penguat tulang.
Jantung Zaara sontak terlempar.
“Eh, i-iya!”
Kini Zaara tidak bisa mengelak lagi, karena pria itu tepat berada di sampingnya sedang membayar barang belanjaannya juga. Apalagi Raffa lebih cepat selesai dari pada dirinya. Pria itu berdiri menunggu Zaara.
“Yuk!” ucapnya saat Zaara memasukkan kartu debitnya ke dalam dompet.
Terpaksa ia berjalan mengikutinya menuju mobil.
Abang maafin aku, ucapnya dalam hati.
Raffa mengantar gadis itu pulang ke apartemennya yang tidak jauh dari sana.
“Makasih banyak, Mas!”
“Sama-sama! Aku pulang dulu ya?!” pamitnya ramah.
Zaara tersenyum mengangguk melihat kepulangannya.
Zaara berjalan menuju kamarnya sambil terus merutuki dirinya. Ia merasa telah berdosa pada suami dan Tuhannya. Mengapa bisa ia menerima ajakan Raffa? Apalagi mereka pernah saling menaruh hati meski sudah lama. Dan Raffa? Apakah dia sudah move on? Zaara tidak tahu.
\=\=\=\=\=\=
Hmm....
Bersambung duluuu
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan COMMENT
Makasiiih ^_^