Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Spin Off 4. Raffa Fea


__ADS_3

Drrrt. Drrrt. Drrrt.


Bunyi mesin scaler yang mendengungkan telinga berhenti, tatkala Raffa menarik mesin pembersih plak gigi itu dari mulut pasiennya. Ia menaruh alat kecil itu di meja sebelah dental chair.


Raffa menyuruh pasiennya untuk berkumur-kumur, lalu memeriksa keadaan gigi pasien sekali lagi untuk memastikan kebersihan terakhir. Tangannya dengan handal mengorek karang gigi tipis yang tersisa, lalu menyuruhnya kembali untuk berkumur-kumur.


“Sudah selesai,” ucapnya mematikan lampu sorot.


“Terima kasih, Dok!” ucap sang pasien.


Raffa melepas sarung tangan karet dan membuangnya ke tempat sampah. Ia juga melepas masker yang menutup hidung dan mulutnya.


“Masih ada pasien lain, Bu?” tanya Raffa pada perawat yang menemaninya.


“Gak ada, Dok! Lagian 10 menit lagi poliklinik kita tutup,” jawab perawat yang umurnya jauh lebih tua dari Raffa.


“Oh baik!” ucap Raffa melonggarkan sedikit kerah kemejanya.


Pria tegap itu bersandar sebentar di kursinya setelah mengecek data pasien terakhir tadi.


TOK.TOK.TOK.


Terdengar pintu ketukan di ruangannya. Perawat tadi membuka pintu. Seorang gadis mungil tersenyum lebar.


“Maaf Sus, saya mau periksa!” ucapnya ragu-ragu.


“Apa sudah daftar di depan?” tanya perawat.


“Ooh harus daftar di sana ya?”


“Iya, sebelum masuk ke poli gigi, adiknya harus daftar dulu ke sana biar bisa masuk ke sini,” terang perawat.


Gadis pemilik rambut lurus itu membulatkan bibirnya.


“Tapi udah tutup!” terangnya kecewa.


“Besok datang lagi ya?!” pinta perawat.


“Kenapa, Bu?!” tanya Raffa.


“Ini Dok, ada pasien datang tapi belum daftar di depan.”


“Ooh, suruh masuk aja. Tanggung!”


“Tapi ….”


“Udah biarin aja!” ujar Raffa.


Perawat tersenyum mengiyakan permintaan Raffa.


“Masuk aja, Dek! Dokternya baik!”


“Yess!” ucap gadis itu riang.


Ibu perawat hanya menggeleng melihat tingkah gadis yang tampak menggemaskan itu. Gadis itu langsung duduk di hadapan sang dokter tampan.


“Waw, gak nyangka banget sih kita ketemu di sini!” Fea menepuk kedua pipinya.


Raffa terkejut mendapati wajah gadis centil yang pernah ia temui di toko kue milik Arsene, tetapi ia langsung bersikap profesional.


“Ada keluhan apa?”


“Hatiku berlubang, Dok! Mungkin hati aku juga keropos,” ucap Fea manja dengan ekspresi sendu.


“Astaga!” Raffa memijat keningnya.


“Hihihi!” Fea malah cekikikan di depan Raffa. “Hehe, aku cuma mau pastiin kebersihan gigi aku, Dokter baik hati, tampan, dan tidak sombong!”

__ADS_1


Raffa menghela nafasnya.


“Duduk di sana!” serunya menunjuk dental chair.


Fea berbaring di atas kursi, kepalanya ia sandarkan dan menengadah ke langit-langit. Raffa memakai masker dan sarung tangannya yang baru. Ia menyalakan lampu sorot.


“Buka!” seru Raffa.


Fea malah menangkup tangannya di depan dada.


“Aku malu, Dok!”


“Ya ampun, ini bocah mau diperiksa gak sih?!” ucap Raffa kesal.


“Aku malu, Dok! Aku masih kecil!” ucap Fea menekuk wajah imutnya.


“Bu!” panggil Raffa.


“Ssst! Iya dok, aku serius nih!” Fea membuka mulutnya.


Raffa mulai memeriksa keadaan gigi Fea, dari gigi bawah sampai gigi atas. Tidak lupa di balik gigi seri, taring, dan graham. Gigi milik Fea semuanya bagus dan bersih. Raffa tersenyum kecil di balik maskernya. Baru kali ini ia mendapat pasien dengan gigi bagus seperti milik gadis centil ini.


“Gigi kamu bagus. Bersih. Sering dirawat ya?” Raffa menyelesaikan sesi pemeriksaannya dan menyuruh Fea berkumur.


“Iya dong, Dok! Gigiku aja dirawat, apalagi hati aku buat kamyuuu!”


Lagi-lagi Raffa hanya menggeleng, mendengar pasien di depannya ini jago sekali membual. Heran, ternyata ada juga perempuan yang bisa-bisanya menggoda dirinya yang terkenal dokter galak, meskipun dirinya biasa saja jika berhadapan dengan pasien.


“Siapa nama kamu?!” tanya Raffa, mengambil buku data pasiennya. Karena Fea belum mendaftar di klinik tempat kerjanya, jadi ia akan mencatatnya di buku data pasien pribadinya.


“Ih dokter, masa gak inget aku sih?!” protes Fea yang sudah duduk di kursi biasa.


“Emang kamu siapa?” tanya Raffa datar dan tidak menatap wajah pasien di depannya.


“Aku ini Elena Fea Winata, calon CEO Winata Corp tercantik sejagat raya, hihihi!”


“Iya Dokter Ganteng!”


“Usia kamu berapa?”


“18 tahun! Cocok kan?!” Fea tersenyum menyeringai.


“Cocok apa?!” tanya Raffa menaikkan satu alisnya, ia benar-benar tidak mengerti.


“Cocok jadi pacarnya Dokter!”


“Ya ampun!”


Fea cekikikan terus menggoda dokter muda itu.


“Sudah selesai, kamu boleh pulang!” seru Raffa.


“Yah gak asik! Dok, besok aku periksa lagi boleh?” tanya Fea.


“Periksa ke dokter gigi itu baiknya enam bulan satu kali.”


“Tapi aku bukan mau periksa gigi! Aku mau periksa jantung aku, apa masih berdebar pas ketemu kamu atau enggak?”


“Bu, tolong antar pasien ini keluar ya?!” seru Raffa tidak peduli Fea akan cemberut menanggapinya atau tidak, yang jelas ia benar-benar lelah mendengar celotehan gadis di depannya itu.


“Baik Dok!”


“Dokter mah jahat ih!” protes Fea.


“Giginya dijaga terus ya?!” ucap Raffa memaksa senyumannya.


“Huh! Hati aku yang butuh dijaga, Dok!” seru Fea setengah berteriak ketika berjalan keluar ditemani perawat tadi.

__ADS_1


“Dok! Dok! Kalau ketemu lagi tolong periksa aku ya?!” teriak Fea dari luar ruangan.


"Hmm ...."


\=\=\=\=\=\=\=


Dua tahun kemudian....


Udara musim gugur di New York terasa dingin. Pria itu mengeratkan mantel cokelat miliknya. Sebentar lagi mungkin salju akan turun di kota padat itu dalam beberapa hari lagi. Uap yang keluar dari nafas mulutnya mengepul di udara malam itu. Pria itu hendak masuk ke dalam coffee shop untuk membeli secangkir cappucino panas kesukaannya.


“Cappucino satu, please!” ucapnya kepada seorang barista berkulit gelap yang bekerja di coffee shop langganannya. Raffa duduk di meja bar.


Pria tinggi dengan wajah sedikit oriental itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kedai yang tidak terlalu luas ini. Sesuatu menarik perhatiannya. Seorang gadis berambut panjang bergelombang terlihat sedang membuka laptopnya di ujung meja. Ia merasa pernah melihat wajahnya. Tidak asing dan sangat familiar.


Raffa memejamkan matanya berusaha mengingat-ingat. Tetapi memorinya tidak menemukannya. Gadis itu terlihat anggun dan manis dengan mantel berwarna merah mudanya. Bibirnya melebar di depan laptopnya yang menyala, membuat wajahnya itu semakin terlihat berseri. Raffa menatapnya lekat, sampai-sampai ia terkejut ketika barista itu menaruh cangkir cappucino pesanannya.


“Silakan dinikmati, Tuan!”


“Ah, terima kasih!”


Busa krim cappucino yang kental dihisapnya, tanpa sadar menempel di bibir Raffa bagian atas. Nikmat sekali rasanya. Seketika ia mendapati ponsel miliknya bergetar.


“Halo selamat malam?” sapanya.


“Ya, besok saya ada jadwal Medical Center.” imbuhnya.


Ia mengangguk saja mendengar lawan bicaranya di telepon, lalu menutupnya setelah selesai. Raffa kembali menoleh pada gadis yang duduk di meja pojok tadi.


Namun, hatinya terperanjat ketika sosok itu sudah tidak ditemukan di sana. Raffa segera memanggil barista yang berjaga.


“Apakah kau melihat perempuan yang duduk di meja sana?” tanya Raffa. Entah mengapa hatinya ingin sekali mencari tahu.


“Baru saja keluar, Tuan!” jawab barista.


“Ke arah mana dia pergi?”


“Ke arah kanan kalau tidak salah!” ucap barista berkulit gelap itu.


“Baiklah, terima kasih!”


Raffa segera menghabiskan cappucino-nya, membayar pesanan dengan uang pas, dan langsung mencari keberadaan gadis itu. Langkahnya setengah berlari untuk mencari perempuan bermantel merah muda. Dalam gelapnya malam, matanya terus berpendar. Berusaha menangkap sosok yang terus mengundang rasa ingin tahunya.


Suasana Kota New York di malam hari memang selalu ramai. Ini menyulitkannya untuk mencari sosok yang masih menjadi tanda tanya di benaknya itu. Akan tetapi hatinya terus menyuruhnya untuk melangkah. Raffa menyusuri pedestrian way di antara kerumunan orang-orang yang berlalu lalang.


Sampai akhirnya, pandangannya menangkap seorang wanita yang mengenakan mantel merah muda itu sedang berdiri di ATM. Bergegas ia menghampirinya, tanpa peduli dirinya akan bersikap apa ketika berhadapan dengannya.


Raffa berdeham tatkala berdiri tepat di belakang gadis pemilik mantel merah muda itu. Ia berusaha menetralkan hatinya yang terus berdebar tidak jelas. Merasa aneh pada dirinya sendiri, Raffa tetap menunggu. Perempuan itu berbalik seketika menubruk tubuh Raffa yang berdiri tegak.


“Sorry!” ucap Raffa, karena kartu ATM milik gadis itu terjatuh ketika menabraknya.


Gadis itu mengambil dan kembali berdiri. Wajah mereka saling bertatapan.


DEG. Jantung Raffa melompat.


“Maaf, sepertinya saya salah orang!” ucap Raffa. Hatinya kecewa.


“Tidak apa-apa,” jawab perempuan yang ternyata bukan orang yang Raffa kejar. Perempuan itu berjalan menjauhi Raffa.


“DAMN!” Raffa menendang sebuah sampah botol ke sisi tembok. Emosi.


Tanpa disangka, cipratan air hujan mengenai perempuan bermantel merah muda yang berdiri di dekat tembok.


"AWW!"


\=\=\=\=\=\=\=


Kisah Raffa Fea gantung aaah...

__ADS_1


Lanjutnya kapan-kapan ya, haha


__ADS_2