
Gadis imut dengan rambut ikal dan berkaca mata berjalan sepanjang lorong menuju tempat kosannya yang tidak terlalu berada jauh dari kampusnya. Mulutnya terasa kering, ia haus. Gadis yang mengenakan cardigan coklat dan rok bermodel a-line itu akhirnya mampir ke mini market yang berada di asrama kampus. Sejenak ia duduk di kursi halaman dan meneguk air mineral yang baru dibelinya.
Matahari sudah terbenam, lampu-lampu gedung dan jalanan menyala. Angin dingin menyapa lembut tubuh-tubuh yang masih berlalu-lalang di kampus. Ya, meskipun sudah agak gelap, tetapi suasana kampus masih cukup ramai, apalagi setelah pertandingan sepak bola di stadion kampus tadi. Banyak mahasiswa berhamburan keluar dari sana.
Gadis itu tampak menikmati kesendiriannya di taman sambil memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Sebuah sedan hitam berhenti di pinggir jalan di depan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Jarak dari mini market ke jalan utama kurang lebih 50 meter, membuat gadis itu bisa melihat sekilas pengemudi mobil itu. Ia tampak mengira-ngira sosok yang ada dibalik kemudi, sepertinya ia sangat mengenali sosok itu. Wanita itu adalah yang menjadi idolanya di kampus, Miss Ajeng, tampak sedang membuka ponselnya, sinar dari layar ponselnya semakin membuat wajah cantiknya itu terlihat. Miss Ajeng terlihat sedang celingukan ke arah kanannya. Lagi apa Miss Ajeng di sana? tanya gadis itu dalam hatinya.
Tak lama tampak sosok lelaki rupawan yang menjadi pahlawan di pertandingan sepakbola tadi sore muncul. Wajah gadis berkaca mata itu berseri ketika melihat pangeran tampannya berjalan ke arahnya dengan rona bahagia. Gadis itu seketika berdiri dari duduknya dan ingin menghampiri pria itu, siapa tau bisa pulang bareng dan berbicara dengannya, harapnya dalam hati. Namun, ia terkejut ketika mengetahui pria pujaan hati yang baru ditemuinya itu malah menghampiri mobil sedan hitam yang sejak tadi terparkir di pinggir jalan. Bahkan ia bisa melihat bagaimana rona wajah kedua orang yang berada di dalam mobil itu sedang bercanda satu sama lain. Tak lama mobil itu pun melaju menuju tempat yang tidak diketahui gadis itu.
"Ada hubungan apa Ferdian dan Miss Ajeng ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Pikirannya melayang kemana pun yang ia hendaki, hingga memunculkan hipotesa terlalu dini untuk membuat hatinya puas.
"Jangan-jangan, Ferdian adiknya Miss Ajeng!" ucapnya. Ia mengangkat bahunya, kemudian melanjutkan perjalanan pulangnya dengan pikiran yang masih melayang-layang.
\=\=\=
"Sayang....!" panggil Ferdian untuk istrinya malam itu.
"Kenapa, Sayang?" Wajah Ajeng menongol dari balik walk-in wardrobenya, menengok kepada suaminya. Wanita itu sedang mengemasi pakaian dan barang lainnya untuk berangkat ke Pangandaran besok pagi, untuk mengikuti diklat yang diadakan oleh pihak kampus pusat.
"Bisa gak berangkat gak sih?" tanya Ferdian, mukanya murung dan lesu sekali. Itu adalah ekspresi Ferdian yang pertama kali dilihat Ajeng selama menikah dengannya.
"Maaf, Sayang! I have to go, aku udah pernah bilang sama kamu kan? And you said 'Yes!" terang Ajeng mengingatkan ucapan Ferdian sebulan yang lalu, ketika mereka baru saja menikah.
Ferdian ingat, dia sudah mengizinkannya waktu itu. Hanya saja kepergian Ajeng selama 3 hari ke Pangandaran pasti akan membuat hari-harinya sepi dan hampa. Ia menghembuskan nafasnya kasar. "Iya deh, aku izinin kamu, demi karir kamu!" ucapnya terpaksa.
Ajeng menghampiri Ferdian yang sedang berbaring di atas kasur. Ia membelai rambut dan pipi suaminya itu.
"I know, kamu dan aku pasti akan kangen berat, tapi ini kan cuma sebentar. *I promise I will make a video call every night before I sleepĀ *(aku janji akan video call kamu setiap malam, sebelum tidur)," ucap Ajeng berjanji pada suaminya.
"Promise?" tanya Ferdian bangkit dari kasur. Ia mengacungkan jari kelingkingnya.
"I promise!" jawab Ajeng meyakinkan dan mengaitkan kelingkingnya pada jari suaminya.
__ADS_1
Ferdian mengecup Ajeng lembut dan menghujaninya dengan kecupan lainnya di sekitar wajahnya.
"So, we have to make this night unforgettable, okay?! (Jadi, kita harus membuat malam ini menjadi malam yang tidak terlupakan, kan?)" ucap Ferdian genit.
"Hmmm....gimana ya?" canda Ajeng membuat wajah suaminya itu memelas seperti wajah anak kucing.
Ajeng tertawa lepas melihat ekspresi lebay suaminya.
"Oke deh!"
"Yes!! Dan besok pagi juga ya sebelum kamu pergi?!" seru Ferdian.
"What?!"
"Yesss!!" teriak Ferdian gembira, meski Ajeng hanya menatapnya dengan kernyitan di keningnya.
Langsung saja pria itu ******* bibir merah Ajeng dan membuat perempuannya itu menjadi sulit bernafas.
\=\=\=
"Jangan nakal di sana ya?!" pesan Ferdian sebelum Ajeng keluar dari mobilnya.
"Kamu juga jangan genit-genit sama mahasiswa baru ya?!" ucap Ajeng mengingat Ferdian akan memberikan sambutan di malam puncak acara ospek kampus, meski perkuliahan bagi mahasiswa baru sudah berlangsung cukup lama.
"Siap princessku, Sayang!"
"I'll be missing you so much! (aku akan sangat merindukanmu)," ucap Ajeng memeluk suaminya.
"Me too!" Ferdian mendekap erat tubuh Ajeng, dan mengecup pipi, kening dan bibirnya.
"Udah ah, nanti ada yang lihat!" ucap Ajeng was-was meskipun mobil mereka terparkir di jalan yang sepi di belakang gedung rektorat.
"Hehehe..!"
__ADS_1
"Bye Sayang! Assalamu'alaikum," pamit Ajeng mengecup punggung tangan Ferdian.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati di sana,"
Ajeng mengangguk tersenyum.
Ajeng mengangkat tas traveling miliknya. Tentu saja ia membawanya sendiri karena ia tak ingin Ferdian membantu membawakannya sampai depan gedung rektorat, dimana semua dosen berkumpul. Sementara itu Ferdian memperhatikannya dari jauh, dari dalam mobil, sampai wanita itu hilang dari pandangannya. Ferdian menghela nafasnya. Ia sadar bahwa dirinya terlalu khawatir berlebihan, dan hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja.
"Ajeng baru datang?! Langsung masuk aja ke bis 3 ya," ucap Bu Fatimah, koordinator acara diklat.
"Iya Bu!" Ajeng langsung menaiki bis dan memperhatikan nomor kursinya, ia duduk di nomor kursi 8.
"Hey, kamu nomor berapa Jeng?" tanya Susan, teman dosen di jurusan yang sama.
"Aku nomor 8, San!"
"Di belakang aku, nih!"
"Oh iya, thanks!"
Ajeng menaruh travel bagnya di bawah kursi. Ia beruntung duduk di kursi samping jendela, membuatnya bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Pikirannya melayang pada Ferdian, ia tahu ia akan sangat merindukan sosok suaminya itu. Ini pertama kali bagi keduanya saling berjauhan, hingga rasanya akan terasa berat. Pikirannya seketika buyar setelah ada suara yang memanggil namanya.
"Kamu duduk di sini Jeng?"
Ajeng membelalakan matanya, "Iya!"
"Sipp, aku duduk sama Ajeng!" ucapnya riang.
\=\=\=\=
Jangan lupa like & vote
Mohon maaf ya, author hanya bisa mengusahakan update minimal satu episode satu hari, karena author juga punya kerjaan lain
__ADS_1
So, thank you for reading, i hope you enjoy the story ^^