
Udara dingin berhembus dari dalam mobil, karena Ferdian tengah menyalakan mesin AC mobilnya. Di luar, awan tebal menggulung membuat udara di jalanan terasa panas dan lembab. Hujan belum akan turun, mungkin nanti sore atau malam ini. Ferdian, Ajeng, dan Arsene sedang menuju kediaman Karin, karena mereka selalu mengikuti pengajian yang diadakan oleh Reza dan Jingga, beberapa bulan terakhir ini.
“Assalamu’alaikum…” sapa kedua suami istri itu sesampainya mereka di kediaman keluarga Reza.
“Wa’alaikumsalam…” jawab penghuni rumah berhamburan keluar.
“Ayo masuk!” ajak Mas Reza kepada para tamunya. Ferdian menggendong Arsene, yang kaki kirinya masih dipasang gips untuk memulihkan tulang betisnya yang patah.
Di sana sudah berkumpul para peserta kajian yang sebenarnya terdiri dari sahabat-sahabat mereka sendiri. Ada Sita dan suaminya. Tentu saja ada Kevin juga di sana, yang tidak lain adalah suami dari Jingga, adik ipar Karin.
Ajeng menyapa dan memeluk sahabat-sahabatnya, termasuk Jingga yang kini menjadi ustadzahnya.
“Duh sedih banget ini, kajian kita terakhir sama Ajeng!” ucap Sita yang matanya terlihat berkilauan.
“Kan bisa kajian virtual sekali-kali, iya kan?” ucap Ajeng, melirik ke arah Jingga.
“Iya Teteh- teteh, nanti kita adain kajian online via aplikasi meeting online ya?” ucap Jingga.
“Yeaah, jadi bisa meet up dong ya!” ucap Sita yang cukup terhibur, meski hatinya sedih.
“Kamu sering-sering pulang ya, nanti kita kumpul kaya gini!” ucap Karin membawakan beberapa gelas minum sirup segar.
“Insya Allah, doain aja rezekinya lancar,” ucap Ajeng.
Rumah Reza dan Karin bergaya modern tropical dan berada di salah satu bukit yang ada di Kota Bandung. Bangunan rumahnya tidak terlalu luas, tetapi memiliki lahan pekarangan cukup luas. Ada sebuah gazebo di halaman belakang. Sudah hampir enam pertemuan kajian ini berjalan, sejak Ajeng memutuskan untuk mengenakan hijab. Jingga adalah pengisi materi kajian bagi para akhwat. Sedangkan Mas Reza akan mengisi kajian untuk para lelaki, yang terdiri dari Ferdian, Kevin dan suami Sita.
“Umi, kajian akhwatnya mau di mana?” tanya Mas Reza pada Karin yang menggendong Zaara yang baru selesai menangis.
“Kita mau di gazebo aja, Bi! Bapak-bapak di dalam aja ya?” pinta Karin.
“Iya terserah umi aja!” ucap Mas Reza menggendong anaknya.
Para wanita yang semuanya berhijab itu menuju gazebo di halaman belakang.
“Arsene mau ikut mommy atau daddy?” tanya Ferdian pada anaknya yang masih di pangkuannya. Sementara Ajeng berdiri di sampingnya.
“Sama daddy!” jawabnya.
“Gak mau main sama Zaara?” tanya mommy-nya itu.
Arsene menggeleng dan sibuk dengan mainan mobil robot di tangannya.
“Oh ya udah! Mommy ke taman belakang ya!”
Arsene mengangguk.
“Arsene apa kabar?” tanya Kevin yang baru saja keluar dari toilet, setelah ia menyapa Ajeng yang berpapasan dengannya.
Arsene masih sibuk dengan mainannya. Jadi Ferdian yang menjawabnya.
“Kabar baik, Uncle Kevin!”
“Jadi kapan kalian berangkat ke Singapura, Fer?” tanya Kevin yang kini sudah akrab dengannya.
“Kita berangkat hari Minggu besok.”
“Oh, semoga Arsene cepet pulih di sana ya? Sayang banget padahal kita baru akrab,” sahut Kevin mengelus kepala Arsene.
Ferdian terkekeh mengingat kejadian yang dialami mereka.
“Kita udah jadi saudara seakidah Mas! Hidup ini dinamis, dan semuanya bisa berubah, termasuk rasa benci saya untuk Mas Kevin udah berubah sekarang.”
Kevin tersenyum mendengar perkataan Ferdian.
“Terima kasih. Doain saya ya, semoga bisa cepet dapat momongan!”
“Aamiin, mudah-mudahan Allah segera mengabulkan permintaan Mas Kevin dan juga istri Mas!”
Reza mengajak para lelaki untuk duduk di atas karpet empuk, karena kajian akan dimulai. Reza sendiri sebenarnya sudah terbiasa mengisi kajian di berbagai tempat. Gelar ustadz kini tersemat di depan namanya. Hanya saja, untuk sahabat-sahabatnya ini ia tidak ingin dipanggil seperti itu.
Sementara para wanita sudah heboh di gazebo belakang rumah.
__ADS_1
“Eh kalian jodohin Zaara sama Arsene dong, kan seumuran!” celetuk Sita.
“Ih emangnya mereka mau dijodohin gitu?” tanya Karin menaruh Zaara di sampingnya.
“Haha, kan biasanya gitu. Biar silaturahmi orangtuanya jalan terus, anak-anaknya dijodohin deh!” timpal Sita lagi.
“Ah biar mereka yang mutusin deh, dan biar Allah aja tunjukin jalan mereka. Dijodohin karena bukan maunya kita tuh gak enak tau. Ya meskipun akhirnya aku jatuh cinta sama suamiku sendiri,” curhat Ajeng.
Sita tertawa-tawa.
“Ya deh, aku nyerah!” sahut Sita mengangkat tangan.
“Hayu Teteh-teteh, kita mulai kajiannya ya?!” ujar Jingga yang baru datang.
“Hayu Ustadzah Jingga!” ucap Sita.
Para wanita berhijab itu pun mempersiapkan diri untuk serius mengikuti kajian hari itu, yang akhirnya ditemani hujan gerimis. Membuat kajian siang itu terasa lebih khidmat, karena dalam hati mereka pun berdoa atas harapan mereka masing-masing.
\=====
“Wa lal akhiratu khayrun laka min al-ula (Akhirat itu lebih baik bagi dirimu ketimbang dunia)” (QS ad-Dhuha: 4)
“Kenikmatan dunia kadang membuat manusia lupa akan hakikat dirinya yaitu sebagai makhluk Allah yang akan kembali pulang kepada Allah. Padahal sudah jelas, satu rukun iman yang wajib kita yakini adalah adanya hari akhir. Artinya, kita di dunia ini hanya sementara dan akan kembali ke akhirat. Ibarat tamu, kita hanya bersinggah di sini untuk mengumpulkan bekal dan menanam kebaikan saja, bukan lainnya. Namun itu pula yang sering dilupakan. Godaan dunia begitu menyejukkan mata dan membuat hasrat serta nafsu semakin tinggi, betul apa betul, Teh?” terang Jingga mengisi kajian siang itu.
“Betul!” jawab mereka serentak.
“Maka dari itu, janganlah kita tergoda dengan kenikmatan duniawi yang secuil jari saja, yang mungkin bisa melenakan kita sampai melupakan tujuan kita di dunia. Ayo, masih inget gak apa sih tujuan penciptaan manusia di dunia?” tanya Jingga mengetes para peserta kajian tentang materi sebelumnya.
“Dan tidaklah Ku-ciptakan manusia dan jin, kecuali untuk beribadah kepada-Ku,” jawab Ajeng.
“Seratus poin untuk Teh Ajeng!”
Ajeng tersenyum.
“Betul ya Teh! Kita diciptakan Allah hanya untuk beribadah. Ibadah itu cakupannya luas, bukan hanya sekedar shalat lima waktu, puasa Ramadan, atau berzakat saja, melainkan masih banyak ibadah lain yang bisa kita kerjakan. Taat dan patuh terhadap suami, menjadi ibu yang shaleha bagi anak-anaknya, membantu saudara, menyebarkan kebaikan, dan berjuang untuk agama ini. Banyak hal yang bisa kita lakukan agar kita mendapat bekal untuk akhirat nanti. Hanya saja niat kita harus lurus, tetap tujuannya adalah untuk Allah saja. Bukan untuk mendapat pujian dari manusia, karena hal itu tidak akan mendapat apa-apa, yang ada justru hanya rasa lelah saja.”
Ajeng memperhatikan penjelasan Jingga dengan seluruh pikirannya. Hatinya berdenyut ketika dulu mengingat apa ambisi mengajarnya. Kadang terbersit niat yang tidak tulus demi mendapat pujian dari mahasiswa dan rekan kerjanya. Ia beristighfar dalam hati.
“Kalau ikut kajian sama kalian, bikin aku gak mau pindah sebenarnya. Tapi gimana ya ini kan dalam rangka taat sama suami, jadi terpaksa ngikut deh,” Ajeng malah mengeluarkan pernyataan.
“Betul Teh. Mendampingi suami adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Teh Ajeng jangan berkecil hati, karena kajian Islam tidak terbatas oleh tempat. InsyaAllah saya ada kenalan ustadzah di sana dan saya juga sudah menghubungi beliau, agar Teh Ajeng bisa ikut kajian rutin. Mudah-mudahan Teh Ajeng bisa semakin bertambah ilmunya dan juga saudara di sana,” terang Jingga tersenyum.
Mata Ajeng berbinar. “Wah benarkah?” tanyanya tidak percaya.
Jingga mengangguk. “Betul, Teh! Nanti aku kirim nomornya ke Teteh ya?”
“Ah… terima kasih banyak!”
“Huhuuu… aku juga jadi sedih nih, Ajeng mau pindah!” ucap Sita yang sedari tadi menunjukan kesedihannya.
“Kita bakal kangen banget sama kamu, Jeng!” ucap Karin yang merangkul bahu Ajeng. Ketiga sahabat itu saling berpelukan, lalu Sita meraih bahu dan membuat Jingga pun ikut berpelukan.
Ferdian yang juga baru menyelesaikan kajiannya, datang ke halaman belakang sambil menggendong Arsene yang mulai rewel. Matanya melebar, melihat pemandangan asing yang hangat itu. Ia tersenyum kecil.
“Eh ada Ferdian!” sergah Karin yang menyadari ada lelaki yang memperhatikan mereka.
Keempat wanita itu pun melepaskan diri. Ajeng langsung menoleh ke arah suaminya.
“Kenapa Arsene?” tanyanya menghampiri anaknya.
“Lapar kayaknya,” jawab Ferdian memberikan tubuh Arsene pada istrinya.
“Mau makan, Sayang?” tanya Ajeng pada Arsene yang cemberut.
Arsene menggelengkan kepala. Karin datang menghampiri.
“Yuk kita makan siang dulu. Arsene main sama Zaara yuk!” ajak Karin yang kemudian masuk ke dalam. Arsene melihat temannya yang membawa buku berwarna merah, membuat matanya tertuju ke sana. Lalu tangannya menunjuk Zaara, membuat Ajeng berjalan mengikutinya.
Ajeng menaruh Arsene di atas karpet empuk setelah Zaara duduk di sana. Gadis kecil itu memberikan bukunya pada Arsene, sambil memperhatikan terus bagian kaki yang terlilit perban.
“Kenapa?” tanyanya imut, matanya tidak lepas dari kaki Arsene.
__ADS_1
“Kaki Arsene lagi sakit,” jawab Ajeng tersenyum.
Zaara mengelus kepala Arsene, “La tahzan (Jangan sedih), nanti disembuhin Allah!” ucapnya, membuat Ajeng kagum.
Arsene menyengir ke arah gadis kecil yang usianya berbeda sebulan dengannya, karena ia bisa memegang buku merah yang ternyata berisi berbagai macam suara hewan. Kedua bocah kecil itu bermain bersama, menekan tombol-tombol yang mengeluarkan suara hewan-hewan, sambil sesekali tertawa. Ajeng memperhatikan keduanya, sambil ikut mempraktikan suara-suara itu. Ternyata menyenangkan sekali ya membersamai bocah kecil seperti mereka.
“Arsene mau punya dedek gak nih?” tanya Sita yang menghampiri mereka.
Ajeng tertawa-tawa, ia sama sekali belum terpikirkan ke sana. Masalah dirinya dan suaminya saja baru selesai, ia ingin menikmati status barunya itu sebagai ibu rumah tangga.
“Zaara udah mau punya dedek lagi lho!” celetuk Sita, membuat mata Ajeng membesar.
“Wah iya kah?” tanyanya menoleh pada Karin.
Karin terkekeh.
“Baru ketauan, usianya masih 3 minggu kok,” jawab Karin mengkonfirmasi.
“MasyaAllah, alhamdulillah!” ucap Ajeng berbinar.
“Kapan kamu mau kasih adik buat Arsene?” tanya Sita.
“Kalau kemarin aku diskusi sama Ferdian sih, ya setelah Arsene lima tahun. Tapi kan kita gak tau rencana Allah,” jawab Ajeng.
“Oh iya ya, kamu kan pasang IUD 5 tahun. Yah, pasienku berkurang satu deh!”
“Sita, udah deh! Kamu jangan mellow gitu!” ucap Ajeng mengelus bahu sahabatnya itu.
“Ayo kita makan dulu, biar bapak-bapak makan di meja makan aja. Kita balik ke gazebo!” ajak Karin membawa piring-piring ke gazebo diikuti Jingga.
“Yuuuuk!”
Setelah perjamuan makan siang selesai, Ajeng dan Ferdian pamit pulang lebih dahulu, karena mereka harus mengecek semua barang-barang yang akan dibawa besok. Ya, mereka akan pergi ke Singapura besok sore.
Ajeng berpamitan pada sahabatnya satu persatu mulai dari Sita yang sudah menangis sejak tadi.
"Ta, makasih banyak ya udah bantu aku. You're my best doctor and my best friend (Kamu dokter terbaik dan teman terbaikku)," ucap Ajeng sambil memeluknya.
"Baik-baik di sana ya, Ajeng Sayang! Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku kok, konsultasi gratis," ucapnya sesenggukan.
"Iya dokterku!"
Lalu Ajeng berpindah untuk memeluk Karin.
"Rin, makasih ya buat inspirasi dan nasihat kamu selama ini. Hijrah kamu membuat aku berpikir banyak. Kita ketemu di lain hari ya?!" ucap Ajeng memeluknya.
"Aku juga mau terima kasih banyak sama kamu, udah nyewain rumah dengan harga sahabat, ditambah papa kamu yang sekarang memberikan kepercayaan penuh sama Mas Reza. Kamu betul-betul sahabat terbaik, Jeng!"
"Alhamdulillah... Jangan bosen kalau aku curhat ya?" pinta Ajeng.
"Iya kita sama-sama support!"
Kini Ajeng berhadapan dengan Jingga, ustadzahnya yang inspiratif.
"Terimakasih ya Ga, udah mau bantu bimbing aku akhir-akhir ini," ucapnya sambil memegang erat tangan Jingga. Wanita itu tidak mau dipanggil ustadzah seperti kakaknya. Jadi Ajeng memanggil dengan namanya saja.
"Sama-sama Teh Ajeng, semoga kehidupan teteh dan keluarga selalu diberkahi dan dilindungi Allah."
"Aamiin... doa yang sama untuk Jingga dan Kevin!" jawab Ajeng tersenyum lalu memeluknya.
Sementara itu, Ferdian juga tengah berpamitan pada sahabat-sahabat barunya.
Arsene dan Zaara yang tengah digendong oleh ibu-ibu mereka pun ikut bersalaman.
"Sampai ketemu lagi ya Zaara!" ucap Ajeng melambaikan tangan Arsene.
"Iya, sampai jumpa lagi!" ucap Karin.
Ajeng, Arsene, dan Ferdian pun menaiki mobil mereka diiringi lambaian dan tangisan sahabat mereka yang mengantarkan sampai depan pagar. Sungguh perpisahan sementara yang indah.
\=====
__ADS_1