Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 24


__ADS_3

"Sayang, nanti kamu datang ke pertandingan aku, ya?" pinta Ferdian di sela waktu sarapan pagi.


"Emang ada pertandingan apa?" tanya Ajeng, ia mengoles selai srikaya kesukaannya pada roti miliknya.


"Sepak bola! Kamu tinggal duduk cantik aja dan semangatin aku," ucap Ferdian berharap.


"Hmm... aku belum pernah nonton sih, pasti bakalan rame banget ya?"


"Ya pastinya, maklum pemain superstar mau main nanti, jadi jangan cemburu ya kalau nama suami kamu ini dipanggil-panggil!"


"Kaya Abang bakso aja dipanggil-panggil, berarti Abang bakso juga superstar dong ya?" goda Ajeng meledek suaminya yang super narsis.


"Ish! Masa suami keren gini disamain sama Abang bakso!" deliknya, membuat Ajeng terkekeh geli.


"Iya nanti aku tonton deh, awas aja kalau kalah!" seru Ajeng membuat mata suaminya itu berkilauan.


"Pasti menang deh! Ada dewi fortuna datang soalnya," kerlingnya.


"Gombal!" pekik Ajeng.


"Kalau aku menang emang mau ngasih apa?" tanya Ferdian sambil melahap roti sandwich-nya.


"Hmm....gak kasih apa-apa," ucap Ajeng datar.


"Uh, pelit!"


"Biarin!" ledek Ajeng, memonyongkan bibirnya yang kecil. Seketika membuat pria di hadapannya itu menjadi gemas ingin mengecupnya.


\=\=\=\=\=


Sore itu ramai-ramai para mahasiswa dari semua jurusan berkumpul di lapangan sepak bola kampus. Meski terik matahari masih membakar kulit, tak menyurutkan semangat mahasiswa-mahasiswa yang ikut berkompetisi demi mendapat hadiah dari fakultas dan juga gengsi nama baik jurusan.


Salah satu perhelatan Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mentari, adalah pertandingan olahraga antar jurusan. Umbul-umbul warna warni berkibar tertiup angin, menyemarakkan acara setahun sekali itu. Sorak sorai terus menggema sejak pagi. Banyak juga akhirnya dari fakultas lain yang ikut menonton pertandingan sepakbola hari ini.


Seperti kesepakatan kemarin, hari ini Tim Ferdian cs. akan menggantikan pemain dari kelas sebelah yang mundur karena alasan tidak jelas. Lima orang dari kelas A, 3 orang dari kelas B, dan 3 orang lainnya dari kelas C. Sementara ada 4 orang pemain cadangan dari kelas A dan B. Meski pertandingan tampaknya terlihat dadakan, tetapi tim dari jurusan Sasing (Sastra Inggris) ini optimis akan meraih kemenangan.


Ghani sebagai kapten tim menjelaskan strategi bermain kepada timnya, selagi tim dari jurusan lain masih berkompetisi. Ia menerapkan posisi 4-3-1-2 untuk timnya, sehingga kemungkinan mereka akan bermain dengan memanfaatkan umpan-umpan pendek tetapi dengan dribel bola yang cepat untuk memporak-porandakan pertahanan lawan.


Kesebelas pemain dari kedua tim, melakukan pemanasan terlebih dahulu agar kondisi tubuh fisik mereka lebih fit dan bugar. Kali ini Tim Sasing akan menghadapi lawan dari Tim Sasjep. Ferdian seperti biasanya, ia dipilih untuk menjadi second striker bagi kawannya, Syaiful dan Malik yang menjadi striker utama di depan. Sementara Ghani menjadi goal keeper karena badannya yang tinggi besar. Danu hanya menjadi pemain cadangan, mengingat matanya yang tidak lagi normal, meski hanya minus satu karena rabun dekat.


Mahasiswi-mahasiswi mulai berdatangan setelah matahari mulai turun, untuk menyemangati tim dari jurusan mereka. Mereka duduk di tribun-tribun yang atapnya tertutup, tetapi karena matahari sudah condong ke barat, wajah-wajah mereka tetap tersorot sinar matahari sore. Hal itu membuat para gadis sibuk menutupi wajah mereka dengan kertas yang mereka bawa, khawatir kulitnya terbakar. Suara-suara sopran para gadis mulai terdengar meneriakan semangat pada tim jurusan mereka, Ada juga yang datang untuk mendukung teman-teman atau gebetan mereka saja. Tampaknya Ferdian akan menjadi pusat perhatian para gadis, mengingat hanya dia saja yang berkilauan di tengah lapang karena kulitnya yang putih bersih, tubuhnya yang tinggi, dan tampangnya yang menarik. Bukan hanya gadis dari jurusannya saja, melainkan dari jurusan bahkan fakultas lain. Tentu saja, karena ketenaran Ferdian yang sering menjadi pemain sepak bola, menjadi magnet datangnya para mahasiswi dari seluruh fakultas. Kini tribun stadion lapangan kampus sudah dipenuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi.


Stadion lapangan kampus berada tidak jauh dari kampus Fakultas Ilmu Budaya, hal ini membuat Ajeng bisa mengakses dengan mudah menuju lapangan kampus untuk sebentar saja menonton suaminya yang akan bertanding. Hari itu ia membawa mobil Ferdian dan ia juga berjanji akan pulang bersama Ferdian selepas pertandingan, jadi ia tidak merasa khawatir untuk pulang larut.


Ajeng mengikat rambut merahnya, ia berjalan menuju lapangan. Meski awalnya agak ragu, karena jujur saja ini pertama kalinya ia menonton pertandingan di lapangan kampus. Namun, ternyata ada seorang mahasiswi yang ia kenal mengajaknya kesana bersama-sama. Ia adalah Gina, mahasiswi pintar yang agak tomboy tetapi sangat ramah dan welcome terhadap siapa saja. Ia juga termasuk salah satu teman Ferdian di kelas, yang waktu itu membantunya menemukan majalah berisi artikel tentang profil Ferdian.


"Miss Ajeng, ayo ikut! Kita nonton sepak bola yuk sekali-kali!" ajaknya ramah ketika melihat Ajeng berjalan ke arah lapangan.


"Kamu juga mau nonton, Gin?" tanya Ajeng.


"Iya Miss, seru lho! Jurusan kita main soalnya!"


"Oh ya?! Pengen nonton penasaran soalnya, kayanya seru banget. Mumpung gak ada kerjaan lagi!" ucap Ajeng beralasan.


"Bareng saya aja Miss!" kata Gina sambil menuntun Ajeng seperti sahabatnya sendiri tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


Ajeng dan Gina masuk melalui pintu di tribun barat, membuat pandangan mereka tidak silau karena sinar matahari sore. Ini akan menjadi tontonan yang seru baginya karena mereka duduk di kursi paling depan. Kedatangan Ajeng tentu saja menyita perhatian dari para mahasiswa lain yang terkagum-kagum dengan sosoknya. Mereka menyapa ramah si dosen cantik yang mengenakan setelan sweater merah terang dengan celana creamnya. Gina mengajaknya duduk di sampingnya, sementara di samping lainnya ada geng Sally dan kawan-kawannya yang sejak tadi juga heboh menyapa dirinya sambil berbisik-bisik.


Sementara itu di lapangan, kedua tim sudah bersiap-siap. Ferdian menatap dari jauh sosok istrinya, yang tentu saja ia tahu dari sweater dengan warna mencolok yang dipakai oleh istrinya itu. Hatinya bahagia ternyata Ajeng benar-benar menyanggupi permintaannya untuk menonton pertandingannya.


Wasit pun meniup peluitnya, menandakan permainan dimulai. Meski hanya kompetisi antar jurusan, tetapi kedua tim menunjukan keseriusan bermainnya, tak kalah apik dengan tim-tim sepakbola lokal papan atas. Para supporter meneriakan tim jurusan mereka. Namun yang lebih terdengar adalah teriakan nama 'Ferdian' dari suara-suara gadis mahasiswa.


"Ferdian!! GO! Kamu bisaaaa!!!" teriak Sally heboh di samping Miss Ajeng, membuat wanita itu mengernyitkan kening.


Disahut juga dengan teriakan lainnya yang entah siapa orangnya, "FERDIAN!! Semangaaaat!!"


Dan teriakan-teriakan lainnya yang menyebut nama Ferdian.


Astaga ternyata benar ucapan suaminya tadi pagi. Padahal baru sekedar di kampus, bagaimana jika ia seorang top star nasional atau internasional? Ia tidak merasa kesal, hanya saja terasa aneh. Jika banyak orang tahu Ferdian sudah menikah dengan dirinya, akankah hal yang sama masih terjadi? Bisa saja sepertinya, ucap Ajeng dalam hati.


Empat puluh lima menit pertama telah selesai. Belum ada gol tercipta dari kedua tim. Hal ini membuat Ghani memutar otak untuk sedikit merubah strategi bermainnya, agar lebih menyerang ke jantung pertahanan lawan dengan posisi 4-4-2. Ternyata kondisi fisik Ferdian jauh lebih fit dari dugaan Ghani, ia menunjuk Ferdian menjadi penyerang sayap kanan dan memberitahu kepada timnya agar lebih banyak memberikan umpan bola kepada Ferdian. Dengan begitu Ferdian akan bisa leluasa menyerang dari sayap kanan dan membuat umpan tajam kepada Malik atau Syaiful di tengah. Ferdian beruntung ia bisa unjuk gigi memperlihatkan kemampuannya di depan istrinya, karena posisinya akan membuat ia tampak jelas terlihat di depan Ajeng yang duduk di sebelah kanan tribun.


Peluit dibunyikan di sesi kedua. Permainan lebih hidup setelah tim Sasing mengubah strategi bermainnya. Ghani benar, penyerangan lebih efektif dilakukan di sayap kanan. Umpan bola pendek dari pemain belakang diberikan kepada Ferdian, membuat ia membawa bola dengan cepat, melewati beberapa pemain belakang lawan, dan memberikan umpan lambung kepada rekannya di tengah. Bola yang ditendangnya langsung disambut dengan sundulan bola oleh Syaiful ke gawang lawan, dan membuahkan gol bagi tim Sasing. Kedudukan sementara 1 - 0 untuk Tim Sasing.


Sorak sorai ramai riuh menggema di seluruh penjuru stadion. Tim Sasing merayakan selebrasi gol mereka. Ferdian berjalan ke belakang, kembali ke posisi awalnya sambil menyisir rambutnya dari depan ke belakang dengan tangannya, sungguh terlihat keren.


Ajeng menatapnya kagum dan takjub. Bahkan dalam hatinya ia mengatakan, betapa tampan dan seksi suaminya itu. Apalagi dengan rambut berantakan berpeluh keringat, kulit bersihnya berkilauan di wajah dan lehernya, membuat ia membayangkannya saat bercinta. Ah, dia berimajinasi di waktu yang tidak tepat. Ia membuang pikiran kotornya dan kembali menatap suami yang berjalan ke arahnya.


"Ya ampun, Ferdi ganteng banget! Gak tahan, gueeee!" teriak Sally yang berdiri sambil jingkrak-jingkrak bersama Lisa.


Ajeng mendeliknya kesal. Suami aku tuh! Seru batinnya.


Ajeng memberikan Ferdian sebuah senyuman manis ketika tatapannya bertemu, sedangkan Ferdian menyembunyikan senyumannya di balik kerah baju yang ia angkat sampai mulutnya agar tidak ada yang salah paham jika ia tersenyum manis pada istrinya itu. Semangatnya menjadi terbakar, ia menjadi terobsesi untuk membuat sebuah gol di pertandingan hari ini, meski ia tidak terlalu berharap.


Waktu pertandingan tersisa sepuluh menit lagi. Tim lawan kesulitan mengobrak-abrik pertahanan tim Sasing yang rapat. Saat itu, kelengahan mereka menjadi kecelakaan bagi tim. Ferdian berhasil mencuri bola dari kaki lawan, dan menyerang balik. Ia mengumpan bola kepada Malik yang sudah berada di depan. Namun Malik masih membutuhkan orang yang tepat untuk memasukan bola ke gawang, ia mengumpan balik kepada Ferdian yang sudah maju berlari ke depan mistar gawang, dan dengan satu sontekan saja, Ferdian berhasil menambah gol timnya. Skor bertambah menjadi 2-0 untuk keunggulan Tim Sasing. Penonton kembali bersorak setelah gol kedua Tim Sasing, membuat para penonton meneriakan nama Ferdian lebih keras.


"Ferdian! Ferdian! Ferdian!" teriak penonton disambut tepuk tangan.


Tak lama, pertandingan pun usai dengan skor akhir 2-0 untuk kemenangan Tim Sasing. Dimana nanti mereka akan melaju ke final melawan Tim Sasun (Sastra Sunda) yang memenangkan pertandingan siang tadi. Ferdian, Ghani, Malik, Syaiful, dan Danu bersorak kegirangan atas kemenangan tim mereka.


"Hebat lah, Lo! Man of the Match kali ini, euy!" ujar Malik memuji Ferdian.


"Kayanya ada asupan semangat di pertandingan kali ini, ya?!" ucap Danu menyenggol tubuh Ferdian dengan sikutnya.


Danu, yang duduk di bangku cadangan, pasti memperhatikan kalau Miss Ajeng datang untuk menonton Tim Sasing.


"Wuiiiih, ada yang dapat energi nih, emang siapa?" tanya Syaiful polos dan penasaran.


"Siapa lagi lah kalau bukan kebanggaan kita, dosen tercantik, Miss Ajeng!" jawab Ghani mengelap peluh keringat di dahinya.


"Seriusan?! Jangan-jangan gue bisa bobol gawang karena dapat energi juga dari Miss Ajeng!" ucap Syaiful berbinar-binar.


Semuanya terkekeh geli mendengar ucapan konyol Ipul.


"Jangan maksa ah elu mah, nyerah aja deh! Kalah telak sama Ferdi! Pak Ardi aja udah kalah, apalagi elo!" ujar Malik mentoyor kening Ipul.


"Ngaca dulu, Men! Biar gak khilaf!" kali Ghani yang gemas menimpali Syaiful.


"Eh pantang menyerah sebelum janur kuning melambai," ujar Syaiful percaya diri.


"Lambai aja sama kamera, Pul! Keburu elo dikejar kunti entar!" kali ini Danu yang menimpali.

__ADS_1


"Ah serem amat!"


"Gue duluan ya, Men?!" pamit Ferdian setelah perutnya sakit karena terbahak-bahak mendengar kekonyolan kawan-kawannya itu.


"Eh kok cepet-cepet amat, gue kira mau traktiran dulu!" timpal Ghani.


"Ada perlu, nih! Dadakan!" jawab Ferdian beralasan, padahal Ajeng sudah menungguinya di mobil.


"Yee... padahal gue mau ikut nginep di kosan lo, Fer!" ucap Syaiful.


"Nih pake aja kamar gue!" Ferdian melemparkan kunci asramanya kepada Syaiful.


"Lah emang lo tidur dimana? Lo mau balik ke rumah bokap?" tanya Malik penasaran.


"Ada lah!"


"Woy, jangan-jangan lo mau nginep di hotel prodeo?" ucap Danu ngasal.


"Ah berisik lo pada! Gue cabut ya?!" ucap Ferdian meninggalkan keempat kawan-kawannya yang masih terbengong-bengong.


Ferdian berlari menyusuri lorong yang menghubungkan antara stadion dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip). Ajeng menungguinya di depan gerbang Fisip dengan mobil sedan milik Ferdian. Ajeng yang memegang kemudi, membukakan pintu setelah tahu kedatangan Ferdian yang terburu-buru.


"Yuk pulang, Sayang!" ucapnya sambil memasang sabuk pengaman. Ia tersenyum kepada istrinya yang mengemudikan mobilnya.


"Selamat ya, Sayang?!"


"Makasih, jadi mana hadiahnya?" tagih Ferdian.


"Emang kamu mau hadiah apa?" tanya Ajeng lembut.


"Aku mau kamu aja deh!" ucap Ferdian manja, membuat wanita di sampingnya itu bergidik geli.


"Kamu pasti capek banget ya?" tanya Ajeng yang sebenarnya sudah ia tahu jawabannya.


"Kalau ada kamu sih langsung hilang capeknya! Makasih ya udah mau tonton pertandingan aku!" ujar Ferdian tersenyum.


"Sama-sama!"


"Maaf ya aku bau," ucap Ferdian polos, membuat Ajeng tertawa-tawa.


"Bau tapi masih tetep ganteng kok dan seksi," goda Ajeng.


"Sini aku peluk sekarang!" kata Ferdian membuka kedua tangannya sambil memejamkan kedua matanya.


"No, no, no, thanks! Mandi dulu baru boleh peluk-peluk!" ucap Ajeng menggoyangkan jari telunjuknya.


"Iya deh!" ucapnya cemberut.


Ajeng melajukan mobil sedan berwarna hitam yang terparkir di bawah pohon di pinggir jalan. Keduanya tampak terlihat berseri-seri bahagia, dilihat dari sudut manapun.


Namun ternyata, ada sosok yang menangkap keduanya tengah bersama di dalam mobil.


"Bukannya itu Miss Ajeng sama Ferdian ya?"


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Keep like & vote


Makasih ^^


__ADS_2