Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 139. Terdiam


__ADS_3

Gadis berkacamata hitam yang mengenakan blazer panjang serta rok selututnya itu baru saja keluar dari sebuah taksi yang mengantarnya. Supir taksi membantunya untuk menurunkan barang bawaan gadis yang sedang melebarkan senyumannya itu. Langkah kaki yang mengenakan boots sebetis itu sedang menaiki tangga dan dengan susah payahnya mengangkat koper miliknya sendiri.


“Excuse me (Permisi)!” ia menggedor pintu ditambah dengan suara cemprengnya.


Pintu kayu itu terbuka, seorang wanita berambut ikal dan pirang membukanya.


“Hello, are you Elena Fea Winata?” tanya wanita yang kurang lebih berusia sekitar 50 tahun.


“Yes Madam. May I come in (Ya, Nyonya! Bolehkah saya masuk)?” tanyanya ramah.


“For sure! Your father had told me that you’re come along by yourself. You’re so brave, little girl! (Tentu saja! Ayahmu sudah memberitahuku bahwa kamu datang sendiri ke sini. Kamu sangat berani, gadis kecil)!”


“Thank you, Madam Lily! Is that your name? (Terima kasih, Nyonya Lily, apakah itu namamu?)”


“Yes, you’re right! Is this your first time in New York? (Ya, kamu benar! Apakah ini pertama kalinya kamu di New York?)” Wanita itu membantu membawakan koper Fea ke dalam rumah bergaya American Cottage yang sederhana tetapi hangat dan nyaman.


“Yes, it’s my first time. My parents were very worried about me. But I convinced them, that I’ll be okay here to have my college here. (Ya, ini pertama kali untukku. Orangtuaku sangat mencemaskanku. Tetapi aku sudah meyakinkan mereka kalau aku akan baik-baik saja selama kuliah di sini).”


“Aah… you’re really really awesome (Aah, kamu benar-benar hebat)!”


“Thank you Madam (Terima kasih, Nyonya)!”


Fea berjalan menyusuri lorong yang temboknya dipenuhi wallpaper cantik dengan motif bunga-bunga. Ia begitu terkesima dengan lukisan-lukisan kecil yang menggantung di sisi tembok, simpel tetapi indah.


“So where are your college, Miss Fea (Jadi dimana kamu berkuliah, Nona Fea)?”


“Columbia Business School. I just want to be great as my father (Aku hanya ingin hebat seperti ayahku).”


“Wow, that’s brilliant! This is your room. I’m sorry it’s not a large bedroom. But you can ask me do a favor whenever you need my help. I’m going to serve your lunch (Wow itu hebat. Ini dia kamarmu. Maaf kalau ini bukan kamar yang besar. Tetapi kamu bisa memanggilku jika membutuhkan bantuan. Aku akan menyiapkan makan siang untukmu).”


“Thank you again, Madam Lily. I think I need to take a rest for along this day (Terima kasih, Nyonya Lily! Aku rasa aku akan beristirahat seharian penuh).”


“Yes absolutely, I hope you enjoy your time in New York (Ya tentu saja, aku harap kamu akan menikmati waktumu di New York).”


Fea tersenyum lebar.


Gadis itu meletakkan jas blazernya di sebuah gantungan yang kini menjadi kamarnya selama satu tahun ke depan. Membuka sepatu boots merahnya, kemudian berjalan untuk menuju kamar mandi yang tersedia di dalam. Tangan dan kakinya sudah dicuci. Ia duduk di tepi ranjang empuk yang berdecit lalu menghela nafas. Memindai pandangannya ke seluruh ruangan berukuran 3x4 itu, gadis itu akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya.


Terpejam sambil berpikir. Apakah ia bisa bertahan sendirian di negeri orang yang bahkan tidak ada sama sekali sanak keluarga atau kerabatnya di kota yang tidak pernah tidur itu? Fea memang nekat untuk berkuliah di New York. Ia ingin besar menjadi seperti ayahnya yang memimpin perusahaan, sekalipun banyak orang yang menentangnya karena ia hanya gadis periang yang pecicilan. Kebanyakan orang memandang ia sebelah mata. Mana mungkin gadis pecicilan seperti dirinya bisa menjadi pemimpin perusahaan keluarga besarnya suatu hari nanti? Gadis menarik bibirnya ke sisi, tidak ada yang bisa meremehkan Elena Fea Winata.


Meskipun harus tinggal di rumah semi apartemen ini, Fea yakin ia bisa bertahan hidup di tengah keras dan sibuknya Kota New York. Madam Lily adalah kenalan kakek dan ayahnya, yang dulu sempat bekerja di menjadi pelayan saat kakeknya, Gunawan sempat tinggal di Amerika saat mudanya. Damian menitipkan Fea pada wanita berusia 50 tahun itu, karena mereka sudah mempercayakannya. Meski Fea nantinya akan tetap hidup mandiri.


Fea tersenyum lebar sambil memejamkan matanya. Impiannya harus terwujud. Gadis itu terlelap dalam tidur siangnya.


\=\=\=\=\=\=


“Li... za?!” Arsene mengucap terkejut melihat sosok gadis di depannya yang mengenakan gaun merah panjang dengan bukaan dada rendah sehingga terlihat sembulan barang berharga miliknya. Gadis itu memilik manik cokelat terang dan warna rambut seperti warna matanya. Bibirnya merah dan bulat. Gadis itu terlihat seperti berdarah campuran antara Eropa dan Indonesia.


“OMG. Aku gak nyangka kita ketemu di sini!” ucap Liza tersenyum antusias.


“Kenapa kamu bisa ada di sini?!” tanya Arsene sambil menarik bagian bawah jasnya yang basah. Tidak percaya bahwa perempuan yang pernah menjadi pacar bohongannya itu ada di depannya.


“Don’t you know, Papaku itu investor di sektor traveling perusahaan Winata. Jadinya Papaku diundang kesini oleh pamanmu!” jawab Liza.

__ADS_1


Arsene masih terbujur kaku. Tidak percaya.


“Apakah kamu tidak mau menanyakan kabar sahabatmu ini, Arsene?” tanya Liza meminum lemon tea yang baru saja ia ambil.


Arsene mendengus.


“Bagaimana kabarmu, Elizabeth Ford?” tanya Arsene sangat terpaksa.


Liza tersenyum lebar. “Luar biasa. So how yours?!” tanyanya ramah.


“Aku juga luar biasa!” jawab Arsene masih berusaha mengibas jasnya yang basah.


“Apakah kamu perlu mengganti bajumu? Kalau mau aku akan mengantarkanmu ke kamar mandi bila perlu,” Liza terkekeh membuat mata Arsene membesar.


“Aku bisa sendiri! Maaf aku harus pergi!” ucap Arsene beranjak, tetapi Liza dengan cepat menarik lengan Arsene.


“Apa lagi?!” tanya Arsene sedikit membentak.


“Aku hanya ingin minta maaf atas kejadian terakhir. Mungkin kamu pikir aku sudah gila. Saat itu, ya, aku memang gila. Gila karena aku betul-betul jatuh cinta pada kamu. Tapi setelah kepergian kamu…,” Liza tertunduk tampak menyesal.


Arsene menundukkan pandangannya, meski ia masih menunggu Liza untuk menyelesaikan kalimatnya.


“Aku sadar, aku telah bertindak di luar batas. Maaf!” ucapnya lembut.


Arsene menghela nafas, terpejam.


“Maafkan aku juga yang saat itu meminta kamu untuk jadi pacar bohonganku. Aku sama sekali gak pernah memikirkan perasaan kamu.”


“Mungkin aku sudah benar-benar gak bisa dapatkan hati kamu lagi. Tapi apakah kita bisa tetap jadi teman?” tanya Liza ragu-ragu.


Arsene menatap wajah bulat Liza. Hatinya ragu, apakah permintaan Liza itu serius? Dan apakah benar gadis itu sudah berubah?


“Baiklah, kita tetap menjadi teman. Kita sudah impas, betul?”


Liza mengangguk. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Arsene. Hanya saja pria itu hanya menangkupkan tangannya di depan dagunya.


“Maaf, aku gak bisa sentuh wanita lain selain istriku!” ucap Arsene.


“Kamu betul-betul berubah banyak ya? Padahal dulu aku masih bisa mengecup pipimu, meski hanya akting!” jawab Liza santai.


Arsene mengalihkan pandangannya dan memijat pelipisnya. Malu menyapa dirinya, betapa hina dirinya yang dulu.


“Abaaang!” sebuah suara mengagetkannya. Arsene menoleh.


“Sayang?!”


Zaara menatap tajam pada wanita bergaun merah nan seksi di depan suaminya. Wajah Zaara terlihat kesal lalu menatap suaminya seolah bertanya siapa dia?


Zaara mengapit tangan suaminya. Merasakan kain permukaan yang basah, Zaara jadi menyentuh pakaian suaminya.


“Kenapa basah gini?!” tanya Zaara.


“Gak apa-apa, cuma kecelakaan kecil!” jawab Arsene.

__ADS_1


“Maaf, tadi saya yang menumpahkan teh lemon ini ke bajunya!” ucap Liza.


Zaara menggeleng, matanya memicing.


“Ayo pulang!” ajak Zaara.


“Sebentar,” ucap Arsene. Ia harus mengenalkan Zaara pada Liza, bahwa di sisinya sudah ada wanita cantik yang shaliha yang akan selalu menemani hidupnya.


“Liz, ini istriku, Zaara! Sayang, ini temanku dulu di Singapura, Elizabeth Ford!”


Mata Zaara melebar mendengar nama Liz dari lisan Arsene. Bukankah Arsene meminta dirinya untuk menjadi perisai bagi wanita ini. Lalu mengapa bisa mereka berbincang di sini? Apalagi Zaara telah menunggu cukup lama sehingga ia memutuskan untuk menyusul Arsene.


“Zaara, istri Arsene!” ucap Zaara, menekankan pada kata ‘istri Arsene’ di akhir kalimat perkenalannya.


“Panggil aja Liza!” jawab Liza tersenyum.


“Maaf Liz, kami duluan!” ucap Arsene menggenggam tangan Zaara.


Liza hanya tersenyum kecil. Sementara Zaara terus menatapnya meski tubuhnya sudah berbalik. Arsene membawa istrinya ke toilet.


“Aku ke toilet dulu, kamu tungguin aku di sini!” ucap Arsene meninggalkan istrinya di depan toilet laki-laki. Zaara hanya melipat tangannya di depan dada. Sementara pikirannya terus berkelana. Rasa kesalnya muncul apalagi melihat pakaian Liza yang seksi. Apa wanita itu tidak tahu kalau ayah mertuanya meminta para tamu undangan berpakaian sopan? Membuka aurat seperti itu bagi orang yang menjunjung tinggi nilai Barat memang dianggap sopan, tetapi ini bukan Barat. Apalagi hotel ini mengusung konsep syariah. Apa wanita itu tidak mengetahuinya? Zaara mendengus kesal.


Arsene keluar dari toilet. Ia telah membuka jasnya yang basah. Kini ia hanya mengenakan kemeja hitam dalamnya saja. Meski terlihat masih ada bekas basah di sana. Terasa lengket karena minuman itu mengandung gula.


“Kita pulang yuk!” Arsene menuntun lengan sang istri yang masih diam tidak berbicara.


“Kita izin pulang duluan sama daddy dan mommy,” lanjut Arsene.


Arsene duduk di belakang kemudi setelah ia berhasil mendapat izin dari ayah dan ibunya. Apalagi setelah mereka tahu bahwa Liza hadir di sana, Ajeng segera menyuruh anaknya itu pulang saja. Sementara Zaara masih membisu di samping suaminya. Wajahnya terlihat datar meski sebenarnya tengah menyimpan rasa kesal.


Arsene memarkirkan mobil milik ibunya di halaman parkir. Keduanya berjalan beriringan menuju lift. Menyadari keterdiaman Zaara, Arsene merasa tidak enak hati.


“Sayang, kamu marah?!” tanya Arsene di dalam lift.


Zaara diam.


“Bisa kamu katakan apa aja, biar aku tau?” tanya Arsene lagi, cemas.


Zaara mendelik pada suaminya. Pintu lift terbuka, gadis itu mengentakkan kakinya. Membuka pintu dan segera masuk ke dalam huniannya.


Arsene menghela nafas. Ia harus segera membersihkan dirinya dan berbicara pada istrinya.


\=\=\=\=\=\=


Zaara ngambek


Bersambung dulu yaa


Lanjut lagi nanti


Jangan lupa like, komentar, dan vote


makasiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2