
“Apa kamu punya masa lalu kelam?” tanya Arsene ragu-ragu malam itu.
Zaara menoleh, memandang wajah suaminya.
“Kenapa tanya itu?” tanya Zaara curiga. Hatinya tidak karuan.
“Aku ingin tau aja. Soalnya kita kan gak pernah bicara tentang masa lalu kita masing-masing,” ucap Arsene.
“Masa lalu kelam ya? Hmm…” Zaara termenung sebentar.
“Entah kamu udah pernah dapat cerita ini dari umi atau abi, atau mungkin mommy belum?” Zaara bertanya. Arsene menatap lekat wajah istrinya.
Gadis yang menggeraikan rambutnya itu menarik nafas.
“Tapi aku bakal terus terang aja. Dulu aku gak seperti ini, maksud aku, bukan Zaara yang menutup auratnya dengan sempurna, bukan Zaara yang penyendiri, bukan Zaara yang rajin ibadahnya. Aku anggap masa itu sangat kelam buat aku. Aku siswa populer saat SMP padahal aku gak terlalu banyak bicara, banyak temen dan banyak juga cowok yang suka sama aku, meski gak aku gubris. Aku tampil modis dengan pakaian yang serba ngepas di badan. Itu bikin abi dan umi sering marahin aku. Tapi aku bandel dan tetap seperti itu sampai kelas 1 SMA semester satu. Meski sebenarnya kalau bergaul tetep dengan temen yang baik dan gak aneh-aneh.
“Setelah semester 2 aku putuskan mulai hijrah, karena aku pikir aku malah makin terlena sama kehebohan anak remaja di luar sana. Temen deketku satu-satunya hamil di luar nikah dan dia akhirnya putus sekolah. Dari situ aku pikir aku harus berubah, harus lebih deket sama Allah dan harus nurut kata umi dan abi. Aku gak mau kaya temen aku. Makanya sejak itu aku berubah jadi galak sama semua laki-laki. Mulai saat itu juga aku sering dapat bully dari temen sekelas karena mereka lihat perubahan aku yang drastis.”
Arsene tertegun pada cerita masa lalu istrinya. Ia memang pernah mendengar itu dari ibu mertuanya, kalau Zaara yang dulu tidak seperti ini.
“Kamu pernah pacaran?” tanya Arsene. Ia tidak pernah menanyakan hal ini sebelumnya pada istrinya karena hal itu tidak penting untuk saat ini.
“Aku beruntung karena gak pernah ngerasain namanya pacaran meski aku pernah jatuh cinta sama seseorang,” jawab Zaara tersenyum
“Siapa cinta pertama kamu?” tanya Arsene menyelidik. Jantungnya berdebar.
“Kasih tau gak ya?” Zaara memutar bola matanya, sambil menahan senyumnya.
“Siapa? Emang aku kenal?!” Arsene tidak sabar.
Zaara mengernyitkan matanya hingga ia tidak melihat suaminya, “Mas Raffa!” ucapnya tertunduk menggigit bibir bawahnya.
Mata Arsene melebar, tidak percaya.
“Tapi aku gak percaya kalau dia cinta pertama aku. Aku cuma sebatas suka aja dulu, karena kita sering ketemu dan sering ngobrol. Lagian dia kakak kelas juga di sekolah. Tapi setelah aku berubah, aku udah membatasi diri. Perasaan itu hilang gitu aja.”
“Dia tau kalau dulu kamu suka?” tanya Arsene.
Zaara mengangguk, meraih tangan suaminya.
Arsene jadi tahu alasan kenapa Raffa sempat menjadi rival beratnya kemarin-kemarin.
"Kamu sendiri, siapa cinta pertama kamu?" tanya Zaara ingin tahu.
Arsene tersenyum lebar.
"Itu gak usah ditanya sih!" jawab Arsene membuat Zaara mendengus sebal.
"Curang. Pasti sembunyiin sesuatu!"
Arsene mencubit kecil hidung Zaara, "cinta pertama aku itu kamu, Zaara Sayaaaang!"
"Masa?! Gak percaya ah!"
"Ih tanyain aja mommy!"
"Mommy sering banget cerita tentang masa balita kita. Mommy sering sebut nama kamu dan nama umi, meski aku gak kenal kalian sama sekali. Mungkin mommy selalu kangen umi kali ya, makanya sering cerita. Saat itu aku jadi punya keinginan, kayanya kalau ada dua balita yang dulu sempat berteman lalu mereka berjodoh kayanya lucu ya? Dan entah kenapa hati aku berharap gitu setelah denger cerita mommy," lanjut Arsene. "Apalagi setelah kita ketemu di rumah kamu pertama kali, saat aku kirim kue, dari sana perasaan aku makin besar buat kamu."
__ADS_1
Zaara tertawa mendengar cerita suaminya. Ada warna merah tersapu di pipinya.
"Dan cinta pertama gak selalu harus dari pas kita kecil kan? Aku ngerasa bener-bener suka sama seseorang itu ya cuma sama kamu. Sebelumnya aku gak pernah ngerasa kaya gitu," lanjut Arsene membuat Zaara blushing.
"Nah itu, makanya aku pun gak yakin kalau Mas Raffa cinta pertama aku." Zaara memainkan ujung rambutnya.
"Tapi dia suka kamu juga. Cinta kamu berbalas, artinya itu cinta pertama kamu!"
"Huff. Aku gak mau tau ah! Aku gak mau inget lagi."
"Pernah ngapain aja sama Mas Raffa?" tanya Arsene penasaran.
"Berduaan pernah, pas aku masih belum hijrah dan dia baru masuk kuliah, terus kaya ngedate gitu tapi kita masih polos jadi biasa aja."
"Abi dan umi tau kalian pergi berdua?!"
"Enggak. Karena kita janjian di sekolah pas pulang. Aku cuma beli buku aja waktu itu, dia anter, gak lama habis itu pulang."
"Naik apa? Jangan bilang naik motor berduaan?!" tebak Arsene.
"Enggak, kita naik bis umum! Kenapa kalau naik motor, cemburu ya?!" Zaara menggoda.
"Enggak, biasa aja sih! Lagian itu masa lalu kamu, we!" Arsene mencebik. "Lebih beruntung aku berarti, kamu pernah dibonceng sama aku sebelum nikah." Arsene tertawa bangga.
Zaara tersipu-sipu mengingat kejadian malam itu, meski perasaannya saat itu sedang kalut dan ketakutan. Tetapi karena setelah itu Arsene membawanya pulang, ia jadi merasa berdebar tidak karuan.
"Iya aku deg-degan banget waktu itu. Tapi aku takut karena udah malam banget jadinya terpaksa ikut kamu. Kok bisa kamu nemuin aku di sana?"
"Itu aku sengaja ikutin kamu dari belakang. Perasaanku gak enak pas lihat kamu pulang sendiri. Ternyata feeling aku bener. Hebat kan aku!" Ucap Arsene bangga.
“Yaa... Jadi itu masa lalu aku, yang menurut aku kelam karena aku belum berubah!” ucap Zaara.
“Kamu sendiri? Aku gak pernah dapet cerita dari mommy,” Zaara bertanya balik, berharap suaminya itu bisa berterus terang mengenai sesuatu yang membuatnya penasaran sejak tadi sore.
Arsene mengambil nafas dan mulai berbicara.
“Masa lalu aku… dari mana ceritanya ya?” Arsene menggaruk-garuk kepalanya.
“Darimana aja boleh. Aku dengerin semuanya.”
Arsene menghela nafas.
“Aku hidup di lingkungan eksklusif, maksud aku, bukan lingkungan yang umum seperti sekarang kita temuin. Waktu kecil mommy menyekolahkanku di sebuah sekolah berkebutuhan khusus karena aku masih kesulitan berjalan. Aku pernah belajar di sekolah dasar umum sebelumnya tapi gak lama. Kakiku pincang, banyak anak lain bully aku. Makanya mommy pindahin aku. Itu aku masih inget banget.
“Sampai akhirnya aku juga sekolah di akademi memasak anak, waktu itu kakiku udah sembuh total. Dari sana kepercayaan diri dan kekuatan aku tumbuh. Ternyata bullyan untuk aku belum berakhir karena orang mandang aku sebelah mata, menganggap bahwa memasak hanya cocok untuk perempuan. Tapi aku udah gak peduli dengan apa kata orang. Aku ngerasa, masak bisa nyembuhin hatiku yang terluka apalagi saat bikin kue, aku suka makan yang manis yang bisa perbaiki mood. Makanya dari sana aku sangat suka bikin kue.”
Zaara menatap suaminya dengan mata berkilauan. Tidak menyangka ternyata masa kecil Arsene seberat itu.
“Semuanya berjalan normal setelah aku lulus akademi memasak sampai aku SMA. Semua orang dan teman-teman balik menyanjungiku. Aku populer, ya, sangat populer dimanapun aku berada. Mereka selalu banggain aku yang pintar, tampan, dan ramah. Aku merasa kehidupanku sempurna. Sampai akhirnya, satu titik aku ngerasa jenuh. Aku bosan mendengar sanjungan mereka. Aku menutup diri dan berpikir gimana caranya agar aku bisa menghindar dari mereka semua yang mengagumiku.”
Sejenak Arsene berhenti, lalu mengambil nafas lagi.
“Waktu itu aku berpikir pendek. Aku pikir dengan cara ini bisa menjauhkanku dari orang-orang, terutama cewek yang kejar-kejar aku. Saat itu aku punya teman, ya bisa dianggap sahabat. Dia cewek, Liza namanya. Kita deket karena karena dia juga orang Indonesia. Kita akrab, sering belajar bareng, makan bareng, bahkan curhat.”
Zaara mulai tegang mendengar cerita Arsene kali ini.
“Sampai akhirnya muncul ide konyol saat itu. Aku minta dia pura-pura jadi pacar aku karena aku gak bisa hidup tenang dengan semua pesan teror yang masuk ke hp aku tiap hari. Bukan cuma cewek bahkan cowok pun ada!” Arsene mengedikkan bahunya, gemetar.
__ADS_1
“Aku bilang hal ini sama mommy dan daddy. Mereka sempet permasalahkan hal ini dan nyuruh aku untuk segera udahan, tapi aku bandel dan tetep begitu karena emang ngefek. Jadi Liza akhirnya berakting seolah-olah dia jadi pacarku selama di sekolah atau tempat umum. Saat itu keimanan aku masih gak ada apa-apanya, meski mommy sering ngadain pengajian di rumah. Jadi aku anggap hal ini wajar aja, toh aku cuma pura-pura.”
“Jadi apa yang kalian lakuin kalau di sekolah?” tanya Zaara penasaran.
“Ya… kita ngelakuin apa yang wajar bagi pasangan yang pacaran.”
“Wajar gimana?!”
“Kayak misalnya, pegangan tangan sambil jalan, atau berdua-duaan di saat tertentu aja buat mereka yakin kalau aku emang udah punya pacar. Dan itu berhasil mengurangi jumlah pengagum aku di sekolah. Pesan-pesan yang masuk ke nomor aku juga berkurang drastis. Masih ada sih tapi mereka caci maki aku.”
“Terus?” tanya Zaara.
“Tapi hal itu ternyata malah jadi boomerang buat aku. Liza malah jadi tergila-gila sama aku setelah berhasil pura-pura jadi pacar aku selama satu semester saat kelas 2. Kadang dia melakukan hal yang seharusnya gak dia lakuin saat aku gak butuh peran dia. Dia teror aku terus-terusan saat aku mulai sadar, bahkan ngancam akan bunuh diri kalau saat itu aku gak datang ke rumahnya.”
Arsene menghentikan ceritanya. Matanya terlihat bergetar. Sementara Zaara menahan nafasnya, telinganya panas mendengar ini.
Arsene mengembuskan nafasnya gusar.
“Malam itu aku datang ke rumahnya. Aku kaget setengah mati, karena dia meminta sesuatu yang gak pernah terlintas di benakku sama sekali. Ia pernah hampir …,” kalimat Arsene terputus, seolah lidahnya tiba-tiba saja membeku. Pandangan matanya menegang.
“Hampir apa, Abang?” desak Zaara.
“Hampir … rela menyerahkan … kehormatan dirinya!”
“Astaghfirullahaladziim! Abaaang!” Zaara berteriak, menutup mulutnya tidak percaya.
Hati Zaara tersayat-sayat mendengar itu. Telinganya seperti menutup otomatis karena tidak sanggup mendengar kisah selanjutnya. Arsene memeluk erat tubuh istrinya yang bergetar. Ceritanya belum selesai.
“Tapi aku masih bisa kabur saat itu. Dia gila, benar-benar gila! Makanya daddy buru-buru pindahin aku ke Indonesia setelah itu. Aku ganti nomor dan blokir semua akses yang berhubungan dengan dia.”
“Ya Allah, Abaaang!”
“Ini harus aku sampaikan sama kamu. Tadi sore dia telepon, dia bilang mau datang nemuin aku. Aku gak tau ini serius atau enggak. Dia tahu nomorku yang baru dari Kirei, karena anak itu gak tau apa-apa. Kirei bilang Liza udah di Indonesia sekarang. Yang jelas, aku ingin kamu percaya aku. Meski kemungkinan ketemu dia sangat kecil, kita gak tau apa yang akan terjadi. Aku ingin kamu jadi perisai yang bisa jaga aku ketika aku lengah. Kamu bisa kan?” Arsene memegang erat bahu istrinya dan menatap tajam.
“Kemarin kamu luar biasa bisa cari aku di tempat Astria. Aku minta tolong kali ini, karena aku gak tau apa yang akan dilakukan oleh Liza. Dia perempuan gila. Aku berharap dia udah berubah. Aku akan berusaha mungkin menjaga diri, tapi aku butuh kamu di sisi aku yang bisa jadi baju zirah dan perisai sekaligus. Karena seorang laki-laki kuat juga selalu ada perempuan kuat di belakangnya. Kamu bisa jadi itu kan Sayang?”
Zaara menghela nafasnya. Kenapa suaminya itu bisa terlibat hal rumit seperti ini? Jika kemarin masalah Astria masih berhubungan dengannya, lalu bagaimana dengan Liza yang sama sekali ia tidak mengenalnya? Ia hanya berdoa pada Allah, memohon dengan sangat untuk bisa menjaga suaminya dari hal yang tidak-tidak. Zaara yakin kekuatan doa seorang istri untuk suaminya lebih dari apapun, meski ia juga akan berusaha membantu suaminya.
Zaara mengangguk yakin, sambil berharap tidak akan ada hal aneh yang terjadi pada mereka. Mereka hanyalah anak muda yang belum hidup terlalu lama, permasalahan berat seharusnya tidak terjadi ketika mereka selalu berbuat baik pada sesama. Apalagi selama ini mereka hidup di lingkungan baik yang dikelilingi oleh orang-orang yang taat pada-Nya.
"Aku sadar, satu kelebihanku yang kadang menjadi kelemahanku adalah sikap ramahku pada setiap orang. Kadang hal itu membuat orang salah paham, terutama buat cewek-cewek. Makanya pas ketemu kamu pertama kali, kok bisa kamu malah galak sama aku? Dari situlah aku tertarik sama kamu." Arsene menunduk tersenyum kecil.
Zaara menarik dagu suaminya, ia ingin Arsene menatapnya.
"Aku akan berusaha bantu, Abang! Aku percaya kamu!"
Arsene merangkul erat tubuh istrinya. Ia sadar pasti telah membuat hati istrinya itu menjadi cemas berkali-kali lipat. Kini ia ingin menenangkannya dengan pelukan hangatnya.
\======
Oow
Bersambung dulu aah, minta sawer poin, wkwk
Jangan lupa LIKE dan komentarnya yaa
Makasiiih :D
__ADS_1