
Arsene terdiam dalam kesendiriannya. Teringat pada anjuran dokter yang memeriksanya kemarin. Dirinya memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Tubuhnya rentan terhadap segala kesibukan yang berlebihan, sehingga ia dianjurkan untuk tidak bekerja yang melibatkan seluruh aktivitas fisiknya. Jika tidak maka akan semakin membahayakan tubuhnya.
Sebenarnya ia sudah tahu. Terakhir kali saat diperiksa oleh dokter di Sydney, hal yang sama dikatakan di sana. Hanya saja, entah kenapa, dia tetap bersikukuh untuk mengambil lembur dan bekerja di luar jam yang seharusnya. Fatalnya, ia malah mendapati hubungan dengan istrinya memburuk dan Zaara keguguran. Pria itu tertunduk lemas, menyesali apa yang terjadi yang tidak akan pernah bisa ia kembalikan.
Hening suasana pagi itu. Hanya ada suara cicitan burung menenemani. Arsene tengah membereskan barang-barang milik istrinya untuk dibawa pulang. Pria itu dengan sigap memasukkan pakaian kotor bekas istrinya ke dalam sebuah tas.
Zaara hanya memandangnya saja. Tubuhnya masih terasa lelah terlebih lagi dengan hati dan pikirannya. Ada sesuatu yang mengganjalnya, hanya saja tertahan di lidahnya yang kelu. Sudah lama ia tidak berbicara, bahkan pada suaminya sendiri. Gadis itu hanya mengucap satu dua patah kata yang berkaitan dengan keperluannya saja.
Meski Arsene sering sekali bertanya tentang perasaannya, tetapi gadis itu tak bisa berkata banyak selain anggukan dan senyuman kecil. Sering percakapan satu arah itu akhirnya ditutup dengan momen pelukan.
Arsene yakin, dengan seringnya mereka berpelukan, hati Zaara akan segera sembuh. Ia juga berjanji akan mengabulkan semua keinginan cinta pertamanya itu dan memperbaiki seluruhnya.
“Udah siap pulang hari ini?” tanya Arsene menggenggam erat tangan istrinya yang terasa dingin.
Zaara mengangguk sambil berusaha tersenyum kecil. Meski pandangannya tetap saja terlihat kosong.
“Aku...,” Zaara mengeluarkan suara.
Arsene mencoba mendengarkan.
“Aku ingin pulang ke rumah umi, boleh?” tanyanya ragu-ragu.
Arsene menatapnya lekat.
“Boleh. Nanti aku minta tolong Pak Arsyad untuk antar kita ke rumah umi.” Jawabnya seraya tersenyum.
Hanya saja tatapan Zaara terlihat ragu-ragu. Matanya melirik ke arah bawah sesekali ke pinggir. Gadis itu terlihat masih memiliki keinginan lain untuk disampaikan. Manik matanya bertemu dengan suaminya yang tengah menunggunya.
“Apa ada lagi yang masih kamu inginkan? Aku akan coba turuti keinginan kamu.” Arsene semakin menggenggam kedua tangan Zaara dan mendekapnya erat di dadanya.
Mata Zaara terlihat berkilauan kemudian menggenang. Rahangnya tertarik. Gadis itu tertunduk, bulir air matanya terjatuh.
“Bisakah kamu kasih waktu aku untuk sendiri dulu?” tanyanya lirih dan bergetar.
Mata Arsene membesar dan menaikan alisnya. “Maksud kamu gimana?” tanyanya tidak mengerti.
Zaara mencoba menatap wajah suaminya.
“Maaf, aku… aku gak mau ketemu kamu dulu!” ucap Zaara berlinang air mata.
__ADS_1
Jantung Arsene meledak hebat. Tubuhnya bergeming tetapi tangannya gemetaran ketika ia masih menggenggam tangan kekasihnya. Matanya berkaca-kaca. Rahangnya mengeras. Ia mengerjapkan matanya agar air di matanya itu tak sampai keluar. Nafasnya terasa sesak sekali.
Apa Zaara benar-benar membencinya sekarang? Ia berusaha menahan diri. Ia pasti sudah melukai hati gadis itu sangat dalam dengan sifatnya yang abai. Arsene tertunduk berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya yang berdenyut kencang. Ujung lidahnya terasa kelu dan membeku.
“Sampai kapan?” tanya Arsene bergetar berusaha kuat.
“Satu bulan!”
Pria itu mengembuskan nafasnya panjang, lalu kembali menatap istrinya.
“Baiklah, kalau itu mau kamu. Mulai malam ini kita tidur terpisah,” ucap Arsene berusaha tegar, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabulkan apapun yang Zaara minta.
Entah mengapa jawaban langsung Arsene membuat hati Zaara semakin tersayat. Bukankah itu yang ia inginkan? Menghindari sementara suaminya yang telah membuat luka di dalam hatinya kemarin-kemarin sampai membuat dirinya kehilangan janin yang ia harapkan.
“Aku akan telepon Pak Arsyad dulu!” ucap Arsene melepaskan genggaman tangannya, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah gontai.
Mata Arsene berkaca-kaca, ia tak mampu membendung air matanya lagi. Pria itu terisak. Tak menyangka Zaara akan meminta hal seperti itu. Tubuhnya terasa sangat lemas. Lalu bagaimana nanti ia akan memberikan kekuatan dan semangat pada gadis itu seperti yang telah diinstruksikan oleh ayah mertuanya? Bisakah ia hidup tanpa Zaara di sampingnya? Ia sangat menyesali dirinya sendiri.
Arsene terduduk lemas di atas sebuah bangku, membungkukan badannya. Tetesan air matanya berjatuhan di atas lantai.
“Ya Allah kuatkan diri ini!” ucapnya lirih.
Dengan langkah kecil yang pelan, Arsene menuntun Zaara berjalan menuju mobil yang menjemputnya sore itu.
“Sen!” panggil seseorang dari belakang.
Arsene dan Zaara menoleh. Raffa berdiri di sana, menunjukkan ekspresi penyesalan.
“Maaf atas beberapa hari yang lalu!” ucap pria yang mengenakan jas dokternya menunduk.
Arsene tersenyum kecil, “gak apa-apa, Mas! Makasih juga udah nyusulin.”
Raffa bergeming. Ia terpaku di atas kakinya. Merasa bersalah karena telah memikirkan hal yang tidak-tidak mengenai pria di depannya itu.
Arsene mengangguk pamit pergi dari sana dan membawa kembali istrinya. Raffa hanya menatap keduanya dari belakang.
Arsene mengangkat tubuh Zaara ke dalam mobil dan mendudukkannya di kursi tengah. Mereka melaju menuju kediaman orang tua Zaara, dimana Arsene juga telah memberitahukan keinginan istrinya itu. Reza dan Karin telah menyambutnya, ketika anak dan menantu mereka turun dari mobil. Melihat barang bawaan Zaara yang cukup banyak, Reza membantu menantunya itu dan menaruhnya di dalam kamar Zaara.
Kini Zaara berbaring di atas kasurnya sendiri, yang menjadi saksi bisu atas pecahnya celengan rindu beberapa bulan lalu. Arsene menaruh barang-barang istrinya di samping lemari. Ia juga menaruh satu keranjang berisi buah-buahan yang sudah dibelinya kemarin siang di atas nakas sehingga Zaara akan mudah meraihnya jika ingin menyantapnya. Gadis itu hanya menatap semua pergerakan suaminya di dalam kamar. Ada rasa sedih menyapanya, tetapi ia lebih banyak memendam rasa kecewa pada pria itu. Niatnya, ia ingin menyembuhkan hatinya tanpa kehadiran Arsene di sampingnya, sehingga luka itu akan sembuh sendiri dan ia bisa memaafkan suaminya. Gadis itu ingin memulai dari awal dengan versinya sendiri, berharap antara Arsene dan dirinya bisa sama-sama berubah.
__ADS_1
Arsene duduk di hadapan Zaara. Matanya sayu dan letih.
“Ada yang mau kamu katakan sebelum aku pulang?” tanya Arsene mencoba tenang, meski sebenarnya nafasnya sedang tercekat..
Zaara terdiam sebentar memandangi wajah yang selalu ia kagumi. Hanya saja ia tengah kecewa.
“Maaf, karena aku belum bisa...” kata-kata Zaara terputus.
Arsene menunggunya.
"Aku... belum bisa ... hidup sama kamu dulu," Zaara berusaha menuntaskan kalimatnya dengan susah payah.
Arsene tertunduk, lalu menengedahkan wajahnya ke atas. Berusaha menghentikan laju air matanya.
“Aku yang seharusnya minta maaf. Aku akan coba merenungkan semuanya yang terjadi. Aku pikir ini memang waktu yang tepat untuk mengevaluasi semuanya. Maafkan aku sudah mengabaikanmu! Maaf sudah membuat anak kita...” kata-kata Arsene terhenti, dirinya tak sanggup melanjutkan.
“Aku harap setelah ini aku bisa memaafkan Abang!” ucap Zaara bergetar tidak mampu menatap wajah suaminya.
“Aku akan sabar menunggu kamu!” Arsene mengelus pipi Zaara.
Arsene mengecup kening Zaara lekat-lekat. Hatinya begitu mencintai gadis ini, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki semuanya dan merangkul lagi Zaara seperti dulu.
"Kumohon maafin aku, Sayang!" ucap Arsene lirih saat memeluk tubuh istrinya.
Zaara terpejam merasakan kehangatan dari kasih sayang suaminya. Ia juga tidak tahu, apakah waktu satu bulan terlalu lama bagi mereka untuk saling memperbaiki?
“Aku pulang dulu! Kamu cepet sembuh ya, Zaara Sayang!”
Zaara mengangguk. Dadanya berdebar bergemuruh hebat dan nafasnya terasa sesak sekali melihat tubuh suaminya menjauh darinya. Air matanya menetes. Tak pernah hatinya sesakit itu, ada sesuatu yang sedang mendobraknya membuatnya retak. Akan tetapi itulah pilihannya sendiri.
“Apa aku masih boleh ketemu kamu di kampus?” tanya Arsene penuh harap.
Zaara hanya tersenyum kecil dengan matanya yang basah.
Arsene pergi dari sana dan menutup pintu dengan berat hati. Pria itu kembali ke apartemennya membawa luka sedih dan kekecewaan terhadap dirinya sendiri. Sambil terus memohon ampunan pada Yang Maha Kuasa, ia memacu motornya di sore hari yang kusut dan macet.
\======
Bersambung...
__ADS_1