Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 42. Keputusan


__ADS_3

Malam sudah semakin pekat. Meskipun begitu, di jalan raya masih banyak kendaraan berlalu-lalang. Mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di sekitar kampus juga masih berseliweran untuk mencari makan malam.


Arsene melajukan motornya perlahan mengikuti ketiga gadis yang berada jauh di depannya. Rencananya ia akan mencegat Zaara di gerbang, sebelum gadis itu menaiki kendaraan umum. Kejahatan malam di angkutan umum masih sering terjadi, terutama pada kaum wanita. Bahkan berita itu muncul beberapa hari yang lalu di kota ini. Arsene semakin cemas saja memikirkannya.


Zaara sudah berpisah dengan kedua sahabatnya yang pulang langsung ke tempat kost. Ia tengah berdiri sambil menunggu angkutan umum yang akan melewati jalan menuju rumahnya. Zaara mengeratkan jaketnya ketika angin malam berhembus lembut.


“Zaara!” panggil seseorang membuatnya terkejut. Zaara menoleh ke kanan dan kirinya yang dilewati beberapa mahasiswa. Arsene menghampirinya dengan menepikan motornya tepat di hadapannya, pria itu masih menggunakan helm yang menutupi wajahnya, kemudian membuka helmnya.


“Ini aku, Arsene!” ucapnya sambil melepas helmnya.


Hati Zaara sedikit terkejut mendapatinya sudah berada di hadapannya.


“Kenapa?” tanyanya.


“Kamu pulang sama siapa?” tanya Arsene, ia pura-pura tidak mengetahui rencana Zaara.


“Aku naik angkutan umum aja, Sen!”


“Gak mau bareng? Kan rumah kita sejalan!” Arsene mencoba menawarkan diri, meskipun ia tahu apa jawaban Zaara.


“Makasih banyak, ah kebetulan angkotnya udah datang!” gadis itu melambaikan tangan untuk memberhentikan angkutan kota berwarna hijau yang biasa dinaikinya sehari-hari.


“Duluan ya, Sen!” ucapnya tersenyum kecil, lalu menaiki kendaraan umum itu.


“Hati-hati Ra!” ucap Arsene sambil terus memperhatikan gadis itu.


Arsene menghela nafasnya. Hatinya tidak tenang. Ia memperhatikan baik-baik kendaraan itu, lalu mulai melaju dan mengikutinya. Sudah ia putuskan, pria muda itu akan mengawal Zaara dari belakang mengambil jarak yang cukup jauh agar Zaara tidak curiga.


Perjalanan dari kampus menuju rumah Arsene kurang lebih berjarak sekitar 10 km dengan waktu tempuh normal sekitar 30 menit jika menggunakan motor. Jika menggunakan angkutan umum, maka membutuhkan dua trayek angkutan umum yang berbeda jurusan. Kendaraan umum akan berhenti dulu di terminal untuk menurunkan penumpang.


Arsene terus mengikutinya dari belakang sampai akhirnya gadis itu berhenti untuk turun, lalu menaiki angkutan umum jurusan lainnya di terminal. Terpaksa Arsene harus berhenti, karena ternyata angkutan umum itu masih menunggu penumpang lainnya naik. Terlihat olehnya tiga orang pria berpakaian kusut menaiki angkutan umum itu. Ia berharap Zaara baik-baik saja, karena gelagat ketiga pria itu cukup mencurigakan.


Angkutan umum itu pun melaju setelah ketiga pria tadi masuk. Arsene mulai kembali menjalankan motornya sambil terus memperhatikan jalan dan kendaraan yang ada di depannya. Lampu di dalam kendaraan itu tidak menyala, sehingga Arsene tidak bisa melihat ke dalam. Kendaraan itu oleng sedikit, kemudian melaju lagi dengan normal. Arsene semakin mengeliminasi jaraknya. Tiba-tiba mobil itu berhenti, membuat Arsene menepi. Zaara terlihat turun keluar dari sana sambil melompat dengan wajahnya yang ketakutan. Gadis itu berlari ke sebuah rumah yang terang dan menepi di sana. Tangannya mendekap tasnya, bahunya terlihat naik turun. Mobil itu melaju kencang setelah menurunkan Zaara. Arsene langsung menancap gasnya untuk menghampirinya. Zaara terlihat berjongkok dan menunduk.


“Zaara! Kamu gak apa-apa?” tanya Arsene yang langsung turun dari motornya dan membuka helmnya.


Zaara terdengar merintih, ia menangis. “Jangan ganggu aku!” rintihnya ketakutan.


“Ra! Ini aku, Arsene!”

__ADS_1


Zaara mendongakan wajahnya. Ia kembali menundukan kepalanya. Tubuhnya bergetar.


“Kamu gak apa-apa?” tanya Arsene cemas.


Wajah gadis itu tampak pucat pasi, bibirnya bergetar dengan mata yang berkaca-kaca.


“Orang-orang tadi nodong aku pakai pisau. Mereka mau rampok aku, tapi aku tendang mereka sampai akhirnya mereka mau ....” Zaara melanjutkan tangisnya.


Arsene menatapnya iba, ingin sekali ia memeluk tubuh gadis yang ketakutan itu. Tetapi ia masih bisa menahan dirinya. “Izinin aku buat antar kamu pulang ya?” pinta Arsene.


Zaara mengangguk pelan. Ia percaya pada temannya itu. Seharusnya sejak tadi ia menyetujui tawaran laki-laki di depannya itu. Ia tidak tahu, kalau tidak ada Arsene mungkin hal yang sama bisa saja terjadi lagi.


Arsene mengajak Zaara menaiki motornya.


“Ada tas ransel di belakang aku, jadi gak usah khawatir kalau kamu takut bersentuhan,” ucapnya.


Zaara masih terisak, ia menaiki motor Arsene yang cukup tinggi itu. Gadis itu menarik ujung rok gamisnya, agar tubuh bawahnya tidak tersingkap. Motor pun melaju, membelah jalanan yang kini sudah semakin lenggang. Angin malam menerpa tubuh terasa dingin. Hati Zaara masih merasa was-was meskipun kini mereka sudah memasuki jalan gerbang menuju rumah mereka. Arsene membelokkan motornya pada sebuah gerbang yang dijaga oleh satpam, lalu berhenti di ujung jalan sebelah kiri, tepat di depan pagar rumah orangtua Zaara.


Gadis itu turun dari motor dan masih terlihat tegang.


“Aku langsung pulang ya?” pamit Arsene.


Arsene tersenyum meski wajahnya yang tampan terlihat gelap karena sorot lampu tidak bersinar ke arahnya.


“Sama-sama!”


Zaara tertunduk lalu membuka pintu pagar rumahnya.


“Ra …,” panggil Arsene.


“Iya?” tanya Zaara lemas.


“Ah mungkin lain kali aja,” ucap Arsene sungkan.


Zaara tersenyum kecil, “hati-hati!” ucapnya pelan sekali.


Arsene langsung mengenakan helmnya lagi dan meneruskan perjalanan pulangnya.


Malam itu Zaara tidak bisa tidur, ingatannya masih melayang pada kejadian mengerikan yang dialaminya tadi. Ia tidak menceritakan pada uminya, ia masih terlalu terkejut. Ia bersyukur dipertemukan dengan Arsene, bukan, sebenarnya Arsene yang mengawasi dan mengikutinya. Kalau tidak, mungkin dirinya masih berada di pinggir jalan di malam yang gelap. Entah apa yang terjadi.

__ADS_1


Tiba-tiba ia teringat pada pinangan Raffa minggu lalu. Ia memang belum memberikan jawaban yang pasti pada pria itu, meskipun dirinya sudah menerima banyak hadiah darinya. Hanya saja hatinya itu tetap saja tidak merasa yakin. Bahkan shalat istikharah yang dilakukannya selama seminggu ini tidak menunjukkannya pada jawaban apapun. Malah, perasaannya pada Arsene semakin membesar saja, meskipun ia masih curiga kalau Arsene memiliki kekasih.


Zaara memeluk bonekanya. Raffa memang pernah hadir di dalam hatinya dulu, ketika ia masih menjadi siswi SMP yang labil dan puber, tetapi kini ia sudah berubah jauh lebih baik. Ia harus segera memutuskan, jika Raffa dibiarkan menunggu selama ini mungkin akan menyiksanya.


\=====


Hari itu matahari bersinar sangat terik, terasa panas membakar kulit.


Zaara telah meminta Raffa untuk menemuinya di selasar masjid kampus setelah shalat dzuhur. Gadis itu akan memberikan jawaban pada pria itu. Ditemani oleh Hana, Zaara akan memberikan sebuah surat pada Raffa siang itu.


Para jemaah cukup ramai siang itu, hal ini membuat Zaara tidak nyaman. Meskipun begitu, ia sudah memiliki janji yang harus ditepati. Ia harus menyelesaikan urusan ini segera mungkin. Raffa memberitahunya kalau ia sudah selesai shalat dzuhur. Zaara memintanya agar mereka bertemu di bawah pohon dekat dengan ruang sekretariat masjid yang tidak terlalu ramai.


Gadis yang mengenakan gamis berwarna salem itu sudah duduk di kursi bawah pohon bersama sahabatnya. Hatinya berdebar tidak karuan. Daun-daunan kering yang terjatuh dari ranting pohon menemaninya di sana.


“Zaara!” panggil Raffa dari belakangnya.


Zaara menoleh melihat pria tinggi modis itu sudah ada di sana. Senyuman manis terkembang dari bibir Raffa. Pria itu terlihat tampan dengan setelan casual formal kemeja navy dan celana kanvas berwarna pasir. Rambut depannya basah dengan wajah segar sehabis shalat.


“Ada apa?” tanya Raffa gugup. Meskipun begitu ia berusaha bersikap santai di hadapan gadis pujaannya.


“Saya mau kasih ini buat Mas. Saya mohon maaf karena Mas sudah menunggu lama!” ucapnya tertunduk sambil memberikan sebuah amplop pada pria yang membawa jas putih menggantung di lengannya.


Raffa tersenyum kecil lalu mengambil amplop itu dari tangan Zaara.


“Tidak apa-apa, makasih ya Ra!” ucapnya.


“Maaf saya harus langsung pergi karena masih ada kuliah,” ucap Zaara mengangguk lalu menarik lengan sahabatnya dan pergi menjauh dari Raffa. Tiba-tiba saja hati Raffa menjadi tegang. Pria itu terduduk di atas kursi taman dan langsung membuka amplop itu.


Sepasang mata menangkap momen mereka. Jantungnya berdebar tidak karuan. Tetapi akal sehatnya masih berjalan, ia akan mengawasinya.


\=====


Bersambung dulu yaa...


Ayo votenya dong, mau dikasih 3 eps/hari nih >.<


Support terus yaa


Like dan commentnya ramaikan

__ADS_1


Makassiiiih


__ADS_2